Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Tangkapan Pertama
Mentari sore di atas langit Sidoarjo mulai merosot perlahan, memantulkan bias cahaya keemasan yang berkilauan di atas permukaan air sungai desa yang mengalir tenang. Suara jangkrik mulai bersahutan di balik rimbunnya semak belukar dan rumpun bambu yang melengkung anggun di sepanjang tepian kali. Di tempat inilah, ditemani angin sore yang sepoi-sepoi membawa aroma khas lumpur dan jerami basah, Dika Pratama menemukan kembali ketenangan yang sempat hilang direnggut oleh hiruk-pikuk serta kejamnya rimba beton kota Surabaya.
Dika masih duduk bersila di atas tikar pandan usang yang ia gelar di tanah rumput. Balutan sarung tenun yang melilit nyaman di pinggangnya berpadu sempurna dengan jaket hitam kumal dan sebatang kretek Gajah Baru yang masih mengepulkan asap tipis di sela-sela jarinya. Di hadapannya, ponsel android murah yang disandarkan pada tumpukan batu kali masih setia menyala, merekam setiap gerak-gerik dan ekspresi wajahnya melalui layar siaran langsung YouTube.
"Nah, lihat nih, Gengs! Ini namanya rezeki anak soleh yang baru diusir dari kantor gedongan," ucap Dika sambil tertawa renyah, mengangkat seekor ikan betik batok berukuran cukup besar yang baru saja ia lepaskan dari mata kail joran bambunya.
Ikan itu tampak meronta-ronta kecil, memantulkan sisik keperakan di bawah temaram cahaya matahari sore. Dika mendekatkan tangkapannya itu tepat ke arah lensa kamera ponsel agar para penonton di dunia maya bisa melihatnya dengan jelas.
Kolom komentar di sisi layar ponselnya mendadak bergeser cepat bagaikan air terjun. Berbagai tanggapan dari penonton mulai bermunculan satu per satu:
"Mantap, Bang Dika! Kembali ke habitat asli. Daripada jadi budak korporat mending jadi sultan kali."
"Itu ikan betik batok liar ya, Bang? Tarikannya pasti asyik tuh pakai joran bambu tradisional."
"Semangat, Bro! Salam dari Gresik. Hidup emang kadang di bawah jembatan, kadang di pinggir kali."
"Wuih, mantap gaya sarungannya! Sarung predikat sultan Sidoarjo nih."
Dika membaca beberapa komentar tersebut sambil tersenyum lebar. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membiarkan asap kretek Gajah Barunya mengepul ke udara bebas. Rasa penat, rasa malu akibat diusir secara tidak hormat dari gedung Vanesha Group, serta bayang-bayang wajah dingin Vanesha yang sempat membuat dadanya sesak, perlahan-lahan mulai luntur terbawa angin sore.
"Terima kasih buat kalian semua yang sudah mampir di siaran langsung sore ini," ucap Dika berbicara dengan nada yang lebih santai dan tulus ke arah kamera. "Buat kalian yang lagi patah hati, dipecat bos galak, atau baru saja ditolak cinta sama CEO cantik bermuka es batu... ingat kata saya: hidup tidak berhenti di lantai sepuluh gedung perkantoran. Kalau pintu mereka ditutup rapat, cari saja jendela kali di kampung halaman. Di sini, cacing sawah pun jauh lebih jujur daripada janji manis manusia."
Beberapa penonton langsung mengirimkan stiker dukungan dan emoji api secara bertubi-tubi di layar. Dika kembali tertawa lepas. Ia merasa beban berton-ton yang selama ini menghimpit pundaknya mendadak terangkat begitu saja. Menjadi diri sendiri, mengenakan sarung, memegang joran bambu tua warisan sang ayah, dan berbicara jujur di depan kamera kecil ini ternyata jauh lebih membahagiakan daripada harus mengenakan jas mahal yang mengekang gerak tubuh dan pikiran.
"Oke, Gengs! Siaran kali ini kita cukupkan sampai di sini dulu ya," ucap Dika sekali lagi menatap layar ponselnya. "Ikan betik batok sama nila hasil tangkapan sore ini mau langsung saya bawa pulang buat dimasak bumbu kuning sama Emak di rumah. Sampai jumpa di petualangan mancing berikutnya. Salam santuy dari Sidoarjo!"
Klik. Layar ponsel itu pun padam.
Dika segera merapikan perangkat tripod plastik murahnya, memasukkannya ke dalam tas ransel lusuh, lalu mengambil joran bambu kesayangannya. Dengan hati-hati, ia memasukkan ikan-ikan hasil tangkapannya ke dalam sebuah wadah ember kecil berisi sedikit air sungai agar tetap segar sampai di rumah.
Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan saat ia menyusuri jalan setapak pematang sawah yang mulai diselimuti oleh temaram senja. Di kejauhan, siluet rumah panggung keluarganya sudah mulai terlihat jelas. Dari arah dapur rumah, kepulan asap tipis dari kayu bakar dan kompor minyak tampak membumbung ke udara, bercampur dengan aroma sedap masakan rumahan yang langsung menggugah selera.
Ketika Dika tiba di halaman rumah, Emak Sarni Sari terlihat sedang duduk di kursi kayu beranda depan sambil melipat beberapa bungkus gorengan sisa dagangan pasar tadi siang. Mendengar suara langkah kaki anaknya, Emak menoleh dan langsung menyambutnya dengan senyuman hangat yang menyejukkan hati.
"Sudah pulang, Le. Dapat apa saja di kali?" tanya Emak Sarni Sari penuh antusias, meletakkan kain lap di pangkuannya.
Dika mengangkat ember kecil di tangannya dengan bangga, lalu memperlihatkannya kepada sang ibu. "Nih, Mak! Dapat dua ekor betik batok ukuran besar sama satu ekor nila kecil. Cukup buat lauk makan malam kita bertiga nanti."sahut Dika pratama
Emak Sarni Sari berdiri, mengintip ke dalam ember dengan mata berbinar. "Wah, lumayan banget itu! Nanti Emak masak bumbu pedas manis ya, kesukaan bapakmu itu."ucap.Emak sarni sari
"Siap, Mak! Dijamin mantap," jawab Dika sambil tersenyum lebar.
Tidak lama berselang, suara batuk kecil khas seorang laki-laki paruh baya terdengar dari arah ruang tengah. Bapak Joko Pratama melangkah keluar menuju beranda sambil membawa segelas kopi hitam hangat yang masih mengepulkan uap tipis. Ia melirik ember di tangan Dika, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya pelan dengan ekspresi puas.
"Bagus, Le," ucap Bapak Joko Pratama singkat namun bermakna dalam. Ia duduk di kursi panjang, lalu menyulut sebatang kretek baru di bibirnya. "Ikan hasil keringat sendiri di kali kampung jauh lebih enak rasanya daripada daging sapi di restoran mewah tapi makannya sambil menahan harga diri diinjak orang."
Dika mengangguk setuju. Ia meletakkan embernya di dekat sumur belakang, mencuci tangan dan kakinya hingga bersih, lalu naik ke beranda dan duduk bersila di samping sang ayah. Suasana malam mulai merayap turun, menggantikan senja yang perlahan larut dalam kegelapan malam desa yang damai.
Malam itu, di ruang makan yang sederhana, cahaya lampu bohlam kuning menggantung rendah di atas meja kayu usang. Aroma masakan ikan bumbu pedas buatan Emak Sarni Sari mengepul harum, berpadu dengan nasi putih hangat yang mengepulkan uap. Tiga anggota keluarga kecil itu duduk melingkar, menikmati makan malam dengan penuh kehangatan dan rasa syukur yang mendalam. Tidak ada perbincangan soal target perusahaan, tidak ada tekanan dari atasan yang angkuh, dan tidak ada ancaman pemecatan. Yang ada hanyalah tawa kecil, sendok yang beradu dengan piring melamin, serta obrolan ringan seputar rencana Dika yang ingin melanjutkan konten YouTube mancingnya keesokan hari.
Selesai makan malam, Dika kembali ke kamar kecilnya yang sederhana. Dinding kamar itu masih dipenuhi oleh poster-poster pahlawan masa kecil dan coretan-coretan pensil tua saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang empuk, menatap langit-langit kayu kamar yang mulai dimakan usia.
Di dalam keheningan malam Sidoarjo yang sunyi, di mana suara jangkrik di luar jendela menjadi satu-satunya melodi pengantar tidur, Dika merenungkan kembali perjalanan hidupnya dalam beberapa hari terakhir. Ia menyadari bahwa takdir terkadang membawa seseorang jatuh ke titik yang paling rendah bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk mengingatkannya kembali dari mana ia berasal.
Surabaya boleh saja menolaknya. Vanesha Group boleh saja mengusirnya dengan cara yang paling memalukan. Namun di tanah kelahirannya ini, di pelukan Emak Sarni Sari dan di bawah didikan tegas Bapak Joko Pratama, Dika Pratama merasa utuh kembali. Luka di hatinya memang masih menyisakan sedikit rasa perih, namun setiap detik yang ia lalui di rumah ini memberinya keberanian baru untuk bangkit.
Ia memejamkan matanya perlahan, menarik napas panjang dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan tenang. Esok hari adalah lembaran baru. Dan Dika sudah siap menyongsongnya — bukan sebagai pegawai kantoran yang tunduk pada tekanan atasan, melainkan sebagai pemuda Sidoarjo yang merajut kembali masa depannya di atas aliran sungai kampung halaman.