NovelToon NovelToon
Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Perubahan Hidup / Kaya Raya
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Marcos

Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 07 - Taruhan Bagas

Senin pagi, berkas itu sudah berada di meja Arga.

Pak Jaya tidak tidur. Pukul enam pagi, ia masuk ke kantor Mega Kuningan dengan map cokelat, kopi hitam tanpa gula, dan ekspresi seseorang yang sudah menyelesaikan masalah lebih buruk sebelum matahari terbit.

"Tanah di Jalan Benda Raya, Jakarta Selatan. Dua ribu empat ratus meter persegi. Bekas gudang industri, dibongkar pada 2019. Terdaftar atas nama holding bernama BFC Investama."

"BFC. Bagas Fajar Kartawijaya."

"Tepat." Pak Jaya membuka map. "Dia membeli opsi beli empat puluh hari lalu seharga Rp80 juta. Nilai akuisisinya Rp2,1 miliar. Pembeli akhirnya pengembang menengah, Horizon Properti. Mereka berniat membangun hunian kelas atas. Nilai jual kembali yang disepakati Rp6,3 miliar."

Arga membolak-balik dokumen. Denah tanah. Sertifikat. Surat keterangan.

"Masalahnya?"

Pak Jaya mengeluarkan map kedua. Lebih tipis, tetapi bobotnya seperti dinamit.

"Laporan lingkungan tahun 2017, dipesan pemerintah kota saat gudang itu dibongkar. Tidak pernah dipublikasikan. Gudang tersebut beroperasi sebagai tempat penyimpanan bahan kimia industri antara 1986 dan 2004. Tanahnya tercemar logam berat, timbal dan kromium heksavalen. Remediasi memakan biaya antara Rp4 miliar sampai Rp6 miliar, membutuhkan minimal delapan belas bulan, dan tanpa itu pemerintah kota tidak akan mengeluarkan izin bangunan."

Arga meletakkan map di meja.

"Bagas tahu?"

"Bagas tidak melakukan due diligence. Dia percaya pada surat lingkungan dangkal yang disodorkan broker. Laporan 2017 tersimpan di Dinas Lingkungan Hidup, bisa diakses lewat permohonan formal, tapi tidak ada yang meminta." Pak Jaya melipat tangan. "Horizon Properti juga belum tahu. Mereka akan tahu saat mengurus izin, atau lebih cepat, kalau ada yang menunjukkan."

Arga terdiam. Ia menatap jendela. Jakarta bangun di bawah kabut kelabu yang mengaburkan gedung-gedung seperti cat air yang buruk.

"Saya tidak ingin menghancurkan Bagas."

Pak Jaya menunggu.

"Saya ingin dia menghancurkan dirinya sendiri." Arga berbalik ke meja. "Ceritakan soal tanah di sekitarnya."

"Tiga lot. Dua milik keluarga yang tinggal di Bandung dan dipakai sebagai parkir liar. Yang ketiga milik pemerintah kota, sedang dalam proses lelang." Pak Jaya memeriksa berkas kedua. "Estimasi total akuisisi Rp4,7 miliar."

"Kalau saya membeli ketiganya, apa yang terjadi pada nilai tanah Bagas?"

Pak Jaya membiarkan bayangan senyum muncul.

"Pasar akan membacanya sebagai kenaikan nilai kawasan. Harga tanah dia naik. Tapi pembeli dari Horizon Properti sudah menegosiasikan batas atas. Kalau harga pasar naik di atas kesepakatan mereka, bisnis itu menjadi tidak menguntungkan bagi Horizon. Mereka bisa renegosiasi, atau mundur."

"Dan kalau di saat yang sama laporan lingkungan jatuh ke tangan yang tepat..."

"Bisnisnya mati."

Arga membuka laptop. Menekan sebuah nomor. Tiga nada sambung.

"Rafael."

Suara di seberang berat, presisi, dengan aksen Jakarta Selatan seseorang yang tumbuh di Menteng dan mengambil MBA di Chicago.

"Arga. Sudah lama."

"Aku membutuhkanmu."

Rafael Kurniawan pernah menjadi konsultan keuangan di kawasan Sudirman selama delapan tahun sebelum memutuskan bahwa ia lebih suka bekerja untuk satu orang saja, selama orang itu membayar seperti sepuluh orang. Arga mengenalnya melalui Pak Jaya, salah satu kontak jaringan Mahendra, tenang, efisien, dan sepenuhnya amoral dalam pengertian bisnis.

"Katakan."

"Tiga lot di Jakarta Selatan, bersebelahan dengan tanah di Jalan Benda Raya. Aku ingin ketiganya dibeli dalam lima hari. Dua holding berbeda, nama yang tidak mengarah ke mana pun. Penawaran agresif, dua puluh persen di atas harga pasar. Aku ingin semua orang di kawasan itu tahu ada uang baru masuk."

"Itu akan menaikkan harga semua tanah dalam radius dua blok."

"Aku tahu."

"Lalu tanah di tengah? Yang tidak kamu beli?"

