"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Sidang Perdana yang Panas
Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tampak dipadati lautan manusia sejak pukul delapan pagi. Berita penangkapan seorang Manajer yang menggelapkan dana miliaran rupiah demi membelikan perhiasan untuk selingkuhannya—sementara hidupnya menumpang di rumah anak tunggal pemilik Vantara Group—telah menjadi santapan viral di seluruh stasiun televisi nasional dan portal media gosip.
Puluhan awak media dengan kamera televisi dan mikrofon sudah berbaris rapi di pelataran gedung pengadilan, siap merekam setiap momen dari sidang perdana kasus skandal korupsi dan perselingkuhan yang paling menghebohkan tahun ini.
Di salah satu sudut pelataran yang bising, Bu Rini dan Sisil berdiri berdesakan dengan raut wajah yang amat memprihatinkan. Pakaian mereka tampak sangat lusuh. Bu Rini mengenakan setelan tunik pudar yang kebesaran di tubuhnya yang kini kian kurus akibat stres berat, sementara Sisil memakai masker hitam dan topi yang ditarik hingga menutupi mata, berusaha keras menyembunyikan wajahnya dari sorotan kamera dan tatapan hina orang-orang di sekelilingnya.
"Ibu, kita pulang aja, yuk," rengek Sisil sambil menarik-narik ujung baju ibunya. Matanya berkaca-kaca menahan malu. Beberapa pengunjung pengadilan tampak menunjuk-nunjuk ke arah mereka sambil berbisik sinis. "Sisil malu banget dilihatin orang-orang. Nanti kalau masuk TV gimana?"
"Kamu bisa diam gak, Sil?!" desis Bu Rini dengan suara parau dan gigi gemerutuk. "Kita harus masuk ke dalam! Ibu mau lihat keadaan Rian! Ibu mau memohon sama Hakim supaya kakakmu gak dihukum berat!"
Tepat pada pukul sembilan pagi, keriuhan di pelataran pengadilan mendadak meledak. Suara sirine mobil patroli terdengar meraung, membuka jalan bagi iring-iringan kendaraan mewah yang memasuki area drop-off VIP.
Sebuah Sedan Mercedes-Maybach berwarna hitam pekat berhenti dengan mulus, diapit oleh dua mobil SUV hitam yang berisi tim keamanan dan kuasa hukum dari Vantara Group.
Petugas keamanan pengadilan langsung membuat barikade ketat. Pintu belakang Maybach terbuka.
Fandi Prasetyo melangkah turun lebih dulu. Pimpinan Prasetyo Group itu tampil begitu mendominasi dalam balutan setelan jas hitam legam (charcoal black) dengan kemeja putih bersih tanpa dasi, memancarkan aura ketegasan dan wibawa tingkat tinggi. Sorot mata cokelat gelapnya yang dingin menyapu kerumunan wartawan tanpa ekspresi.
Setelah memastikan situasi aman, Fandi mengulurkan tangannya dengan sikap profesional, menyambut sosok wanita yang melangkah anggun dari dalam mobil.
Kamera para jurnalis langsung menyala bak kilatan badai petir.
Annisa Septiani menapakkan kakinya di atas lantai pelataran pengadilan. Penampilannya hari itu sukses membuat semua pasang mata menahan napas. Ia mengenakan blazer suit wanita berpotongan tegas berwarna navy blue dengan kemeja sutra putih di bagian dalam. Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang dengan gaya low chignon, memperlihatkan leher jenjang dan garis rahangnya yang cantik sempurna. Sepasang anting mutiara klasik menghiasi telinganya, memberikan kesan mewah yang tak perlu berteriak.
Tidak ada lagi Annisa yang menunduk. Tidak ada lagi wanita polos yang mengenakan gaun rumahan lusuh. Di sana, berdiri pewaris sah dinasti Vantara Group yang siap mengeksekusi pengkhianatnya.
"Itu Nisa!" jerit Bu Rini histeris saat matanya menangkap sosok menantunya.
Dengan sisa-sisa tenaga dan keputusasaan, Bu Rini menerobos kerumunan wartawan. "Nisa! Annisa!"
Bu Rini mencoba meraih lengan Annisa, namun dua orang pengawal bertubuh tegap dari tim keamanan Fandi langsung memasang badan, menahan tubuh Bu Rini hingga wanita tua itu terpental mundur dan hampir jatuh ke aspal.
"Ibu!" Sisil buru-buru menahan tubuh ibunya sambil menangis ketakutan.
