NovelToon NovelToon
Matahari Terbit

Matahari Terbit

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Mengubah Takdir / Romansa / Tamat
Popularitas:183k
Nilai: 4.8
Nama Author: Nonelondo

Dean tidak pernah berpikir dia akan hidup. Setelah dua kali terkena hujaman peluru, dan tubuhnya yang terbentur bertubi-tubi di lereng tebing. Dia yakin, pas dirinya terjun ke laut Dia pasti mati!

Siapa sangka, tubuhnya masih kuat terbawa arusnya ombak, dan terdampar di tepian pantai. Meski begitu, dia masih berpikir...
Dia pasti, akan mati!

Wanita itu.... Yah... Bisa dibilang malaikat penyelamat hidupnya. Dengan sepasang kakinya yang indah bertelanjang kaki berlari kecil di atas pasir menghampirinya. Menemukan tubuhnya yang malang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 Curhatan Belaka Dean

Ini, tidak benar! Kenapa Dean yang jadi mengaturnya? Kenapa Dean jadi diatas angin? Kenapa keadaan jadi berbalik? Seharusnya dia yang berkuasa di sini, bukanlah yang ditundukkan oleh Dean! Masa, dia terpenjara di rumahnya sendiri?

30 menit berlalu...

Di ruang tamu, wanita itu terus bolak balik jalan ditempat. Di luar, pria itu duduk di bale terus memperhatikannya. Sesekali pandangan mereka beradu. Pria itu memberi respon santai, sedangkan wanita itu kembali berjalan.

Tentu Nina tidak boleh kalah atas situasi ini. Ada dua hal yang ada didalam pikirannya. Melawan atau berdiam diri. Ah, tidak, tidak, sebenarnya dia nggak bisa mikir. Karena kebelet pipis. Duh!

Kali ini dia kewalahan menahan. Terpaksa jadi berjalan dengan menaikkan kaki kanan dan kirinya secara bergantian. Untuk menahan serangan yang makin menyiksa saluran air seni-nya.

Aduh, gimana ini...? Memang dia punya pispot. Tapi kalau dipakainya berarti dia tunduk atas ultimatum Dean.

Dean menyipitkan mata. Melihat orang di depan matanya berjalan belingsatan seperti menahan sesuatu.

“Apa kau butuh kamar mandi?”

Dari mana Dean tahu? Apa tingkahku terlalu mencolok? Tapi memang iya, duh!

“Kalau aku mau, kenapa aku harus minta ijin pada kau?”

“Begitu, 'kah? Jadi kau tidak takut sama sekali padaku?”

“Kenapa aku harus takut?”

“Tapi, kulihat kau seperti sedang berpikir. Pasti kau bingung, antara mau minta ijin, atau menyusun rencana."

Main asal tebak saja ini orang. Orang lagi nggak bisa mikir begini...

“Tidak!” bantah Nina.

“Baiklah, baiklah, mau benar atau tidak, ya, terserah... Dan itu bagus jika kau tidak takut sama sekali padaku. Sebab sebenarnya ancamanku hanyalah isapan jempol belaka. Jika kau butuh kamar mandi pakai saja. Aku akan berdiam diri di sini.”

Nina mengamati raut wajah lawan bicaranya membaca keseriusannya. Rasanya sulit dipercaya, tiap omongan Dean selalu tidak ada yang benar.

“Apa jaminan kau?”

Tersenyum. “Berarti kau butuh, 'kan?”

“Tidak. Gila saja! Ini rumahku, kenapa aku harus butuh persetujuan dari kau? Kalau aku mau ke kamar mandi, tinggal ke sana saja. Aku ini hanya mau tahu, apa ucapan kau basa-basi?”

Dean mesam-mesam. Nina ini memang lucu. Ingin rasanya dia membolak-balik ucapan Nina seperti semalam. Tapi kasihan, sepertinya Nina sudah kebelet sekali. Memang wanita itu makin nggak karuan berdiri.

“Jaminan? Tidak ada jaminan. Harusnya kau tahu, sudah pasti aku kalah jika bertarung dengan kau. Bukankah kau cukup tinggal merampas tongkatku saja?”

Oh iya, benar. Kenapa aku nggak berpikir kesitu? Ah, memang aku lagi nggak bisa mikir. Lagi pula, Dean kan tentara tentu memiliki strategi. Mungkin kemarin aku menang karena lagi beruntung saja.

