Aku bisa melihat mereka 2
Inara seorang gadis indigo, yang ternyata hidupnya di incar oleh seorang iblis yang menginginkannya menjadi ratu iblis.
Dapatkah Inara bisa lepas dari jerat iblis itu?
Lalu bagaimana dia menghadapi musuh lama keluarganya, yang selalu meneror dirinya dan keluarganya?
Bagaimana ceritanya? Ikuti terus ya Aku bisa melihat mereka 2.
Selamat Membaca 📖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Un.Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Inara sedang meringkuk di pojok dekat tempat tidurnya. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia benar-benar ketakutan melihat sosok yang sangat menyeramkan yang tiba-tiba muncul di cermin. Inka dan Marvel segera menghampiri Inara.
"Sayang ada apa nak?" Tanya Inka.
"Bunda!" Inara langsung memeluk Inka dan menangis. Inka mengusap kepala Inara.
"Ada apa sayang?" Inara terisak dan terlihat seperti ketakutan. Inka pun tak memaksa Inara untuk menjawab pertanyaannya.
Marvel menatap Inara sendu, dia tau jika Inara sama seperti Inka dulu, Argan sudah menceritakannya. Marvel mengusap kepala Inara.
Setelah merasa lebih tenang, Inka membawa Inara duduk di kasurnya.
"Bunda, Inar takut!" Lirih Inara.
"Ada bunda sayang, dedek gak usah takut ya!" Ucap Inka sambil mengecup pucuk kepala Inara.
"Inar tidur sama bunda ya!" Inka mengangguk.
"Ya sudah kalo gitu saya pulang, biar kalian bisa istirahat." Ucap Marvel.
Inka menatap Marvel. Marvel membalas tatapan Inka dan tersenyum. Inka mengangguk, lalu dia beranjak dan ingin mengantar Marvel.
"Bunda mau kemana?" Tanya Inara membuat langkah Inka dan Marvel terhenti. Inka dan Marvel menoleh.
"Bunda mau anter om ke depan dulu sayang." Ucap Inka.
"Bunda di sini aja, om kan bisa keluar sendiri." Ujar Inara sebal dan melirik sinis ke arah Marvel.
"Gak apa-apa biar saya sendiri aja!"
"Bunda kan harus kunci pintu sayang, kalo nanti ada maling gimana?" Inara pun tak membantah lagi.
Dia cuma berdecak kesal, lalu dia beranjak dan berjalan keluar saat melewati Marvel Inara mendelik kesal dan menghentakkan kakinya.
Lalu dia keluar dan berlalu ke kamar Inka. Inka menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putrinya.
"Maaf ya kak!" lagi-lagi kata maaf terlontar dari mulut Inka atas sikap putrinya.
"Inara lucu, mirip kamu!" ucap Marvel tersenyum sambil mencolek hidung Inka. Membuat Inka tersipu dengan perlakuan Marvel.
"Apaan sih, Inara kan anak aku udah pasti mirip aku." Ujar Inka sebal. Marvel terkekeh dan mengacak rambut Inka.
"Ihhh kakak jangan perlakukan aku kayak gitu, aku bukan adik kecilmu lagi. Aku udah punya anak perawan tau." Ujar Inka sebal dan berlalu keluar kamar.
Marvel menyusulnya, lalu Inka mengantar Marvel ke depan, sebelum pergi Marvel menggenggam tangan Inka.
"Tolong pikirin ya, apa yang saya katakan tadi!" Ujar Marvel tangannya beralih memegang pipi Inka. Inka mengangguk, saat Marvel akan mencium dahi Inka, tiba-tiba Inara menghampirinya, dia langsung memeluk tangan Inka, membuat Marvel mengurungkan niatnya.
"Saya pulang ya!" Inka mengangguk.
"Hati-hati ya kak!" Marvel mengangguk.
"Hati-hati ya om, kalo perlu gak usah balik lagi!" Ujar Inara. Marvel hanya tersenyum.
"Sayang!" Inara menoleh ke arah Inka.
"Ayo bunda kita tidur, Inar ngantuk!" Ucap Inara manja sambil bergelayut di tangan Inka. Inka tersenyum dan mengangguk.
Mereka pun kembali masuk ke dalam, Inka segera mengunci pintu. Inara berjalan lebih dulu ke kamar, saat Inka melangkah menyusul Inara. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, Inka menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah pintu.
"Siapa ya, apa kak Marvel?" Inka membuka pintu dan tiba-tiba seseorang langsung membekap mulut Inka. Inka kaget dan berusaha berontak Inka segera menendang pintu hingga terdengar bunyi yang cukup keras, Inara yang sudah mulai memejamkan mata kaget mendengar suara gebrakan.
"Mungkin bunda lagi menutup pintu." Gumamnya lalu dia kembali memejamkan matanya. Untuk sesaat dia tenang dan memejamkan matanya, namun dia ingat sesuatu jika Inka sudah mengunci pintu saat dia masih ada di sana, tidak mungkin tadi suara pintu tertutup karena Inka sudah menutup pintunya saat dirinya masih ada di sana.
Inara beranjak dan kembali ke depan, pintu depan terbuka lebar tapi tidak ada Inka di sana. Inara berlari ke depan dan mencari Inka.
