NovelToon NovelToon
HOPE

HOPE

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:156.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.

Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.

Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Setelah apa yang ia alami tadi siang bersama Lingga, ia memutuskan untuk tidak menengok Lingga sebelum ia pergi tidur, ia akan ke kamar Lingga besok pagi saja.

Namun saat tengah malam, Jenaka tersentak bangun mendengar namanya dipanggil, Jenaka buru-buru turun ranjang saat panggilan itu terdengar lagi. “Jenaka!”

Itu Lingga. Dan dari ketegangan suaranya yang parau, pria itu kesakitan. Jenaka langsung berlari ke kamar Lingga. Di tengah remang-remang suasana kamar Lingga Jenaka melihat Lingga menggeliat sambil mencoba duduk. Ada apa dengannya? “ada apa Lingga?” tanya Jenaka cemas, sembari memegang bahu Lingga yang tidak mengenakan pakaian.

“Kram,” raung Lingga.

Seharusnya Jenaka bisa memprediksi hal ini, sebab hari ini Lingga terlalu memaksakan diri dan sekarang tubuhnya kram. Tanpa berkata sepatah pun, Jenaka naik ke ranjang dan mulai memijat otot-otot yang kram, jemarinya yang kuat bekerja dengan terampil.

Pertama satu kaki berhasil rileks kembali, setelah itu kaki satu lagi, dan Lingga mengembuskan napas lega. Jenaka terus memijat betis Lingga karena tahu kram itu bisa datang lagi. Jenaka menggulung celana piama Lingga hingga kelutut dan melanjutkan memijat. Siapa tahu Lingga bisa kembali tidur jika mendapatkan sentuhan menenangkan dari jemarinya.

Tiba-tiba Lingga duduk dan menepis tangan Jenaka dari kakinya. “Sudah cukup,” ucapnya ketus. “Aku tidak tahu sensasi mendebarkan seperti apa yang kau dapatkan dari mengurus orang cacat, tapi silakan bermain dengan kaki orang lain. Mungkin kau bisa mencoba Dante. Aku yakin dia lebih berguna untukmu daripada aku dan tidak mengganggu etika profesimu karena dia bukan pasienmu.”

“Kau ini mau aku tampar?” ucap Jenaka dengan suara bergetar karena marah. “Brengsek, ada apa denganmu? Kau tahu aku tidak berhubungan dengan suami orang, dan aku muak kau terus mengungkit tentang dia di depanku. Kau yang memanggilku, Aku tidak masuk diam-diam ke kamarmu untuk mengambil keuntungan darimu.”

“Kau sering melakukan itu,” cemooh Lingga.

Kemarahan Jenaka bertambah dua kali lipat karena ucapan yang di lontarkan Lingga setelah momen yang mereka lewati bersama. Setelah Lingga menciumnya. Jenaka menghunjamkan telunjuk ke arah Lingga. “Dengarkan aku, tuan Sakalingga Ibra yang Pemarah! Aku berjuang keras membantumu hingga aku kelelahan, aku masuk ke kamarmu diam-diam untuk memantau kondisimu. Aku tidak tahu apa yang menggerogoti emosimu dan aku tidak peduli. Aku hanya berusaha profesional."

“Yang kau pikirkan hanya profesionalisme dan program terkutuk yang sudah kaususun. Tapi kau tidak tahu tentang apa yang kuinginkan, apa yang kubutuhkan. Padahal ada hal-hal lain yang kubutuhkan, dan kalau aku tidak bisa...”

Lingga terdiam, memalingkan kepala. Jenaka menunggu Lingga melanjutkan, dan saat pria itu tetap diam, Jenaka mendesak, “Kalau kau tidak bisa… apa?”

“Tidak apa-apa,” gerutu Lingga dengan cemberut.

“Lingga!” bentak Jenaka, benar-benar marah, meraih dan mencengkeram bahu Lingga lalu mengguncangnya. “Apa?”

