Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Matahari perlahan tenggelam di balik ufuk barat Kota Samarinda, meninggalkan bias jingga kemerahan yang perlahan berganti dengan pekatnya malam. Di koridor lantai khusus Rumah Sakit Medika Utama, suasana mulai terasa lengang. Lampu-lampu putih koridor menyala terang, memantulkan kilau lantai marmer bersih yang diinjak oleh Aluna dan Aruna ketika mereka pamit pulang setelah menghabiskan waktu beberapa jam menemani Aurelia.
"Hati-hati di jalan ya, Lun, Aruna. Kabari aku kalau sudah sampai rumah," pesan Aurelia sambil melambaikan tangan pelan kepada kedua sahabatnya di depan lift.
"Siap, Li! Besok kita ketemu lagi di sekolah ya. Semangat terus buat jagain Om Bayu!" balas Aluna melambaikan tangan sebelum pintu lift tertutup rapat, membawa serta kedua sahabat Aurelia turun ke lantai dasar.
Begitu lift tertutup, keheningan kembali merayap. Aurelia menghela napas panjang, merapikan letak kardigan rajutnya, lalu berbalik hendak melangkah kembali ke kursi tunggu tempat ibunya berada.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti kaku.
Di ujung koridor dekat tangga darurat, sesosok pria berpostur tinggi tegap sedang berjalan mendekat dengan langkah santai namun mendominasi. Grayson Balindra. Pemuda itu mengenakan mantel hitam panjang berpotongan rapi di atas kemeja gelapnya, memberikan kesan kontras yang sangat mencolok di tengah lingkungan rumah sakit yang steril.
Yang membuat jantung Aurelia berdegup kencang bukan hanya kemunculan suaminya di tempat umum seperti ini—melainkan sebuah kantong kertas belanjaan bermerek mewah di tangan kanan pemuda itu, serta kotak makanan bertingkat di tangan kirinya.
Grayson berhenti tepat di hadapan Aurelia. Manik mata amber-nya menatap lurus ke dalam mata sang istri dengan sorot yang sulit diartikan—datar, tajam, namun menyiratkan kepemilikan mutlak.
"Kenapa kaget begitu, Wife?" suara bariton Grayson terdengar rendah, sengaja diredam agar tidak mengganggu pasien lain di sekitar koridor. "Kamu pikir aku akan membiarkan istriku kelaparan dan kelelahan menjaga rumah sakit sendirian?"
Aurelia menelan ludah kelat. Ia sama sekali tidak menyangka Grayson akan datang langsung ke rumah sakit ini, di saat ia baru saja membatalkan penjemputan sore tadi. "A-aku... aku tidak menyangka kamu akan datang ke sini, Grayson. Bagaimana kalau ada orang sekolah yang—"
"Tidak ada orang sekolah yang akan melihatku di jam sembilan malam seperti ini," potong Grayson tenang. Pemuda itu melewati Aurelia begitu saja, melangkah mendekati area ruang tunggu tempat Lila sedang duduk termenung.
Aurelia buru-buru mengikuti langkah suaminya dari belakang dengan perasaan waswas yang luar biasa. Ia takut jika ibunya akan bereaksi keras melihat kehadiran Grayson—pria yang menjadi dalang di balik kehancuran keluarga mereka.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Lila mendongakkan kepalanya. Wanita paruh baya itu terperanjat kaget melihat sosok pemuda berwajah dingin yang berdiri di hadapannya. Lila segera bangkit dari kursi tunggu, manik matanya memandang Grayson dengan campuran antara rasa takut, benci, dan kebingungan yang teramat sangat.
Namun, di luar dugaan siapa pun, Grayson justru menghentikan langkahnya tepat di hadapan Lila. Dengan gestur yang tenang dan terkontrol, pemuda itu membungkukkan sedikit tubuhnya—menunjukkan bentuk penghormatan yang sangat kontras dengan reputasinya sebagai seorang berandalan kejam.
"Selamat malam, Tante," ucap Grayson dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, meski aura dominannya tetap tidak bisa disembunyikan.
Lila terpaku sesaat, menatap kantong kertas mewah dan kotak makanan hangat yang diletakkan Grayson dengan hati-hati di atas meja kecil ruang tunggu.
"Grayson...?" cicit Lila lirih, suaranya terdengar bergetar. Wanita paruh baya itu menatap pemuda di depannya dengan tatapan nanar. Ia tahu persis siapa pemuda ini; ia tahu bahwa di balik wajah tampan dan harta melimpah itu, Grayson adalah monster yang telah memaksa putrinya masuk ke dalam sangkar pernikahan rahasia demi menyelamatkan nyawa suaminya.
