Petik pelajaran dari setiap isi cerita
...
1. Kamu hanya mencintai seragamku dan bukan diriku. Dua tahun pernikahan dengan istriku hanya penuh pertikaian, hingga karenanya kamu memintaku memiliki anak dengan dengan seorang gadis anak almarhumah mantan pengasuhmu sejak kecil.
Dengan kacaunya aku menuruti keinginanmu karena aku sayang kamu Bianca. Namun semakin lama, sebagai seorang suami, aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu
Tahukah kamu.. keegoisanmu ini membuat cerita baru dalam rumah tangga kita Bianca.
...
Kamu sungguh menghancurkan isi hatiku Bianca.. Pecah dan hancur sampai ke akarnya tapi aku masih mencintaimu hingga kesalahan fatal itu terjadi memporak porandakan rumah tangga kita.
Dan akhirnya aku berkali-kali merasakan kenangan pahit karenamu Bianca hingga sosok itu datang didalam hatiku tanpa sengaja. Dia......... ( by Ghara )
#
2. Dan disisi lain kamu berbeda dengan dia. Dirimu sudah membalikan seluruh duniaku.
Awalnya aku hanya bermain-main, tapi semakin kusadari.. ada rasa berbeda dalam hatiku. Perasaanku pun bukan sekedar permainan.
Nindy bayangan terindah masa laluku. Jujur memang caraku mendapatkan mu adalah sesuatu yang salah. Hanya aku yang tau itu semua di sengaja atau tidak. Hanya kamu.. hanya kamu saja di hati ini. Diajeng Amarilys Sahna . Kamu hidup matiku, sehidup sesurga ku. ( by Bayu )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Kembali ke Batalyon.
Malam hari Nada jadi meriang karena ulah Ghara. Ghara sungguh tidak menyangka kalau Nada ternyata benar sedang lelah.
"Lah dek.. kenapa jadi demam begini??" Bang Ghara kelabakan mengacak-acak isi kopernya mencari obat di dalam sana.
"Jangan di berantakin Abaaang..!!" tegur Nada yang kesal melihat barang-barangnya hampir rata menjadi satu kamar.
"Nanti Abang bereskan" kata Bang Ghara.
"Nggak mungkin. Ujung-ujungnya selalu Nada yang bereskan semua"
"Terus gimana Abang cari obatnya?? Ada di koper ini khan???" tanya Bang Ghara.
"Semua obat Nada sudah Abang simpan di tas pinggang Abang sendiri. Apa Abang lupa??"
"Oohh iya ya. Kenapa Abang jadi lupa??" kata Ghara langsung mengambil tas pinggangnya. Benar saja seluruh obat Nada memang ia yang sudah membawanya.
"Maaf dek. Abang kepikiran lihat kamu menggigil"
Nada tersenyum melihat paniknya Bang Ghara saat ia sakit. Terbersit suatu pertanyaan dalam benaknya.
"Bang jika hanya salah satu saja yang bisa di selamatkan antara Nada dan bayi kita. Siapa yang akan Abang pilih??" tanya Nada.
"Adakah pertanyaan yang lebih berbobot daripada pertanyaan itu??" Bang Ghara terlihat sangat tidak senang mendengar pertanyaan itu.
"Jawab saja dulu meskipun Abang tidak suka"
"Apa ini yang di namakan godaan bumil? Selalu ada kekonyolan dan hal yang tidak bisa masuk akal pikiran" ucap Bang Ghara yang langsung tidak siap mendengar pertanyaan aneh dari Nada.
Melihat Nada sepertinya menunggu jawabannya, Bang Ghara segera menjawab pertanyaan itu agar tidak sampai berlarut-larut atau menjadi bahan keributan nantinya.
"Abang pilih kamu" jawabnya singkat.
"Abang nggak sayang bayi kita??" tanya Nada.
"Katamu Abang harus memilih?? Hidup adalah sebuah pilihan, dan Abang memilih kamu selamanya ada di hidup Abang" jawab Bang Ghara dengan jelas.
"Abang tidak mau berdebat setelah kamu mendengarnya dan Abang tidak mau ada pertanyaan lagi"
"Terima kasih atas jawabannya Bang meskipun Nada tidak paham kenapa Abang tidak menyelamatkan anak kita" ucap Nada dengan raut wajah sedih.
Bang Ghara tak kalah sedihnya, kenapa sampai pikiran seperti itu bisa terbersit dalam pikiran Nada. Tentu saja ia menginginkan yang terbaik untuk anak istrinya. Sehat dan selamatnya Nada hingga selesai proses persalinan nanti.
Nada istriku. Kenapa Abang memilihmu, itu bukan karena Abang tidak sayang buah hati kita. Pertama.. Abang tidak ingin mengenal wanita lain lagi dalam hidup Abang dan Abang ingin menghabiskan sisa hidup Abang bersamamu. Hanya kita berdua, kamu dan Abang. Kelak jika buah hati sudah dewasa, mereka juga akan memiliki pasangan hidup dan hidup dengan keluarganya, dan yang tersisa hanya kita. Menghabiskan masa tua dengan indah.
