Perceraian adalah suatu kegagalan.
Melabuhkan hati pada orang yang salah, berakibat sangat fatal. Setiap orang tidak akan luput dari kesalahan. Bukan sebuah judge yang diperlukan, tapi solusi untuk masalah yang tengah di hadapi. Dengan pengalaman yang terjadi, seseorang pasti berpikir ulang untuk tidak terjun ke lubang yang sama.
Itulah yang mendasari Ayana dan Rendra (duda dan janda dengan satu anak) untuk menyetujui perjodohan pernikahan kedua mereka. Bukan atas dasar cinta, tapi karakter. Bahkan, mereka sama sekali tidak memiliki perasaan apapun satu sama lain. Mereka siap menjalaninya di kehidupan kedua mereka, yaitu sebuah kehidupan baru yang mereka bangun dengan sifat dan sikap yang berbeda dalam melihat masalah. Siapa yang menyangka jika mereka justru menemukan kebahagiaan disana?
Ternyata hati mereka masih berfungsi. Benih-benih rasa cinta itu datang dengan sendirinya.
follow me
IG : @NurulAyuHapsary
FB : Nurul Ayu Hapsary
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N. Ayu Hapsary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan dengan Naufal
Ayana dan Aila baru saja sampai di taman bermain. Mereka telah menentukan dimana mereka harus bertemu. Aila dan papanya. Di taman bermain dekat rumah Ayana dan Rendra. Ayana melihat jam tangannya. Masih sekitar lima belas menit dari janji pertemuannya dengan mantan suaminya. Ayana juga telah menitipkan Bulan ke rumah neneknya. Ia beralasan ada urusan mendadak dengan Aila, sehingga dengan senang hati neneknya mau menjaga Bulan. Ayana yakin sebentar lagi, Rendra pasti datang. Rendra janji akan menemani mereka. Ayana mengeluarkan smartphone-nya untuk memastikan Rendra sudah di dekat sana. Ada nada sambung beberapa kali, agak lama. Belum diangkat. Ayana mencoba menghubungi kembali.
"Halo Ay?" Suara Rendra nampak sedikit tergesa-gesa.
"Mas, sudah sampai? Aku sudah di taman dengan Aila." Kata Ayana dengan harap-harap cemas.
"Maaf ya Ay. Aku masih di kantor. Tadi waktu aku sudah beres-beres pulang, aku terjebak oleh pak direktur. Sebentar lagi aku pasti pulang."
"Ya ampun mas. Aku juga akan pulang lagi kalau begitu." Tanpa menunggu jawaban dari Rendra, Ayana segera mematikan panggilannya.
"Ay? Halo?" Rendra melepaskan smartphone dari telinganya dan melihat layarnya. Sudah dimatikan. Apakah Ayana setakut itu sampai-sampai dia harus kembali pulang? Tak ada waktu lagi. Perjalanan menuju rumahnya sekitar lima belas menit. Ia segera bergegas menyambar tas dan kunci mobilnya. Semoga perjalanan tidak macet. Tentu saja ia sangat mengkhawatirkan istrinya. Tapi tadi ia memang tidak ada pilihan.
Ayana yang baru mematikan touchscreen ponselnya segera memasukkannya dalam tas selempang yang dibawanya. Ia berdiri dan berniat akan kembali membawa Aila pulang ke rumah.
Ketika ia berdiri dan berbalik, di depannya sudah ada Naufal yang berdiri tepat di hadapannya. Ayana tersentak melihat Naufal dengan tatapan penuh arti padanya. Rasa trauma itu masih ada. Ayana benar-benar tidak nyaman jika Rendra tidak bersamanya.
Naufal masih menatap Ayana. Sejujurnya ia tertegun melihat penampilan Ayana saat ini. Tepat di depan matanya. Ayana yang ketika masih bersama dirinya dengan status istrinya itu kucel dan nampak tak terawat. Namun saat ini, ia berbeda sekali. Ayana lebih bersih dan lebih menarik. Kulit dan wajahnya nampak lebih cerah. Parasnya tambah ayu. Entah Naufal sendiri tak mengerti apa perbedaan yang amat ketara dari mantan istrinya itu. Yang jelas, Ayana lebih terlihat menawan.