Dean mengamati orang di depannya yang diam saja tidak memberi respon. Sepertinya dia masih kurang meyakini.

“Aku akan jalan-jalan ke luar. Kau bisa menutup semua pintu pagar dengan menahannya memakai benda." Dean berdiri, berjalan pergi.

Owh, tentu saja. Wanita itu tidak lekas ke kamar mandi. Dia harus memastikan dulu orang yang ditakutkannya pergi. Setelah dipastikannya sosok itu sudah menghilang dari pandangan, baru dia buang hajat.

Setelah urusannya selesai, Nina mengangkat 2 bangku teras untuk menahan pintu pagar depan, dan samping rumah. Sejatinya nggak menjamin dua hal itu membuatnya aman. Tentu bisa dirobohkan oleh Dean. Setidaknya dia telah berusaha melakukan yang terbaik demi melindungi dirinya.

**********

“Kebun siapa ini?” gumam Dean, sembari mengunyah buah plum di mulutnya.

Di bajunya ada beberapa buah plum dan buah lain yaitu cherry. Pria itu lagi duduk di atas batu. Sudah 15 menit di sana. Kemarin saat ke hutan, dia juga ada melihat beberapa kebun lain, bukan di sini saja. Apa masyarakat sini yang menanamnya? Bagus juga buat penghijauan.

Setelah merasa kenyang, dia lekas pergi. Maklum, takut ulahnya kepergok dengan si empunya kebun.

Bicara mengenai wanita itu, dia memang jadi urung bersikeras. Lagian, dia pun salah malah menakut-nakuti. Justru, itu malah jadi boomerang baginya. Dia makin susah mengambil hati Nina. Lebih baik dia pakai cara lain, dan dia sudah menemukan caranya. Dia yakin, kali ini idenya pasti berhasil!

Bicara mengenai wanita itu lagi, sejujurnya dia ini aslinya pria brengsek. Ketemu dengan Nina, baru kena batunya. Entahlah, Nina punya magnet tersendiri yang tak dijumpainya dari wanita-wanita lain dulu bersamanya. Lewat Nina, dia mulai menghargai hidup.

Kehidupannya dulu sering berfoya-foya di bar dan mendekati wanita. Meski dia seorang tentara yang sewaktu-waktu bisa saja mati, tapi selama ini dia tak pernah menghargai hidup. Dia bangga menjadi seorang tentara, tapi hal itu tidak membuat pikirannya terbuka.

Tapi tidak salah kan dulu dia seperti itu? Bukankah pria bagaikan burung yang bebas terbang kemana saja. Berkeliaran ke sana kemari, singgah ke sana-sini, bermain-main dulu sesuka hati sampai puas. Baru, akhirnya nanti ketemu dengan pasangan yang tepat? Itu yang dirasakannya ke Nina. Ia ingin Nina sebagai pelabuhan terakhirnya.

Sekarang dia menikmati fase perburuannya mengejar Nina. Sebenarnya bisa saja dia mengeluarkan rayuan mautnya. Toh dia ini pria bajingan, tentu tahu bagaimana caranya mengeluarkan rayuan yang mematikan. Tapi sungguh lebih mengasyikkan begini. Selama ini dia tidak pernah mengejar. Wanita selalu gampang didapatnya. Kadang datang sendiri tanpa perlawanan. Tak terbayangkannya bagaimana hasilnya nanti jika dia sudah mendapatkan hati Nina. Sudah pasti itu jadi hari bahagianya.

Sementara itu Nina di sana, kembali dengan aktifitasnya. Sulamannya tinggal beberapa lagi, kemungkinan esok selesai. Sesekali dia menengok ke arah dua pintu pagar rumahnya kalau-kalau mendengar bunyi. Baik itu yang bersuara kecil maupun yang besar. Tidak salah kan dia terus mawas diri?

Sebenarnya dia sudah agak lelah berantem dengan Dean. Habis, bagaimana... Susah sekali pria nyebelin itu diusirnya. Sebenarnya pun dia tahu nggak mungkin Dean perbuat senon*h. Walau dia tidak kenal tapi instingnya mengatakan itu. Hanya sekali lagi, dia takut sekali jatuh hati. Karena kebersamaan mereka nanti takutnya membuatnya jadi ketergantungan.

