Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan di Balik Layar
Dua bus berukuran besar itu akhirnya belok memasuki pelataran sebuah hotel bernuansa kolonial di kawasan Lembang, Bandung. Jalur menanjak yang dikelilingi rindangnya pohon pinus menyambut kedatangan rombongan FSD saat jarum jam menunjuk angka empat sore, karena sebelumnya mereka sempat terjebak kemacetan. Hawa dingin khas pegunungan seketika menerpa wajah para mahasiswa begitu pintu bus terbuka.
Kania menggeliat lebar di kursinya seraya mengembuskan napas panjang. "Akhirnya sampai juga, pegel banget pinggang gue lama duduk di bus."
Nadhira melipat selimut abu-abu tebal milik Reyhan dengan sangat rapi, lalu memeluknya erat di dada. Rasa mual yang sempat melilit perutnya selama perjalanan telah hilang sepenuhnya berkat minuman dan minyak kayu putih yang diberikan Reyhan tadi siang.
"Yuk, turun. Katanya ada pengarahan dulu dari Bu Citra sama Pak Reyhan di lobby," ajak Nadhira seraya mengenakan tas punggungnya.
Ratusan koper dan tas diturunkan dari bagasi. Suasana pelataran hotel mendadak ramai oleh celoteh mahasiswa yang sibuk mengambil barang masing-masing.
Nadhira melangkah menuju tumpukan koper di dekat Bus dua, berniat menarik koper medium miliknya. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh gagang koper, staf porter hotel yang tampaknya sudah menerima instruksi khusus sebelumnya dengan sigap langsung memindahkan koper Nadhira ke atas troli khusus.
"Lho, Mas, koper saya mau dibawa ke mana?" tanya Nadhira bingung.
"Sesuai arahan Pak Reyhan, koper untuk kamar mahasiswi lantai dua langsung kami angkut pakai troli ke depan lif, Mbak. Supaya tidak menumpuk di pelataran," jawab porter itu ramah sebelum mendorong trolinya pergi.
Dari kejauhan, Nadhira melirik Reyhan yang sedang berdiri tegap di dekat pintu kaca utama hotel, bertukar dokumen dengan resepsionis. Pria itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya, namun Nadhira tahu betul alasan Reyhan itu digunakan untuk menghindarkan tangannya dari kelelahan mengangkat koper yang berat.
"Pak Dosen kaku itu selalu punya cara buat bantuin gue," gumam Nadhira.
Seluruh mahasiswa angkatan dua puluh tiga kini berkumpul melingkar di lounge utama hotel yang berkarpet tebal.
Di depan perapian batu alam yang belum dinyalakan, Bu Citra dan Reyhan berdiri berdampingan untuk memberikan instruksi teknis selama tiga hari ke depan.
Bu Citra membuka pengarahan dengan gaya hangatnya yang khas, menjelaskan agenda esok hari mengenai kunjungan ke museum seni modern dan studio arsitektur lokal. Sementara itu, Reyhan berdiri kaku di sampingnya dengan kedua tangan terlipat rapi di depan dada.
Ketika giliran Reyhan mengambil alih pembicaraan, atmosfer lounge seketika berubah hening dan tertib.
"Selamat sore semuanya," tegur Reyhan dengan suara beratnya.
"Perhatikan tiga poin utama terkait tata tertib dan keselamatan selama berada di area hotel ini."
Reyhan mengedarkan pandangan matanya yang tajam menyapu seluruh wajah mahasiswa di ruangan tersebut. Saat pandangannya melewati posisi Nadhira yang berdiri di barisan tengah bersama Kania, mata cokelat gelapnya bertahan sepersekian detik lebih lama ketimbang pada mahasiswa lainnya.
"Poin pertama, batas kurawa atau waktu bebas di luar kamar adalah pukul sembilan malam. Setelah jam tersebut, seluruh mahasiswa wajib berada di kamar masing-masing. Saya dan Bu Citra akan melakukan pemeriksaan berkala ke tiap lorong," ucap Reyhan.
"Poin kedua, ikuti jalur resmi yang sudah ditentukan saat pengayaan besok. Tidak ada yang memisahkan diri dari kelompok tanpa izin tertulis dari dosen pendamping."
"Poin ketiga..." Reyhan membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah.
"Mengingat suhu udara di Lembang malam ini diperkirakan mencapai lima belas derajat celsius, pastikan kalian menjaga kondisi fisik. Jika ada yang merasa tidak sehat atau membutuhkan bantuan darurat, segera hubungi ketua kelompok atau langsung ke kamar pendamping."
Nadhira mendengarkan instruksi itu seraya merapatkan jaket rajutnya. Hawa dingin pegunungan Lembang memang mulai menembus masuk melalui celah pintu kaca hotel, membuat jari-jari tangannya kembali terasa kaku bagai es.
Setelah pembagian kunci kamar selesai dibacakan oleh Bu Citra, para mahasiswa mulai membubarkan diri menuju lift dan tangga untuk mengangkut barang ke kamar masing-masing. Nadhira dan Kania mendapatkan Kamar 204 di lantai dua.
"Nad, lo naik lift duluan aja bawa tas punggung. Gue mau beli camilan sebentar di minimarket samping hotel," ujar Kania menepuk bahu Nadhira.
"Oke, Kan. Gue tunggu di depan kamar ya," sahut Nadhira.
