Abraham dimitri mencintai sahabat semasa remaja dalam diam. Namun, ia memilih pergi menjauh, dan merelakan saat gadis itu memilih lelaki lain sebagai pasangan hidupnya. Ia pergi membawa cinta yang harus pupus bahkan sebelum sempat di ungkapkan. Ia pun mulai kembali menata hidupnya bersama wanita pilihan kedua orang tuanya, sayangnya semua tak bertahan lama. Sebuah kecelakaan di rumah membuatnya harus kembali menelan pil pahit kehilangan untuk kedua kalinya. Ia terpuruk, di hantui rasa bersalah atas kematian sang istri hingga memutuskan untuk pergi jauh bahkan saat putranya masih bayi. Namun, takdir kembali mempertemukannya dengan Shaqina, cinta pertamanya. Kehidupan Shaqina yang jauh dari ekspektasinya membuatnya memutuskan untuk kembali menetap dan mencoba memperjuangkan cintanya yang belum usai. Sayangnya keinginannya bertentangan dengan sang ibu yang menginginkan wanita lain untuk menjadi istrinya. Akankah Abraham berhasil menyelesaikan kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elasukma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Jahat 2
"Ayah jahat!" teriak Safia marah.
"Safia, bagaimana kamu bisa ada di sini, Nak?"
"Siapa tante ini? Kenapa dia minta Ayah menikahinya?" Safia bertanya dengan nada yang meninggi.
Wanita seksi di belakang Ayahnya maju selangkah ke depan, " Kamu mau tau siapa aku?"
"Jangan macam-macam, Ren!" Ancam Hardian tapi tidak di hiraukan.
Fia menatap wanita itu tajam, wanita seksi itu berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Safia kemudian berbisik lirih di telinga gadis kecil itu.
"Aku calon mamamu, dan aku sedang mengandung anak ayahmu,"
"Iren!" bentak Hardian pada wanita selingkuhannya.
"Anakmu harus tahu kalau dia akan punya adik baru, Mas." ucapnya tanpa rasa bersalah.
Fia menggeleng keras. Kenyataan ini, kenapa terasa begitu menyakitkan baginya. "Aku gak mau punya adik baru!" pekik gadis kecil itu membuat dua orang dewasa di depannya mengalihkan perhatian padanya.
Nafas Safia memburu menahan amarah, apa yang ia dengar selama ini ternyata adalah sebuah kebenaran, sekarang ia menyesal sempat kecewa pada sang Bunda karena meminta perceraian pada ayahnya.
"Bundaku cuma satu, aku gak butuh mama baru!" teriaknya lagi lalu beralih meatap ayahnya "Ayah jahat sama Bunda! Aku benci sama Ayah!"
Raungan Safia menarik perhatian orang-orang yang mulai mendekat ingin tau,Hardian mencoba menenangkan anaknya, namun Fia meronta dan mendorong tubuh sang ayah lalu berlari menjauh meninggalkan rumah kediamannya.
Hardian ingin mengejar, tapi Iren menjegal tangannya dan memberi isyarat untuk membiarkan anak itu pergi. Hardian menghempaskan tangan wanita itu dengan kesal dan menyuruhnya pergi dari rumahnya. Iren sempat menolak, namun gunjingan para tetangga dan tatapan tak menyenangkan dari mereka membuatnya tak nyaman dan memutuskan pergi dari tempat itu.
Sementara Fia berlari dengan hati yang terluka. Ia menangis lalu berjongkok di sisi jalanan hingga mengundang perhatian orang-orang sekitarnya. Tak sedikit yang memberi perhatian, menanyakan kemana orang tua dan apa yang terjadi kepadanya.
Orang-orang itu berpikir gadis kecil berseragam putih-merah itu tengah tersesat dan lepas dari genggaman orang tuanya.
Safia hanya menggeleng, dan menangis sepuasnya tak perduli apa yang ia lakukan membuat orang kebingungan.
Setelah sedikit lega ia berdiri, menatap orang-orang dan meminta maaf atas kegaduhan yang ia buat lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Fia melangkah mengikuti kemana arah kaki membawanya, pikirannya kacau kalimat dari wanita itu terus terngiang di benaknya.
Mengapa ayahnya sejahat ini? Padahal tadinya ia ingin meminta ayahnya untuk membujuk sang Bunda dan mendamaikan mereka. Tapi ternyata justru kabar ayahnya yang akan menikah dan punya bayi yang ia dapat.
Dalam kalut tanpa sadar kaki Fia melangkah terlalu tengah ke jalanan, bunyi klakson mobil menyadarkannya dari lamunan. Fia menjerit kaget tapi tubuhnya seakan kaku untuk bergerak, beruntung seseorang menarik tubuhnya sebelum mobil itu melintas dan menabraknya.
🌺🌺🌺
Di rumah Shaqina sudah panik mencari keberadaan putri sulungnya. Akhirnya ia memutuskan menitipkan anak-anaknya yang masih kecil bersama bibinya di toko, sedang dia akan mencoba mencari Fia kerumah kediamannya atau kerumah mertuanya berharap Safia berada di sana.
