NovelToon NovelToon
Abi Baik, Abi Gak Jahat

Abi Baik, Abi Gak Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Eritasyofia

Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Dunia, Satu Dusta

Di sisi lain, di sebuah rumah mewah, seorang pria bertubuh kekar dengan kepala plontos dan samar bayangan jambang usai dicukur, tengah terduduk bisu. Tatapannya tertuju lurus pada layar ponsel. Foto profil seseorang yang dicarinya mendadak hilang.

​"Umi kenapa, ya? Apa dia marah?"

bisiknya gelisah dalam hati.

​Rangga benar-benar dilanda galau. Jantungnya berdebar kencang. Ia bangkit dan meraih kunci mobil. Sayang, ia tak tahu pasti di mana alamat Winta karena wanita itu memang belum pernah memberitahunya.

​"Dek, Mas keluar sebentar, ya. Ada buku yang mau Mas cari,"

pamitnya.

​"Iya, Mas,"

sahut istrinya singkat.

​Rangga melaju ke konter ponsel, membeli beberapa kartu perdana, lalu menepi di sebuah kafe. Sambil memesan segelas kopi, ia mengganti kartu di ponselnya dan mencoba menghubungi Winta. Panggilan pertama tak diangkat. Panggilan kedua masih hening. Baru pada percakapan ketiga, suara di seberang sana menyapa.

​"Umi sayang, kenapa blokir Abi?"

Tanya Rangga langsung.

​"Kenapa Abi nelpon lagi?"

suara Winta terdengar dingin, namun bergetar.

​"Jawab Abi dulu, kenapa sampai diblokir? Abi sayang banget sama Umi. Abi cinta mati sama Umi."

​Tidak ada jawaban dari seberang line, hanya terdengar desah isak tangis yang mulai pecah.

​"Umi… kenapa menangis?"

​"Abi jahat!"

bisik Winta terisak.

​"Sayang, Abi sama sekali tak berniat jahat. Abi cuma takut istri Abi mendadak periksa ponsel. Kalau sampai ketahuan, Abi tak akan bisa lagi menyapa Umi, tak bisa lagi dengar suara Umi."

​"Abi kan pintar, akalin dong gimana caranya supaya pesan dari Umi tetap aman!."

​"Iya, Sayang. Ini Abi sudah beli ponsel baru khusus buat hubungi Umi. Ponselnya bakal Abi simpan rapi di tas kerja. Pakai nomor baru ini, ya. Umi tinggal kirim pesan saja kapan pun. Nanti begitu ada waktu luang, pasti langsung Abi baca. Nomor Abi yang lama, hapus saja."

​"Iya, Abi…"

​"Ya sudah, Umi istirahat, ya. Jangan menangis lagi. I love you, Sayang."

​"Iya, Sayang…"

​Cup! Sebuah stiker kecupan terkirim dari Winta sebelum sambungan terputus.

​Rangga melangkah pulang dengan perasaan agak lega. Di ruang tamu, Viona, istrinya, sudah duduk menyilangkan kaki, menatapnya penuh arti.

​"Dari mana, Mas? Tadi kelihatannya buru-buru banget?"

​Rangga mengangkat sebuah buku tebal tentang ekonomi yang sempat dibelinya di jalan.

"Beli ini. Ada bahan yang perlu Mas pelajari."

​"Kenapa tidak cari di internet saja, sih? Kan lebih praktis?"

alis Viona terangkat sebelah.

​"Lagi ingin baca versi cetaknya saja,"

kilah Rangga santai.

​"Ooh… ya sudah."

​"Kenapa, Sayang? Kok tatapanmu seperti curiga begitu?"

​"Siapa yang curiga? Aku cuma merasa Mas tadi agak panik. Agak aneh aja."

​"Perasaanmu saja. Biasa saja, kok,"

jawab Rangga menepis ragu.

​Viona hanya mengibaskan tangan lalu berbalik masuk ke kamar, meninggalkan Rangga yang kini duduk menyendiri bersama buku barunya, buku yang sekadar jadi kambing hitam.

​Matanya memang menatap barisan teks di lembaran kertas, namun pikirannya melayang jauh pada sosok wanita matang yang anggun, lembut, sekaligus sarat gairah. Rangga membayangkan kembali lekuk tubuh Winta dan helaan napas hangatnya saat mereka bersama, sebuah sensasi membakar yang mustahil ia lupakan.

​Bukan berarti ia tak punya gairah pada Viona. Namun, istrinya itu terlampau dingin di ranjang. Sebagai wanita karier sekaligus sosialita dengan segudang kesibukan, hampir tak ada malam yang dilewati Viona tanpa rasa lelah.

​Sementara itu, di tempat terpisah, Winta perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Isak tangisnya lambat laun mereda, berganti dengan helaan napas panjang yang sarat akan pergulatan emosi.

​Dada Winta terasa berkecamuk. Ada kehangatan membuncah saat mendengar pengakuan cinta dan bujuk rayu Rangga yang begitu manis. Kata-kata pria itu seolah menjadi penawar dahaga bagi hatinya yang selama ini merindukan perhatian intens. Namun, di sisi lain, bayang-bayang rasa bersalah mendadak menyergap jiwanya. Ia tahu betul, hubungan serba sembunyi-sembunyi ini ibarat bermain dengan api yang siap membakar mereka kapan saja.

​Winta menatap stiker bibir yang baru saja dikirimkannya dengan perasaan campur aduk, antara gejolak asmara yang sulit diredam dan kecemasan mendalam akan masa depan hubungan terlarang tersebut.

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!