Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
#24
“Apa?!” teriak Mommy Dhera, wanita itu langsung berdiri dari kursinya, bersamaan dengan itu, padahal saat ini beliau sedang mengaduk salad buah, dengan posisi mangkuk kaca di pangkuannya.
Akhirnya semua tumpah, mangkuk kaca pun pecah mengenaskan.
“Kami— kami— minta maaf, karena sudah lalai mengawasi Zea. Saat kami mengikuti asal muasal suara teriakan Onty-nya Zea, mobil yang membawa Zea sudah melaju kencang.”
Miss Eva menjelaskan panjang lebar dengan suara bergetar ketakutan, bagaimana tidak takut, jika salah satu siswanya dibawa pergi orang tak dikenal di area sekolah.
Mommy Dhera langsung mematikan ponselnya, “Daddy—” serunya memanggil sang suami.
Daddy Danesh yang sedang bercakap-cakap dengan Papa Darren dan Papi Daniel, langsung menoleh saat mendengar suara istrinya. “Iya, Sayang.”
“Ada yang menculik Zea, dan juga Mayra.”
Wajah ketiga pria itu seketika berganti aura, semula mereka masih tertawa santai membahas berita lucu di sosial media. Lalu secara tiba-tiba ada kabar penculikan, ketiga pria itu bergegas pergi ke markas AG untuk melacak kemanakah gerangan para penculik itu membawa Zea dan juga Mayra.
Mommy Dhera tentu tak mau ketinggalan, ia ikut serta mendatangi markas AG. Semangat masa mudanya seketika berkobar, karena ada yang mengusik dua permata kecilnya yang paling berharga.
“Kurang ajar sekali mereka, apa mereka tidak tahu betapa berharganya, seorang anak perempuan bagi keluarga Geraldy, hah?! Awas saja kalau aku bertemu mereka, kejar-kejaran ke gunung pun aku ladeni.” Sepanjang perjalanan menuju markas, Mommy Dhera terus menggeram marah.
“Dhera, jangan ikut, deh, biar para pria saja yang kasih mereka pelajaran.” Mama Aya dan Mami Naya coba menenangkan ipar mereka.
“Tidak bisa, kak! Aku harus turun tangan sendiri menghajar mereka, biar mereka tahu bahwa mereka baru sajaembangunkan singa betina.”
Dua wanita yang sama sekali tak bisa berkelahi itu langsung merinding mendengar ucapan Mommy Dhera, bisa dibayangkan bagaimana jadinya orang-orang yang telah berani mengusik ketenangan singa betina yang satu ini.
“Mom, kok wajah Mommy serem gitu? Habis lihat pocong?” tanya Zack yang masih mengenakan seragam putih abu-abu sepulang dari sekolah. Di belakangnya menyusul Karl dengan seragam serupa.
Sring!
Mommy Dhera menoleh cepat, tatapan matanya tajam dan sangat menakutkan.
“Sssttt!” Mama Aya memberi kode agar Zack tidak bercanda disaat seperti ini, sebab suasana sedang tidak mendukung.
Zack dan Karl menurut saja, mereka ikut melangkah di belakang para ibu. “Zack! Kok, aku ditinggalin, sih?”
Rupanya Zack tak hanya datang bersama Karl, tapi ada satu taman mereka yang ikut serta, Suzy. Gadis itu mengulum lolipop sambil membawa tas punggung berwarna merah muda cerah.
Zack melambai, memberi kode agar Suzy berjalan lebih cepat. Tapi dasar centil, gadis itu masih sempat berkaca dulu membenahi rambutnya yang berantakan akibat tiupan angin.
“Duh, centil amat, sih?” Karl yang tak sabar langsung menyeret tas punggung Suzy hingga gadis itu kewalahan mengikuti langkah lebar Karl.
“Ihh, jangan cepet-cepet, dong.”
“Rempong kamu!” sembur Karl, padahal ia agak flamboyan seperti sang daddy saat masih muda. Tapi ia geli sendiri melihat tingkah centil Suzy.
“Kan, tetap harus cantik, siapa tahu ada Abang Zain di sana.”
“Abang Zain juga geli melihat tingkahmu yang kegenitan.”
“Iihh, bisanya sirik, bilang aja naksir.”
Karl menghentikan langkah, “Amin-amit, amit-amit, jangan sampai aku naksir ulat bulu merah muda kayak kamu.”
