Andika seorang bayi berumur satu bulan yang ditinggal oleh ibunya untuk selama-lamanya. Besar bersama ayahnya yang benama Adam membuatnya berubah menjadi nakal dan banyak tingkah.
Banyak wanita yang dijodohkan dengan ayahnya berakhir gagal karena ulahnya. Akankah Andika berhasil menemukan ibu sambung yang sesuai dengan pilihannya?
Simak kisah mereka di karya kedua aku ini!!!
sebelumnya, mampir juga dikarya pertamaku
ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Happy Reading...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Macan Beraksi...
Like...
Komen...
Vote...
Happy Reading...
***
"Selamat pagi semuanya." Sapa Dika yang baru keluar dari kamarnya.
"Pagi juga, cepetan makan! Ini bekal makan siang buat kamu!" Yuni memasukkan bekal makan siang dalam tas Dika.
"Tapi Tan." Belum selesai Dika bicara Yuni sudah mengangkat tangannya sebagai tanda untuk Dika berhenti. "Mulai sekarang, panggil Mama karena sebentar lagi tante akan pura-pura jadi Mama kamu di sekolah, dan Tante gak mau ibu-ibu di sekolah kamu mengintrogasi tante dengan berbagai pertanyaan, dan satu lagi mulai sekarang berhenti berulah, karena tante gak mau di panggil ke sekolah dan dianggap ibu tiri yang gak bisa ngurus kamu, ngerti!" Dika tersenyum geli mendengar penjelasan panjang lebar dari Yuni pagi ini.
Sementara Rara dan Adam hanya diam tidak bergeming larut dalam pikiran masing-masing. "Permainan apa yang sedang kalian mainkan?" Batin Adam. "Mama sama Kak Dika benar-benar bermain rumah-rumahan." Batin Rara sambil menggelengkan kepalanya melirik Adam sekilas.
"Satu lagi, mulai sekarang kamu akan bawa bekal ke sekolah sama seperti Rara dan tidak ada bantahan!" Yuni benar-benar menunjukkan taringnya kali ini. "Oke Tante, permainan dimulai, dan aku pastikan Tante tidak akan bisa keluar dari permainan ini!" Senyuman licik Dika tersungging dengan indah pagi ini.
Setelah menghabiskan sarapan mereka, Dika dan Rara langsung diantar ke sekolah oleh pak Anwar. Sementara Yuni masih membereskan meja makan sebelumnya sebelum menuju ke restoran. "Yun, apa kalian lagi bermain rumah-rumahan?" Tanya Adam yang masih duduk di meja makan.
Mendengar pertanyaan Adam, Yuni juga kembalu duduk. "Aku gak tau permainan apa yang dimainkan Dika, tapi aku suka tantangan yang dia berikan, jadi aku akan ikuti permainannya, kamu cukup melihat saja, dia butuh sosok ibu, maka aku akan jadi sosok ibu yang dia mau, biarkan aku membuat dia menyesal dengan permainannya sendiri."
Adam mengernyitkan keningnya, "Maksudmu?" Yuni hanya tersenyum penuh arti ke arah Adam sambil berlalu menuju dapur, sementara dibalik dinding yang tidak jauh dari meja makan, Bi Inah mendengar semua pembicaraan antara Adam dan Yuni tadi.
Restoran...
"Yun, kamu benaran mau ke sekolah Dika?" Tanya Adam yang sudah berdiri di depan pintu.
"Iya, kamu ikut juga?" Balas Yuni.
"Biasanya cuma satu orang aja yang mewakili, selama ini aku selalu hadir walaupun malas, karena lebih banyak ibu-ibu dari pada bapak-bapak." Keluh Adam.
"Ouh, ya udah biar aku aja kali ini, lagian tema rapatnya juga gak dibilang mau bahas apa, nanti aku hubungi kamu ya kalo ada hal-hal yang penting." Ucap Yuni bangun dari duduknya.
"Oke, aku tunggu infonya Mama Dika." Seloroh Adam yang mendapat tatapan tajam dari Yuni.
Yuni merapikan sedikit penampilannya, serta memoles sedikit riasan wajahnya agar terlihat segar. Hari ini untuk pertama kalinya dia ke sekolah Dika sebagai Ibu sambung Dika. Yuni sudah memprediksikan apa yang kira-kira akan terjadi disana. Bagaimanapun Yuni seorang perempuan matang, tentu hal-hal berbau emak-emak sangat melekat pada dirinya walaupun dia jarang berkumpul dengan para emak-emak yang menurutnya kurang kerjaan sehingga mereka memilih bersantai ria bersama teman-temannya sambil membahas tas, perhiasan, jam tangan, pakaian serta gosip terhangat yang tentu sangat menggugah selera bagi mereka yang menyukainya.
Sementara Yuni, hidupnya jauh dari itu semua. Dia seorang wanita karir dengan kesibukan yang padat. Dia tidak punya waktu untuk berkumpul bersama teman-temannya, bahkan hari libur untuk keluarganya saja tidak cukup, sampai akhirnya suaminya memilih selingkuh dibelakangnya.