Lingga menepis cengkeraman Jenaka dan kembali berbaring, “Kupikir dengan bisa berjalan lagi akan menjadi jawaban,” bisiknya. “Ternyata bukan. Kau sudah berminggu-minggu di dekatku, kadang-kadang berlari ke sana kemari hampir tanpa mengenakan pakaian, dan kau selalu memakai baju tidur tembus pandang itu. Apakah kau belum menyadari aku tidak bisa…”

Lingga kembali terdiam. “Tidak bisa apa?” tanya Jenaka tak sabar

“Aku impoten,” ujar Lingga, suaranya begitu rendah sampai-sampai Jenaka terpaksa membungkuk lebih rendah supaya bisa mendengar pria itu.

Jenaka terduduk bersimpuh, terpaku di atas tempat tidur Lingga.

“Aku tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, fokusku hanya bisa berjalan, tapi sekarang aku menyadari ada masalah lain. Kalau aku tak bisa menjalani hidup sebagai pria normal, aku sama seperti pria yang dikebiri."

Pikiran Jenaka seakan kosong. Ia terapis fisik, bukan terapis se*s. Betapa bingungnya Jenaka ketika Lingga harus mengungkapkan topik itu kepadanya. Tetapi, Jenaka tidak bisa membiarkan masalah itu menggerogoti pikiran Lingga dan membuat pria itu akan menyerah.

“ Kau tidak harus bergairah denganku aku, kau bisa saja bergairah dengan kekasihmu nanti,” ucap Jenaka. "Aku terapis. Sungguh tak etis kalau di antara kita ada hubungan selain hubungan profesional. Sudah jelas selama ini aku tidak berusaha merayumu, atau membuatmu tertarik kepadaku. Kau seharusnya tidak berpikir seperti itu tentangku. Aku bahkan lebih mirip figur ibu tiri dari pada figur lain, jadi menurutku justru aneh kalau kau bergairah denganku."

Lingga mengerutkan keningnya. “Kau sama sekali tidak mengingatkanku pada sosok ibu."

“Apakah kau berharap semua kemampuanmu seketika kembali sekaligus, hanya karena hari ini kau berhasil berdiri lagi?” tanya Jenaka. “Aku tidak heran jika selama ini kau… mmm, tidak bergairah. Selama ini banyak yang membebani pikiranmu, dan kondisi fisikmu juga buruk.”

“Sekarang kondisi fisikku tidak buruk lagi,” Lingga menegaskan.

Tidak buruk memang, Jenaka merenung.

Tubuh Lingga masih langsing, tapi sekarang ada selapis otot keras. Bahkan tungkai Lingga mulai berdaging seiring berat badannya bertambah, dan berkat program ketat yang Lingga patuhi, sekarang kakinya pun mulai berotot, meski pria itu belum mampu berjalan dengan kakinya. Tangan, bahu, dan dadanya menunjukkan hasil baik dari latihan angkat beban, dan jam-jam latihan di kolam renang membuat kulitnya memancarkan warna berkilau. Lingga kelihatan sangat sehat, kalau melihat semua itu.

“Kondisimu sudah lebih baik, tapi belum mencapai puncaknya. Tubuh manusia terdiri atas serangkaian sistem yang saling melengkapi, ketika satu bagian cedera, semua sistem bekerja sama membantu mempercepat penyembuhan. Dengan program terapi yang kau ikuti selama ini, kau memfokuskan pikiran dan tubuhmu untuk mendapatkan kembali daya regang otot-otot. Menurutku kau tidak realistis kalau berharap memiliki respons seksual, biarkan semua terjadi pada waktunya," ucap Jenaka. “Tunggulah sampai kondisimu pulih sekitar 60%"

“Aku mengharapkan yang diharapkan setiap pria normal dalam hidupnya,” jawab Lingga. “Kau mengoceh dengan percaya diri saat berjanji aku akan bisa berjalan lagi, tapi kau tidak yakin tentang hal ini, bukan?”

“Aku bukan terapis se*s,” ucap Jenaka. “Tapi aku punya logika, dan aku mencoba menggunakannya. Tidak ada kendala fisik mengapa kau tidak bisa melakukan hubungan ****, jadi kusarankan kau berhenti mengkhawatirkan hal itu dan berkonsentrasi belajar berjalan. Semesta akan mengurus yang lain-lain.”

