NovelToon NovelToon
CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Duda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Suesant SW

"Aku pernah gagal dalam rumah tangga karena kesalahanku sendiri. Aku menyia-nyiakan seorang istri yang mencintaiku dengan pengkhianatan yang kejam. Karena itu, aku tak berani mengatakan cinta lagi, aku takut itu akan menyakiti orang lain." Ucap Bram lirih.

"Tapi, jika kamu mencintainya, maka tak ada yang salah."

"Biarlah Tuhan tunjukkan jalannya, jika memang Aisyah adalah perempuan yang di takdirkan untukku."


Kisah hijrah dibalut kisah cinta sarat perjuangan dan liku. Apakah jadinya, saat cinta berdenting hanya dalam kepasrahan untaian do'a, tersemat dalam setiap butiran tasbih sementara bibir terlalu kelu dalam mengucapkan rasa. Akankah bahagia itu menyapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20. DI TELPON MANTAN ISTRI

Bram termangu memandang Aisyah yang sibuk mengiris daging sapi menjadi potongan-potongan tipis sedang. Dia sudah mencoba mengirisnya dan alhasilnya, jari telunjuk kirinya ikut teriris tak sengaja, meski kecil tapi berdarah cukup banyak.

Aisyah begitu cemas sampai melarang Bram untuk melakukannya lagi.

"Biar aku saja, mas Bram duduk saja."

"Tapi bagaimana aku membantumu kalau cuma melihat saja?" Bram merasa tak enak, sekarang dia merepotkan Aisyah dua kali.

"Pokoknya mas Bram tidak usah membantu lagi " Aisyah berkata dengan tatapan melarang saat Bram hendak mengambil lagi pisau dari tangan Aisyah.

Dia tak pernah menyangka ternyata membantu memasak itu bukan hal yang mudah seperti yang diperkirakannya. Perempuan sepertinya begitu mudah berada di dapur, beberapa jam kemudian masakan yang lezat akan tersedia di atas meja tanpa dia tahu bagaimana prosesnya. Dan segala sesuatunya tidak sesederhana itu.

"Aku sudah berjanji membantumu..."

"Mas Bram tidak usah menepati janji itu."

"Tapi."

"Mas Bram, aku sudah meminta Toto memanggil mpok Mumun dan Mbak Retno ke sini, tetangga sebelah, untuk membantu memasak di sini. Jadi, mas Bram tidak perlu kuatir."

"Isah, aku sangat tidak enak jadinya."

"Tidak apa-apa. Mas Bram tidak pernah melakukan pekerjaan dapur seperti ini, jadi aku mengerti. Jadi, sebaiknya mas Bram duduk yang manis dengan abah di ruang tamu. Nanti aku seduhkan kopi."

"Aduh, malah makin merepotkan saja." Bram menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku akan duduk di sini? apakah boleh?" Tanya Bram sambil duduk bersila di atas tikar pada tengah dapur kecil itu, sementara di depannya belanjaan mereka terhampar belum lagi tersentuh kecuali daging yang kini sedang di iris Aisyah.

Abah yang baru selesai mandi dan berpakaian rapih dengan peci hitamnya menatap kepada Bram.

"Sebaiknya kita duduk di ruang tamu saja nak Bram. Ada goreng pisang ."

"Tapi, Abah...aku telah berjanji membantu Aisyah..."

"Biar saja Isah yang mengurus masak memasak. Perempuan sudah biasa dengan urusan dapur."

"Ya, mas Bram...sebaiknya tunggu di depan saja." Celetuk Aisyah.

"Baiklah kalau begitu." Dengan berat hati Bram beranjak, kemudian mengikuti langkah Abah.

Aisyah mengatakan akan membuat opor daging kesukaan abah dengan lontong sayur, tak lupa semur jengkol, menu paling abah senangi karena pada saat dia masih tinggal di pesantren Asniah setiap jumat selepas dia sholat, di bawah tudung saji dari rotan itu akan tersedia semangkok semur jengkol dengan ikan asin asam manis.

