Rindu menerima tawaran Azahra bos di kantornya untuk menjadi surrogate mother. Walaupun pamannya melarangnya, Rindu tetap nekad menjadi surrogate mother. Karena ia ingin menebus sertifikat rumah pamannya yang digadaikan ke bank.
Namun rencana tidak seindah yang dibayangkan. Ketika Rindu sedang hamil empat bulan, Azahra meninggal dunia karena penyakit jantung. Sedangkan suami Azahra yang bernama Nizam sulit untuk dihubungi.
Bagaimanakah dengan nasib Rindu dan bayi di dalam kandungannya?
Follow ig Deche @deche62
Fb Deche
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Es Cendol Dan Rujak
Acara pengajian pun dimulai. Dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh ibu-ibu pengajian kemudian diisi dengan ceramah yang diberikan oleh seorang salah satu ustad yang cukup terkenal di kota Bandung. Kemudian ditutup dengan doa untuk kedua bayi yang berada di kandungan Rindu. Setelah itu semua para tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.
Ketika para tamu sedang menikmati makan siang Rindu dan Nizam berjualan es cendol dan rujak. Para tamu bisa membelinya dengan uang koin yang terbuat dari tanah liat yang telah di sediakan.
Nizam protes ketika disuruh berjualan es cendol dan rujak.
“Kenapa harus Nizam yang berjualan es cendol dan rujak? Kenapa tidak suruh petugas catering saja yang berjualan? Itu kan sudah tugas mereka melayani para tamu,” kata Nizam dengan kesal.
“Karena kamu bapaknya bayi-bayi yang berada di dalam kandungan Rindu, bukan petugas catering,” jawab Ibu Neri.
“Ya sudah, Rindu saja yang berjualan rujak dan es cendol,” ujar Nizam.
“Kamu gimana, sih? Bayi-bayi itu tidak akan tiba-tiba ada di perut Rindu kalau tidak ada kerjasama kalian berdua. Jadi kalian berdua yang harus jualan rujak dan es cendol,” kata Ibu Neri.
Nazriel dan Pak Haidar memperhatikan perdebatan Ibu Neri dan Nizam. Rindu hanya diam sambil menunduk.
“Mah, biar Nazriel aja yang bantu Rindu berjualan,” kata Nazriel.
“Jangan, Zriel,” kata Ibu Neri.
“Sudahlah, Mah. Biar Nazriel aja yang bantu Rindu berjualan. Daripada berdebat terus, malu sama tamu,” sahut Pak Haidar.
“Zriel, kamu berdiri di sebelah Rindu!” kata Pak Haidar.
“Iya, Pah.” Nazriel langsung menghampiri Rindu. Tiba-tiba dicegah oleh Nizam.
“Tidak usah! Biar Abang saja yang bantu Rindu,” kata Nizam. Nizam langsung mendekati Rindu.
“Loh? Tadi katanya nggak mau?” tanya Nazriel. Nizam diam tidak menjawab.
Ibu Neri hanya menghela nafas melihat kelakuan putra sulungnya yang membuat sakit kepala.
Rindu menuangkan es cendol dan rujak serut ke dalam gelas, sedang Nizam yang memberikan es cendol dan rujak kepada para tamu. Nizam melayani para tamu dengan wajah yang ramah.
“Mang Nizam, beli rujak serut. Tapi jangan pedas-pedas, ya! Nanti sakit perut,” kata Ijonk dengan becanda.
“Rin, kasih sambel yang banyak buat dia,” kata Nizam kepada Rindu yang sedang menuangkan rujak ke dalam gelas.
“Jangan, dong. Nanti saya kepedasan,” sahut Ijonk.
“Tidah usah pakai sambel saja, ya. Rujaknya sudah pedas,” kata Rindu.
”Iya, tidak apa-apa,” jawab Ijonk.
“Ini, Pak.” Rindu membeikan rujak kepada Ijonk langsung.
“Terima kasih,” ucap Ijonk.
Nizam memperhatikan Rindu.
“Kok kamu berikan langsung ke dia? Mestinya berikan dulu ke saya, biar saya yang memberikan ke dia,” protes Nizam.
“Maaf, Pak. Saya lupa,” jawab Rindu.
“Kalau sudah dituangkan ke dalam gelas, taruh saja di atas meja. Biar saya yang berikan kepada tamu,” kata Nizam.
“Iya, Pak,” jawab Rindu.
Iyan dan istrinya menghampiri Nizam dan Rindu. Mereka hendak membeli rujak.
“Mah, kapan lagi kita bisa merasakan beli rujak dilayani sama bos besar,” kata Iyan kepada istrinya di depan Nizam dan Rindu.
“Cepetan! Elu mau beli apa?” tanya Nizam.
“Gue sama istri gue mau rujajk dan es cendol,” jawab Iyan.
“Boleh. Tapi lu berdua bayarnya pake cek, ya! Kan, yang melayaninya bos besar,” kata Nizam.
“Ntar gue bayar pake cek kosong,” jawab Iyan.
