Asgar, baru saja lulus kuliah, tetapi saat ia hendak keluar rumah, ia justru diculik dan diracuni hingga membuat kedua matanya buta dan berpisah dari sang kakek hingga menjadi gelandangan.
Saat ia bisa bertemu dengan kakeknya, ia diminta merawat seorang gadis lumpuh dan menikah dengannya. Pernikahan terjadi tetapi karena buta ia justru semakin dihina oleh keluarga besar istrinya. Padahal ia adalah seorang cucu dari dokter ajaib yang bisa menyembuhkan penyakit aneh.
Hingga beberapa saat kemudian ia berhasil menyembuhkan kaki istrinya dan juga kedua matanya. Kehidupan mulai membaik saat ia bisa menyembuhkan berbagai penyakit dengan kemampuan medisnya.
Bagaimanakah perjalanan Asgar dalam mengubah takdirnya? Apakah ia juga bisa mendapatkan cinta dari istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20. HAJAR AJA
Saat ini kondisi Adelle sudah baik-baik saja ia sudah kembali kuliah seperti sebelumnya. Apalagi Asgar selalu membuatkan ramuan agar bau badannya hilang.
Asgar memang selalu sibuk di dapur. Ia lebih ahli dalam membuat berbagai masakan untuk Keluarga Jiang. Sama seperti saat ini setelah selesai membuat masakan ia pun masih menyempatkan membuat jamu untuk adik iparnya.
"Kamu sedang apa?" tanya Auora melihat ke arah suaminya.
"Meracik jamu untuk Adelle. Setidaknya tidak perlu memerlukan bantuan hantu untuk menarik lawan jenis," ucapnya sambil tersenyum.
"Sayang 'kan kalau cantik tapi justru pakai ilmu hitam. Nanti yang rugi kita sendiri."
Ucapan Asgar terdengar ringan tetapi justru terlihat memiliki sebuah kebenaran. Aurora sama sekali tidak tersinggung akan hal itu. Ia justru suka jika Asgar berterus terang.
Setelah semuanya siap, Asgar berniat untuk mengantarkan jamu itu ke tempat adiknya. Akan tetapi langkah kaki Asgar dicekal oleh Aurora.
"Mau kemana?"
"Mengantar jamu!"
Aurora ternyata keberatan dan ia mengatakan jika dia saja yang mengantarkan minuman itu kepada adiknya. Aurora mengatakan jika posisi Asgar adalah suaminya, sehingga tidak pantas jika dia bersikap seperti seorang pembantu.
"Kedudukan kamu adalah suami. Jadi tidak pantas untukmu berperilaku seperti pembantu. Justru Adelle yang harus menghormati kamu."
"Baiklah kalau itu maumu."
Perkataan dari Aurora membuat Asgar bahagia. Setidaknya istrinya sudah memperlakukan dirinya sebaik mungkin dan mengakui Asgar jika ia adalah suaminya.
Meskipun Adelle tidak pernah mengucapkan terima kasih, tetapi Asgar sudah memakluminya.
Setidaknya Adelle sudah tidak menghinanya seperti dulu.
"Loh, mana Asgar?"
"Mulai sekarang kamu tidak boleh memanggil namanya. Dia adalah suami kakak, jadi kamu pun harus hormat padanya."
"Ok, fine."
Setelah Aurora meninggalkan kamarnya, ponsel Adelle berdering. Rupanya teman dekatnya mengajak untuk bertemu. Tentu saja hati Adelle berbunga. Dengan segera ia menenteng tas lalu keluar rumah.
Saat ini ia mempunyai banyak teman lelaki. Salah satunya sedang berulang tahun dan mengundang Adelle. Merasa jika tubuhnya sudah tidak bau, maka Adelle dengan penuh percaya diri menemui mereka dengan pakaian ketat.
Lekuk tubuhnya terlihat menonjol pada beberapa bagian. Paras yang ayu membuat ia terlihat lebih cantik. Awalnya ia merasa bahagia karena teman spesialnya mengajaknya ke privat room.
Namun, ternyata Adelle dijebak oleh teman-temannya. Bahkan ia hampir dilecehkan olehnya. Kedua tangannya terikat dan ia duduk di kursi. Saat ini ia telah dibawa ke sebuah gudang kosong. Di sekelilingnya banyak sekali lelaki hidung belang.
"Kau, apakah kau mengira jika kita bisa berpacaran. Kau salah besar Adelle."
"Ma-maksud kamu?"
"Kita tidak akan pernah menjadi sepasang kekasih karena targetku adalah Frans dan kau justru mencintainya pula!"
"Hei, kau lelaki jadi mana mungkin menyukai lelaki pula?"
"Kenapa tidak, toh kami saling mencintai!"
Adelle merasa tidak adil. Saat ia mencintai Frans rupanya ia justru berpacaran dengan Joshep. Lelaki yang juga sedang dekat dengannya tetapi rupanya ia mempunyai kelainan hati. Mencintai sesama alias jeruk makan jeruk.
Adelle tidak bisa diam, saat mereka hendak melecehkannya ia berteriak. Merasa terjebak, ia tidak bisa berbuat banyak. Kebetulan saat itu Asgar hendak pergi mencari bahan obat.
Rupanya saat ditengah jalan ia mendengar teriakan seorang wanita, karena penasaran maka ia pun bergegas untuk berlari mencarinya. Benar saja, rupanya adik iparnya sedang dilecehkan.
Kedua tangannya terikat di kursi. Baju bagian atasnya sedikit terkoyak, baru saja ia hendak melepas celananya, Asgar sudah datang dan menghadiahkan sebuah tendangan ke arah punggung pelaku.
"Sialan! Siapa yang berani mengacaukan rencanaku!" teriak kepala Joshep di sana.
Tidak mau terluka lebih banyak, ia segera mencari siapa yang berani menendang tubuhnya. Padahal saat ini Asgar sudah berada di atasnya. Lebih tepatnya ia berada di atas almari.
Asgar tersenyum karena mereka tidak menyadari keberadaannya. Saat mereka lengah Asgar segera memukul mereka satu persatu. Hanya butuh sedikit waktu mereka semua bisa ditaklukkan.
Di sisi lain, Adelle terbelalak karena kakak iparnya justru hasil melumpuhkan mereka hanya dengan tangan kosongnya.
Jauh sebelum ini Asgar memang sangat terampil dalam hal beladiri. Maka dari itu ia pun menyelamatkan adik iparnya. Berbeda kasus dengan kalau untuk masalah yang beberapa hari yang lalu. Ia memang tidak menggunakan kekuatannya hanya untuk mengetahui siapakah dalang dibalik semua ini.
Setelah ia menemukan dalang dibalik pelaku penusukan dirinya. Ia pun menyerahkan segala keputusannya kepada Aurora. Masih dengan wajah bengong, Adelle justru terpesona dengan Asgar.
Hingga ia tidak sadar ketika Asgar mulai menutupkan mantel miliknya untuk Adelle.
"Ayo pulang!" ajak Asgar pada Adelle yang masih bengong.
Melihat adik iparnya bengong, ia pun menggerakkan tangannya ke hadapannya.
"Hei, kau kenapa?"
"Astaga, ternyata kakak iparku tampan sekali?" gumam Adelle.