"Aku tahu Tante belum makan malam dari tadi siang," lanjut Grayson tenang, seolah mengabaikan ketegangan yang terpancar jelas dari raut wajah ibu mertuanya. Ia membuka kotak makanan bertingkat tersebut, mengeluarkan semangkuk sup ayam hangat dan makanan bergizi lainnya yang masih mengepulkan uap. "Dan aku membawa beberapa keperluan ganti pakaian untuk Aurelia di vila."
Lila menatap makanan itu, lalu beralih menatap Aurelia yang berdiri di belakang Grayson dengan kepala tertunduk. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Lila merasakan badai emosi yang hebat. Pria ini kejam, dingin, dan tidak memiliki belas kasihan dalam cara-cara gelapnya merebut Aurelia. Namun pada detik yang sama, di hadapan kenyataan pahit ini, Grayson tidak pernah lupa memikirkan kebutuhan fisik mereka—memastikan suaminya dirawat di rumah sakit terbaik, dan kini membawakan makanan hangat untuknya di tengah malam.
"Terima kasih..." ucap Lila terbata-bata dengan suara serak, enggan menyentuh makanan itu namun tidak punya keberanian untuk menolak pemberian sang menantu iblis. "Tapi... untuk apa kamu repot-repot datang ke sini selarut ini, Grayson?"
"Karena istri saya ada di sini," jawab Grayson mutlak, melirik sekilas ke arah Aurelia. "Dan aku tidak terbiasa tidur sendirian di rumah besar itu tanpa keberadaannya."
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang begitu santai, namun bagi Aurelia, kata-kata tersebut mengandung makna tersembunyi yang membuat sekujur tubuhnya merinding.
Setelah memaksa Lila untuk makan beberapa suap demi menjaga kesehatan wanita paruh baya itu, Grayson beralih menatap Aurelia dengan tatapan penuh instruksi.
"Temui ayahmu sebentar di dalam kalau kamu mau, lalu bersiaplah," titah Grayson tenang. "Malam ini, kita menginap di sini."
Aurelia terbelalak kaget. "M-menginap? Di rumah sakit?"
"Ya," balas Grayson tanpa memberi ruang bantahan. "Ada ruang istirahat khusus VVIP di lantai atas yang terhubung langsung dengan perawatan ini. Kamu tidak mungkin pulang selarut ini ke vila, dan aku tidak mungkin membiarkanmu tidur sendirian di kursi tunggu rumah sakit."
Beberapa menit kemudian, di dalam ruang istirahat VVIP rumah sakit yang luas, mewah, dan ber-AC dingin, suasana kembali terasa begitu canggung bagi Aurelia.
Ruangan tersebut dilengkapi dengan satu tempat tidur king-size, sofa beludru panjang, kamar mandi pribadi, serta dinding kaca besar yang langsung menghadap ke arah lampu-lampu kota Samarinda di waktu malam.
Lila memilih untuk tetap berada di kursi tunggu luar dekat ruang ICU, enggan berada satu ruangan terlalu lama dengan Grayson. Alhasil, di dalam kamar VVIP yang remang-remang itu, hanya tinggal ada Aurelia dan sang suami.
Aurelia duduk di tepi ranjang dengan memeluk kedua lututnya, menatap kosong ke lantai marmer. Sementara Grayson berdiri di dekat jendela besar, melepaskan mantelnya dan melemparkan benda itu ke atas sofa. Pemuda itu memegang ponselnya sejenak, menyelesaikan beberapa urusan bisnis via pesan singkat, sebelum akhirnya meletakkan ponsel tersebut di atas nakas dan berbalik menghadap ke arah Aurelia.
Langkah kaki Grayson yang tidak bersuara mendekati tempat tidur. Begitu bayangan tubuh tinggi pemuda itu mendekat, Aurelia secara refleks menegakkan punggungnya, manik matanya menatap Grayson dengan sorot waswas yang kentara.
Grayson menyadari ketakutan yang masih tersisa di mata istrinya. Pria itu menghela napas pendek, lalu duduk di tepi ranjang tepat di sebelah Aurelia. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga aroma parfum maskulin bercampur sabun mandi hangat milik Grayson menyerang indra penciuman gadis itu.
"Kenapa kamu masih gemetar setiap kali aku mendekat, Sweetheart?" tanya Grayson lembut—terlalu lembut, sebuah nada suara yang sangat jarang ia gunakan. Jemari kokohnya terulur perlahan, hendak menyentuh rambut Aurelia.