Baru saja akan berangkat sebuah sepeda motor berhenti di depannya, pengendara motor itu membuka helm ful facenya dan tersenyum padanya.
"Om Babam!" Si bungsu yang baru akan di bawa masuk ke toko memekik gembira seraya berlari kearah lelaki itu.
Abraham turun dari motor sportnya dan menyambut Davina dan langsung memangkunya, "Om mau ajak Vina jalan-jalan, ya? " Gadis kecil itu bertanya dengan polosnya.
Abraham tersenyum, "Tapi nanti, ya. Sekarang Om ada urusan dulu sama Bunda kamu."
Davina mengangguk patuh, masih dengan memangku Davina keningnya berkerut melihat Shaqina yang nampak gelisah.
"Ada apa?"
"Fia..." desahnya penuh kekhawatiran.
"Ada apa dengan Fia?"
"Dia belum pulang dari tadi pagi," ucap Qina lagi membuat Abraham bingung.
"Bukannya ini masih jam sekolah?" tanya pria itu.
Qina menggeleng, "Tadi aku bertemu dengan temannya, hari ini sekolah di pulangkan lebi awal. Pukul sembilan pagi mereka sudah pulang, tapi sampai jam dua siang ini dia masih belum juga pulang ke rumah. Aku benar-benar khawatir, Bram."
"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita cari dia," cetus Abraham.
Pria bertato itu menurunkan bocah perempuan yang terlihat nyaman di pangkuannya, lalu mengelus rambut berkucir dua itu dengan lembut, "Vina main dulu sama nenek, Ya, jalan-jalannya kita tunda sampai sore. Om sama Bunda mau cari kak Fia dulu."
Davina mengangguk, "Jangan lama-lama ya, Om. Vina tungguin lho."
Abraham mengangguk membuat gadis kecil itu tersenyum lalu berlari kembali menuju toko tempat sang Bunda menitipkannya tadi.
Shaqina menetap punggung putri bungsunya yang tengah berlari, baru beberapa bulan ia mengenalkannya dengan Abraham tapi mereka sudah begitu dekat.
"Ayo Qi!" Ajakan Abraham membuyarkan lamunannya. Ia menghampiri pria itu lalu memakai helm yang di berikan pria itu padanya.
"Kau punya informasi kemana kira-kira Safia pergi?" tanya Abraham.
"Aku sudah menelpon teman-teman sekolahnya tapi dia tak ada di sana, kemungkinan dia pulang kerumah ayahnya," Qina menghela nafasnya, mungkinkah putri sulungnya itu merindukan ayahnya? batin Shaqina.
Akhirnya mereka sepakat pergi kerumah lama Shaqina. Namun bukan Safia yang mereka temui tapi justru wanita selingkuhan Hardian yang baru saja keluar dari halaman rumah mereka.
Wanita dengan rambut tergerai itu menghentikan langkah saat menyadari keberadaannya, menatap Shaqina dan Abraham secara bergantian.
"Mau apa kau kembali ke sini?" tanya perempuan itu tak tahu malu.
Shaqina mendengkus kesal, "Bukankah aku yang harusnya bertanya, sedang apa kamu di rumahku?"
"Tentu saja habis menemani suamimu, memangnya apa lagi?" jawab wanita itu dengan bangga. "Dan satu lagi. Aku harap kau datang bukan karena berubah pikiran dan ingin kembali pada Mas Hardian, soalnya aku sudah mengandung benih cinta kami dan kami sudah memutuskan untuk segera menikah."
Hati Shaqina terasa berdenyut nyeri mendengar ucapan dari perempuan itu, tapi sebisa mungkin ia tahan, ia tak ingin wanita itu merasa menang melihatnya tersakiti.
Shaqina tersenyum miring, "Baguslah, setidaknya Mas Hardian sudah menemukan penggantiku untuk jadi pelayannya," cibir Shaqina. "Dan kau tenang saja, aku tak akan pernah merubah keputuusanku untuk berpisah dengan Mas Hardian. Aku justru lega bisa lepas dari semua beban ini," ujar Shaqina kemudian berlalu begitu saja.
Dia sudah tak ingin berurusan dengan perempuan itu.
Di belakangnya Abraham tersenyum tipis melihat sikap Shaqina barusan. Wanita itu ternyata tak serapuh yang ia pikir. Tenyata Qina kuat sekali, meski sempat terpuruk hebat akibat pengkhianatan suaminya nyatanya ia mampu cepat bangkit dan melawan.
Dering ponsel di saku celananya membuyarkan lamunannya, ia merogoh kantong celana dan mengeluarkan benda pipih itu. Nama Rayyan muncul sebagai pemanggil membuatnya segera menggeser icon hijau di layar.
"Halo, Ada apa Ray?"
"Ayah! Bisa tolong Rayyan sekarang?"
j
Sehat selalu author semangat berkarya.
Good job 😘😘