Dia pernah mengalami hal itu, pria yang dulu ditolongnya. Akibat kesendiriannya membuatnya jadi nyaman nggak mau kehilangan. Ya, semua itu akibat karena ada seseorang bersamanya. Dia menghindari hal serupa terjadi.

Sebelum ketemu pria itu, sebenarnya awalnya dia pacaran dengan anak orang ternama di pulau ini. Karena ada suatu musibah, kekasihnya pergi untuk selama-lamanya. Beberapa tahun kemudian, baru dia menjalin hubungan dengan pria itu. Orang itu pun pergi tidak kembali. Namun kepergian tuan itu beda cerita dengan kekasih pertamanya. Jadi dari situlah asal muasal dia membenci kuda itu. Sebab akibat kelakuan si tuan itu dia jadi disangkutpautkan dengan kematian kekasih pertamanya, dan diberi gelar wanita terkutuk oleh penduduk sini.

Waktu terus berjalan. Lembayung senja menyingsing di Angkasa kemudian perlahan-lahan berganti malam. Ditengah hutan, warna merah menyala-nyala diantara kegelapan. Dean membakar hasil tangkapannya berupa bab* hutan. Seperti kemarin, dia membuat tombak, dan membuat perapian dengan cara primitif.

Sementara itu Nina di rumah mengamati luar jendela. Dari siang Dean belum kembali. Apa jangan-jangan tersesat? Ya, memang Dean tahu bagaimana caranya menghadapi kondisi hutan. Tapi kan kakinya lagi begitu. Apa tidak apa-apa?

Digeleng-gelengkannya kepalanya. Inilah yang membuatnya kesal, dia suka nggak konsisten! Bagaimana mau benar-benar garang jika kadang pikirannya suka peduli. Menyebalkan!

Di sana Dean telah membereskan bekas bakarannya, dan kini sedang berjalan pulang. Melewati jalan pemukiman, dia mengamati lampu-lampu yang kemarin dilihatnya redup-mati kini benar-benar mati. Andai dia pejabat tinggi pulau ini pastilah akan diurusnya.

Apa di sekitar pulau Elvaros dan Tartan, juga seperti ini? Sungguh berbeda sekali dengan tempat tinggalnya. Di Ibu Kota semua serba modern, tiap sudut kota tertata rapih. Kalau dia sudah mendapatkan Nina, maukah Nina pergi dari sini tinggal bersamanya di kota?

Sesaat lelaki itu sudah berdiri di depan rumah tujuannya. Dilihatnya kepala wanita itu di atas kepala sofa. Kemudian dia pergi mengecek semua pintu pagar yang disuruhnya ditahannya kini sudah ditahan. Lalu dia lanjut berjalan ke peternakan.

“Hei, dengar! Ini aku.” Dean berhenti tepat di belakang kandang kuda.

“Hikhik-hikhik...”

“Hei, kumohon berhentilah buat gaduh. Aku baik-baik saja. Tenanglah..."

Kuda itu diam. Ya! Kuda itu seperti mengerti omongan pria itu saja.

"Kuda pintar... Sabar ya, nanti aku menemuimu."

Malam semakin larut. Hembusan angin semakin menggigit tulang. Lolongan serigala dan burung hantu saling bertautan. Malam nan pekat makin menambah suasana tidak menyenangkan. Nina berdiri di jendela mencemaskan orang yang belum juga kembali. Ini sudah sangat malam.

“Kemana ya dia?” Mengindai sekeliling. “Yah, Tuhan... Pria ini selalu saja bikin orang cemas!”

Segera Nina berjalan ke pintu belakang dan membukanya. Alangkah terkejutnya dia, saat diluar disambut oleh suara yang sudah tak asing lagi di telinganya. 

“Do re mi... Do re mi...”

Apa itu Dean? 

Segera dia mendekat, berhenti di dekat pagar di mana dibaliknya Dean berada. Belum sempat dia memanggil, malah disuguhkan curhatan orang yang mau diomelin nya.

“Kamu tahu, aku sudah berusaha keras menyakininya. Tapi dia tetap saja dengan pendiriannya.”

"Hiiik..."

“Tadi, aku ada buat kesalahan. Ah, tidak. Sebenarnya aku berkata begitu agar dia berpikir. Dia kan wanita. Masa, keluar memakai handuk? Juga, aku ini kan pria. Masa, dia begitu di depanku? Namun, ya sudahlah... Biar dia merasa aman dan percaya, kusuruh saja dia tutup pintu pagar. Aku di sini saja."