***
"Besok kalian sudah mau kembali ke tempat dinas. Hati-hati jaga kandungan Nada lho Ghar..!!" pesan Papa Arben.
"Iya pa. Aku ngerti" jawab Bang Ghara.
"Kalau sampai sana mabuk lagi cepat periksa ke dokter supaya cepat di tangani. Mabuk memang nggak masalah, kalau berlebihan baru nggak baik" Papa Arben tak hentinya memberi nasihat pada Bang Ghara.
Saat keluarga sedang asyik berbincang. Frans asyik duduk berdua mengambil tempat di pojok ruangan sambil sesekali bercanda.
"Heii.. kalian ini memang nggak tau aturan ya..!! Keluarga sedang berkumpul kalian malah rapat berdua" tegur Bang Ghara.
"Besok aku sama Tisa pisah, sedangkan kalian bisa berduaan. Apa di kira hatiku nggak ngenes??" ucap Frans mencari pembelaan.
"Derita lu nggak cepat kawin" ledek Bang Ghara.
"Gue sich mau.." jawab Frans dengan sombongnya.
"Ceweknya yang kagak mau" ucapnya lagi dengan suara nyaris hilang.
Tawa Papa Arben pecah saat melihat ekspresi wajah Frans yang nampak terintimidasi.
"Ijin Dan.. Kalau berkasnya sudah kumpul, saya langsung mau pengajuan nikah di Batalyon" kata Frans meminta ijin pada Dan Arben.
"Memangnya kapan Tisa bilang mau pengajuan sama Abang??" tanya Tisa sengaja menjatuhkan mental Bang Frans.
"Lah dek. Kemarin khan kamu bilang sudah mau sama Abang???" tanya Bang Frans mulai waswas menegaskan.
"Tisa bohong. Tisa sudah punya pacar" jawab Tisa.
"Jangan main-main lah kamu dek" Bang Frans menyambar sebatang lidi lalu menusukan sebatang lidi itu pada lehernya.
"Kalau kamu tolak Abang.. Abang bunuh diri sekarang juga..!!" ancam Bang Frans dengan wajah frustasi. Hanya Nada dan mama Dira yang berteriak histeris disana.
Bang Ghara, Papa Arben dan Tisa malah dengan santainya melahap camilan tanpa menoleh ke arah Frans.
"Kok Papa mertua nggak cemas??" tanya Bang Frans.
"Ini mantu idaman abad ini lho pa"
"Kalau Papa yang nikah sama kamu sih jelas Papa yang jawab. Tapi khan kamu maunya sama Tisa ya biar Tisa sendiri yang jawab" jawab Papa Arben.
"Dek.. jawab donk. Masa sampai Abang kembali ke Batalyon..Abang tetap jadi jomblo tiarap. Abang mau sombong sama orang-orang nih. Biar mereka yakin kalau Abang ini laku" kata Bang Frans memelas pada Tisa.
"Sudah.. terima aja kenapa sih. Kalau ada korban bunuh diri disini.. keluarga kita juga yang malu Tis..!!" celetuk Bang Ghara.
"Ya sudah deh. Kalau Abang Tisa yang ganteng ini sudah ngomong begitu. Tisa terima..!! Tisa rela terjerumus lembah hitam bareng Bang Frans" ucap Tisa dengan mantap.
"Alhamdulillah.. akhirnya, ada wanita yang punya kesadaran batin yang bersedia menerima kegantengan gue apa adanya" Bang Frans mengusap wajahnya dengan penuh syukur.
***
Di bandara Mama Dira memberi segala perhatian dan nasihat untuk menantunya itu.
"Nanti kalau Abang nakal bilang sama Papa ya..!!" kata Papa Arben.
"Iya pa." jawab Nada halus.
"Ben, jaga benar istrimu ya. Nada masih mual-mualnya awal kehamilan" Mama Dira cemas sekali memikirkan Nada.
"Iya mama.." jawab Arben.
"Ya Allah.. Nada yang hamil, aku yang disalahkan"
"Ya jelas salahmu donk Ghar. Kamu yang buat Nada jadi begitu. Makanya kamu harus ekstra siaga kalau istri sedang hamil" tegur Papa Arben.
"Siap Komandan. Cucu Komandan tenang dalam penjagaan saya" ucap Bang Ghara dengan yakin.
"Ijin Dan.. Nanti putri Komandan juga aman dalam penjagaan saya..!!" kata Frans ikut menyela.
Semua pandangan mata tertuju pada fashion Frans. Kali ini ia memakai kacamata biru dengan baju gaya tahun tujuh puluhan.
.
.
.