Zarulita Maya 26 tahun, seketika mematung ketika menangkap basah sang calon tunangan tengah bercumbu dengan seorang wanita di kantornya.
Demi untuk mengagalkan pernikahan, Maya pun harus memilih cara absur yaitu dengan menyewa jasa pengacara Ferdian Bastian.
"Bisakah mas Ferdian berpura-pura menjadi kekasih Maya??"
Berhasilkah usaha Maya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Waktu berjalan, dan Maya tak menyia-yiakan waktu yang masih ia punya sebelum peresmian Star Tomo dan New-A.
Kini ia duduk di ruang kerja pengacara Ferdian Bastian seorang diri. Maya sengaja memilih untuk menunggu pria itu. Setidaknya itu adalah sebagai penilaian Ferdian bahwa ia benar-benar serius.
Namun sampai menjelang sore hari. Sosok Ferdian Bastian tak kunjung tampak. Maya pulang dengan wajah kecewa dan tangan kosong.
Hal itu terus terjadi hingga hampir 1 minggu lebih.
Hingga satu ketika saat seluruh karyawan kantor Bastian telah pulang. Maya masih mencoba untuk menunggu pengacara Ferdian hingga sore hari.
Dan karena kelelahan, tanpa di sadari Maya tertidur di sofa ruangan itu dengan menopang keningnya.
Tak lama, perlahan terdengar langkah derap kaki yang kian mendekat masuk ke dalam ruangan kerja itu.
Namun betapa kagetnya Ferdian ketika melihat sosok wanita yang terlihat tertidur tengan di sofa tersebut.
"Sejak kapan??" tanya Ferdian pada sekertaris Aldo.
Aldo terkaget ketika melihat sosok Maya anak pemilik New-A tertidur dengan pulas di ruang kerja atasannya.
"Ah, maaf pak.. saya pikir mbak Maya sudah pulang.."
Ferdian menghela nafas pelan.
"Benar-benar merepotkan!" ujar Ferdian dengan berbalik badan hendak pergi.
"Pak?? bagaimana dengan tugas???"
"Besok, kerja kan saja besok.. biar kan dia tertidur" ujar Ferdian yang akhirnya meninggalkan ruangan kerjanya begitu saja.
Namun ketika berbalik, tanpa terduga handphone Aldo berdering dengan suara nyaring.
Ferdian seketika memelototi Aldo, yang bersegera meraih handphone di dalam saku celananya. Lalu bersegera mematikan panggilan masuk itu.
Dan tak lama Maya pun terjaga dari tidurnya.
"Mas Ferdian???" seru Maya yang akhirnya bertemu dengan sosok yang di cari.
Ferdian pun tak bisa berkutik ketika namanya di panggil.
Maya dengan cepat bangun dari duduknya dan menghampiri Ferdian.
"Mas Ferdian??"
Ferdian mau tak mau akhirnya berbalik dan menatap wanita yang terlihat lelah di wajahnya.
"Maaf, Maya menunggu mas sudah hampir 1 minggu lamanya dan tolong.. beri Maya sedikti waktu untuk berbicara"
Aldo yang berada di tengah mereka pun seketika merasa canggung.
"Sa-ya akan pulang lebih awal" ujar Aldo pamit. Dan bersegera pergi dari ruangan itu.
Ferdian menghela nafas pelan.
"Jika kamu datang dan hanya ingin membahas soal ajakan kamu tempo hari, maka lupakan saja.. itu.. tidak akan pernah mungkin"
"Ah, ya.. maaf jika saat itu pikiran Maya benar-benar kacau" sela Maya cepat.
"Lalu??"
Wajah Maya sedikit tak nyaman. Dan seketika Ferdian menyadari jika keduanya masih berada di luar ruangan kerja Ferdian.
"Oke, kita bahas di dalam"
"Ya" sahut Maya setuju.
Keduanya masuk kedalam ruangan kerja Ferdian. Maya kembali duduk di sofa namun anehnya Ferdian malah duduk di kursi kerjanya yang cukup memberi jarak jauh.
Hal aneh memang untuk Maya yang selalu mendapat pelayanan terbaik di kantor Bastian. Namun rupanya hal itu tak berlalu di hadapan Ferdian Bastian.
"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan??" tanya Ferdian sopan.