Annisa menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh dengan gerakan yang sangat pelan dan elegan, menatap Bu Rini dan Sisil yang kini tampak begitu kerdil, kotor, dan tak berdaya.
"Nisa! Tolong cabut laporanmu, Nak! Ibu mohon!" ratap Bu Rini dari balik barikade pengawal, tangannya menggapai-gapai ke arah Annisa. "Kasihan Rian, Nisa! Kalau Rian dipenjara, Ibu sama Sisil mau makan apa?! Kami ini keluargamu!"
Annisa menatap mantan ibu mertuanya itu tanpa satu kedipan pun. Wajahnya sama sekali tidak menampilkan emosi—tidak marah, tidak juga kasihan. Hanya tatapan hampa yang sarat akan rasa jijik.
Fandi melangkah satu tapak mendekati Annisa, berdiri tegak di sisinya bagaikan benteng pelindung yang tak tertembus. Pria itu menatap Bu Rini dengan sorot mata membunuh, membuat lidah Bu Rini mendadak kelu dan tak berani meneriakkan sepatah kata pun lagi.
"Mari kita masuk, Annisa," ucap Fandi dengan suara berat nan tenang, memandu Annisa berjalan masuk ke dalam gedung pengadilan. "Udara di luar sini terlalu banyak debu."
Annisa mengangguk pelan, membalikkan badannya begitu saja dan melangkah masuk menuju ruang sidang utama, meninggalkan Bu Rini dan Sisil yang kini menjadi bulan-bulanan jepretan kamera wartawan sebagai "keluarga parasit yang dibuang".
***
Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah penuh sesak. Udara pendingin ruangan terasa bertiup kencang, namun ketegangan yang mengudara membuat suasana terasa panas.
Annisa duduk di barisan kursi VIP paling depan bersama Fandi Prasetyo dan Pak Danu. Annisa duduk dengan postur punggung yang tegak lurus, menyilangkan kakinya dengan anggun. Matanya lurus menatap ke arah meja hijau majelis hakim. Fandi yang duduk di sebelahnya sesekali membisikkan sesuatu terkait prosedur hukum, yang direspons Annisa dengan anggukan kecil yang murni sebatas interaksi profesional.
Tepat pukul sepuluh pagi, pintu samping ruang tahanan pengadilan berderit terbuka.
Suara dentingan rantai borgol besi yang beradu seketika mengalihkan perhatian seluruh pengunjung sidang.
Kring... Kring...
Rian Hidayat dan Eriska Wijaya digiring masuk oleh tiga orang petugas kejaksaan. Pemandangan itu sungguh ironis dan memilukan.
Rian yang dulu selalu tampil klimis dengan setelan jas mahal dan jam tangan mewah, kini terlihat sangat mengenaskan. Tubuhnya jauh lebih kurus dalam waktu singkat. Tulang pipinya menonjol, wajahnya pucat pasi tanpa darah, dan rambutnya berantakan. Ia mengenakan kaus oblong putih pudar yang dibalut rompi tahanan kejaksaan berwarna oranye terang bertuliskan TAHANAN di punggungnya. Kedua pergelangan tangannya terborgol erat ke depan.
Di belakangnya, Eriska melangkah sambil terus menundukkan kepala dan menangis sesenggukan. Wajah cantiknya tertutup oleh rambut yang kusut masai. Ia terus berusaha menggunakan tangannya yang terborgol untuk menutupi wajahnya dari kilatan lampu kamera wartawan yang menyilaukan mata.
Rian dan Eriska didudukkan di kursi pesakitan yang berada tepat di tengah ruang sidang, menghadap ke meja majelis hakim.
"Sidang perkara pidana nomor 145/Pid.B/PN.Jkt.Sel atas nama Terdakwa I Rian Hidayat dan Terdakwa II Eriska Wijaya dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua seraya mengetuk palunya tiga kali. Tok! Tok! Tok!
Hakim mempersilakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk membacakan surat dakwaan.
Jaksa berdiri, merapikan berkasnya, dan mulai membacakan rentetan kejahatan Rian dengan suara lantang yang menggema di seluruh sudut ruangan.
"Bahwa Terdakwa I Rian Hidayat, dalam kapasitasnya sebagai Manager Divisi Pemasaran PT Vantara Land Sub-Holding, telah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan secara berlanjut, memalsukan dokumen laporan keuangan, serta menyalahgunakan fasilitas perusahaan."
Bersambung...
🥰🥰🥰🥰🥰
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu