Sebuah kabar mengejutkan hadir menghampiri hari bahagia Mentari kala itu.
Bintang yang merupakan calon suaminya, mengalami kecelakaan disaat mereka akan meresmikan hubungan mereka menuju halal.
Mentari pun menangis dengan gaun pengantin yang masih membalut tubuhnya.
dan...
Mentari kembali terkejut, sebuah permintaan terakhir terucap dari mulut Bintang. Memintnya untuk menikah dengan pria lain, bukan dengan dirinya.
Langit nama pria itu, yang sesungguhnya juga mencintai Mentari dalam diam.
"Nikahilah Mentari, jadikan dia istrimu." pinta Bintang.
Apakah Langit mampu membuat Mentari bahagia, menghapus kesedihan yang begitu menumpuk.
"Izinkan aku untuk Menggenggam mu Mentari." ucap Langit di saat hari pernikahan mereka.
Yuk.. kepoin Ceritanya, jangan lupa dukungan terbaiknya😚🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
🌿Selamat membaca.
🌿Semoga suka dan terus ikuti kisahnya.
🌿Like dan komen baiknya selalu dinanti 🤗.
...----------------...
Mentari tengah terdiam menatap sebuah gaun hitam panjang yang kini berada di tangannya. Manis sekali, terlihat sekali jika Mentari begitu menyukainya.
Ia mencoba mengenakannya kemudian, dan menatap dirinya berulang saat gaun itu sudah membalut tubuhnya dengan sempurna.
"Pas sekali.." gumamnya sambil menatap cermin di hadapannya dan tersenyum menatap dirinya sendiri.
Ketukan pintu terdengar, Mentari menatap arah pintu. Ia yakin, pasti saat ini Langit yang sedang berada di balik pintu.
"Kau sudah siap, boleh aku masuk?" suara Langit terdengar.
Perlahan, dengan sedikit mengangkat gaunnya agar lebih mudah dan cepat Mentari melangkah menuju pintu.
Klek..
"Ya Mas, sebentar lagi." jawab Mentari dan kembali melangkah ke arah cermin setelah membukakan pintu untuk Langit.
Langit mengikutinya dari belakang, dan Mentari terkejut saat itu. Ia tak menyadari bahwa kini Langit berada begitu dekat di belakangnya. Sosoknya terlihat pada cermin bersama dengan dirinya.
"Ini belum tertutup semua." ucap Langit dengan tangan yang sudah menutup sempurna kancing kecil di ujung gaun yang kini tengah dikenakan Mentari.
Langit tersenyum kemudian, menatap Mentari yang terlihat begitu cantik malam itu.
"Kau Cantik.." ucap Langit seakan berbisik di telinga Mentari, membuat jantung Mentari mendadak berdetak begitu kencang.
"Makasih Mas, untuk gaunnya."
"Ya.." ucap Langit dan bersamaan dengan terdengarnya dering ponsel miliknya.
Langit berjalan perlahan meninggalkan Mentari. "Aku angkat telepon dulu, kamu bersiap saja." pinta Langit kemudian dan Mentari mengangguk.
"Huft.. untung saja." bisik Mentari dengan mengusap dadanya perlahan menenangkan hatinya.
Langit hanya menjauh beberapa meter saja dari Mentari, ia mengangkat telepon dan memulai percakapan.
"Malam Pak."
"Malam, Bagaimana, sudah siap mobilnya?"
"Sudah Pak."
"Ok, lima belas menit lagi kami ke bawah."
"Baik Pak."
Kembali melangkah menuju Mentari lagi, sambil menatapnya dan tersenyum saat itu.
"Aku sudah siap Mas." ucap Mentari saat mereka sudah saling berhadapan.
Perjalanan menuju pesta pun berlangsung tak lama. Langit dan Mentari kini telah sampai di kediaman Pak Kevin, tempat di mana Pak Kevin melangsungkan pesta.
Begitu ramai dan meriah. Setelah turun dari mobil Langit meraih jemari Mentari, mengajaknya untuk masuk ke dalam bersama dan sejajar.
Perlahan dan pasti, melangkah dan tersenyum sepanjang langkah mereka. Menyapa satu sama lain dan terlihat begitu ramah.
Sampai akhirnya Langit dan Mentari sampai di hadapan pemilik pesta malam itu.
"Selamat malam Pak." sapa Langit memulai percakapan.
"Suatu kehormatan bisa didatangi seorang Langit di pesta saya."
"Tidak Pak, saya yang merasa terhormat diundang ke sini."
"Hahaha.. Bisa saja." ucap Pak Kevin dan kemudian menatap Mentari yang sejak tadi berada di samping Langit. "Dia..?" tunjuknya ke arah Mentari kemudian.
"Istri saya Pak."
"Oh.. Kapan kalian menikah?"
"Baru beberapa hari yang lalu."
"Oh ya, kalau begitu selamat untuk kalian."
"Terima kasih Pak."
Semula membicarakan hal yang ringan, sampai akhirnya membahas bisnis yang terdengar rumit. Mentari menjauh perlahan meninggalkan Langit kemudian. Rasanya tak tepat jika Mentari harus mengekorinya terus.
"Mas, aku ke toilet dulu.." bisik Mentari kemudian.
"Aku antar.. " ucap Langit mengejutkan Mentari.
"Enggak usah Mas, kamu temani Pak Kevin saja dulu." pinta Tari dan kemudian melangkah meninggalkan Langit segera.
Selangkah demi selangkah, Mentari kini sudah berada di dalam toilet. Ia tatap dirinya saat itu, sebenarnya tak ada yang ingin ia lakukan. Ia hanya mencoba membuat Langit supaya fokus dengan pekerjaannya. Tanpa membagi pikirannya untuk Mentari.
Hanya menatap dirinya sendiri dan kemudian merapikan sedikit riasan di wajahnya. Mentari kembali melangkah. Menuju Langit dan Pak Kevin berada.
Bruk..
Mentari menabrak seseorang, seorang wanita paruh baya. Mungkin seumuran usianya dengan Pak Kevin dan ke dua orang tuanya saat ini.
"Maaf, maaf, Ibu enggak apa-apa?" tanya Mentari memastikan.
"Enggak apa-apa.." jawabnya dan membuat Mentari tersenyum lega mendengarnya.
Ibu itu pergi kemudian meninggalkan Mentari seorang diri kembali.
Tiba-tiba saja Langit sudah berada begitu dekat dengan dirinya. Ia tampak tergesa menghampiri Mentari.
"Ada apa?" tanyanya.
"Tidak ada apa-apa.."
"Sungguh, kenapa lama sekali?"
"Tadi aku hanya menabrak seseorang saja, tapi tidak apa - apa kok." ucap Mentari lagi mencoba meyakinkan.
"Kalau begitu kita kembali ke pesta, setelah itu kita baru balik ke hotel."
"Urusanmu sudah selesai dengan Pak Kevin?"
"Belum.."
"Lalu kenapa cepat kembali.."
"Aku akan kembali setelah mengantarmu.."
"Mas, aku bisa sendiri.."
"Tidak.. Aku akan mengantarmu.."
"Atau Bayu bisa mengantarku, bagaimana? Aku tau ini hal yang penting, selesaikan dulu urusanmu dengan Pak Kevin, inikan tujuan mu ke sini." ucap Mentari mengingatkan.
"Kau sungguh tak apa jika diantar Bayu saja?"
"Aku akan baik-baik saja." jawab Mentari meyakinkan Langit kembali.
Langit setuju akhirnya, setelah makan malam saat itu. Bayu mengantar Mentari kembali ke hotel. Sedangkan Langit, sebelum kembali menemui Pak Kevin ia sempatkan diri untuk mengantar Mentari juga menuju mobil.
"Hati-hati, aku akan segera kembali.." pesannya dan kemudian mengecup kening Mentari dan Mentari begitu terkejut.
Langit hanya tersenyum saat itu, tersenyum menatap wajah Mentari yang terlihat malu. Melepaskan genggaman tangannya yang sejak tadi terus menggenggamnya, rasanya ia tak rela jika harus berpisah dengan Mentari, walau hanya sesaat.
Setelah berpamitan, Mentari pun masuk ke dalam mobil dan melakukan perjalanan pulangnya menuju hotel. Tanpa disadari ia tersenyum saat itu, saat teringat dengan sikap Langit padanya tadi.
.
.
.
.
Mentari tampak melangkah bolak balik, dengan ponsel terus berada di genggamannya. Sudah malam sekali, Langit masih belum kembali.
Tak ada pesan pun yang hadir untuk dirinya dari Langit. Mentari jatuhkan tubuhnya kemudian di atas ranjang tempat tidurnya. Sehingga ia dapat melihat langit-langit kamar hotel dengan jelas.
Sudah tiga jam berlalu, setelah perpisahan dirinya dengan Langit tadi.
"Huft.. Apakah selama ini mereka membahas pekerjaan." protes Mentari sendiri.
"Apa mungkin Mas Langit tidak tidur di sini malam ini." ucapnya lagi menyimpulkan.
"Ya mungkin saja, bisa saja Mas Langit memesan kamar hotel lagi untuk dirinya sendiri, bodoh.. Kenapa aku menunggunya.." keluhnya kemudian.
Dan tiba-tiba, terdengar bel kamarnya berbunyi. Mentari langsung bangkit dari tidurnya saat itu. Ia tampak tergesa ingin segera membuka pintu. Ia yakin itu Langit..
Klek..
Terbuka sudah, namun ia terkejut menatap apa yang ada di hadapannya saat ini. Terlihat langit yang tampak dibantu Bayu untuk tetap berdiri saat ini.
"Mas Langit.." panggil Mentari. "Mas Langit kenapa?" tanyanya kemudian.
"Pak Langit mabuk bu." ucap Bayu menjelaskan dan kemudian melangkah masuk ke dalam dan membantu meletakan Langit di atas ranjang.
"Kalau begitu, saya pamit dulu bu.."
"Terima kasih.." jawab Mentari dan terlihat bingung akhirnya.
Ya.. Ia bingung apa yang harus ia lakukan setelah ini.
.
.
.
.
Bebaslah, mau lakuin apapun boleh😂
belum saya baca habis ada waktu luang nanti saya mampir baca ya thor 🤗
tetap semangat berkarya sukses selalu🙏
temen mentqri😅😅
🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️