"Btw lo ada yang mau dititipin gak?" tanya Kania.
"Gak ada Kan, makasih," timpal Nadhira.
Setelahnya Nadhira berjalan sendirian menyusuri lorong lantai dua yang agak sepi. Karpet tebal yang melapisi lantai meredam suara langkah kakinya. Kamar 204 terletak agak di ujung lorong, dekat dengan jendela besar yang menghadap langsung ke arah kebun pinus.
Saat Nadhira berdiri di depan pintu Kamar 204 sambil merogoh saku jaketnya mencari kartu kunci, sebuah bayangan tegap melangkah mendekat dari arah lorong samping.
Nadhira menoleh dan seketika menahan napas.
Reyhan berjalan mendekat. Pria itu baru saja selesai mengontrol pembagian kamar di lantai dua. Mantel abu-abu gelapnya telah dilepas, kini ia hanya mengenakan kemeja putih kaku dengan lengan yang tergulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan kulit dan garis urat tangannya yang tegas.
Nadhira refleks melirik ke kiri dan ke kanan lorong. "P-Pak Reyhan? Kok di sini? Nanti kalau ada anak-anak yang lihat gimana?" bisiknya panik seraya memundurkan tubuhnya menempel ke pintu kamar.
Reyhan tidak menghentikan langkahnya hingga ia berdiri tepat satu langkah di depan Nadhira. Jarak mereka begitu dekat hingga aroma lembut dan kehangatan tubuh Reyhan mengikis hawa dingin Lembang yang menusuk kulit Nadhira.
Wajah Reyhan tetap terlihat datar seperti biasa. Namun, tindakan yang dilakukannya berikutnya sama sekali tidak sejalan dengan raut wajahnya yang datar itu.
Tanpa mengumbar kata-kata puitis, Reyhan merogoh saku celana bahannya. Pria itu mengeluarkan sebuah benda pipih berwarna perak bertali, sebuah pemanas tangan elektrik portabel berkualitas tinggi yang sudah menyala dan memancarkan rasa hangat yang amat nyaman.
Reyhan meraih tangan kanan Nadhira yang terasa dingin bagai es. Jemari panjang Reyhan yang hangat menggenggam jemari kecil istrinya, lalu menempatkan jemari Nadhira pada alat pemanas elektrik tersebut.
Nadhira tersentak pelan, kehangatan dari alat itu dan dari genggaman jemari Reyhan seketika merayap naik menembus pembuluh darahnya, mengirimkan sensasi aneh yang membuat dadanya berdesir hebat.
"Suhu udara malam ini akan terus menurun," tutur Reyhan dengan suara rendah dan berat, hampir berupa bisikan khusus yang hanya ditujukan untuk indra pendengaran Nadhira. "Gunakan alat ini. Jangan biarkan tangan kamu membeku."
Nadhira menatap alat pemanas di tangannya, lalu mendongak menatap mata cokelat gelap Reyhan di balik kacamata berbingkai tipisnya. "Pak Reyhan... ini punya Pak Reyhan?"
"Saya punya dua," jawab Reyhan cepat.
"Akses penghangat di kamar ini terkadang membutuhkan waktu untuk bekerja optimal. Saya tidak ingin kamu sakit dan merepotkan jadwal kunjungan esok hari."
Nadhira menggigit bibir bawahnya, menahan senyum manis yang nyaris meloloskan diri dari bibirnya.
"Penghangat kamar belum optimal apanya... bilang aja khawatir kalau gue kedinginan," batin Nadhira gemas melihat alibi kaku suaminya.
"Iya, Pak Dosen. Makasih banyak ya," bisik Nadhira pelan, meremas alat pemanas hangat itu di dalam genggamannya.
Reyhan mengangguk kaku. Pria itu menarik kembali tangannya, menyembunyikannya ke dalam saku celana. Ia lalu melirik tas kain tebal berisi selimut abu-abu yang dipegang Nadhira sejak dari bus.
"Simpan selimut itu di dalam kamar kamu. Jangan lupa mengunci pintu jika Kania sudah kembali," pesan Reyhan.
"Siap, Komandan," sahut Nadhira menyengir tipis.
Sebelum Reyhan berbalik pergi, pria itu menyempatkan diri melangkah satu titik lebih dekat ke samping pintu, memastikan engsel dan slot kunci elektronik Kamar 204 berfungsi dengan sempurna tanpa ada kerusakan teknis.
Setelah merasa yakin bahwa tingkat keamanan kamar istrinya aman seratus persen, barulah Reyhan merapikan kemejanya.
"Saya berada di Kamar 201, tepat di seberang lorong utama dekat tangga," ujar Reyhan memberi informasi posisi keberadaannya. "Jika terjadi keadaan darurat malam ini... kamu tahu ke mana harus mencari saya."
"Paham, Pak Reyhan."
Reyhan menatap Nadhira lurus-lurus untuk beberapa detik terakhir, sebuah tatapan pekat yang menyalurkan kepemilikan dan rasa lindung yang dalam sebelum akhirnya pria itu berbalik arah. Langkah kakinya yang tenang membawanya menyusuri lorong karpet menuju Kamar 201.
Nadhira menyandarkan punggungnya di pintu kamar setelah sosok tegap suaminya menghilang di belokan lorong. Gadis itu menempelkan alat pemanas elektrik hangat itu ke kedua pipinya yang merona merah.
...Bersambung... ...