Menjadi istri mantan preman membuatku terpaksa digadaikan oleh suamiku sendiri. Tak tanggung-tanggung, aku digadaikan pada musuh suami. Tanpa aku tahu bahwa sebenarnya suamiku mendapat ancaman. Ditambah lagi aku mesti menghadapi ibu mertua yang julid di masa kehamilan ini.
Pria yang sudah bertaubat, dipaksa untuk kembali menjalani kehidupan di dunia gelap karena sebuah ancaman.
Di posisi sulit ini, aku bertanya-tanya, akankah aku mampu menyelamatkan diriku dari pegadaian yang terpaksa dilakukan oleh suamiku sendiri? ikuti kisah penuh intrik ini dengan baca sampai ending.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bicaralah
Akhmar terdiam. Disaat ia hampir jatuh ke jurang dalam yang menyesatkannya, justru Aiza menahannya dengan genggaman cinta. Menunjukkan bahwa cinta Tuhan begitu besar, melalui Aiza cinta itu Dia tunjukkan. Bahwa memang benar, Tuhan masih terus mengingatkannya meski juga mengujinya.
Aiza menghela napas, menarik sedikit sudut bibirnya. "Ketika seorang penjahat dari bani israil yang sudah membunuh sembilan puluh sembilan orang ingin bertaubat, dia mendatangi seorang ulama dan dia mengakui bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, lalu dia bertanya, 'kalau saya bertobat, sudikah kiranya Allah menerima tobat saya?' Lalu ulama pun berkata, 'Dosamu sangat besar. Betapa banyak jiwa yang kau hilangkan hak hidupnya. Tidak. Allah tidak akan menerima tobatmu.'
Sang penjahat terkejut, Ia langsung menghunuskan pedangnya. Ia pun membunuh ulama tersebut. Genaplah 100 korban yang menjadi korban pembunuhannya. Keesokan harinya ia kembali bertanya kepada seorang ulama. 'Saya ingin bertobat, saya telah menghilangkan 100 nyawa, mungkinkah Allah menerima tobat saya?' Lalu ulama tersebut menjawab, 'Selagi nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu tobat masih terbuka. Tetapi ada syarat yang kamu harus penuhi. Kamu harus pindah ke desa sebelah. Desamu pusat kriminalitas. Kalau tetap di sana, kamu akan kesulitan menjaga diri. Sedangkan desa sebelah adalah pusat kesalehan. Kalau tinggal di sana maka banyak perbuatan baik yang akan menarikmu ikut,' begitu kata ulama tersebut."
Aiza mwnelan saliva. Menjeda ceritanya.
Akhmar setia mendengarkan.
"Lalu didorong niat yang kuat bertobat, bergegaslah si pembunuh itu menuju desa yang dimaksud ulama tersebut. Setengah perjalanan, tiba-tiba pria tersebut menderita sakit parah dan sekarat.
Malaikat adzab dan malaikat rahmat datang bersamaan mendekati Izrail yang tengah bersiap-siap mencabut nyawa pria tersebut. Terjadi perdebatan. Malaikat adzab berkata, "Izrail, serahkan jiwa pembunuh ini. Aku akan segera menyeretnya ke neraka," Sedangkan malaikat rahmat berkata, 'Tidak Izrail, ia telah bertobat. Ia seorang hamba Allah. Serahkan kepadaku saja. Aku membawanya ke surga,"
"Tetapi dia belumlah berbuat baik sedikutpun," ucap malaikat adzab.
"Setidaknya ia punya iktikad untuk berbuat baik," jawab malaikat rahmat."
Aiza kembali diam.
Sepi.
Akhmar mulai tertarik dengan cerita yang disampaikan oleh Aiza. Lidahnya pun tergerak untuk bertanya, "Lalu?"
"Karena kedua malaikat itu berdebat. Lalu Allah SWT mewahyukan kepada Izrail untuk menjadi penengah, yakni untuk mengukur langkah yang telah dicapai si pembunuh. Jika lebih dekat dengan maksiat berarti hak malaikat adzab, kalau lebih dekat dengan desa saleh maka menjadi hak malaikat rahmat. Lalu Diukurlah jarak antar keduanya. Hasilnya, pria tersebut lebih dekat kepada desa saleh sehingga malaikat rahmat yang berhak membawa jiwa sang pembunuh untuk membawanya ke surga."
Akhmar menghela napas. Mengambil kesimpulan dari cerita yang disampaikan Aiza. Andai saja si pria pembunuh telat beberapa waktu untuk melangkah menuju ke desa saleh, pasti jaraknya lebih dekat dengan desa maksiat, dan ia tentunya diseret ke neraka. Waktu tidaklah banyak, tidak tahu kapan ajal akan menjemput, bersegeralah menjemput kebaikan.
Akhmar meraih tubuh mungil istrinya. Lalu memeluknya erat.
Hati Aiza damai sekali mendapat pelukan Akhmar. Ia mengerti arti pelukan itu.
"Aku membunuh pria itu." Akhmar mulai terlihat rileks untuk menceritakannya. Lidahnya tidak lagi kaku untuk bicara. "Aku ada di lokasi pembunuhan tepatnya saat pertukaran shabu- shabu dan uang. Aku datang di sana menyamar sebagai cleaning servis yang membersihkan gedung. Hingga saat penembakan itu terjadi, nggak ada yang tau bahwa aku adalah Akhmar. Sebisa mungkin aku nggak meninggalkan jejak atau bukti apa pun. Termasuk sidik jari dan lain sebagainya. Aku melepaskan peluru itu ke dadanya, aku pun nggak menyangka jika tugas itu aku lakukan dengan baik tanpa meninggalkan kecurigaan apa pun."
Aiza menggenggam tangan Akhmar. Ia bahkan tidak menyangka jika akhirnya Akhmar terjun ke dalam masalah seberat itu.
"Aku ini pembunuh, Aiza. Aku pembunuh," lirih Akhmar menyesali.
Aiza mengelus punggung tangan suaminya.
Bersambung