Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Ophelia memegang erat ponsel di tangannya. Perselingkuhan Ibu angkatnya terjadi tepat ketika jam tengah malam berbunyi. Ia mesti pergi ke sana sebelum itu kemudian memotret mereka.
Semoga saja, tidak ada perubahan apa-apa.
“Kamu sesuka itu sama lemon tart?”
Ophelia berkedip, melihat entah lemon tart keberapa yang ada di tangannya. Ia makan berapa banyak? Tapi mengesampingkan hal itu, pemuda di depannya ini, siapa?
“Kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Ophelia.
“Kejamnya.” Pemuda itu menurunkan rambut yang sudah disusun rapi kemudian mengeluarkan kacamata dari balik jasnya. “Apa aku memang seasing itu kalau nggak pakai kacamata?”
Oh.
“Ketua kelas?”
Dia tersenyum. “Kita nggak lagi di sekolah, kamu nggak perlu panggil begitu.”
Seingat Ophelia, namanya adalah Keenan. Dia satu kelas dengannya ketika kelas satu dan satu kelas lagi ketika kelas dua. Mereka juga menjadi pasangan ketua dan wakil ketua kelas dua periode berturut-turut.
“Kamu diundang kesini juga ternyata,” ujarnya sembari mengambil lemon tart lain.
“Keluargaku agak kaget juga, karena kami tidak terlalu berpengaruh.” Keenan mengambil kue yang sama dengan Ophelia. “Apalagi jika disandingkan dengan mereka yang ada di sana, ketimpangan sosialnya jelas berbeda.”
Pemikiran mereka sama.
“Hm, rasa tart-nya emang beda dari yang lain.”
“Ya ‘kan?” Ophelia langsung menoleh. “Aku mencoba lemon tart dari berbagai toko tapi nggak ada yang seenak ini.”
“Mungkin dibuat khusus oleh chef pastry keluarga Mahawirya? Kudengar dia cukup terkenal.” Keenan terdiam sebentar. “Tapi kayaknya aku juga bisa buat.”
Ophelia mengangkat alis. “Bikin sendiri?”
“Aku cukup mahir kalau urusan memanggang kue. Kalau bisa, suatu hari nanti aku ingin membuka toko roti—tentu, dengan berbagai dessert juga.” senyumnya.
“Kalau kamu bisa membuat yang seenak ini aku bakalan datang tiap hari.”
Keenan terlihat menunduk, dengan suara yang setara dengan gumaman, dia berkata, “Kalau untukmu aku mungkin bisa.”
Ophelia berkedip. Dia benar-benar ingin punya pelanggan tetap ya?
“Kamu keliatan beda banget malam ini,” ujar pemuda itu. “Terlihat cantik.”
“Jadi sebelumnya aku tidak cantik, begitu?”
Keenan langsung gelagapan. “Maksudku kamu biasanya pakai baju warna gelap sama desain yang agak maskulin jadi liat kamu pakai gaun dan make up begini rasanya kayak—”
Ophelia tertawa kecil. “Aku bercanda, terima kasih pujiannya.”
Keenan langsung menghela napas lega. Ia terlihat memikirkan hal lain sebelum kembali menatap Ophelia.
“Nanti selepas tengah malam bakalan ada pesta dansa ‘kan ya? Kalau kamu belum punya pasangan, mau berdansa bersamaku?”
Ah, jadi itu tujuannya.
“Boleh aja,” ucap Ophelia. Tidak ada orang lain yang mengajaknya juga.
“Kamu serius?”
“Emangnya kenapa?”
“Aku kira—” Keenan terlihat menghentikan kata-katanya. “Nggak. Kita... ketemu lagi nanti selepas tengah malam.”
Ophelia mengangguk.
“Kamu harusnya nggak langsung nerima begitu. Tunggu sampai dansanya akan dimulai lalu pilih pasanganmu berdasarkan kriteria yang kamu mau. Siapa tahu ada yang lebih baik dari dia ‘kan?” Chelsea yang mendengar semuanya muncul ketika Keenan pergi.
Ophelia mengelap jarinya menggunakan tisu. “Memangnya kenapa? Tidak akan ada orang lain yang mengajakku.”
“Secantik itu dan kamu berfikir yang mengajakmu berdansa hanya satu?” Chelsea terlihat akan tertawa. “Jangan melucu, Ophelia. Yang mendandanimu itu aku.”
Ophelia hanya bisa tersenyum kecil mendengarnya.
Ia melihat jam di ponsel. Lima belas menit sebelum tengah malam.
“Aku mau ke toilet dulu sebentar.”
“Sekarang? Acara puncaknya baru akan dimulai.”