"Hiiik..."

“Aku nggak mengerti, kenapa dia terus mengusirku. Padahal aku hanya ingin balas budi."

"Hiiik..."

“Aku ini tentara. Aku diajarkan oleh kesatuan-ku bahkan oleh orang tuaku. Jadilah seorang pria yang jantan, rendah diri, dan tahu diri." Mendesah. "Haaa..."

"Hiiik..."

“Menurutmu, apakah aku orang yang patut diwaspadai? Apakah sosokku begitu menakutkan? Kamu baru mengenalku, pasti menurutmu aku bukan orang seperti itu, bukan? Pertama kita kenal, walau kamu sempat tidak ramah, tapi itu hanya sebentar, 'kan? Karena selanjutnya sampai detik ini kamu menyukaiku, bukan? Kadang aku berpikir, apa Nina mengusirku karena takut padaku."

"Hiiik..."

Nina menyipitkan mata. Memang Dean berbeda sekali dengan pria yang dulu ditolongnya. Diakuinya juga, Rocky bisa secepat itu akrab. Dulu, orang yang beli kuda itu alias pria yang dulu ditolongnya susah sekali menjinakkan. Memakan waktu seminggu baru bisa luluh. Sudah begini, haruskah dibiarkannya Dean membalas budi padanya? Namun, bisakah nanti dia menjaga jarak?

Terdengar suara berisik di area Dean, Nina buru-buru pergi dari sana. Sebenarnya Dean sengaja bergerak agar mendengar suara langkah kaki. Biar dia tahu apakah Nina berdiri ditempat sesuai yang diharapkannya, dan mendengar ocehannya. Tadi saat dia dengar suara pintu dibuka, dia segera bernyanyi dengan suara sumbangnya. Tentu demi mencari perhatian wanita pujaannya. Ah, akhirnya rencananya terlaksana. Tunggu saja besok, bagaimana hasilnya.

1
Ran Aulia
ceritanya bagus, action romantic comedy 😍😍😍😍😍👍👍👍👍

terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
Nonelondo (ig : nonelondo): hai, novelku "My Man" uda terbit dibaca...
total 1 replies
𝕻𝖊𝖗𝖆𝖍𝖚 𝖐𝖊𝖗𝖙𝖆𝖘 ⛵
waduh bahaya juga mas dean ini..😂😂
Nonelondo (ig : nonelondo): hai, novelku "My Man" uda terbit dibaca...
total 1 replies
𝕻𝖊𝖗𝖆𝖍𝖚 𝖐𝖊𝖗𝖙𝖆𝖘 ⛵
kemari setelah dari ken🤭
novita setya
waaa clara kebw..nina ketinggalan. py to iki
Nonelondo (ig : nonelondo): hai, novelku "My Man" uda terbit dibaca...
total 1 replies
novita setya
baru jg kerikil steve..blm batu kali
novita setya
nyariiiiis..krg dikiiiit lagi..apaan coba😁🤣
novita setya
waaaa dibeliin keperluan yg pribadiiiii bgt. hmmm udah mulai nih..
novita setya
aaih abang tentara..curi 💖 adeek baaang..🤣
novita setya
ngakakakkk..konyol banyol dean nina..calon pasangan uwu ini sih,ngalahin mas ken putri
novita setya
eeeee mpok nina..liat tuh kudanya aja udah luluh ma bang dean..mpok kpn dong
novita setya
setdah ni cwe gualaaaknya ngalahin beruang lapar
novita setya
nina..kolor saktinya dean suruh pke dong biar km ga girap2 gt..
novita setya
iiish deg2an
Yeni Cahyany
tiarap!!!
Nonelondo (ig : nonelondo): hai, novelku "My Man" uda terbit dibaca...
total 1 replies
erna sutiyana
aku nyimak dulu ya
setelah greget baca dewi dan mas kris
Nonelondo (ig : nonelondo): hai, novelku "My Man" uda terbit dibaca...
total 1 replies
Ever Wii Govai
Favorit
Nonelondo (ig : nonelondo): hai, novelku "My Man" uda terbit dibaca...
total 1 replies
nobita
wah karyamu sungguh luar biasa thor.. 5 like utkmu..
Nonelondo (ig : nonelondo): hai, novelku "My Man" uda terbit dibaca...
total 1 replies
nobita
lanjut Thor
nobita
aku padamu Dean..
nobita
akhirnya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!