Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: JEJAK JEJAK KEPALSUSAN DAN PEMBALASAN SANG PRESDIR
Dinding ruang tamu Kediaman Pratama serasa menjadi saksi bisu hancurnya sebuah kepercayaan. Tangisan Kirana yang mereda berganti menjadi keheningan yang jauh lebih menakutkan—keheningan dingin dari seorang wanita yang kembali mengunci rapat hatinya.
Kirana tidak menjerit, tidak pula memaki. Ia hanya berjalan perlahan menuju kamar anak-anak, mengunci pintu dari dalam, dan memeluk Leo serta Maya yang kebingungan melihat mata sang mama kembali sembap oleh air mata.
Di luar kamar, Aris Pratama berdiri mematung. Pria tegap itu menatap telapak tangannya yang gemetar. Memori delapan tahun lalu kembali berputar di benaknya.
Kala itu, usianya baru 22 tahun. Kakak kandung Kirana terbaring koma di ICU usai kecelakaan maut. Aris ingat betul bagaimana Kakek Hendra menyodorkan bermacam-macam berkas asuransi dan administrasi rumah sakit di tengah situasi genting. Namun, Aris seingatnya tidak pernah menyetujui penghentian bantuan hidup. Ia bahkan sempat bertengkar hebat dengan sang kakek malam itu karena menolak menandatangani dokumen medis penonaktifan alat pacu jantung.
‘Tanda tangan itu... tidak mungkin aku yang membubuhkannya!’ batin Aris. Rahangnya mengeras, pendar keputusasaan di matanya seketika padam, berganti menjadi kilatan amarah yang dingin dan mematikan.
Naluri kepemimpinan dan kecerdasannya sebagai Presdir Pratama Corp yang sempat lumpuh oleh rasa bersalah kini bangkit sepenuhnya. Jika ia hanya pasrah dan menangisi takdir, Kirana akan pergi selamanya, anak-anaknya akan kehilangan sosok ibu, dan musuh-musuhnya akan tertawa di atas kehancuran rumah tangganya.
Aris berbalik dengan langkah mantap. "Wijaya!" panggilnya dengan suara rendah yang menggelegar.
Pak Wijaya yang berdiri di ujung lorong langsung mendekat dengan cemas. "Ya, Pak Aris?"
"Siapkan helikopter pribadi di helipad gedung utama Pratama Corp. Panggil seluruh tim forensik dokumen independen, ahli grafologi tingkat internasional, serta pengacara korporasi terbaik kita," perintah Aris tanpa ragu sedikit pun. "Kita berangkat ke Arsip Nasional dan Departemen Forensik Kepolisian sekarang juga!"
"Baik, Pak!"
Sebelum melangkah pergi, Aris berjalan menuju pintu kamar anak-anak. Ia menyandarkan keningnya di pintu kayu jati yang kokoh itu.
"Kirana..." bisik Aris lembut, suaranya sarat dengan kesetiaan dan janji yang tak teroyak. "Aku tahu kamu terluka. Tapi demi cinta suci yang baru saja kita perjuangkan, demi senyum Leo dan Maya... beri aku waktu 24 jam. Aku akan membuktikan padamu bahwa tangan ini tidak pernah menumpahkan darah kakakmu. Jika aku terbukti berbohong... aku sendiri yang akan menyerahkan nyawaku padamu."
Dari balik pintu, Kirana terdiam, menggigit bibirnya menahan isak tangis yang kembali menyembul.
Tiga jam kemudian.
Aris tiba di laboratorium forensik dokumen independen di kawasan Jakarta Selatan. Di dalam ruangan steril berlampu putih terang, berkas kuning CONFIDENTIAL: MEDICAL DECISION LOG 2018 milik Rumah Sakit Medika Utama telah terhampar di bawah pemindai mikroskopis berteknologi spektroskopi inframerah.
Seorang ahli grafologi senior bertaraf internasional, Dr. Richard Perkasa, sedang mengamati pembesaran piksel tanda tangan atas nama Aris Pratama.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Aris, berdiri di samping meja laboratorium dengan kedua tangan terkepal di saku celananya.
Dr. Richard melepas kacamata khususnya, lalu menoleh menatap Aris dengan raut wajah sangat serius. "Pak Aris, tanda tangan ini secara kasat mata memang sangat mirip dengan spesimen tanda tangan Anda di tahun 2018. Goresan awal dan lengkungannya mencapai tingkat kemiripan 95 persen."
