NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Melania-1623

Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."

Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.

Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.

Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Ancaman Terbuka di Selatan

Selamat membaca...

_________

Ponsel di genggaman Aura terasa begitu dingin, seolah mengalirkan racun yang membekukan seluruh pembuluh darahnya. Langkah kakinya menyapu marmer dingin lorong lantai empat puluh lima Adijaya Tower terhenti mendadak.

Aura meremas benda persegi itu, membaca ulang pesan singkat yang baru saja memusnahkan rasa lega di dadanya.

'Evan memang menang di bursa saham, Aura... Tapi bagaimana dengan adikmu di rumah barunya?'

"Aura?" suara Evan yang rendah dan penuh perhatian membuyarkan ketakutan yang melumpuhkan wanita itu.

Evan yang menyadari istrinya tertinggal beberapa langkah di belakang segera berbalik. Alis tebalnya bertaut erat begitu melihat wajah Aura yang pucat pasi, bibirnya yang bergetar, dan deru napasnya yang menjadi tidak teratur.

"Aura, ada apa?" Evan mendekat dengan cepat, meraih kedua bahu Aura. "Kau sakit?"

Tanpa sanggup bersuara, Aura menyerahkan ponselnya pada Evan.

Mata hitam Evan menyipit tajam begitu membaca isi pesan tersebut. Atmosfer kehangatan yang baru saja menyelimuti pria itu lenyap dalam sekejap, digantikan oleh aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat Pak Bimo yang berdiri di dekat mereka reflek melangkah mundur.

"Bimo!" panggil Evan dengan nada menekan yang membuat dinding lorong seakan ikut bergetar. "Hubungi tim pengawal di rumah Selatan sekarang juga!"

"Baik, Tuan!" Pak Bimo dengan sigap mencabut ponselnya, mendial nomor komandan regu pengawal yang ditugaskan menjaga Laras.

Sementara itu, Evan menarik tubuh Aura ke dalam pelukannya yang kokoh, berusaha menenangkan tubuh wanitanya yang gemetaran hebat. "Dengar aku, Aura. Laras akan baik-baik saja. Aku menempatkan orang-orang terbaikku di sana."

Pak Bimo menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo? Danang? Bagaimana situasi di—"

Belum sempat Pak Bimo menyelesaikan kalimatnya, suara gemertak gertakan dan kegaduhan terdengar samar dari seberang telepon, disusul suara napas tersengal dari sang komandan pengawal.

"T-Tuan Bimo... Ada infiltrasi! Dua mobil melompati batas pagar belakang saat pergantian regu jaga. Kami sedang menahan mereka di area taman, tapi—"

Brak! Tut... tut... tut...

Sambungan telepon terputus secara mendadak. Wajah Pak Bimo berubah tegang. "Tuan Presdir... Rumah Selatan diserang."

"Sialan!" umpat Evan murka. Tangannya mengepal rapat hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia tak menyangka Aris akan bertindak senekat ini menggunakan serangan bursa saham hanya sebagai pemicu untuk mengalihkan perhatian, sementara target utamanya adalah melumpuhkan pertahanan di rumah peristirahatan Laras.

Aura menangis histeris di dada Evan. "Evan... Laras! Tolong Laras, Evan! Dia baru saja sembuh, dia tidak bisa menghadapi hal seperti ini!"

"Kita berangkat sekarang," tegas Evan. Pria itu meraih jemari Aura, menggenggamnya erat-erat seolah menyalurkan seluruh kekuatannya. "Bimo, panggil tim keamanan cadangan dan hubungi kepolisian daerah Selatan. Pastikan perimeter rumah itu dikepung!"

Dua puluh menit kemudian.

Dua mobil SUV hitam milik Evan membelah jalanan kota dengan kecepatan di atas rata-rata, menerobos pekatnya lalu lintas siang hari menuju kawasan perkumahan elite di Jakarta Selatan.

