"Sungguh ketulusan Cinta Allah kepada hamba-Nya tidak akan bisa dibandingkan dengan tulusnya cinta manusia kepada manusia. Namun, dengan menyebut nama Allah aku Raihan Raam Jaya begitu tulus ingin mencintaimu dengan sepenuh hatiku dan berniat mengkhitbahmu sekarang juga Hasna."
"Aku minta tolong buk Par untuk memberitahumu agar kamu bisa menikahi ku segera. Tapi nyatanya kamu lah yang duluan menyampaikannya. Awalnya aku bahagia saat mendengar ucapan mu.. tapi sekarang aku tak tahu Rai.. apa aku harus menerima lamaran mu atau tidak?"~ (Hasna)
Raihan dan Hasna sama-sama mengalami masa lalu yang menyakitkan, Allah seolah ingin menyatukan mereka melalui musibah yang menimpa mereka yaitu tenggelam di danau kembar.
Butir butir cinta air mata Hasna, akankah Muhasabah Cinta Hasna membawa ia berumah tangga dengan Raihan kelak? Yuk ikuti kisah nya..! Dan mohon dukungannya ya sobat...🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadih Hazar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCH 20
"Kau mau selamat kan? Dia ada di Rumah Sakit Medika Aksara. Segera bawa ia dan kau keluarlah dari Indonesia, pergi jauh dari sini.." Ucap Dini pada seorang laki-laki yang diteleponnya.
Dini berjalan sedikit kencang keluar dari Rumah Sakit itu. Ia khawatir Raihan ataupun Hery memergoki ia di sana.
"Bagaimana aku bisa mempercayai perkataanmu..?" Ucap laki-laki itu dari seberang telepon.
"Aku tak mencintaimu Roby, aku hanya mencintai Raihan, jadi aku akan bantu kamu untuk mendapatkan Hasna dan lari dari tuntutan Raihan."
Dini mengatur suaranya pelan karena khawatir ada yang mendengar pembicaraannya dengan Roby.
"Kau tak main-main kan Dini? Aku masih ingat bagaimana waktu itu kau bilang kau sangat menyukai dan mencintaiku hingga kau mau menyerahkan harta paling berhargamu itu padaku.. Dan kau juga datang disaat hari berbahagia kami sehingga saat itu aku hilang akal dan menerima begitu saja permintaan talak Hasna."
"I-itu karena kau saja yang pandai merayu Roby, ternyata kau memang jago merayu wanita hingga aku terperdaya denganmu.. tapi tidak dengan hatiku, hatiku ternyata masih hanya untuk Raihan." Ucap Dini masih dengan suara pelannya.
"Hahaha, kau sama saja dengan wanita lainnya yang aku temui tapi hanya satu wanita yang tak sama dengan mu.."
Wajah Dini tiba-tiba memanas mendengar perkataan Roby.
"Aku tahu, itu pasti Hasna.. Jadi aku mohon bawa Hasna jauh dari sini, aku tak mau Hasna merebut Raihan dariku.." Sahut Dini memelas pada Roby.
"Apa aku nggak salah dengar? Bukannya kau lah yang merebut Raihan dari Hasna? Sama seperti merebutku dari Hasna.. Hahahaha."
"Jangan banyak bicara kau Roby, aku hanya ingin menolong mu.." Ucap Dini dengan suara lantang, ia sudah geram dengan Roby yang selalu saja memojokkannya.
"Okey, terimakasih atas informasi darimu... Aku sangat berterima kasih."
Dini langsung mematikan teleponnya dengan wajah merah padam. Roby membuat Dini mati kutu. Dini memesan taksi, ia ingin segera pulang. Perasaannya begitu campur aduk. Hampir saja ia mendapatkan Raihan kembali namun kemunculan Hasna berhasil membuat hati Dini memanas dan kacau.
Bagaimana tidak, Dini ternyata begitu mencintai Raihan, ia menyadarinya setelah tahu sifat asli Roby dan ia begitu menyesal telah meninggalkan Raihan yang ternyata begitu menghargai ia sebagai wanita, yang selalu menjaga nya dari semenjak ia kecil saat mereka berkenalan.
Di dalam taksi Dini menangis sejadi-jadinya, hingga membuat sang sopir kebingungan sekaligus iba melihatnya.
Di Rumah Sakit, Raihan dengan setia berada di dekat Hasna yang terbaring di atas ranjang pasien ruang ICU. Hasna masih belum sadarkan diri. Sedangkan Hery langsung bertindak sesuai arahan Raihan.
"Na.. bangun ya... Aku janji padamu Na.. apapun keadaanmu sekarang, aku akan tetap mencintaimu... percayalah padaku.." Ucap Raihan lembut, ia yakin ucapannya itu bisa di dengar Hasna.
Raihan hendak memegang jari-jari tangan Hasna untuk memberikan sentuhan supaya Hasna segera terbangun dari pingsannya, namun Raihan segera mengurungkan niatnya karena Hasna belum halal baginya, dan jika Hasna tahu, Hasna juga pasti akan marah padanya.
Dan sebenarnya Hasna sudah sadar sebelum Raihan bicara, namun Hasna tak ingin Raihan tahu ia sudah sadar karena Hasna ingin menghindari Raihan. Ia ingin segera pergi jauh dari Raihan, karena Hasna berpikir, ia nanti hanya menjadi beban bagi Raihan. Apalagi luka batin dan luka fisik yang ditinggalkan Roby begitu membekas, hingga Hasna kembali takut dengan namanya laki-laki. Dulu Roby juga begitu baik padanya, sebelum mereka menikah tak ada tanda sedikit pun Hasna lihat Roby adalah laki-laki playboy. Walau hati Hasna seperti bisa menilai Raihan adalah laki-laki yang baik.