"Bukan masalahku."

Rafael diam tiga detik. Arga mendengar bunyi pena mengetuk buku catatan.

"Mengerti. Kirim datanya."

Arga memutus sambungan. Ia menatap Pak Jaya.

"Laporan lingkungan. Saya ingin itu sampai ke Horizon Properti. Tanpa pengirim."

"Surat tercatat atau email anonim?"

"Protokol di Dinas Lingkungan Hidup. Permohonan formal atas nama firma hukum lingkungan independen. Begitu laporan itu menjadi dokumen publik, Horizon akan menemukannya sendiri." Arga menutup laptop. "Saya tidak mau sidik jari apa pun."

"Dimengerti."

Lima hari berikutnya berlangsung bedah.

Rafael membeli lot pertama dalam empat puluh delapan jam. Keluarga dari Bandung menerima tawaran pada pertemuan pertama, terpesona oleh dua puluh persen di atas valuasi. Lot kedua membutuhkan dua hari lagi dan negosiasi dengan putra kedua, yang meminta tiga puluh persen. Rafael mengalah tanpa berkedip.

Yang ketiga, lot milik pemerintah kota, masuk lelang elektronik pada Kamis. Rafael memenangkannya dengan satu penawaran, tiga belas persen di atas harga minimum. Tidak satu pun holding yang dipakai memiliki hubungan dengan MNT, Mahendra, atau nama Arga.

Pada Jumat, firma hukum lingkungan memasukkan permohonan akses laporan 2017 ke Dinas Lingkungan Hidup. Prosedur standar, birokratis, tidak terlihat. Laporan itu direklasifikasi sebagai dokumen publik yang tersedia untuk konsultasi.

Pada Sabtu, Horizon Properti menerima laporan triwulanan dari departemen hukum dengan catatan kaki yang mengubah segalanya: "Ditemukan kewajiban lingkungan yang tidak diungkap terkait properti objek rencana akuisisi di Jalan Benda Raya."

Minggu pagi, ponsel Bagas berdering.

Arga berada di dapur keluarga Kartawijaya, mencuci piring bekas sarapan. Marlina pergi ke pengajian. Robert membaca koran. Bianca mengerjakan proyek Grup Imperial di meja ruang tamu, laptopnya dikelilingi sampel kain dan palet warna.

Dari kamar tamu, tempat Bagas tidur setelah pulang mabuk pada Sabtu malam, terdengar ponsel berdering. Lalu hening. Lalu suara Bagas, teredam pintu, dengan nada yang belum pernah Arga dengar: tinggi, tercekik, tanpa jejak playboy yang melempar koin di lantai hotel bintang lima.

Pintu terbuka. Bagas muncul di lorong dengan celana pendek dan kaus kusut, rambut berantakan, ponsel di tangan seperti granat yang pinnya sudah dicabut.

Wajahnya putih.

Putih. Warna seseorang yang menerima pukulan yang tidak ia lihat datang.

"Siapa yang melakukan ini?" Suaranya retak. "Siapa yang melakukan ini?"

Robert mengangkat mata dari koran.

"Melakukan apa, Bagas?"

Bagas tidak menjawab pamannya. Ia menatap ponsel seolah kata-kata di layar akan berubah jika ia menatap cukup lama.

Pembeli mundur. Rp6,3 miliar menguap dalam panggilan tiga menit. Kewajiban lingkungan. Tanah tercemar. Remediasi miliaran. Tidak ada izin bangunan. Tidak ada bisnis.

Bagas mengangkat mata. Menyapu ruangan. Melewati Robert. Melewati Bianca. Berhenti pada Arga.

Arga sedang membilas piring. Ia tidak mengangkat mata. Tidak perlu.

"Siapa yang melakukan ini?" ulang Bagas, kini menatap lurus sepupu yang ia hina.

Arga menutup keran. Mengeringkan tangan dengan lap. Berbalik.

"Melakukan apa?"

Keduanya saling menatap selama tiga detik yang terasa seperti keabadian. Bagas mencari sesuatu di mata Arga, pengakuan, kilatan rasa bersalah, apa pun yang bisa mengonfirmasi teriakan instingnya meski logika tidak mampu membuktikannya.

Ia tidak menemukan apa pun.

Karena Arga tidak tersenyum. Tidak memancing. Tidak membiarkan satu tanda pun lolos. Ia hanya menatap Bagas dengan ekspresi netral dan sabar yang sama yang dipakainya selama tiga tahun.

Ekspresi si benalu. Menantu tak berguna. Pria kere yang tidak akan mampu menghancurkan bisnis Rp6 miliar meski ia mencoba.

Bagas mencengkeram ponsel sampai buku-buku jarinya memutih. Ia berbalik. Masuk ke kamar. Membanting pintu.

Bianca menatap Arga.

"Apa yang terjadi padanya?"

Arga menggantung lap piring pada kait.

"Tidak tahu. Mungkin kalah taruhan."

1
Anime aikō-kā
haii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!