Seorang istri yang dijadikan hanya sebagai pemuas nafsu oleh suaminya. Dia adalah Sinta seorang mahasiswa di sebuah universitas swasta. Kesulitan ekonomi membuat dia menjadi istri simpanan
dosennya.
Hingga Sinta hamil, suaminya menolak kehamilan Sinta dan menceraikannya di saat Sinta hamil muda.
Sinta tetap mempertahankan kehamilannya. Dengan perut membuncit, Sinta harus bekerja dan kuliah. Beruntung, Sinta mempunyai sahabat yang mendukungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Andre
"Papa tidak menyangka kamu bisa berbuat seperti itu Andre, kamu mengerti agama kenapa harus berbuat itu di luar nikah?. Papa malu Andre. Harusnya kamu mencontoh kedua kakakmu. Kamu punya adik perempuan. Coba bayangkan kalau ada laki laki berbuat seperti itu kepada adikmu. Apa kamu akan tinggal diam?" Kini papa Andre yang berkata dengan lembut. Papa Andre tidak mau kasar cukup hanya istrinya saja yang sudah menampar Andre. Andre hanya menunduk tidak tau mau berkata apa.
"Apa lagi kelakuanmu di luar sana Andre?, yang tidak kami ketahui?" tanya Mama Ningsih masih dengan wajah yang memerah menahan marah, Andre terkejut, pertanyaan itu mengingatkan nya ke Sinta yang di sembunyikan. "Apa jadinya kalau mama sampai tahu tentang Sinta," batin Andre sambil menggeleng.
"Jangan sampai mama mati mendadak karena masih ada kelakuanmu yang tidak kami ketahui. Beritahu sekarang mumpung mama siap mendengar." Mama Ningsih kembali berkata yang membuat Andre ketakutan jangan sampai tentang Sinta diketahui keluarganya.
"Mama, sudah. Jangan seperti itu lagi!. Aku percaya Andre tidak akan membuat keluarga kita malu. Andre, pikirkan solusinya. Aku rasa kamu tahu yang terbaik," kata Andi sambil menepuk bahu Andre.
"Gimana Andre?" tanya Bayu. Sedangkan Maya Bella dan Agnes memilih diam.
"Kami perlu bicara berdua kak."
"Kalian boleh bicara di ruang tamu. Di taman ada Kenzo dan Rey," kata papa Rahmat. Andre menarik tangan Cindy bukannya ke ruang tamu, Andre menarik tangan Cindy ke lantai dua menuju kamarnya. Andre tidak mau orang lain mendengar pembicaraan mereka.
"Cindy kog bisa?" tanya Andre setelah menutup pintu kamar.
"Mas, pertanyaan apa itu?. Apa kamu lupa melakukannya denganku?"
"Tapi hanya sekali Cindy."
"Aku tanpa menjelaskan, kamu ngerti mas. Kamu bukan orang bodoh. Asal kamu tahu sejak putus dari dia, hanya kamu yang menyentuhku." Andre masih diam masih ragu apakah benih itu benar benihnya.
"Kalau mas ragu, kita bisa test DNA sebelum anak ini lahir dan asal kamu itu resikonya besar. Jangan menyesal bila sudah tahu hasilnya adalah anakmu," kata Cindy sambil menangis. Membayangkan itu adalah anaknya dan terjadi hal buruk jika di tes DNA membuat Andre sedikit percaya.
"Aku memang wanita kotor mas, tapi asal kamu tahu, aku melakukannya hanya dengan laki laki yang kucintai dan mencintaiku. Saat ini laki laki itu hanya kamu. Dan aku juga tahu dari caramu menyentuhku, aku bukan lah orang pertama bagimu." Kata kata itu semakin memojokkan Andre dan menyadari bahwa dia juga bukan laki laki yang baik.
"Baiklah, kita hadapi bersama. Kita akan menikah." Cindy memeluk Andre kemudian mencium bibir Andre lembut. Andre membalas ciuman Cindy. Cukup lama mereka berciuman Cindy mulai terbuai dan tangannya sudah merayap di antara paha Andre. Andre tersadar kemudian melepaskan pelukannya.
"Kita lanjut setelah halal," kata Andre sambil mengelap bibirnya. Cindy memperbaiki riasannya yang sudah berantakan kemudian mereka kembali ke ruang tamu.
"Bagaimana Andre?" tanya papa Rahmat setelah keduanya duduk.
"Kami akan menikah pa." Papa Rahmat menghela nafas, yang lain terdiam tanpa bertanya mereka sudah menduga jawaban Andre.