"Bunda!!" panggilnya.
"Bunda!!" panggilnya lagi tapi tidak ada sahutan dari Inka.
Inara mulai panik dia mencari Inka ke dalam mungkin saja Inka ada di dalam, tapi setelah dia mencari ke seluruh ruangan dia sama sekali tidak menemukan Inka.
"Bunda di mana? Bunda jangan tinggalin Inar!" Isak Inara. Dia kembali berlari keluar dan memanggil-manggil Inka, tapi tak ada sahutan dari Inka.
Inara menangis kencang. "Bundaaaaa.." Inara terduduk lemas di lantai.
Dia menyesal karena tadi meninggalkan Inka duluan ke kamar dan dia tidak segera menghampiri saat suara gebrakan itu terdengar.
"Bunda jangan tinggalin Inar." Isaknya.
Inara bergegas kembali ke dalam dan menelpon Argan. Bahkan saat menelpon, Inara tidak bisa bicara dengan jelas karena suaranya kalah dengan suara tangisnya.
Tapi mendengar Inara menangis, Argan tau pasti ada yang tidak beres. Argan segera beranjak dan pamit pada Penty untuk ke rumah Inka.
Inara masih menangis di ruang tamu dan memanggil-manggil Inka. Tak lama Argan segera datang, Inara langsung berhambur ke pelukan Argan dan menangis kencang.
"Ada apa sayang? Terus bunda mana?" Tanya Argan. Inara masih menangis akhirnya Argan menunggu Inara tenang lebih dulu.
Setelah tenang Inara menceritakan apa yang sudah terjadi.
Baru setengah perjalanan, Marvel harus kembali ke rumah Inka karena Argan menelponnya dan bilang Inka menghilang. Marvel panik dan khawatir dia tidak mau jika harus kehilangan wanita yang di cintainya lagi dan kenapa juga Inka bisa hilang padahal baru saja dia bertemu dengannya.
Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak lama dia sampai di rumah Inka. Dia mendengar suara tangis Inara, dia segera berlari dan menghampiri Argan dan Inara.
"Gan!" Argan dan Inara menoleh.
"Semua ini gara-gara om!" Pekik Inara tiba-tiba.
Membuat Argan dan Marvel kaget. "Coba tadi bunda gak nganterin om keluar, bunda gak mungkin hilang-" perkataan Inara tertahan karena suaranya tercekat karena isak tangisnya.
"Maafin om!" Lirih Marvel.
"Aku benci sama om, om jangan pernah temuin bunda lagi," teriak Inara.
Marvel menunduk merasa bersalah. Argan langsung menenangkan Inara.
"Dedek tidur sama mama dulu ya, biar papa sama om cari bunda,"
"Inar ikut pah, Inar pengen cari bunda!" Isak Inara.
Argan menggeleng. Tangannya mengusap kepala Inara.
"Dedek tunggu bunda di rumah papa, dedek doain biar bunda cepat pulang, oke sayang!"
Inara pun mengangguk, akhirnya Argan mengantar Inara ke rumahnya, lalu dia dan Marvel mencari Inka.
Mereka bingung harus mencari kemana? Mereka tidak punya petunjuk apa pun.
Inara tidur di temani Penty, tapi Inara tak bisa tidur pikirannya terus tertuju pada Inka. Andai saja dia bisa melihat di mana keberadaan Inka, seperti dia bisa melihat masa depan seperti sebelumnya. Tapi Inka tidak tau caranya bagaimana bisa melihat itu. Karena penglihatan itu terlihat jika Inara menyentuh dengan seseorang yang bersangkutan.
Inara menghela nafas pelan, tapi tiba-tiba dia ingat sesuatu. Inara langsung beranjak dan keluar kamar. Penty terkesiap melihat Inara keluar kamar.
"Sayang mau kemana?" Tanya Penty.
Inara tak menghiraukannya, dia terus berjalan lalu dia membuka pintu depan. Penty mengikutinya karena khawatir dengan Inara.
"Dedek mau kemana?" Tanya Penty.
Inara tak menyahut dia berlari menuju rumahnya, sesampainya di rumah Inara segera membuka kunci, dia memegang handle pintu cukup lama dan dia memejamkan matanya semoga dia dapat petunjuk di mana keberadaan Inka, karena dia yakin yang terakhir di sentuh Inka adalah handle pintu.
Gelap!
Inara tak melihat apapun selain gelap, dia berdecak kesal. Lalu dia beralih ke handle yang satunya, perlahan kejadian itu terlihat di pikirannya. Inara tersenyum senang karena berhasil.
Dia terus memperhatikan apa yang terjadi dengan Inka. Sampai akhirnya dia menemukan di mana Inka berada sekarang.
Inara masih melihat kejadian itu dalam pikirannya, sampai akhirnya Penty membuyarkan pikiran Inara sehingga pikirannya menghilang begitu saja.
"Sayang ada apa?" Tanya Penty. Inara menggeleng.
Dia langsung masuk ke dalam dan menelpon Argan, karena ponselnya ketinggalan di rumah Penty akhirnya dia memakai telpon rumah.
Bersambung..