“Berhenti khawatir!” gerutu Lingga pelan. “Nona, Kalau aku tidak bisa berfungsi seperti pria normal, apa gunanya hidup? Yang kubicarakan bukan hanya tentang se*s. Aku tak akan bisa menikah, memiliki anak, dan meski aku belum pernah ingin menikah, aku selalu berpikir suatu hari nanti aku ingin memiliki keluarga. Tidak bisakah kau mengerti itu? Apakah kau tidak pernah menginginkan suami dan anak-anak?”

Jenaka meringis, tubuhnya menjauhi dari Lingga. “Aku selalu menginginkan anak, dan aku pernah menikah. Sayang tidak berhasil.”

“Brengsek,” Lingga mengumpat pelan. “Kata-kataku pasti salah lagi."

Jenaka mengangkat bahu, “Tidak apa-apa,” gumamnya. “Toh kejadiannya sudah lama. Aku masih kecil, masih terlalu muda untuk menyadari tindakanku.”

“Berapa umurmu saat itu?”

“Delapan belas. Cakra mantan suamiku berusia 23 tahun, tapi kami sama-sama tidak siap menjalani pernikahan.”

“Berapa lama pernikahan kalian bertahan?”

“Tiga bulan. Memecahkan rekor, pernikahan tersingkat bukan?”

“Dan sejak itu, apakah kau tidak pernah jatuh cinta pada orang lain?”

“Tidak, dan aku tak ingin jatuh cinta lagi. Aku puas dengan hidup yang kujalani.” Percakapan itu sudah terlalu jauh, Jenaka tidak ingin mengungkapkan lebih banyak lagi tentang dirinya. Ia tak ingin meruntuhkan sedikit demi sedikit tembok yang ia bangun untuk mengurung masa lalunya? Kebanyakan orang bahkan tidak tahu tembok itu ada. Jenaka merangkak turun dari ranjang.

"Apa kau sedang melarikan diri? Hampir satu bulan kau di rumah ini tanpa menerima telepon atau surat, bahkan tidak berbelanja? Kau mengurung diri di rumah ini bersamaku dan menutup diri dari dunia. Apakah kau tidak punya teman atau kekasih? Apa ada di luar sana yang membuatmu takut?”

“Tidak ada apa pun di luar sana yang membuatku takut,” ucap Jenaka pelan.

“Kau takut pada kehidupan, jadi kau tidak membiarkan apa pun menyentuhmu. Kau membutuhkan terapi sebesar aku membutuhkannya." ucap Lingga sebelun Jenaka menutup pintu.

1
RithaMartinE
luar biasa
Ersa
yakin aka selesai malam ini??
Ersa
jgn terus bermonolog dg pikiran & asumsi mu sendiri Jee, bicarakan saja dg lingga
Ersa
melting aku Bang
Ersa
jian ngeyel mrengkel tenan Jenaka ki🤲🏻
Ersa
jantung & hatiku berasa gak aman🤭
Ersa
cinta at first sight 🥰
Ersa
ya Allah aku sempet feeling klo mrk menikah krn kasus rudap*ksa Aya Selama menikah cakra merudap*ksa Jenaka
Ersa
lingga jadi ahli Terapi meraba🤣
Ersa
typo ya 🤭
Ersa
Jee...Sayang... aahh meleleh..
Ersa
simbiolisme mutualisme sama2 saling menguntungkan... jenaka perlahan sembuh dari trauma dekat dg lelaki ,lingga sembuh dari kelumpuhan
Ersa
Modus🤣
Ersa
usil apa medium tuh😁
Ersa
🤣
Ersa
jenaja butuh Terapi mental & sentuhan ketulusan hati
Ersa
atokah mrk menikah krn kejadian rudap*aksa
Ersa
🥰🥰
Ersa
cakra mantan Suami Jenaka ?? rudap*ksa??..🤔
Ersa
lalu bgmn saat menikah dg cakra, apakah tdk pernah disentuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!