"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Semakin Dekat
Setelah sesi rahasia tertulis, tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula.
Di depan kamera, semua orang masih berusaha menjalankan format acara. Kevin tetap melempar lelucon, Stella tetap menimpali, Natasha tetap tersenyum sopan, dan Koko tetap memandu segmen dengan energi yang cukup untuk menyelamatkan suasana. Namun setiap kali Wenny dan REYN berada dalam satu frame, udara di sekitar mereka terasa berbeda.
Seolah seluruh villa tahu ada cerita panjang yang belum diberi nama.
Wenny tidak lagi menekan.
Itu keputusan paling sadar yang ia buat setelah membaca lirik, setelah melihat REYN menggenggam pergelangan kirinya, setelah mendengar ia berkata bahwa orang mudah salah membedakan sayang dan kasihan.
Kalau REYN takut dikasihani, maka Wenny tidak akan datang kepadanya dengan mata yang memohon agar ia membuka luka.
Ia akan datang dengan cara yang lebih sederhana.
Tetap ada.
Sore itu, tim produksi membawa mereka ke halaman belakang villa untuk segmen kecil melihat bintang. Bandung sedang cerah setelah hujan tipis. Udara dingin turun pelan dari arah perbukitan, membawa bau tanah basah dan daun teh. Lampu taman dimatikan sebagian agar langit terlihat lebih jelas.
Para peserta diberi selimut tipis dan diminta duduk berpasangan secara acak.
Tentu saja, tidak ada yang percaya itu benar-benar acak ketika Wenny mendapatkan nomor yang sama dengan REYN.
Kevin langsung berdehem keras. "Acak yang sangat disukai penonton."
Stella menendang ujung sepatunya. "Diam. Biarkan rating bekerja."
Wenny tertawa kecil, lalu duduk di atas tikar rumput. REYN duduk di sampingnya, menjaga jarak satu telapak tangan. Dulu, jarak sekecil itu sudah cukup membuat Wenny panik. Sekarang, jarak itu terasa seperti undangan yang masih menunggu keberanian.
Angin membuat ujung rambutnya terbang ke pipi.
REYN mengangkat tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya. "Boleh?"
Wenny menoleh.
Pertanyaan itu lembut sekali sampai hatinya sakit.
Ia mengangguk.
REYN menyelipkan rambut itu ke belakang telinganya. Sentuhannya singkat, hati-hati, seolah Wenny adalah sesuatu yang boleh didekati tetapi tidak boleh diklaim terlalu cepat.
"Kamu dingin?" tanyanya.
"Sedikit."
REYN menggeser selimut tipis ke sisi Wenny. Ia tidak menariknya sampai tubuh mereka menempel. Ia hanya memastikan bagian bahu Wenny tertutup.
Wenny memegang ujung selimut itu.
"Terima kasih."
"Hm."
Mereka menatap langit.
Tidak ada pembahasan tentang kotak bekal. Tidak ada kata Rahmat. Tidak ada gelang. Hanya udara malam, suara serangga kecil, dan kehadiran REYN yang pelan-pelan tidak lagi terasa seperti teka-teki yang harus dipecahkan, melainkan seseorang yang harus ditunggu sampai berani keluar.
"Dulu aku suka melihat bintang dari jendela mobil produksi," kata Wenny tiba-tiba.
REYN menoleh sedikit.
"Kalau pulang syuting terlalu malam, aku suka hitung bintang supaya tidak ngantuk."
REYN tidak bertanya syuting apa.
Tidak menghindar juga.
Ia hanya berkata, "Kamu pasti anak yang keras kepala."
Wenny tersenyum. "Masih."
Kali ini, REYN tersenyum kecil.
Senyum itu tidak lama, tetapi cukup membuat udara dingin terasa lebih lunak.
***
Keesokan harinya, segmen musik dilakukan di ruang keluarga.
Produksi menyiapkan beberapa headphone dan pemutar lagu. Permainannya sederhana. Satu peserta memilih lagu tanpa menyebut judul, peserta lain harus menebak mood lagu itu hanya dari ekspresi yang mendengar.
Ketika giliran Wenny, ia sengaja memilih lagu instrumental lama yang tidak terlalu populer. Ia duduk di sofa, memakai satu sisi earphone, lalu tanpa bertanya menawarkan sisi lainnya kepada REYN.
REYN menatap earphone itu.
Ada jeda.
Wenny tidak menarik tangannya.
"Kalau tidak mau, enggak apa-apa," katanya pelan.
REYN mengambilnya.
Jari mereka bersentuhan sebentar.
Wenny tidak menghindar.
Musik mengalir kecil di antara mereka. Bukan lagu cinta yang dramatis. Hanya melodi piano yang sederhana, ada suara hujan tipis di latarnya. Di layar kamera, mungkin mereka terlihat seperti pasangan acara yang sedang membangun chemistry. Namun bagi Wenny, ini bukan adegan.