Jantung Aris serasa berhenti berdetak. "Maksud Anda... itu tanda tanganku?"
"Tunggu dulu," potong Dr. Richard seraya menunjuk ke layar monitor yang menampilkan analisis kedalaman tekanan tinta. "Tanda tangan manusia asli memiliki variasi tekanan alami yang disebabkan oleh detak jantung, getaran otot, dan kecepatan alir tinta. Namun, lihat pada sampel ini. Tekanan tintanya benar-benar konstan dari awal hingga akhir stroke."
Aris mendekati layar. "Artinya?"
"Tanda tangan ini tidak dibuat oleh jemari manusia secara langsung," puji Dr. Richard atas ketelitian mesin pencetak itu. "Ini adalah hasil dari teknik Autopen Pantograph modern—sebuah alat mekanis peniru tanda tangan presisi tinggi yang diprogram menggunakan rekaman digital tanda tangan Anda dari dokumen bisnis lain! Tanda tangan ini dicetak di atas lembar persetujuan medis!"
"Bisa dibuktikan secara hukum?!" cecar Aris, matanya menyala terang.
"Sangat bisa, Pak Aris. Selain itu, kami menemukan jejak mikroskopis polimer toner printer khusus yang biasa digunakan dalam pencetakan dokumen kearsipan lama. Tanggal pembuatan cetakan dokumen ini bukan dibuat pada tahun 2018..." Dr. Richard menunjuk grafik usia peluruhan kimia tinta, "...melainkan baru dicetak sekitar dua minggu yang lalu!"
Aris mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih dan bersuara keras. "Dua minggu yang lalu... Saat Raymond Brotoatmodjo mulai merancang rencana ini!"
Malam makin larut, namun perjuangan Aris belum usai. Untuk melengkapi bukti pemungkasnya, Aris bergerak ke rumah lama pensiunan mantan Direktur Utama Rumah Sakit Medika Utama tahun 2018, dr. Herman Soebroto.
Di dalam ruang tamu rumah tua bernuansa klasik di kawasan Bogor, dr. Herman yang kini telah berusia 70 tahun menatap Aris dengan wajah pucat penuh rasa bersalah setelah Aris menunjukkan berkas pengusutan kepolisian.
"Pak Aris... maafkan saya..." ratap dr. Herman dengan tangan gemetar. "Delapan tahun lalu, almarhum Kakek Anda, Kakek Hendra, datang bersama seorang pria paruh baya bernama Raymond Brotoatmodjo. Mereka memalsukan rekam medis kematian kakak kandung Nyonya Kirana."
"Ceritakan semuanya!" bentak Aris dengan nada dingin yang menekan.
"Kakak kandung Nyonya Kirana saat itu mengalami pendarahan otak hebat dan meninggal secara alami akibat kegagalan fungsi organ utama usai kecelakaan," ungkap dr. Herman jujur. "Tidak pernah ada penghentian alat pacu jantung! Penghentian alat penunjang hidup itu adalah kebohongan yang diciptakan oleh Kakek Hendra dan Raymond!"
Aris menahan napasnya. "Kenapa mereka memalsukan dokumen itu?!"
"Kakek Hendra sengaja menyuruh Raymond membuat lembar persetujuan penghentian alat pacu jantung fiktif dengan tanda tangan mekanis Anda sebagai 'kartu truf' atau senjata rahasia," jelas dr. Herman. "Kakek Hendra ingin memastikan bahwa Kirana muda kelak tidak akan pernah bisa lepas atau menuntut keluarga Pratama, sekaligus menjadi alat untuk mengancam Anda jika suatu saat Anda mencoba membangkang dari keputusan korporasi Kakek!"
"Iblis..." desis Aris, dadanya bergemuruh oleh amarah dan kepedihan yang luar biasa. Kakek yang selama ini dihormatinya ternyata tega menjadikan masa depan cucunya sendiri sebagai tumbal permainan politik korporasi!
"Saya punya rekaman audio percakapan rahasia antara Kakek Anda dan Raymond malam itu, Pak Aris," tambah dr. Herman seraya membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kaset mikro tua. "Saya menyimpannya selama delapan tahun ini sebagai jaminan keselamatan hidup saya..."
Pukul 02.00 WIB.