Naufal berjalan mendekati Ayana. Ayana tak dapat mengelak lagi. Walaupun Naufal adalah masa lalunya, namun ia tetap harus bisa menjaga perasaan Naufal dengan tidak langsung pergi dari sana. Ayana masih membeku melihat Naufal mendekatinya.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Naufal. Sepertinya Naufal sedikit salah tingkah karena tak tahan melihat pesona Ayana. Setelah perceraian itu, Naufal memang tak pernah menemui Ayana sama sekali. Ia juga hanya mendengar kabar jika Ayana sudah menikah.
"Aku baik." Jawab Ayana singkat dan mencoba sedikit angkuh. "Bukankah seharusnya mas bertanya kabar Aila? Mas ingin bertemu Aila kan hari ini?" Ayana berubah menjadi sedikit ketus.
Naufal mendengus pelan.
"Sombong sekali. Mana Aila?!" Katanya dengan nada tidak enak. Ayana menunjukkan Aila yang sedang bermain sendiri.
"Aila?!" Panggil Ayana sejenak. Aila menoleh ke arah mamanya. Ayana mengayunkan tangan tanda menyuruh Aila mendekati dirinya. Aila yang saat itu melihat Naufal, sedikit terkejut dan berlari ke arah mamanya. Saat Aila sudah mendekat, Naufal segera menghampirinya dengan berjongkok.
"Aila?" Sapa Naufal pada anaknya. Ayana memperhatikan mereka. Aila hanya terdiam dan pasrah saat Naufal memeluknya. Ayana dapat mengerti. Walaupun perlakuan Naufal tidak baik selama menjadi suaminya, tapi yang Aila tahu sejak bayi sampai perpisahan terjadi, papanya adalah Naufal. Aila tidak memberontak sama sekali. Ayana memberikan mereka waktu bersama. Ayana memberikan kesempatan, bagaimanapun juga papa Aila masih berhubungan darah dengan Aila dan Ayana tidak berhak memisahkan mereka. Ayana menjauh dari mereka dan duduk kembali. Tak berselang lama Aila berlari ke arahnya.
"Ma, aku diajak papa main ke sana." Aila menunjuk prosotan yang ada di salah satu taman bermain tersebut. Seolah meminta ijin.
"Iya sayang. Hati-hati ya nak." Ayana mengijinkannya.
"Ye!!!!" Seru Aila seraya berlari dan menuju papanya. Naufal menggandeng tangan Aila dan mereka menuju prosotan.
Belum ada satu menit, Naufal berjalan ke arah Ayana dan meninggalkan Aila bermain sendiri di prosotan. Naufal duduk di samping Ayana. Ayana yang tadinya sedang mengetik pesan pada Rendra itu, terkejut ada Naufal karena ia tak begitu memperhatikannya tadi.
"Mana Aila mas?" Tanya Ayana pada Naufal.
"Itu. Disana." Naufal menunjuk prosotan aman yang masih dibuat bermain Aila.
Ayana sudah dapat menduganya. Naufal tak akan bisa lama mengasuh anaknya.
Sejak Aila lahir juga selalu seperti itu. Ketika masih bayi, pada saat Aila menangis dintengah malam, dia tak pernah bangun untuk membantu Ayana menggendong Aila. Saat Aila sakit, ia tak peduli dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Apalagi saat Aila menunjukkan sesuatu pada papanya, Naufal nampak seolah tak menanggapinya. Menemani anak memang butuh kesabaran. Jika Naufal tak bisa begitu, makannya jangan pernah menjadi orang tua laki-laki. Itu yang sering Ayana katakan pada Naufal dulu.
Sama seperti sekarang, tak berubah sama sekali. Apa ada orang tua laki-laki yang hanya butuh waktu kurang dari satu menit bermain dengan anaknya setelah sekian lama tidak bertemu? Ayana juga sempat berpisah ranjang selama delapan bulan sebelum perceraian dengan Naufal. Selama itu pun Naufal tak pernah menafkahi Aila dan Ayana yang masih berstatus keluarganya. Padahal ia memiliki pekerjaan. Gugatan cerai dari Ayana dengan alasan tidak dinafkahi dan kasar, itulah yang menguatkan saat Ayana berada di pengadilan.
"Sudah? Kalau sudah, aku mau pulang." Kata Ayana pada Naufal. Ayana memasukkan smartphone-nya ke dalam tas dan berdiri, seolah mau meninggalkan taman bermain dengan mengajak Aila.