Dan sekarang keyakinan hati Hasna kembali menguat bahwa Raihan sungguh-sungguh mencintainya, ia mendengar jelas apa yang diucapkan Raihan. Tanpa Hasna sadari Raihan melihat bulir bening jatuh dari pipi Hasna, sehingga Raihan yakin Hasna nya mendengar ucapannya.
"Na, kamu mendengar ku kan.. jadi please bangun Na... kita akan hadapi sama-sama, dan aku janji.. aku akan bantu menyembuhkan lukamu..."
Bulir bening itu malah semakin deras mengalir dari mata Hasna.
"Ya Allah... begitu besar kah cinta-Mu padaku hingga Kau mengirimkan Raihan untukku.." Hasna bermonolog dalam hatinya pada Rabb-nya, kemudian ia membuka matanya perlahan.
"Na, Alhamdulillah... kamu sudah bangun.." Ucap Raihan dengan mata berkaca-kaca. Ia begitu haru ketika melihat Hasna membuka matanya.
"Rai..." Panggil Hasna pada Raihan, Hasna menolehkan sebentar wajahnya pada Raihan yang duduk disampingnya.
"Iya Na.."
"Jika nanti memang Allah takdirkan kau menjadi pendamping hidupku, aku harap kamu tak akan pernah menyesalinya."
"Insyaallah Na, dengan nama Allah Na, aku janji, aku ikhlas hidup menua bersamamu.. hanya bersamamu until Jannah Insyaallah.."
"Terimakasih Rai, terimakasih..." Hasna hanya mampu mengucapkan kata terima kasih pada Raihan dan dalam hatinya ia berulang kali mengucapkan rasa syukurnya pada Rabb-nya.
"Alhamdulillah ya Allah..." Raihan juga sangat bersyukur pada Rabb-nya karena telah mempertemukan dirinya dengan Hasna. Ia mengusap wajahnya sambil menghela napas lega.
Tiba-tiba panggilan dari Hery masuk di ponsel Raihan, Raihan pun segera mengangkatnya.
"Iya Her.."
"Rai, aku sudah mengirim dua bodyguard yang akan menjaga Hasna selama di Rumah Sakit, kau segera lihat keluar. Bisa jadi mereka sudah ada di pintu masuk ruang ICU itu."
"Ok Her, terimakasih.. Alhamdulillah Hasna sudah sadar, mungkin nanti ia bisa segera pindah ke ruang rawat. Aku akan bicara dulu sama Dokter sebentar."
"Syukurlah, aku juga sudah membuat laporan tentang kecelakaan itu pada Polisi, sekaligus kejahatan Roby pada Hasna, mungkin nanti polisi juga datang untuk memvisum Hasna. Setelah laporan itu Hasna bisa menggugat cerai Roby di Pengadilan Agama."
"Baik Her, good job.. Tak sia-sia Allah kirimkan kau untuk jadi sahabat ku.."
"Bersyukurlah pada Allah Rai.. Aku juga bersyukur punya sahabat dan keluarga sepertimu.. Aku juga lakukan ini demi Mama Lena, aku kasian lihat beliau yang begitu terpukul melihat nasibmu yang seperti tak punya semangat hidup saat Hasna belum ditemukan."
"Oh iya Her, ngomong-ngomong soal Mama, apa Mama sudah tahu bahwa Hasna sudah ditemukan.."
"Sudah Rai, beliau begitu senang... Dan tadi aku ke kantor polisi di temani Mama.."
"Baiklah Her, Alhamdulillah, semoga lancar sampai persidangan nanti, dan Hasna terbebas dari jeratan Roby. Roby mendapatkan hukuman yang setimpal dari perbuatannya."
"Aamiin, aku tutup dulu.."
"Okey Her.." Raihan menyimpan teleponnya kembali di dalam saku celananya. Ia melirik pada Hasna, dan ternyata Hasna membalas dengan senyuman manisnya. Ternyata Raihan mengaktifkan speaker HP-nya hingga Hasna mendengar jelas percakapan mereka.
Jantung Raihan seketika berdetak kencang melihat senyuman manis Hasna.
"Kaulah bidadari Surgaku Na.. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita nantinya.." Ucap Raihan yang tadinya ia ingin ucapkan dalam hatinya namun malah ucapan itu terlontar begitu saja hingga Hasna mendengarnya.
"Aamiin ya Allah.." Ucap syukur Hasna sambil terus tersenyum.
Malamnya di rumah Dini.
"Apa kau punya rencana lain? Untuk menculik Hasna itu tak mungkin karena mereka mengirim dua bodyguard untuk menjaganya." Ucap Roby yang mendatangi Dini kerumahnya.
"Kau tenang saja, tapi kita harus bergerak cepat selagi Raihan di Rumah Sakit, kapan perlu malam ini juga kau suruh orang untuk melakukannya.." Sahut Dini, mereka hanya berdua saja duduk di ruang tamu. Mama Dini masih lembur di kantornya, sedangkan para pembantu sudah tidur.
Dini membisikkan rencananya pada Roby, tampak Roby mengangguk-anggukkan kepalanya tanda menyetujui rencana Dini.
TBC...
semudah itu ya klo orang jht dpt alamat orang lain....hawdeeh thor
tenang aja,ado cowok kota yang lagi jalan ke alahan panjang, dia kayaknya jodoh kamu deh
🤭