Dianjurkan membaca Novel TK berjudul Lelaki Berkacamata agar lebih paham jalan cerita novel berikut ini.
Annemie, biasa di panggil Anne. Dia adalah anak yang cerdas, ceria dan baik hati. Dia dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi. Entah dari mana asalnya.
Berbanding terbalik dengan Anna teman sebayanya di panti asuhan. Meskipun Anna juga anak yang cerdas tapi dia lebih pendiam dan juga perasa.
Seiring berjalannya waktu, banyak cinta yang datang dengan cara yang tidak biasa. Ada Alan, Larry, dan Dinda yang mengelilingi mereka membuat cinta menjadi lebih rumit. Apakah mereka masih akan bertahan sebagai saudara atau saling benci karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XIX
Aku bisa apa
Jika waktu tidak bersahabat denganku
Aku bisa apa
Jika rasamu ternyata bukan untukku
Dunia remaja yang aku damba
Ternyata tidak semua berbunga
Ada kala justru kebimbangan melanda
Merusak segala perasaan di dada
*****
Alan pulang dengan tergesa sore ini. Entah karena capek dan ingin segera pulang untuk beristirahat, atau bisa juga karena sedang tidak ingin bertemu dengan seseorang.
Dinda saja heran karena tumbenan tidak ditawari untuk bareng atau hanya sekedar bertanya basa-basi seperti biasanya. Dinda mengerutu sepanjang jalan saat keluar kelas dan menyusuri koridor sekolah.
"Kak Alan kenapa sih? tidak biasanya seperti ini!" Dinda terus mengoceh kesal seorang diri. Teman-temannya hanya saling pandang dan tidak ada yang menyebut. Takut malah kena semprot nantinya.
Anne dan Anna tampak berjalan beriringan dari ujung koridor menuju halaman depan sekolah. Mereka berdua saling bercanda dan ledek satu sama lainnya.
"Tadi kenapa istirahat sore tumbenan gak ke kelas Anna?" tanya Anna memancing. Dia ingin tahu apakah Anne akan bercerita atau memberikan alasan lainnya sekarang ini.
"Eh, tadi udah mau ke kelas kamu. Tiba-tiba Larry bilang pengen cerita. Ya sudah, aku akhirnya gak jadi keluar. Memang kenapa?" Anne menjawab tanpa ada ekspresi yang berlebih, bahkan terkesan biasa aja.
"Tidak apa-apa. Cuma tanya, kan gak biasanya!" Anna masih mencoba untuk memancing Anne.
"Oh, aku pikir kamu di kerjain lagi." Mode wajah Anne masih terlihat wajar hingga saat ini. Anna akhirnya diam dan tidak lagi bertanya untuk sekedar ingin tahu.
"Tadi Larry cerita soal tanding basket. Katanya ada salah satu anggota tim yang tiba-tiba deman panggung. Kan lucu, di kira mau pidato kali!" Sekarang wajah Anna tampak berbeda karena teringat cerita Larry yang menurutnya lucu. Dia kembali tertawa kecil mengingat semuanya.
"Masak ada begitu?" tanya Anna menangapi.
"Iya bener. Coba besok tanya Alan, bener gak tuh cerita Larry!" Anne memberikan usul untuk mengetahui kebenaran dari cerita Larry padanya tadi.
"Oh ya, tumben tuh anak gak terlihat tadi?" tanya Anne mengingat-ingat jika seharian ini dia tidak bertemu dengan Alan.
"Tadi pagi dia kan ikut tanding. Mungkin capek dan ingin langsung pulang untuk istirahat." jawab Anna memberikan alasan. Dia tidak mau jika Anne salah paham seandainya dia bercerita tentang apa yang sebenarnya tadi terjadi.
"Iya juga sih..." Anne akhirnya mengangguk paham apa yang di katakan oleh Anna. Dengan menghembuskan nafas pelan Anna tersenyum lega.
"Kalian belum pulang?" tanya Bu Dewi saat melihat Anne dan Anna masih berjalan sambil tertawa-tawa.
"Ini mau pulang Bu" jawab Anne.
"Ya sudah, ibu duluan ya!" Pamit Bu Dewi pada keduanya. Anne dan Anna mengangguk dengan sopan menangapi Bu Dewi. Dengan langkah yang anggun, Bu Dewi kembali melangkah menuju parkiran.
Dari arah belakang tampak pak Bakti yang melangkah dengan tergesa-gesa. Seakan sedang mengejar sesuatu. "Bu Dewi, tunggu!" Pak Bakti memanggil bu Dewi agar menghentikan langkahnya. Ternyata pak Bakti sedang mengejar Bu Dewi.
Bu Dewi terlihat berbalik dan tersenyum saat melihat pak Bakti yang berjalan ke arahnya.
"Permisi ya anak-anak!" Pak Bakti berkata pada Anne dan Anna saat melewati keduanya dengan tergesa. Pak Bakti kembali melangkah menyusul keberadaan Bu Dewi yang sudah berhenti di ujung koridor sekolah. Keduanya pun terlihat obrolan yang serius sambil berjalan beriringan menuju tempat parkir.
Anne dan Anna saling berbisik melihat kedua gurunya itu. Sedangkan segerombolan anak-anak yang berada di teras halaman depan dan koridor saling berbisik juga antara satu dengan yang lainnya.