"Tung... Tunggu." Cegah Naufal. Ia nampak bingung ketika melihat Ayana ingin pergi meninggalkannya. Ayana terhenti dan menoleh ke arah Naufal.
"Hari Minggu, aku berencana untuk mengajak Aila jalan-jalan."
"Silahkan saja. Hari Minggu suamiku akan mengantarkan Aila pada mas." Jawab Ayana singkat.
"Mana bisa suamimu?"
"Kenapa tidak? Aku ada deadline menulis hari Minggu. Jadi tidak bisa mengantarkan."
"Kamu memang sengaja kan ingin menjauhkan ku dari Aila?"
Ayana mengalihkan pandangan dan nampak kesal.
"Mas! Kalau aku seperti itu, pasti dari kemarin aku tidak menyetujui mas bertemu Aila disini. Sekali lagi, silahkan kalau ingin mengajak Aila, tapi suamiku yang akan mengantarnya." Ayana nampak berbicara dengan tegas.
"Ya, kalau suamimu aku tak mau." Nada bicara Naufal nampak meremehkan.
"Mas tidak berubah sama sekali. Tetap saja egois. Mas pikir dengan berkata seperti itu aku akan menuruti kemauan mas? Selama pisah ranjang saja, mas tidak pernah menafkahi Aila."
"Apa kamu pikir aku bodoh? Orang tuamu kan kaya. Masa tidak bisa mencukupi kamu dan Aila?"
"Mas. Selama belum bercerai, seharusnya aku itu tetap menjadi tanggung jawab mas! Lagipula, apa mas pikir, mengurus anak itu gampang?"
"Kalau kamu tidak ikhlas mengurus Aila, kasihkan saja Aila padaku." Nada Naufal juga nampak kesal.
"Selama masih bersama saja mas tidak peduli, apalagi sekarang yang sudah sekian lama tidak bertemu? Aku tidak akan tega memberikan Aila pada mas." Ayana nampak amat kesal.
"Yah. Terserah saja. Kamu sangat sombong sekarang. Kenapa? Karena suamimu sekarang lebih kaya dariku?" Kata Naufal dengan sangat mudahnya.
Ayana benar-benar sakit kepala bagaimana harus menghadapi orang seperti ini. Sudah berkali-kali ia menjelaskan bukan masalah harta ia memutuskan bercerai dengan Naufal, tapi karena sifat egois dan posesif berlebihannya. Namun nampaknya Ayana sudah lelah menghadapi Naufal. Dijelaskan seperti apapun ia akan tetap beranggapan dirinya benar.
"Terserah saja apa yang akan mas katakan. Yang penting, sekarang aku sangat bersyukur bisa berpisah denganmu mas." Ayana membenarkan tas selempangnya dan ia mulai berjalan menghindar dari Naufal untuk menjemput Aila dan mengajaknya pulang.
"Tunggu Aya!" Naufal mencengkeram tangan Aila dengan kuat. Ayana terperanjat. Ia mendadak ketakutan. Pegangan Naufal membawa memori-nya tentang kekerasan yang pernah Naufal lakukan pada Ayana dulu. "Aku masih belum selesai." Ayana nampak gemetar.
"Lepas mas. Tidak ada lagi yang harus diperpanjang. Aku sudah menikah!"
"Apa bedanya? Saat menjadi istriku, kamu sering selingkuh di belakangku kan?" Genggaman Naufal amat kuat, hingga Ayana tak berkutik.
"Aku tidak pernah selingkuh!" Ayana mencoba melepaskan tangannya. Ia melihat Aila yang jauh darinya. Aila nampak masih bermain senang dan tak menyadari itu semua. Untung Aila tidak melihat kejadian ini. Pikirnya.
"Lepaskan mas!" Ayana menggeliatkan tangannya berusaha melepaskannya. Naufal masih nampak kesal melihat Ayana yang menolak dirinya.
"Lepaskan tangan istriku!" Tiba-tiba seorang laki-laki berteriak dari arah dekat mereka. Mereka yakin teriakan pria itu mengarah pada mereka. Ayana menoleh ke arah suara itu. Ada Rendra berdiri dengan tatapan amat marah.
...****************...
tapi Dila yang dasarnya wanita tidak bersyukur saja malah ninggalin Rendra
muntah gara kebanyakan minum susu.