Ini cara berkata, aku bisa duduk di sampingmu tanpa memaksa masa lalumu keluar.
REYN menunduk sedikit, mendengarkan.
Setelah beberapa saat, ia berkata, "Lagu ini seperti pulang ke tempat yang sudah lama kosong."
Wenny menahan napas.
"Menurutmu kosongnya sedih?" tanyanya.
"Tidak." REYN menatap kabel earphone yang menggantung di antara mereka. "Mungkin cuma menunggu orangnya kembali."
Wenny tidak menjawab.
Ia takut kalau menjawab, suaranya akan terlalu jelas.
Maka ia hanya menggeser duduk sedikit lebih dekat, cukup sampai bahunya hampir menyentuh lengan REYN.
REYN tidak mundur.
Untuk Wenny, itu sudah sebuah jawaban.
***
Hari berikutnya, produksi mengambil gambar di area danau kecil dekat tempat mereka menginap.
Airnya tidak luas, tetapi permukaannya tenang, memantulkan perbukitan dan langit kelabu muda. Jalan setapak di tepinya basah setelah gerimis pagi. Para peserta diminta berjalan berpasangan sambil membawa payung bening untuk kebutuhan visual.
Koko berkata pada kamera, "Romantis, kan? Kalau ada yang jatuh cinta di sini, kami tidak tanggung jawab."
Kevin langsung mengangkat tangan. "Kalau jatuh ke danau?"
"Itu tanggung jawab kamu sendiri."
Tawa kru mengalir sebentar.
Wenny dan REYN berjalan paling belakang. Payung bening berada di tangan REYN, tetapi ia memiringkannya lebih banyak ke arah Wenny. Bahunya sendiri terkena titik-titik air.
Wenny menyadarinya.
Ia menggenggam gagang payung, menariknya sedikit ke tengah. "Basah."
"Tidak apa-apa."
"Aku tidak tanya apa-apa. Aku sedang memperbaiki posisi payung."
REYN menatapnya.
Ada sesuatu yang melembut di matanya.
Wenny pura-pura tidak melihat, lalu berjalan lagi. Sepatu mereka menginjak kerikil basah. Dari depan, suara Kevin dan Stella terdengar saling menggoda, tetapi di bawah payung itu, dunia mengecil menjadi langkah pelan dan napas yang beriringan.
"Kamu sekarang tidak banyak bertanya," kata REYN tiba-tiba.
Wenny menatap air danau. "Karena tidak semua jawaban harus dipaksa keluar."
REYN diam.
"Kadang," lanjut Wenny, "orang butuh waktu untuk percaya bahwa saat dia bicara, orang di depannya tidak akan pergi."
Langkah REYN berhenti.
Wenny ikut berhenti.
Gerimis menepuk permukaan payung.
REYN memandangnya lama. Di wajahnya ada perang kecil yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Antara ingin percaya dan terlalu terbiasa tidak percaya. Antara ingin maju dan takut kalau satu langkah saja akan membuat semua yang ia lindungi runtuh.
"Kalau orang itu tetap pergi?" tanyanya.
Pertanyaan itu pelan.
Hampir tertelan suara hujan.
Wenny menoleh penuh. "Maka dia bukan orang yang tepat untuk mendengar."
REYN menatapnya.
"Dan kamu?"
Wenny merasa ujung jarinya dingin, tetapi suaranya tetap stabil.
"Aku masih di sini."
Tidak ada kalimat lebih romantis dari itu malam ini.
Tidak perlu.
REYN menunduk sedikit. Senyumnya muncul, lemah dan hampir tidak percaya, tetapi kali ini ia tidak langsung menyembunyikannya. Ia memiringkan payung agar benar-benar menutupi mereka berdua.
Jarak bahu mereka akhirnya bersentuhan.
Wenny tidak mundur.
REYN juga tidak.
***
Malamnya, villa lebih cepat sunyi.
Jadwal seharian membuat semua peserta masuk kamar sebelum tengah malam. Wenny mematikan lampu utama di kamarnya, tetapi tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi ranjang, memegang tiket VIP konser yang kini ia simpan di antara halaman buku catatan.
Hari ini, REYN tersenyum lebih sering.
Tidak banyak.
Tetapi cukup.
Seperti pintu yang biasanya terkunci kini mulai terbuka seujung jari.
Wenny berbaring, menarik selimut sampai dada. Ia memejamkan mata, namun suara hujan kecil di luar jendela membuat pikirannya terus kembali pada payung bening, pada earphone yang berbagi melodi, pada bahu REYN yang tidak lagi menjauh.
Ia hampir tertidur ketika dari koridor terdengar suara samar.
Awalnya Wenny mengira itu angin.
Lalu suara itu muncul lagi.
Rendah.
Serak.
Seperti seseorang bicara dalam mimpi.
"Wen-Wen..."
Mata Wenny langsung terbuka.