"Aku ingin mati saja, buat apa aku hidup toh semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang bisa dibanggakan lagi dari diriku. Semuanya telah hancur. Keluargaku akan hancur bila mengetahui ini semua, akulah kebanggaan mereka tapi kini leyaplah semua" ucapku dengan melempar buku-buku. Aku duduk terdiam dengan fikiran menerawang entah apa yang aku fikirkan. Aku gak punya semangat lagi, seakan semuanya musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 JANGAN TINGGALKAN AKU
Mobil yang ditumpangi Najwa dan Farel perlahan lahan memasuki daerah rumah sakit melati, Farel segera memarkirkan mobilnya. Mereka segera keluar dan segera ke resepsionis untuk menanyakan keberadaan panji. Mereka diantar oleh suster. Najwa gemetar melihat sng suami yang dipenuhi dengan alat medis. Najwa tak henti-hentinya menangis dan menyalahkan dirinya yang tidak ada disamping suaminya ketika dia lagi butuh. Tiba-tiba yanto datang dan menghampori Najwa.
"Permisi mbak, apa ini mbak Najwa istri masnya yang tertabrak tadi? " Tanya yanto.
"Iya, ini mas yang sudah menolong suami saya"
"Iya mbak, oiya ini tasnya dan handphone beliau" Yanto menyerahkan barang-barang panji. Najwa menangis kembali saat menerima barang-barang suaminya.
"Terimakasih ya mas sudah mau menolong dan membawa suami saya, saya tidak tahu harus ngomong apa, saya benar-benar berterimakasih atas kebaikan mas" Najwa tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia benar-benar hancur melihat kondisi suaminya.
"Oiya mbak, barusan saya dapet laporan dari teman-teman saya, katanya motor suami anda sudah diamankan oleh polisi, saat ini sudah diangkut ke kantor polisi" Tutur yanto. Najwa hanya bisa mengangguk dan kembali melihat ke arah lubang yang ada di pintu. Najwa berharap suaminya segera sadar dan melalui masa kritisnya. Farel hanya diam melihat kegelisahan Najwa, Farel tidak berani menegurnya. Dia hanya memperhatikan saja tanpa berkomentar. Perlu Farel akui, memang dari pertama melihat Najwa, Farel sudah suka padanya hanya saja Farel mencintainya dalam diam karena sadar status Najwa yang istri orang. Farel tidak mau menjadi benalu dalam keluarga Najwa, makanya dia memendam rasa dalam hatinya. Bagi Farel, melihat Najwa bahagia, dirinya ikut bahagia. Selama ini Farel berlagak cuek dan jutek karena ingin menyembunyikan perasaannya. Bagi Farel, Najwa adalah perempuan paket komplit. Dia cerdas, baik, lemah lembut, cantik dan mandiri. Najwa orangnya tegas, dia tidak memandang siapa, kalau salah dia berani menegur. Itulah yang membuat Farel begitu menyukainya. Disamping itu, sikap Najwa hampir mirip dengan alm. Istrinya sama-sama tegas dan ngemong sama siapapun. Farel tersadar, kenapa dia jadi berfikiran tentang Najwa, dia berusaha menghilangkan fikirannya yang entah kenapa tidak pernah lepas dari Najwa. Perlahan Najwa menghampiri Farel dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa bapak masih disini? Bapak kan harus istirahat" Tanya Najwa yang melihat bosnya masih setia duduk menunggunya.
" Gak apa-apa aku temani kamu saja, lagian kamu sendirian kan"
"Terimakasih pak sudah mau menemani saya, tapi sebentar lagi mertua saya sampai karena tadi saya sudah menelfon keluarga" Ucap Najwa berusaha menahan tangisannya. Waktu terus berjalan, dan jam sudah menunjukkan jam 23.00 Najwa kembali melihat suaminya dari celah yang ada di pintu. Najwa belum bisa tenang sebelum melihat suaminya sadar. Dari arah jauh, Najwa melihat dan mendengar suara langkah yang mengarah ke dirinya. Najwa melihat mama dan papa mertuanya. Najwa menghampiri mereka dan bermaksud mencium tangan mertuanya namun seperti biasa mama mertuanya akan mengabaikan tangan Najwa, dan Najwa sudah biasa akan hal itu. Farel yang melihatnya merasa kaget karena mama mertua Najwa begitu jutek pada Najwa.
