NovelToon NovelToon
Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan

Status: tamat
Genre:Pengganti / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:803.5k
Nilai: 5
Nama Author: picisan imut

Aku menatap dirinya dalam kedukaan yang tak berangsur mereda. Sebuah kebahagiaan yang hilang dalam sekejap mata membawanya pada hari-hari penuh awan hitam.

Dimana pendar mentari yang selama ini menghiasi paras manisnya, berganti hujan yang tak pernah selesai.

Ayudia... gadis itu meraung-raung di atas pusaran suaminya yang pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan benih dalam kandungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji dalam hati

Saat kebisuan masih tercipta, Aida buru-buru membantah bahwa Ilyas bukanlah suami Ayu.

"Lantas, siapa yang akan mengadzani?" Tanya perawat wanita tadi dengan sorot mata penuh kebingungan.

Aida pun menyentuh lengan suaminya dan menyuruh Beliau untuk mengikuti perawat tersebut.

"Ayah, dia udah jelas-jelas orang asing. Ayah selaku kakeknya lah yang lebih berhak mengadzani cucu kita. Jadi nggak usah mikir lama, sana! Ikuti Mbak perawatnya."

Ulum kini melemparkan pandangannya pada Ilyas. Ia paham hal itu, namun bukan berarti istrinya harus terang-terangan berkata orang asing. Sekarang, pria paruh baya itu justru khawatir kata-kata isterinya akan melukai hati Ilyas.

Sementara pemuda yang sedang menekan frame kacamata-nya tersenyum tipis. Sudah cukup baginya dengan hanya mendengar kabar Ayu dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja. Ia bisa kembali ke Cileungsi dengan perasaan tenang. Sebelumnya, ia juga tak mengambil hati kata-kata ibunya Qonni. Karena memang benar, dia hanya orang asing.

"Saya, pamit dulu, Pak."

"Loh kenapa buru-buru, tunggu saya sebentar ya."

"Makasih, Pak. Tapi saya sebenarnya juga mau ngajar. Ini baterainya." Ilyas menyerahkan bungkusan berisi baterai laptop di tangannya pada Aida.

"Berapa?" Tanya Aida.

"Udah, Bu. Ini gampang nanti aja. Yang terpenting, Bapak bisa ngurus yang ini dulu," tanpa meminta uangnya Ilyas lantas menganggukkan kepala berpamitan. Setelah itu mengucap salam pada kedua orang tua Qonni.

"Yas, kamu bilang mau lihat anaknya Harun?" kata Ulum saat melihat Aida sudah menerima barang yang terbungkus plastik hitam. Setelah itu menoleh ke arah perawat yang masih menunggu. "Mbak, boleh nggak kalau yang masuk dua orang?"

"Maaf, nggak bisa, Pak. Karena ruangan bersalin terutama ruang bayi baru lahir harus steril, jadi nggak bisa masuk banyak orang."

"Duh..." Ulum sedikit menyayangkan.

"Nggak papa, Pak. Lain kali saja." Buru-buru Ilyas meraih tangan Ulum untuk ia jabat. Namun, Ulum langsung menahan tangan pemuda tersebut yang mulai mengurai.

"Tetap disini, setelah saya mengadzani-nya. Kamu gantian yang masuk, ya?" Kata-kata Ulum membuka Ilyas merespon dengan tersenyum sambil mengangguk.

"Mari, Pak. Kita nggak bisa lama-lama." Sang perawat kembali meminta Ulum untuk bergegas. "Untuk Mas-nya, ruang bayi bisa di lihat dari dinding kaca sebelah sana, Kok." Sang perawat memberikan alternatif apabila ada yang ingin melihat bayi tanpa harus masuk ke dalam ruangan. Kontan, sorot mata Ilyas berbinar. Bahkan bibirnya mengucap hamdalah.

"Terima kasih, Suster."

"Sama-sama. Mari, Pak. Silahkan ikuti Saya."

Ulum tersenyum tipis. Sebelum akhirnya mengikuti langkah sang perawat yang memintanya untuk bergegas. Bersamaan dengan langkah kaki Ulum, Ilyas pun menuju sudut yang di tunjuk tadi. Tentunya setelah meminta izin pada Ibu Aida yang hanya diam saja sambil kembali duduk di atas kursi.

Kini pemuda tersebut sedang berdiri tepat di depan dinding kaca yang sebagian tengahnya memiliki efek blur.

Dari posisinya, ia masih bisa melihat sang bayi yang baru saja selesai di pakaikan baju dan kain bedong untuk membungkus tubuh mungilnya.

Entah apa yang ada di pikiran pemuda tersebut, pasalnya saat melihat bayi yang sedang diadzani Ulum, tiba-tiba saja dadanya bergemuruh yang memunculkan rasa sesak hingga membuatnya terus terkurung dalam lembah penyesalan.