"Sebentar lagi ada pesta nih!" Tiba-tiba Anne berbisik ke Anna. Dengan memicingkan mata, Anna meminta agar Anne berkata lebih jelas lagi.
"Iya, lihat Bu Dewi dan pak Bakti. Sebentar lagi akan ada pesta Anna. Pesta gosip antara keduanya!" Anne menerangkan sejelas-jelasnya.
"Eh, jangan gitulah. Kan mereka juga masih muda, masih sendiri-sendiri pula. Wajarlah jika ada hubungan yang lain." Anna menerangkan apa yang dia pikirkan sekarang ini.
"Eh, Anna. Aku tidak bilang melarang. Lihat itu, itu, itu juga. Semuanya sedang berbisik-bisik pastinya membicarakan pak Bakti dan Bu Dewi." Anne membela diri dengan menunjuk beberapa anak yang memang sedang berbicara satu sama lainnya dengan melihat atau melirik ke arah kedua guru mereka tersebut.
"Iya gak papa kan? Gak ada larangan jatuh cinta di area sekolah!" Anna masih mempertahankan pendapatnya.
"Ah, terserah kamu sajalah Ann. Memang gak ada peraturan yang melarang juga kok!" Akhirnya Anne mengalah juga, karena jika Anna yang biasanya diam sudah mulai ngeyel pasti akan lama dan panjang tanpa henti.
Keduanya kembali melanjutkan langkah menuju ke gerbang sekolah.
"Gimana tadi olah raga, aman?" tanya Anne mengalikan topik pembicaraan.
"Gak ada olah raga kok" jawab Anna sambil mengangkat kedua bahunya.
"Benarkan omongan aku tadi pagi. Dinda libur deh ngerjain kamu!" kata Anne dengan tersenyum miring. Dalam hati Anna mengiyakan apa yang dikatakan oleh Anne.
"Berarti tadi kosong dong?" tanya Anne lagi. Anna tampak mengeleng beberapa kali.
"Kenapa, kan gak ada pak Bangun?" tanya Anne heran. Tentu saja dia berpikir jika tidak ada pak Bangun di pastikan jam olah raga kosong.
"Digantikan oleh pak Bakti jam pelajarannya." Anna menjawab dengan tersenyum masam.
"Kok gitu?" tanya Anne cepat.
"Minggu depan pak Bakti ada seminar di sekolah yayasan yang ada di Pondok Indah. Jadi minta tukeran gitu sama pak Bangun." Anna menjelaskan apa yang tadi di jelaskan oleh pak Bakti.
Anne mengangguk mengerti. Dia tahu jika di sekolah yayasan ini tidak ada yang namanya jam kosong terbuang percuma. Semua waktu dimanfaatkan dengan sangat baik.
"Berarti minggu depan kelas kamu ada jadwal olahraga dua kali begitu? Enak dong!" kata Anne, kemudian duduk di kursi halte menunggu angkutan kota yang belum datang. Tak terasa keduanya sudah sampai di halte tak jauh dari sekolah mereka berdua berada.
Tin, tin...
Terdengar suara klakson mobil tak jauh dari tempat Anne dan Anna menunggu angkutan kota. Merasa tidak kenal keduanya hanya diam saja tanpa bermaksud untuk mendekat.
"Anne... Anna!" panggil seseorang dari pintu mobil penumpang yang terbuka. Keduanya menoleh karena merasa mengenal suara tersebut.
"Eh, Bu Mala!" Keduanya berteriak berbarengan karena ternyata orang tersebut yang ibu Kumala. Ibu panti asuhan mereka.
Keduanya berjalan mendekat. Ternyata ibu Kumala sedang naik taksi online yang mirip mobil pribadi.
"Ayo naik!" Ajak ibu Mala saat keduanya sudah dekat. Mereka pun akhirnya ikut naik ke dalam mobil tersebut.
"Ibu dari mana?" tanya Anne saat mobil sudah mulai berjalan kembali.
"Tadi ibu ada undangan seseorang yang akan menjadi donatur baru di panti kita sayang" jawab ibu Mala menjelaskan.
"Syukurlah kalau ada donatur lagi." Anne dan Anna pun mengucapkan syukur. Selama ini keuangan panti memang ada dari beberapa donatur dan bantuan dari pemerintahan setempat. Itulah sebabnya panti asuhan Ayu Kumala bisa berjalan dengan baik dan memberikan fasilitas yang baik juga untuk para penghuninya.
"Kemarin ibu di kenalkan seorang teman dengan pengusaha yang masih muda dan cantik. Ternyata beliau tertarik untuk menjadi donatur tetap. Padahal beliau juga sudah ada yayasan untuk anak-anak terlantar di daerah Bekasi dan Cengkareng." Ibu Kumala bercerita dengan mata berkaca-kaca.
"Semoga kedermawanan beliau menjadi contoh untuk yang lainnya." Terdengar ibu Kumala juga berdoa agar orang tersebut terus di berikan kesehatan dan usaha yang lancar.
"Aamiin..." ucap Anne dan juga Anna berbarengan. Begitu juga bapak supir yang ikut mendengarkan doa dari ibu Kumala.
***Kira-kira siapa ya pengusaha tersebut? 🤔🤔🤔
lanjut...