"Nak bagaimana keadaan panji? " Tanya sang papa mertua.
" Belum ada kabar pa, dokter hanya menyarankan untuk menunggu"
"Ini semua gara-gara kamu, kamu dari dulu memang pembawa sial, sekarang anakku ikut sial karena dekat sama kamu. Suami kamu masuk rumah sakit eehhh malah kamu berdua-duan sama laki-laki lain. Kamu sengaja ya do'ain panji mati agar kamu bisa sama laki-laki itu" Ucap mama mertua Najwa sambil menunjuk ke arah Farel yang sedang duduk di kursi sebelah kiri. Farel berdiri karena dirinya disebut sebut.
"Mama apa-apa langsung nuduh seperti itu, ini semua bukan salah Najwa tapi ini sudah ketetapan dari Allah. Mama jangan menyalahkan orang lain" Snaggah sang papa karena merasa tidak suka dengan tuduhan istrinya.
"Maaf ma, dia bos Najwa yang mengantarkan Najwa kesini. Beliau tulus menolong Najwa jadi tolong jangan sangkut pautkan beliau"
" Owww kalian habis pergi berdua toh, enak ya suami tabrakan kalian senang-senang"
"Maaf Bu kami sedang ada meeting di bandung, lagian bukan cuma kami yang kesana tapi banyak karyawan yang ikut. Anda jangan asal nuduh begitu saja" Farel berusaha meluruskan keslah pahaman mama mertua Najwa.
"Maaf ya Nak Farel, atas kata- kata istri saya. Terimakasih karena Nak Farel sudah mau direpotkan" Ucap sang papa mertua dengan lemah lembut. Najwa hanya bisa diam karena dia sudah lelah yang selalu slah dimata mertuanya. Dia memilih diam karena tidak mau ada keributan yang cuma akan mengganggu sang suami.
"Ya sudah karena Najwa sudah ada temannya, saya ijin pamit dulu" Farel pamit pulang pada kedua mertua Najwa dan kepada Najwa juga.
"Terimakasih ya pak sudah mau menolong saya" Kepala Najwa nunduk tanda hormat pada bosnya itu. Panji berbalik dan segera meninggalkan tempat itu. Najwa memilih duduk dia tidak mau mama mertuanya kembali berulah kalau melihat Najwa. Mereka bertiga duduk di kursi yang disediakan rumah sakit. Najwa memilih duduk disebelah kanan pintu ruangan panji, kedua mertuanya memilih duduk di sebelah kiri pintu ruangan panji. Mereka diam tidak ada yang berkata, semuanya sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Jam begitu cepat berputar namun mata mereka tidak ada yang terpejam. Hingga pagi menyapa mereka belum ada yang tidur. Tak berselang lama sang dokter datang untuk meriksa keadaan Panji. Dokter masuk, beberapa menit sang suster membuka pintu dan memanggik Najwa, Najwa segera berdiri dan ikut dengan suster setelah memakai pakaian yang anti bakteri. Sesampainya disana, Najwa dibuat tersenyum karena sang suami sudah siuman. Najwa segera memeluk suaminya dengan linangan air mata. Dokter dn suster memberikan waktu untuk mereka berbicara sesuai dengan permintaan panji.
"Sayang... Kamu sudah siuman, cepat sehat ya, aku sudah kangen mau jogging sama kamu" Panji hanya tersenyum mendengar ocehan istrinya.
"Iya aku akan segera sembuh. Tapi kamu harus janji, kamu harus bahagia terus apapun yang terjadi. Kamu tidak boleh sedih kalau aku tidak ada disampingmu. Aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun"
"Husss mas akan selalu mendampingi aku, kita akan hidup bersama sampai ajal memisahkan jadi mas gak boleh ngomong kayak gitu lagi. Yakin mas akan segera sembuh" Tiba-tiba perasaan Najwa tidak enak tapi dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa suaminya akan baik-baik saja.
"Najwa sayang... Aku akan segera pergi jadi jaga dirimu baik-baik"
"Kau gak mau tanpa mas, mas harus sembuh" Najwa sudah tidk bisa menahan tangisannya saat melihat Panji kembali pingsan. Najwa segera memencet bel agar sang dokter segera keruangan panji. Dokter dan para suster berlarian masuk. Tak terkecuali mama sama papa panji ikut masuk karena takut terjadi sesuatu pada anaknya.