Flashback on

"Assalamualaikum!" sapa Ilyas yang pada saat itu tak sengaja lewat dekat gudang penyimpanan barang online Harun, dan memutuskan untuk mampir.

"Walaikumsalam warahmatullah, Allah... Allah..." Harun menyambutnya dengan ceria, tangannya bergerak pelan meletakkan ponsel keatas etalase. Sebelum menghampiri pemuda berkacamata yang masih berdiri di depan pintu tersebut lantas memeluknya. "MashaAllah, hari baik. Antum datang di waktu yang tepat. Sini-sini masuk...."

"Weleh-weleh, tumben-tumbennya di sambut dengan wajah berseri-seri," kelakarnya.

"Emang pernah, Anna sambut Antum dengan wajah bengis?" sautnya bercanda.

"Ya nggak, sih. Paling-paling, Anna di cuekin karena Antum asik Live dagangan di aplikasi video."

"Sok sibuk, padahal penonton mah paling banyak cuma dua puluh, ya. Hahahaha..." Harun gegas menuntunnya untuk duduk di atas Sofa yang memang sengaja ada untuk sesiapapun yang datang ke tokonya.

"Antum mau minum dan makan apa, nih? Sebutkan saja apapun." Sambungnya menawarkan setelah mereka berdua duduk di Sofa.

"Weh, ada angin apa ini. Tau-tau nawarin kaya lagi di restoran. Keliatannya, abis dapat rezeki gede..."

"Hahaha, Alhamdulillah."

"Beneran? Lagi banjir orderan, ya?" Tanya Ilyas bersemangat.

Harun yang ada di depannya hanya melemparkan senyum kebahagiaannya.

"Thayyib, senyum yang mencurigakan, nih? Kayanya beneran lagi kejatuhan durian runtuh."

"Lebih dari itu, Yas." Dengan sangat antusias Harun menjawab.

"MashaAllah, siap jadi juragan madu beneran ini, mah."

"Hahaha... bukan, bukan. Bukan itu, Yas."

"Terus?" Ilyas semakin penasaran. Sepertinya ada sesuatu yang menarik, hingga membuat pemuda di hadapannya terus menebar aura positif.

"Alhamdulillah, ikhtiar Anna dan isteri membuahkan hasil."

"Maksudnya?" Ilyas kontan menyunggingkan senyum, menerka-nerka.

"Isteri Anna akhirnya hamil, Yas!" Dengan semangat menggebu-gebu Harun mengabarkan hal yang membahagiakan itu.

"Allahuakbar!"

"Rasanya seperti mimpi, hampir dua tahun menanti dengan pikiran yang sedikit pesimis. Alhamdulillah, apa yang kami harapkan akhirnya Allah kasih."

"MashaAllah. Tuh, Anna bilang apa? Sabar! nggak usah dengarkan omongan orang yang membuatmu terburu-buru. Kalian pasti akan di kasih kok." Ilyas mengulurkan tangannya yang langsung di respon Harun. Mereka pun saling berjabat tangan. "Selamat ya."

"Makasih, Yas. Kamu bener. Alhamdulillah..., Anna senang sekali hari ini. Bahkan saking senangnya sampe pengennya di rumah terus sama isteri."

Ilyas tersenyum, turut senang melihat rona bahagia yang terus di pancarkan pria di hadapannya. Mungkin, ia pun akan berekspresi sama seperti Harun. Jika sudah berkeluarga nanti, lalu tiba-tiba mendengar kabar isterinya mengandung.

"Anna akan jaga titipan itu sebaik mungkin. Doakan, Anna selalu sehat ya, Yas. Supaya bisa membersamai anak dan isteriku."

"Aamiin ya rabbal'alamin." Ilyas mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil berseru seperti tadi. Keduanya pun tertawa bersama menghabiskan beberapa jam kedepan, sebelum Ilyas pamit pulang.

Flashback off...

Pemuda itu terus memandangi ruangan bayi dengan mata yang mulai berkabut. Walau dari kejauhan, ia masih bisa melihat sedikit, bayi yang sehat dan bersih nampak tenang dalam balutan kain yang menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya.

Ya Allah, Nak. Betapa Abi-mu sangat bahagia saat kau hadir dalam rahim Ummi-mu. Namun, sayangnya ia tidak bisa menyambutmu hari ini.

Setitik air mata mengalir pelan ke pipi. Mematik percikkan api rasa bersalahnya yang mulai mengepung sanubari. Ilyas sangat ingin menggendong anak itu dan menciuminya sambil meminta maaf padanya.