Mobil SUV Aris melesat kencang membelah hujan deras yang mengguyur jalanan Jakarta, kembali menuju Kediaman Pratama. Di tangannya, Aris menggenggam erat kaset mikro asli dan sertifikat bukti forensik bersatempel resmi dari Departemen Kepolisian.
Begitu sampai di rumah, Aris langsung berlari menaiki tangga menuju depan kamar tidur utama tempat Kirana berada.
Ia tidak mendobrak pintu. Dengan napas terengah-engah dan pakaian yang basah oleh air hujan, Aris mengetuk pintu kamar itu perlahan.
"Kirana..." panggil Aris, suaranya bergetar namun memancarkan keteguhan yang tak teroyak. "Aku sudah kembali. Aku membawa bukti yang aku janjikan."
Pintu kayu jati itu terbuka perlahan. Kirana berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat, matanya sembap dan merah. Ia menatap Aris dengan pandangan hampa yang menyayat hati.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Aris menyerahkan dokumen laporan forensik kepolisian dan meletakkan sebuah perekam audio portable di atas meja lorong. Aris menekan tombol Play.
Suara gemerisik kaset tua terdengar, disambut oleh gema suara berat Kakek Hendra dan Raymond Brotoatmodjo dari delapan tahun lalu:
'Hendra, kenapa kamu harus membuat persetujuan medis palsu atas nama cucumu, Aris?' tanya suara Raymond.
'Aris terlalu lembut dan berhati bersih,' sahut suara Kakek Hendra dengan tawa dinginnya yang khas. 'Suatu hari nanti, Kirana akan masuk ke rumah ini sebagai penebus dosa. Jika Aris mengetahui kebenaran bisnis kita atau mencoba membela Kirana, dokumen fiktif penghentian alat pacu jantung ini akan membuat Kirana membenci Aris seumur hidupnya. Mereka tidak akan pernah bisa bersatu, dan saham Pratama Corp akan tetap aman dalam genggamanku!'
Suara rekaman itu berhenti. Suasana koridor rumah mendadak hening seketika.
Kirana terpaku kaku. Kata-kata dari almarhum Kakek Hendra dalam rekaman itu menghantam kesadarannya bagaikan petir di siang bolong. Segala keraguan, rasa sakit, dan prasangka buruk yang sempat meracuni pikirannya runtuh seketika tanpa tersisa.
Kirana menatap laporan forensik di tangannya, membaca hasil analisis ilmiah yang menyatakan bahwa tanda tangan Aris adalah hasil cetakan alat mekanis yang dibuat secara fiktif.
Aris menatap istrinya, lalu perlahan berlutut di atas lantai dingin di hadapan Kirana. Pria tegap itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kirana..." bisik Aris dengan suara pecah yang dipenuhi air mata keharuan. "Tanganku mungkin lahir dari silsilah keluarga yang penuh dosa... tapi demi Allah, jiwaku dan cintaku padamu serta anak-anak adalah suci. Aku tidak pernah menyakiti kakakmu... Aku tidak pernah mengkhianatimu..."
Kirana tidak sanggup lagi menahan gelombang emosi yang membuncah di dadanya. Air matanya menetes deras, namun kali ini bukan air mata kekecewaan, melainkan air mata keharuan dan rasa syukur yang tak terhingga.
Kirana menjatuhkan dirinya, berlutut di depan Aris dan merengkuh kepala suaminya ke dalam pelukannya yang hangat.
"Mas Aris... Maafkan aku..." tangis Kirana pecah di bahu Aris. "Maafkan aku karena sempat meragukanmu... Maafkan aku..."
Aris membalas pelukan itu dengan erat, merengkuh tubuh istrinya seolah takut kehilangan wanita yang menjadi jiwa dari hidupnya. Di tengah hujan deras yang menghantam jendela, dua insan yang sempat dipisahkan oleh konspirasi kejam masa lalu kini kembali menyatu dalam ketulusan cinta yang tak tergoyahkan.
"Kita akan hadapi Raymond Brotoatmodjo bersama-sama, Mas," bisik Kirana di telinga Aris dengan pendar keberanian seorang Nyonya Pratama sejati. "Dia telah mencoba merusak keluarga kita dan memfitnahmu. Sudah saatnya kita mengakhiri dendam masa lalu ini!"
Aris mendongak, menatap mata Kirana yang kini menyalakan pendar ketegasan yang luar biasa. "Ya, Kirana. Besok di pengadilan restrukturisasi aset... kita akan menghancurkan permainan Raymond untuk selamanya!"
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