Revisi dari novel yang lama judulnya 'Maid make me crazy'
.
.
Annastasya Arrabella
Kebangkrutan keluarganya mengharuskannya mencari uang sendiri untuk kuliahnya, dirinya terpaksa menjadi seorang maid, karena hanya itu tawaran yang datang padanya.
"Bagaimana mau tidak jadi maid?"
"Apa? Maid...?"
"Baiklah tak ada pilihan lain"
__________
Roland Zain Abraham.
Ceo, tampan,dan mapan juga seorang Casanova penakluk wanita,dirinya harus menahan hasratnya pada seorang maid yang dianggapnya bukan levelnya.
"Maid itu? haha..tidak dia bukan level ku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18- Sakit
Kejadian semalam membuat Roland benar benar malu di depan Anna, bisa bisanya Anna menjatuhkannya dengan kata kata itu. "Apa dia bilang 'kekasihku bertunangan sahabatku',yang benar saja itu terdengar seperti aku yang dicampakkan"
Roland menuruni tangga dan melihat kearah meja makan kosong apa Anna tidak memasak,bahkan tak ada kopi di meja. "Tunggu dia juga tidak membangunkanku tadi" bahkan Roland menyiapkan bajunya sendiri.
Roland berjalan kearah kamar Anna "Awas saja jika dia masih tidur" Roland menggerutu.
Roland mengetuk pintu "Anna?' tok..tok..tok.."
"Anna,!!" " kenapa sepi? apa dia pergi,tapi kemana sepagi ini" Roland memutar handle pintu dan terbuka.
"Benar bukan dia masih tidur" Roland melihat gumpalan selimut di atas ranjang.
Roland menyibak selimut namun Anna masih bergeming "Anna!" Roland menyentuh bahu Anna namun Roland menggeryit lalu tangannya beralih kearah dahi "Panas, kau demam" Anna masih tak terusik "Apa dia pingsan,Astaga..!!" Roland menyerukan tangannya di antara leher dan paha Anna dia akan membawanya ke rumah sakit,Roland berjalan sedikit berlari kecil kearah pintu "Anna hei.. kau dengar aku" raut Anna merah akibat suhu panas dari tubuhnya.
Roland memasuki lift namun mulutnya tak henti berbicara semoga Anna masih bisa mendengar "Anna sadar lah!!" Roland mengumpat kenapa lift terasa lama untuk berhenti, baru kali ini dia menyesal mempunyai Apartemen di lantai 50.
Roland membaringkan Anna di posisi penumpang lalu memasang sabuk. Roland memasuki mobilnya Roland menepuk pipi Anna "Anna kau dengar aku?" namun Anna hanya melenguh "Tenanglah aku akan segera membawamu ke rumah sakit" dia menenangkan Anna sedangkan dirinya lah yang panik.
Sebelum menjalankan mobilnya Roland menghubungi rumah sakit agar segera menyiapkan perawatan untuk Anna.
Begitu tiba Dokter sudah siap dengan para perawat, Roland membaringkan Anna di ranjang rumah sakit, dokter membawa Anna ke ruang IGD sedang Roland menunggu di luar.
Sambil menunggu dokter selesai Roland menghubungi Roland.
"Dev aku tak bisa ke kantor, "
"...."
"Ya atur ulang rapat hari ini"
"..."
"Aku di rumah sakit,"
"...."
"Tidak bukan aku yang sakit, tapi Anna"
Roland menutup telponnya ketika mendengar pintu terbuka "Bagaimana dok?"
"Kami akan cek lab dulu tuan,jika dugaan kami benar nona itu terkena Demam berdarah,seperti gejala yang terlihat"
"Baiklah lakukan yang terbaik"
Roland menemui Anna yang sudah di pindahkan ke ruang rawat, "Dasar bodoh kenapa sakit tidak memberi tahu" gumam Roland ketika melihat raut Anna yang pucat pasi.
Entah kenapa Roland begitu khawatir melihat Anna tak sadarkan diri, bahkan sekarang Anna belum juga sadar.
Roland menyentuh tangan Anna yang masih terkulai lemas, kenapa rasanya hatinya menghangat ketika menggenggam tangan mungil Anna.
"Aku benar benar gila" Roland meraba dadanya yang tiba tiba berdebar.
Anna mengerjapkan matanya yang pertama dilihatnya atap putih,ya...atap dikamarnya juga putih, tapi tunggu? Anna mengedarkan pandangannya ruangan luas dengan nuansa putih Anna merasakan tubuhnya lemas lalu melihat kearah tangan nya tertancap jarum infus "Ah.. rumah sakit"
Roland keluar dari toilet dan mendapati Anna yang sudah sadar "Bagaimana perasaanmu?" Roland meraba kening Anna "Sudah tidak terlalu panas" katanya lagi.
"Tua anda yang membawaku ke rumah sakit?"
"Ya,kalau aku tak penasaran dan masuk ke kamarmu mungkin aku akan menemukan mayatmu nanti, kenapa tidak bilang kalau sakit?"
"Terimakasih.." hanya itu yang Anna ucapkan bahkan terdengar lirih.
"Hmm.." Roland menekan tombol di sisi ranjang Anna agar dokter segera datang keruang rawat Anna.
Tak berselang lama dokter memasuki ruangan dan mengecek keadaan Anna "Apa yang kau rasakan nona?" tanya dokter.
"Kepalaku pusing dan tubuhku lemas" kata Anna lirih.
"Baiklah, anda terkena demam berdarah setelah ini suster akan memberi obat jangan lupa diminum namun sebelumnya anda harus makan terlebih dahulu"
"Baiklah tuan Roland saya akan kembali untuk mengecek keadaan pasien nanti pastikan nona Anna istirahat"
Roland mengangguk.
Setelah dokter pergi suasana jadi canggung Roland melihat kesembarang arah,tak lama seorang suster membawa nampan berisi makanan dan obat yang harus diminum Anna, Anna mencoba untuk duduk agar bisa makan "Jangan bangun biar aku yang suapi" kata Roland.
"Tidak usah tuan biar aku saja"
"Sudah diamlah cepat buka mulutmu" Anna pun mulai membuka mulutnya dan menerima suapan dari Roland.
"Sudah tuan" setelah suapan ketiga Anna merasa mual.
"Sekali lagi ya" bujuk Roland, Anna menggeleng.
"Aku mual"
"Baiklah, sekarang minum obat mu" Roland memberikan obat dan dimasukan langsung kedalam mulut Anna dan meminumkan air, Roland melakukannya dengan telaten.
Entah mengapa Roland melakukannya dengan ringan untuk pertama kalinya Roland melakukan itu pada seorang wanita bahkan Roland tak pernah melakukannya pada siapa pun dan kini ia lakukan pada maidnya, Untuk sesaat mereka beradu pandang Roland seolah bisa merasakan sakit Anna,melihat Anna yang begitu lemas "Sekarang istirahatlah" Roland menaikan selimut hingga ke dada Anna.
Anna hanya mengangguk lalu memejamkan matanya, sungguh dia begitu lemas,banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan pada majikannya itu namun akan ia simpan untuk nanti setelah dia baikan.
Like..
komen ..
vote..
🌹🌹🌹🌹🌹