Run, andai Antum ada di sini. Antum pasti bahagia sekali, melihat anak perempuanmu yang amat cantik ini sudah terlahir ke dunia.

Maafkan aku, Run. Maafkan aku yang sudah mengambil langkah salah hingga Antum tidak bisa di sini sekarang. Tapi Aku janji padamu, dia tidak akan kehilangan sosok Ayah. Dan tolong izinkan aku, untuk menganggapnya sebagai anakku, Run.

Dari tempatnya, ia melihat Ulum menoleh kearah Ilyas. Pemuda itu pun menunduk setelah membalas tatapan Ulum sebentar sambil menyeka air matanya.

Dari saku celana dinasnya. Ia bisa merasakan getaran ponsel yang bisa di pastikan itu adalah panggilan telepon.

Pemuda berkacamata yang masih berdiri di depan dinding kaca tersebut pun langsung menerima panggilan telepon dari sang kepala sekolah. Karena sudah lewat tiga puluh menit, pemuda itu belum hadir atau mungkin memberi kabar jika dirinya akan telat atau mungkin izin tidak mengajar. Setelah selesai menerima panggilan telepon, ia pun merasakan punggungnya menghangat karena sentuhan seseorang.

"Pak?" gumamnya saat tahu Ulum sudah berada di belakang. Gegas memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

"Mau masuk?" kata Ulum menawarkan. Pemuda di hadapannya hanya melirik sebentar kearah ruangan bayi kemudian kembali pada Ulum sambil tersenyum tipis.

"Maaf, Pak. Sepertinya lain kali saja. Saya harus kembali. Karena saya baru ingat, kalau hari ini ada ulangan harian untuk murid-murid saya."

Ulum mengangguk dengan satu tangan menepuk-nepuk bahu.

"Ya sudah kalau begitu. Datanglah kapanpun saat kamu luang–"

"Terima kasih, Pak." Ilyas meraih tangan Fatkhul Qulum, dan mencium punggung tangan Beliau dengan takzim. Ia sangat bersyukur dengan sikap Ulum yang dirasa amat terbuka padanya hingga membuatnya tidak merasakan canggung saat ini.

Saat ini sudah cukup baginya hanya melihat bayi yang terlahir sehat itu dari kejauhan. Dan mungkin di lain waktu, ia akan datang demi anak yang seketika itu langsung membuatnya jatuh hati.

Pemuda berkacamata yang hatinya sedang dipenuhi rasa tak nyaman itu lantas menjauh setelah berpamitan pada Ulum.

1
Anjellita
aku sudah otw thor
moga bisa up teratur
Wisang Geni
Alhamdulillah, setelah beberapa purnama akhirnya bisa melepas rindu pada othor ustadz Irsyad 😍😍😍
Ai yuli
jazakillah,,neng imut,
g kerasa dah abis aja,
semangat bikin cerita baru lagi ya
Ai yuli
bajagiaanyaa kaka beradik ini,
Ai yuli
alhamdulilah dapat ilmu lagi dengar kajiannya ustadz irsyad.makasih thor
Ai yuli
hmm ademnyaa,,banyak banget pelajaran yg bisa di ambil buat pasangan dalam RT,sehat selalu neng imut.
Ai yuli
alhamdulilaah,,sabar yg membuahkn hasil yg manis
Ai yuli
sakit banget rasanya,,tapi ilyas se iklhas itu meski yg disebut selalu nama masa lalu nya Qonni,
Ai yuli
cinta oh cinta,g ada yg bisa nebak seperti apa kedepannya,
yg tadinya kekeh nolak malah sekarang mulai merasakan cinta yg menguat,
Ai yuli
hmm kangen sama rahma&irsyad,
Ai yuli
berkat ke iklhasan&ketulusan ilyas membuahkan hasil yg amat luar biasa
Ai yuli
alhamdulilah, makasih neng udah bikin cerita yg selalu diselipin kisah2 dari lara rosul kita,walau belum bisa memcontoh minimal tau&bisa jadi pengingat diri,🙏👍
Ai yuli
jangan sampe atuuh Qonni kehilangan suami yg kedua x nya mana udah mulai ada rasa lagi,
Ai yuli
masya allah,beekah selalu neng imut,
Ai yuli
😭😭
Ai yuli
dah mulai normal,alhamduliah.
Ai yuli
nah kan sekarang mulai g rela ada cewek lain yg cinta banget sama suami kamu
Ai yuli
ya allah se iklhas itu ilyas mencintai Qonni,sampe bilang walau cukup jadi suami di dunia jika kelak Qonni leboh milih harun,,aku nangis bagian itu nya,😭😭
Ai yuli
si ilyas ada2 aja masa harun persi sushet,😂😂
Ai yuli
ya allah paak ko gitu amat ya,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!