Walaupun sekarang dia janda dengan pekerjaan yang terasa ringan tidak seperti dulu, tapi dia selalu menghabiskan waktunya dengan sang putri, tidak jarang para wali murid di kelas Rara mengajaknya berkumpul di akhir pekan, tapi dia selalu menolak dengan alasan Rara mengajaknya jalan-jalan.
Jam 10 kurang 10 menit Yuni tiba di sekolah Dika, setelah bertanya pada beberapa murid yang ditemui, akhirnya dia sampai di aula tempat berlangsungnya acara.
"Selamat pagi Buk, atas wali siapa?" Tanya seorang guru yang tampak seperti petugas pendata wali murid.
"Oh, saya wali dari Andika." Ucap Yuni ramah.
"Selamat datang Ibu, ini pertama kalinya ibu menghadiri rapat, saya Bu Risma wali kelas Andika, ibu sendiri atau bersama Pak Adam?"
"Sendiri Buk, Ada...m, maaf, Ayahnya Dika sedang ada pekerjaan yang gak bisa ditinggal." Yuni gelagapan saat menyadari dia memanggi Adam seperti biasanya, padahal dia juga harus merubah panggilannya didepan para guru dan wali murid supaya mereka tidak curiga.
"Silahkan bergabung Buk dengan wali murid yang lain."
"Terima kasih, Buk." Ucap Yuni, setelah itu dia berjalan mencari kursi yang belum terisi.
Banyak yang wali murid yang menatap ke arah Yuni, bukan tampa alasan, karen dari kelas satu sampai kelas tiga tentu mereka sudah ingat betul dengan wajah para wali murid, dan pada hari ini sosok Yuni telah mencuri perhatian sebagian wali murid yang umumnya kaum ibu-ibu.
"Buk, disini saja!" Panggil seorang Ibu ramah.
Yuni menghampuri sambil tersenyum ramah pada ibu-ibu yang menatapnya. "Maaf Bu, kalo boleh tau Ibu wali dari siapa? Oh ya, saya Dewi wali dari Dewa putra satu-satunya." Dari sekian wali murid yang hadir Buk Dewi ini yang paling antusias menurut penilaian Yuni.
"Saya juga ketua dari grup wali murid kelas 9 A ini Buk, putra saya Dewa juga ketua kelas dari kelas satu sampai sekarang." Yuni masih tersenyum ramah, dia cukup berhati-hati untuk menghadapi suasana baru saat ini.
"Eh, maaf jadi saya yang banyak bicara, Ibu wali dari siapa?" Tanya Buk Dewi kembali.
"Saya Yuni wali dari Andika, Buk." Jawab Yuni sopan.
"Andika anaknya Pak Adam yang tampan itu? Wah, pantas hari ini Pak Adam absen, biasanya beliau tidak pernah absen jika ada pertemuan wali murid.
"Kebetulan hari ini Ayahnya Dika ada kerjaan yang gak bisa ditinggalkan Buk, jadi saya gantikan." Yuni sudah mulai jengah dengan situasi diruangan tersebut.
"Sudah lama nikah sama Pak Adam, Buk?" Tanya seorang ibu lainnya.
"Mmm...baru sebulan Buk." Jawab Yuni dengan senyum yang dipaksakan.
"Oalah...masih pengantin baru toh, masih anget-angetnya nih Buk ya?" Goda seorang Ibu yang lain.
Yuni hanya membalas dengan sedikit senyum, karena percuma saja jika diikuti, ibu-ibu tersebut tidak akan berhenti.
"Buk Yuni, kami ada acara arisan juga lho, untuk kebersamaan aja, apa ibu mau bergabung?" Tanya Buk Dewi kembali.
Tepat seperti Yuni perkirakan sebelumnya, ujung-ujungnya pasti arisan khas ibu-ibu kurang kerjaan. "Maaf Buk, saya tidak bisa ikut, Ayah Dika meminta saya untuk selalu menemani Dika jika dia pulang sekolah."
"Eh, bukan hari sekolah Buk, biasanya kita adain acaranya hari sabtu." Jawab Buk Dewi kembali.
"Maaf juga Buk, sabtu minggu Ayah Dika selalu di rumah, jadi saya tidak bisa meninggalkan suami dan anak di rumah, saya takut durhaka." Ibu-ibu yang mendengar perkataan Yuni sontak tertawa. "Ternyata Buk Yuni istri yang penurut ya? Pantas Pak Adam cinta sama Ibu."
Ibu-ibu yang lain hanya menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapan Ibu Dewi.
"Justru kita harus bangga Buk, jika suami ingin ditemani di rumah, jangan sampai suami membebaskan kita keluar sementara dia juga keluar sama wanita lain, makanya jika suami terlalu mudah memberikan ijin untuk ibu-ibu keluar bahkan sampai keluar negeri, itu ibu-ibu sudah patut waspada, jaman sekarang pelakor itu dimana-mana Buk, apalagi kita yang badan mulai melebar, aduh bahaya sekali tuh Buk, makanya saya sangat menjaga diri agar suami saya betah di rumah." Yuni memulai aksinya, dan dari raut wajah ibu-ibu tersebut jelas menampakkan sedikit keraguan dan Yuni bersorak gembira dalam hatinya.
salam kenal dari pengisi suara novel ini 😊😊