Karena itu Abah tak pernah bisa melewatkan semur jengkol karena mengingatkannya pada mendiang istrinya yang telah tiada itu.

Pada saat Bram duduk bersama abah di ruang tamu, dua orang perempuan mengucapkan salam di depan pintu yang terbuka lebar.

"Assalamulaikum..."

Salah seorang perempuan muda mungkin hanya sedikit lebih tua dari Aisyah masuk, dia berpakaian semacam daster panjang dengan wajah tirus dan rambut ikal panjang. Kulitnya sawo matang, parasnya hitam manis. Dan yang lain seorang perempuan setengah baya dengan kerudung yang di gelung, dia terlihat jauh lebih tua dari perempuan di sebelahnya.

"Wa'alaikumus Salam Warahmatullahi Wabarakatuh..." Abah dan Bram menyahut berbarengan.

"Aisyahnya ada? Tadi Tito ke rumah kami, katanya Aisyah perlu bantuan memasak hari ini."

"Ada, silahkan masuk nak Retno, mpok Mumun. Langsung ke belakang saja, Isah ada di sana." Sahut Abah.

Dua perempuan itu melirik pada Bram, mata yang sedikit kepo dan agak heran dengan kehadiran laki-laki asing berwajah tampan dengan mata sedikit biru itu.

Retno yang janda muda tanpa anak itu segera melemparkan senyumnya pada Bram, dia memang ramah dan kadang terkesan genit jika melihat laki-laki yang mwnurutnya bening tapi Bram hanya menganggukkan kepalanya, menanggapi dengan sopan.

Dulu, Bram adalah lelaki hidung belang yang tak bisa melihat perempuan sedikit bertingkah di depannya segera menanggapi, tetapi sekarang berbeda, Bram lebih tenang dan tak lagi tertarik pada godaan itu.

Pak Syarif atau kini orang yang dipanggilnya abah itu telah cukup banyak merubah pandangan dan cara fikir bahkan cara hidup Bram.

Dua perempuan itu segera masuk menemui Aisyah yang sudah menunggu, mereka tampak bersemangat untuk segera mengorek informasi mengenai kehadiran laki-laki yang terlihat macho dan dewasa itu.

"Ntu siape, Sah? Gimane elu bisa kenal ntu laki? Mana bening macam kobokan belon di obok? demen mpok liatnya, adem gitu." Si mpok Mumun yang ceriwis langsung mencolek Aisyah yang masih mengiris daging.

"Iya, Sah...baru liat lho aku orangnya. Sering liat mobilnya nangkring di depan mesjid. Tapi, pas dilihat dekat, oalah Sah, wong lanang kok gantengnya kebangetan." Mbak Retno mengedipkan matanya pada Aisyah, terlihat sangat ingin tahu.

"Teman Abah itu. Namanya mas Bram." Jawab Aisyah sedikit salah tingkah dengan antusias dua tetangganya itu. Meskipun mereka berdua ini suka menggibah kalau bertemu tetapi mereka adalah orang-orang yang cepat sekali turun tangan untuk menolong tetangga jika di minta.

"Kok, iso yo Abah punya temen guanteng begitu." Mbak Retno segera duduk di atas tikar sambil mulai membongkar belanjaan Aisyah yang sebagian masih dalam plastik.

"Lah, mata mpok yang tua ini perasaan jadi kinclong aje ngeliat yang bagus-bagus. Demen mpok liatnya. Kagak pacar elu kan, Sah?" Si Mpok Mumun tampak bersemangat.

"Bukan, Mpok...temen Abah saja."

"Waaah, seneng aku dengernya. Titip salam iso opo ora?" Mbak Retno menyenggol bahu Aisyah. Intung saja Aisyah tidak sedang mengiris, pisau di tangannya baru di lepasnya.