Maya seketika bersiap dengan untuk menjawab.
"Pinjamakan Maya uang"
"Hah??"
"Maya tau mungkin ini kedengaran sedikit gila tapi New-A butuh uang segar, bukan dari invesrasi" jelas Maya tegas.
"Apa kau tidak salah? aku.. aku hanya pengacara biasa" ujar Ferdian merendah.
"Bohong banget, bilang aja pelit" rutu batin Maya.
"80 miliar" potong Maya.
Ferdian terdiam.
"Seluruh aset New-A akan Maya berikan sebagai jaminan, dan uang mas Ferdian akan Maya kembalikan bertahap" ucapnya dengan berat.
Ferdian sejenak berpikir.
Diamnya Ferdian sudah membuat Maya gelisah, ia benar-benar gusar. Karena ia berharap banyak dari seorang Ferdian Bastian.
"Maaf, sepertinya aku tidak memiliki uang sebanyak itu" tolak Ferdian halus.
Maya kecewa. Rasanya harapannya hilang.
"Kau pasti tau Maya, jika aku hanya pengacara kecil dan masih berkerja di bawah Johan B. Bastian" timpal Ferdian dengan sengaja memberi image benar-benar tak punya uang.
Maya menghela nafas pasrah ketika mendengar penolakan Ferdian.
Ia pun tertunduk lesu, harapan besarnya pupus.
"Ba-iklah, jika mas benar-benar tak bisa membantu, maaf karena sudah mengusik waktu mas Ferdian" seru Maya dengan hendak beranjak bangun dari sofa nya.
Namun seketika terlintas satu ide dadakan.
"Tapi.. boleh kan Maya ajukan satu tawaran yang sangat menguntungkan bagi mas Ferdian"
Ferdian mendengar dengan kening berkerut.
"Apa??"
Maya mencoba menghela nafas pelan.
"Maya tau jika mas memiliki kekasih yang lebih tua, tante Lusya"
Deg... Ferdian bergeming dengan kaget.
"Dan Paman Johan sedang mengurus perjodohan untuk mas Ferdian"
Kening Ferdian kian terkaget dengan ucapan Maya yang ia rasa itu sangat rahasia.
"Kau???"
"Ayo kita barteran??"
"Apa? barteran??" seru Ferdian bingung.
"Hm, mas tolong berpura-pura menjadi kekasih Maya di acara peresmian Star tomo dan New-A, dan karena skandal itu.. Mas juga di untung kan dengan hilangnya kecurangan Paman Johan atas hubungan mas dan tante Lusya"
Sejenak, Ferdian menimbang.
"Mengapa kau ingin memilih hal itu??" tanya Ferdian.
Maya menghela nafas panjang.
"Maya tidak ingin menikah dengan Dimas Anggara yang ingin menguasai New-A"
"Apa kau sudah benar-benar pikir?" tanya Ferdian bernada serius.
Maya mengangguk cepat dan ia yakin 100%.
"Kerugian Aritama akan bertambah jika kau membatalkan pernikahan ini bahkan biaya finalty yang cukup besar akan menimpa Aritama" tutur Ferdian lagi yang benar-benar mengetahui perusahaan New-A itu tengah sedikit bermasalah.
Maya sedikit menelan salivanya ketika mendengar ucapan Ferdian. Kedua bola matanya terlihat ragu. Sesaat ia sedikit berpikir.
Ini memang terdengar tak baik dan akan menambah masalah baru untuk New-A.
"Lalu Maya harus bagaimana?" tanya Maya lesu dan wajahnya terlihat kian gusar.
Sejenak Maya berpikir dalam diamnya.
Lalu tak lama wajah Maya menatap wajah Ferdian.
"Ya, sudah... gak jadi deh, kasian Papa dan Marcel" ucapannya pelan.
Sesaat Ferdian terlihat lega mendengar keputusan Maya, hingga ia bisa bernafas normal.
"Tapi..." ujar Maya dengan wajah serius menatap Ferdian.
"Nanti, bantu Maya untuk bercerai dengan pria brengsek itu!!" pintanya bersungguh-sungguh.
Ferdian terpeleongo mendengar ucapan Maya yang benar-benar membuatnya terkejut. Sehingga rasa syoknya itu berubah menjadi sakit kepala yang membuatnya ingin cepat-cepat kembali kerumah.