Nizam memberikan cendol kepada Iyan dan istrinya. Lalu Nizam memberikan rujak kepada Iyan.
“Bu, rujaknya pake sambel atau tidak?” tanya Rindu.
“Boleh. Yang pedas, ya,” jawab istri Iyan.
Rindu menuangkan sambel ke dalam rujak, lalu ia memberikan rujak kepada istri Iyan.
“Terima kasih,” ucap istri Iyan.
“Sama-sama, Bu,” jawab Rindu. Kemudian Iyan dan istrinya berlalu dari hadapan Nizam dan Rindu.
Hari sudah menjelang sore, para tamu sudah pulang. Tinggallah keluarga Pak Adjat belum pulang, karena Pak Adjat sedang berbicara dengan Pak Haidar. Sedangkan Nisa dan Mira sudah rewel minta pulang. Ibu Emin menghampiri Pak Adjat.
“Pak, ayo kita pulang. Anak-anak sudah cape,” kata Ibu Emin kepada Pak Adjat.
“Iya, Bu,” jawab Pak Adjat kepada Ibu Emin.
“Pak Haidar, saya permisi pulang. Anak-anak sudah pada cape,” pamit Pak Adjat.
“Pak Adjat pulang naik apa?” tanya Pak Haidar.
“Naik taksi online, Pak,” jawab Pak Adjat.
“Jangan naik taksi. Nanti Pak Adjat diantar pulang oleh supir saya,” kata Pak Haidar.
“Sebentar saya cari supir saya dulu.” Pak Haidar beranjak mencari supirnya.
“Bu, kita pamit dulu sama Rindu,” kata Pak Adjat.
Mereka pun masuk ke dalam rumah untuk berpamitan dengan Rindu. Mereka menghampiri Rindu yang sedang berbicara dengan Ibu Neri.
“Ibu, kami pamit pulang dulu,” kata Pak Adjat kepada Ibu Neri.
“Terima kasih sudah mau datang ke acara syukuran Rindu,” ucap Ibu Neri.
Pak Adjat dan keluarganya menyalami Ibu Neri.
“Nih, untuk kalian. Seorang satu.” Rindu memberikan beberapa gody bag kepada Nisa, Mira dan Rida.
“Banyak sekali, Teh,” kata Nisa.
“Tidak apa-apa. memang Teteh buat banyak untuk bingkisannya,” jawab Rindu.
“Terima kasih, Teh,” ucap Nisa, Mira dan Rida.
Pak Haidar masuk ke dalam rumah dan menghampiri mereka. “Maaf, Pak Adjat. Sepertinya supir saya sudah pulang,” kata Pak Haidar.
“Tidak apa-apa, Pak Haidar. Kami bisa pulang naik taksi,” jawab Pak Adjat.
Pak Haidar melihat Nazriel turun dari tangga, ia sudah menggunakan baju santai.
“Tunggu sebentar Pak Adjat,” kata Pak Haidar.
Pak Haidar menghampiri Nazriel.
“Zriel, tolong antarkan pulang Pak Adjat dan keluarganya. Sepertinya Pak Sukri dan Pak Mutaqin sudah pulang,” kata Pak Haidar.
“Boleh. Nazriel ganti celana dulu,” jawab Nazriel.
Nazriel menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya. Pak Haidar kembali menghampiri Pak Adjat.
“Pak Adjat, nanti Bapak pulangnya diantar sama Nazriel,” kata Pak Haidar.
“Waduh, saya jadi merepotkan Nazriel.” Pak Adjat merasa tidak enak karena jadi merepotkan keluarga Pak Haidar.
“Tidak apa-apa, Pak Adjat,” jawab Pak Haidar.
Tak lama kemudian Nazriel turun dari lantai atas. Ia sudah mengganti celana pendeknya dengan celana jeans.
“Pakai mobil apa, Pah?” tanya Nazriel.
“Mobil alpard,” jawab Pak Haidar.
“Nih, kuncinya.” Pak Haidar memberikan kunci mobil kepada Nazriel.
“Kami permisi pulang dulu. Assalamualaikum,” ucap Pak Adjat.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.
Pak Adjat dan keluarga keluar dari rumah Pak Haidar. Rindu mengantarkan paman dan bibinya sampai ke depan rumah. Haikal, Rida, Nisa dan Mira masuk ke dalam mobil. Sebelum Pak Adjat masuk ke dalam mobil, Rindu mencium tangan Pak Adjat dan Ibu Emin.
“Jaga diri baik-baik. Pandai-pandailah menepatkan diri,” pesan Pak Adjat.
“Baik, Paman,” jawab Rindu.
“Paman dan Bibi pulang dulu, ya,” pamit Pak Adjat.
“Iya, Paman,” jawab Rindu.
Pak Adjat dan Ibu Enim masuk ke dalam mobil.
“Dadah Teteh.” Nisa, Rida dan Mira melambaikan tangan ke Rindu.
“Dadah.” Rindu membalas lambaian tangan mereka.
Rindu memandangi mobil itu hingga menghilang dari pandangan matanya.
.
.
.