"Pernikahan seperti apa yang kamu mau?" tanya mama sinis.
"Yang sederhana saja ma," jawab Andre.
"Mas?"
"Sepertinya Cindy keberatan kalau hanya sederhana Andre," kata Bayu.
"Keberatan atau tidak itu keputusan ku, butuh persiapan untuk buat pesta yang meriah. Aku tidak mau malu perutnya semakin membesar bila pernikahan hanya sampai bulan depan".
"Andre kandungannya masih hampir satu bulan, kalau pernikahan dua bulan lagi perutnya masih tidak terlalu besar dan bisa diakali dengan gaun. Apa kata rekan rekan kita kalau tahu kamu menikah dengan sederhana," kata Bayu memberi Andre penjelasan.
"Iya mas, dua bulan masih cukup untuk mempersiapkan pesta," kata Cindy berharap Andre mau mengubah keputusan nya.
"Aku tetap mau pesta sederhana, terserah orang mau berkata apa."
"Udah biar saja kak, yang menikah kan kak Andre, kenapa Kakak yang repot?" kata Agnes mendukung keputusan Andre. Terlihat Cindy kecewa. Entah apa yang di pikiran Maya dan Bella mereka tersenyum mendengar perkataan Agnes. Memang kalau Agnes sudah berbicara terkadang ketiga kakaknya tidak bisa berkutik.
"Pikirkan kata kakakmu Andre. Cindy, nanti akan kami kasih kabar ke kamu. Andre pasti datang melamarmu," kata papa Rahmat dan Andre hanya diam. Cindy mengangguk, Cindy yang sudah mulai kesal dengan Andre sudah terlihat gelisah.
"Apakah orangtuamu sudah mengetahui ini Cindy?" tanya mama Ningsih.
"Belum Tante."
"Mas, aku mau pulang aja," kata Cindy berbisik.
"Kamu bawa mobil kan, kamu bisa kan pulang sendiri?. Cindy mengangguk.
"Kak Andre gimana sih, pacarnya hamil malah disuruh nyetir sendiri. Ga laki banget." Agnes protes dan mengomel tidak tega melihat Cindy yang harus menyetir sendiri.
"Ga apa apa Agnes kalau hanya nyetir masih bisa kog," kata Cindy.
"Ayo ku antar sampai depan," ajak Andre. Sesampai di depan mobilnya Cindy protes dengan keputusan Andre yang hanya menikah sederhananya.
"Katanya mas mencintaiku, masa menikah sederhana." Andre tidak menghiraukan perkataan Cindy, Andre membuka pintu mobil dan mendorong tubuh Cindy pelan masuk ke dalam mobil.
"Hati hati sayang!" kata Andre kemudian menutup pintu mobil. Andre masuk ke rumah setelah mobil Cindy keluar dari gerbang.
Andre kembali ke ruang tamu. Kedua kakak dan kakak iparnya dan juga masih disitu. Sedangkan kedua orangtuanya sudah masuk kamar beristirahat.
Menghempaskan pantatnya kasar ke atas sofa, bersandar dan memejamkan mata. Kehamilan Cindy masih seperti mimpi baginya.
"Yeh yang mau jadi ayah, kelihatan frustasi nih," goda Agnes.
"Andre kamu kenapa?, apa kamu kurang yakin dengan kehamilan Cindy?" tanya Maya hati hati.
"Masih orisinal gak bro?" tanya Andre lagi, Bella hanya menggeleng mendengar pertanyaan suaminya.
"Apa hanya sekali goyang langsung jadi kak?" tanya Andre yang masih kurang yakin.
"Hei.. omongannya tolong di jaga. Disini masih ada yang umur 17 tahun ke samping," kata Agnes, mereka semua tertawa kecuali Andre.
"Ya udah anak kecil bermain sana sama Kenzo dan Rey. Sudah tahu 17 tahun ke samping masih saja gabung sama orang dewasa." Kali ini Bayu yang berbicara, Maya dan Bella semakin tertawa terbahak bahak.
"Terus ketawanya. Puas?" kata Agnes berlalu dari ruang keluarga. Maya dan Bella masih saja tertawa.
"Andre walaupun hanya sekali goyang kalau si wanita pas masa subur, pasti jadi. Lagian kamu kalau ga sabaran langsung dinikahin napa?. Umur sudah tua juga," kata Andi menjelaskan.
"Maaf bang, kemarin itu kebelet," jawab Andre dan mereka pun tertawa terbahak. Maya yang mendengar perkataan adik iparnya melempar Andre pake bantal sofa.
.huuuuu dasar pellet lele