“Cuma sebentar.” Ophelia tersenyum sembari mengangkat ponselnya. “Aku cuma mau mencari udara segar.”
Ophelia berjalan menjauh dari aula pesta menuju pintu depan mansion itu. Di setiap langkahnya, di setiap lukisan yang ia sentuh, bayangan akan dirinya di masa lalu yang melakukan hal sama langsung terlihat.
Benar-benar berbeda ya?
Kakinya tidak membiru karena diinjak, pipinya tidak terasa sakit, sudut bibirnya juga tidak berdarah.
Dan Ophelia tampil cantik.
Besok, di hari kematiannya semua masa depan yang ia tahu akan sirna. Jika Ophelia masih hidup ia akan menjalani kehidupan tanpa pengetahuan apapun.
Ia akan menjalankan rencana balas dendamnya tanpa tahu itu akan berhasil atau tidak.
Gadis itu memegang pegangan tangga dengan erat. Karena itu, ia mesti membuat persiapan.
Masih ada sekitar lima menit sebelum lonceng tengah malam berbunyi. Ophelia melihat ke bawah tangga berputar itu, ke tempat temaram di samping vas besar dimana Yelena dan kakaknya Kaiser akan bertemu.
Ia mesti memotret darimana agar tidak kelihatan—
“Aku hampir di sana, kamu dimana?”
Itu suara Yelena!
Ibu angkatnya terdengar datang dari arah yang sama dengan Ophelia, membuat gadis itu turun cepat dari atas tangga ke tempat temaram itu. Kalau ia bisa bersembunyi di balik tembok sana, mungkin—
“Ekspresimu terlihat seperti sedang dikejar seseorang.”
Ophelia berhenti.
Di balik tembok itu, seorang pria yang memakai setelan abu-abu terlihat berjalan mendekat. Wajah rupawannya yang mirip dengan Kaiser, senyuman palsu yang terpasang di bibirnya—itu Aidoneus.
Ini pertama kalinya Ophelia bertatapan langsung dengan pria itu.
“Ophelia ‘kan ya?” Aidoneus masih tersenyum. “Kaiser dan Airin berbicara banyak tentangmu. Acara puncaknya akan segera dimulai, kenapa malah kemari?”
“Cuma mencari udara segar.”
Yelena akan segera datang, Ophelia harus cepat pergi.
“—iya sayang, tunggu bentar ya?” suara Ibu angkatnya yang masih menelpon Aidoneus terdengar tepat ada di atas—tunggu.
Ophelia menatap pria di depannya sekali lagi.
Yelena sedang bicara dengan kekasihnya di telepon, tapi Aidoneus bahkan tidak memegang ponsel sama sekali.
Kenapa bisa?
Kenapa... harusnya—apa jangan-jangan Yelena punya selingkuhan lain? Tapi malam itu Ophelia yakin melihat Ibu angkatnya bermesraan dengan Aidoneus!
“Kenapa wajahmu jadi pucat begitu?”
“...makanya—”
Mendengar suara Ibu angkatnya yang sudah ada di pangkal tangga, Ophelia menarik Aidoneus ke tempat temaram itu, bersembunyi sedikit di balik vas sana.
“Kenapa denganmu—”
Ucapan pria itu terhenti ketika Ophelia memegang kedua rahangnya dengan tangan, mendekatkan wajah mereka berdua.
Tidak salah lagi.
Penglihatannya tidak salah, ia benar-benar yakin kalau saat itu wajah ini yang ia lihat!
Oh tidak.
Yelena terlihat berhenti tepat beberapa langkah di belakang Aidoneus, melihat ke arah mereka. Ophelia yang melihat itu langsung mendekatkan tubuh—memanfaatkan tinggi dan badan Aidoneus untuk bersembunyi.
“Itu Ibu angkatmu?” gumam Aidoneus pelan. “Kenapa bersembunyi begitu? Tidak mau dia tau kalau kita sedang berduaan di tempat temaram begini?”
Ophelia tidak menjawab.
Hal itu membuat Aidoneus tersenyum sinis, “Orang-orang bahkan rela menunggu berjam-jam hanya untuk bisa bertemu denganku, ini penghinaan namanya.”
Apa yang mau dia lakukan?
“Permisi, nyonya di sana—” Ophelia langsung menutup mulut itu dengan tangannya, tapi dengan cepat Aidoneus memegang pergelangan tangan Ophelia dan menahannya di dinding.
Ia kembali tersenyum sinis. “Di sini ada—”
“Nggak semua sih, tapi itu cara tercepat buat membungkam seseorang.” Ophelia tiba-tiba teringat perkataan Airin.
Ia langsung berjinjit kemudian menyatukan bibir mereka.
Ting!
Dan bel tengah malam pun terdengar.