"Et dah ni cewek, Selow dikit nape, Ret? Jangan asal ngejeplak kalau ngomong. Asal titip tetep titip tetep, jaim dikit bisa kagak? Baru liat aja langsung selonongan begitu, malu mpok dengernya. Ntar di omongin orang jande gatel, ngamuk elunya, padahal emang kegatelan..." Omel mpok Mumun.

"Yah, empok. Tapi itu wong lanang emang ganteng, mpok. Sekarang kalau lemot tidak gercep, bisa ketinggalan kereta, keburu di embat orang, mpok."

Aisyah pura-pura tak mendengar obrolan dua tetangganya ini, kupingnya terasa merah di dalam kerudung.

"Ngomong-ngomong Ini masak apa, Sah?"

Untung saja mbak Retno segera fokus pada tujuannya, setelah di tegur mpok Mumun yang kalau negur suka nyelekit tapi bener itu.

Aisyah menjelaskan sebentar masakan yang di rencanakan untuk acara jamuan makan ulang tahun abah itu, sebelum kemudian dia menyeduh kopi dan mengantarnya di dalam baki.

Entah mengapa, dia sedikit gugup ke ruang tamu, menemui Abah dan Bram.

Tapi, kemudian Aisyah mengerutkan keningnya melihat hanya abah yang sedang duduk di sana menghadap sepiring pisang goreng yang sudah dingin karena berada di sana dari pagi.

"Bah, mas Bram kemana?" Tanya Ausyah dengan canggung sambil menurunkan baki ke atas meja dan meletakkan cangkir kopi ke depan abah.

"Barusan pamit pulang." Jawab Abah pendek.

"Kok pulang?"

"Mantan istrinya tadi telpon, jadi nak Bram pulang dulu katanya ada yang harus di urusnya, nanti sore insyaallah balik lagi"

Jawaban Abah membuat Aisyah tercengang, dia merasa jantungnya berdegup aneh saat mendengar Bram pulang karena di telpon oleh mantan istrinya.

Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....

Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏

...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

1
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
yg ini juga ngangenin kak suesan
Paryantikebondalem
aku juga sdh hampir 3 th tapi tdk ada kelanjutannya
Wuri Wuryati Tie
lama up nya......
Minah Majin
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
N Wage
astaga!!!
Masih belum ada sambungannya ya?
aku sengaja cari novel ini kembali setelah sekian tahun kutinggalkan.berharap sdh banyak bab lanjutannya.
piyo lika pelicia
mampir yuk kak ke serigala
piyo lika pelicia
Ini
Paryantikebondalem
lanjutannya kapan ya kak sdh 2 th nich
Masitah Baharudin
suka Sama mas Bram yg sekarang.so sweeeeet dan tidak kejam..lagi nunggu part mbak retno ama adka
Masitah Baharudin
sudah aku dgr Dr menikahi tunangan adikku.terima kasih thor
@Heni khan 😚❤️🇵🇸
episode tersedih dalam novel ini membuatku terhanyut dalam ceritamu Thor air mata Ku tak Bisa kutahan mengalir begitu Saja😭😭😭😭😭😭
@Heni khan 😚❤️🇵🇸
😭😭😭😭
@Heni khan 😚❤️🇵🇸
inalillahi wainalillagi rojiun..meski hanya novel namun begitu terasa nyata mampu menggetarkan jiwa.. selamat Jalan abah Semoga husnul khotimah Aamiin 🤲😭😭😭😭
@MEIMEI🙃🤩
kisah yang dokter yogi sama dea udah up blm to srbenernya
janah bibah
Kecewa
JeliTa
aku padamu mbak Retno 🤣🤣
JeliTa
dan Allah pun tersenyum melihat hamba Nya meminta padaNya dengan diam² di 1/3 malamNya.. seperti kisah cinta Alin bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah....
Sri Paputungan
Luar biasa
fulana anonymous
koplakkkk
Liza Permasih
gemeeeeessss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!