Di dalam mobil utama, suasana begitu hening dan mencekam. Evan duduk di samping Aura, tangannya tak pernah melepaskan genggaman jemari istrinya. Tatapan Evan yang lurus menatap jalanan di depan tampak begitu mematikan.

Saat SUV hitam itu berbelok memasuki gerbang perumahan, pemandangan di depan rumah peristirahatan Laras membuat dada Aura makin berdegup kencang.

Dua mobil pengawal Adijaya tampak terparkir melintang di halaman. Pagar besi belakang rumah terlihat rusak terhantam keras. Beberapa pengawal bersafari hitam tampak berjaga ketat di area teras dengan napas terengah-engah, memegang beberapa pria berpakaian serba hitam yang sudah berhasil dilumpuhkan dan terkapar di atas rumput taman.

Mobil Evan berhenti mendadak. Belum sempat pengemudi membukakan pintu, Evan sudah melangkah keluar lebih dulu, memutar untuk membukakan pintu untuk Aura.

Aura berlari tanpa peduli pada sepatu hak tingginya, menerobos masuk ke dalam rumah. "Laras! Laras!"

"Nyonya!" panggil salah satu perawat pribadi yang keluar dari arah kamar utama dengan wajah pucat dan gemetaran.

"Di mana adikku?! Di mana Laras?!" teriak Aura panik, meraih kedua lengan perawat itu.

"N-Nyonya Laras aman! Beliau ada di dalam kamar tersembunyi bersama komandan pengawal!" jawab perawat itu terbata-bata.

Pintu panel kayu di balik lemari buku kamar utama terbuka. Danang komandan pengawal keluar dengan pelipis yang sedikit berdarah, disusul oleh Laras yang tampak pucat ketakutan namun dalam keadaan utuh tanpa luka sedikit pun.

"Kak Aura!" jerit Laras, langsung berlari menubruk tubuh kakaknya.

Aura berlutut, merengkuh tubuh Laras erat-erat dalam pelukannya, menciumi puncak kepala adiknya seraya menangis sejadi-jadinya. "Syukurlah... Syukurlah kau tidak apa-apa, Laras... Maafkan Kakak... Maafkan Kakak..."

Evan melangkah masuk ke dalam kamar, menatap Danang dengan pandangan selidik.

"Laporan, Danang," ujar Evan dingin.

"Tuan Presdir," Danang membungkuk hormat. "Ada enam penyusup yang mencoba menerobos masuk melalui pintu belakang untuk mengamankan Nyonya Laras. Beruntung sistem keamanan darurat rumah ini bekerja dengan baik. Kami berhasil mengurung Nyonya Laras di ruang aman sebelum mereka bisa menggapainya. Tiga penyusup berhasil kami lumpuhkan, sementara tiga lainnya melarikan diri menggunakan mobil sedan abu-abu."

"Sedan abu-abu?" ulang Evan dengan iris mata yang makin menyipit tajam.

Pak Bimo masuk terburu-buru seraya memegang ponselnya yang masih terhubung. "Tuan Presdir, tim keamanan di jalan raya baru saja melacak plat nomor sedan abu-abu itu. Mobil itu terdaftar atas nama anak perusahaan Pratama Group."

Aura yang masih merangkul Laras mendongak, matanya yang sembap kini memancarkan rasa benci yang begitu dalam pada nama Aris Pratama.

Evan berjalan mendekati Aura dan Laras, berlutut di hadapan mereka berdua. Pria itu mengusap kepala Laras lembut, lalu menatap Aura dengan pandangan yang sarat akan janji perlindungan yang tak tergoyahkan.

"Pria itu sudah melewati batas yang bisa kutoleransi," bisik Evan dengan suara begitu tenang namun berhawa membunuh yang sangat pekat. "Bimo... batalkan seluruh jadwal rapatku minggu ini. Saatnya kita musnahkan Pratama Group dari akar-akarnya."

Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...

1
Orang
Kerenn...
Orang
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!