Aurelia secara spontat memundurkan kepalanya, menghindari sentuhan itu. "J-jangan sentuh aku..." bisiknya tertahan, suaranya bergetar hebat. "Kamu bilang kamu tidak akan memaksa... tapi kenapa kamu terus menekanku dengan caramu sendiri, Grayson?"
Mendengar penolakan itu, gerakan tangan Grayson terhenti di udara. Manik mata amber-nya menatap Aurelia tajam selama beberapa detik. Ada kilatan kekecewaan dan amarah tertahan yang melintas di balik bola mata terang itu, namun Grayson dengan cepat berhasil mengendalikannya.
Ia menarik kembali tangannya, lalu bersandar pada sandaran ranjang dengan sebelah tangan menopang tubuhnya.
"Dengarkan aku, Aurelia," ucap Grayson dengan suara baritonnya yang tegas dan berwibawa, memecah kesunyian malam di dalam kamar VVIP tersebut. "Sejak hari pertama aku melihatmu di gerbang sekolah itu, aku tahu hidupku tidak akan pernah sama lagi. Aku tahu caramu memandangnya salah, aku tahu caraku mendapatkannya adalah cara terkejam yang bisa dibayangkan manusia... tapi aku tidak peduli."
Aurelia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu egois, Grayson... kamu hancurkan hidupku, kamu hancurkan keluargaku..."
"Ya, aku egois," potong Grayson tanpa ragu sedikit pun. Suaranya terdengar begitu mutlak, dingin, namun sarat akan kepedihan masa lalu yang tidak pernah diungkapkan pada siapapun. "Karena di dunia ini, orang-orang sepertiku tidak pernah diajarin cara menyayangi dengan tulus. Kedua orang tuaku membuangku sejak aku berusia sepuluh tahun. Mereka meninggalkanku sendirian di dalam rumah besar yang sunyi, memperebutkan harta di atas penderitaanku, lalu pergi dengan dunia masing-masing."
Aurelia tertegun seketika. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Grayson, membuat debaran di dadanya mendadak melambat. Untuk pertama kalinya, di balik topeng iblis dan sifat arogan yang selalu ditunjukkan pemuda itu, Aurelia melihat secercah luka menganga dari masa kecil yang hancur.
Grayson menoleh, manik mata amber-nya menatap lurus ke dalam bola mata Aurelia dengan intensitas yang membakar.
"Kamu punya keluarga yang hangat, rumah yang dipenuhi tawa, dan kasih sayang yang tidak pernah aku miliki seumur hidupku," lanjut Grayson lirih. "Itu sebabnya saat aku melihatmu tersenyum di sekolah, aku merasa benci sekaligus haus. Aku ingin kehangatan itu. Dan ketika aku menyadari bahwa dunia tidak akan pernah memberikannya secara cuma-cuma padaku... aku memutuskan untuk mengambilnya dengan tanganku sendiri."
Aurelia terdiam membisu. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia tidak menyangka bahwa di balik tindakan keji dan obsesi psikopat yang menghancurkan keluarganya, terdapat jiwa seorang anak lelaki yang terluka parah dan dibesarkan di dalam kegelapan mutlak.
"Aku tidak meminta kamu untuk langsung mencintaiku malam ini, Aurelia," ucap Grayson pelan, suaranya kini terdengar begitu menghanyutkan di tengah kesunyian malam. "Aku bisa menunggu. Aku bisa menahan diri setiap kali aku ingin menyentuhmu. Tapi jangan pernah berpikir untuk mencoba lari dariku... karena sampai kapan pun, di dunia ini, kamu adalah satu-satunya rumah yang kumiliki."
Grayson bergeser sedikit, merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang king-size tersebut, lalu menepuk ruang kosong di sampingnya.
"Tidurlah," titah Grayson lembut namun tidak terbantahkan. "Besok pagi kita harus kembali menjalani rutinitas. Aku di sini. Ayahmu di ruangan sebelah. Tidak ada yang akan menyakitimu malam ini."
Aurelia menatap wajah suaminya yang kini terpejam tenang di atas bantal. Rasa takut di dalam dadanya tidak sepenuhnya hilang, namun lapisan rasa iba dan pemahaman baru perlahan-lahan merasuk ke dalam jiwanya. Dengan keraguan yang masih menyisa, Aurelia perlahan merebahkan tubuhnya di sisi lain tempat tidur, menjaga jarak sejauh mungkin dari Grayson di bawah temaram lampu tidur kamar VVIP tersebut.
Di luar jendela, hujan gerimis kembali turun membasahi kaca, mengiringi malam panjang di rumah sakit—menjadi saksi bisu atas dua jiwa yang terluka, terikat dalam satu takdir kelam yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh waktu.