“Iiihh jahat, masa aku dibilang ulat bulu merah muda.”
Suzy menghentakkan kedua kakinya dengan kesal, ia masih berusaha berjalan cepat menyusul langkah kaki kedua temannya Zack dan Karl.
Tiba di markas, semua orang berwajah tegang tanpa senyuman, mereka mengatur strategi paling cepat untuk melakukan penyelamatan. Entah mujur, atau sedang beruntung, rupanya Zain juga sedang ada di markas AG. Jadi, ia bisa ikut turun tangan, tanpa perlu menunggu lapor ke polisi yang pasti perlu 24 jam sebelum di proses.
“Abang Zain—” gumam Suzy dengan kedua mata berbinar cerah, saat melihat keberadaan pujaan hatinya. Suzy sudah lama naksir berat pada kakak sulung teman sekolahnya itu.
Zain itu cool, paling pendiam di antara Zion dan Zack, pak polisi paling keren menurut Suzy. Dan yang paling penting masih jomblo, bahagianya Suzy merasa sedang ditunggu pria itu, padahal Zain memang cukup pemalu.
Zack tentu tak suka melihat ekspresi wajah itu, Suzy langsung bertingkah seperti orang ketiban pelet, bila melihat keberadaan Zain. Asli Zack tak suka, meski mereka hanya teman biasa sejak TK.
Yang tidak diketahui para penculik, Mayra dan Zea sama-sama memakai gelang berisi alat pelacak khusus yang dikembangkan para agent AG untuk berjaga-jaga dari kejadian tak terduga seperti saat ini.
Jadi dimana Zea dan Mayra saat ini, mereka sudah tahu, tinggal menyusun strategi untuk meluncur ke lokasi yang kini sudah terpantau jelas, berkedip-kedip di layar monitor.
“Sayang, kamu menunggu di rumah saja,” kata Daddy Danesh saat mereka sedang bersiap menuju lokasi tempat Mayra dan Zea di sekap.
“Hari ini tak ada yang bisa menyuruhku diam!” kata Mommy Dhera dengan yakin.
“Sayang—” Daddy Danesh kembali coba membujuk.
“Kami sudah berusaha membujuknya,” cetus Mama Aya.
“Sudahlah, biarkan saja.” Papa Darren menepuk pundak Daddy Danesh.
“Baiklah, tapi jangan jauh-jauh dariku.”
Mommy Dhera mengangguk, seolah patuh, tapi lihat saja nanti apa yang akan terjadi.
Sekarang saja darahnya sudah mendidih, entah apa yang akan terjadi nanti.
•••
Sementara itu, di belahan bumi yang lain, Zion pun sedang bersiap, karena ia baru saja mendapat kabar bahwa istrinya pergi dengan sukarela mengikuti anak buah Alan Romanov.
“Zion, ini dari para agent yang ada di Jakarta. Rexa yang mengabarkannya padaku, sepertinya mereka menggunakan ini untuk membawa Lizie ke hadapan Alan.”
Zion menatap layar ponsel tersebut dengan pandangan dingin mengerikan, istri dan anaknya sama-sama sedang ditahan Alan Romanov, dan ia masih disini belum melakukan apa-apa.
“Lalu?”
“Para Agent di sana, sedang bersiap melakukan aksi penyelamatan pada putrimu, jadi, sekarang kita bisa fokus menyelamatkan istrimu.”
“Baiklah, ayo bergerak, apakah yang lain sudah siap?”
“Sudah, selain para agent AG, beberapa pasukanmu juga sudah siap siaga.”
Memberantas sarang mafia, tak perlu melibatkan aturan hukum legal yang berlaku di suatu negara, toh selama ini mereka bisa berbuat semaunya secara ilegal. Merusak dan melanggar tatanan hukum suatu negara. Jadi setelah semua selesai, maka bisa dianggap tak pernah terjadi apa-apa.
Lebih dari 20 orang ada di bawah komando Zion, mereka semua adalah orang-orang yang berlatih menggunakan senjata api, dan juga ilmu bela diri. Rompi anti peluru, beberapa senjata cadangan tersembunyi, semua sudah siap dan menempel di tubuh masing-masing orang.
“Jalan.”
Setelah Zion memberi aba-aba, iring-iringan mobil serba hitam itu pun bergerak dengan arah yang pasti.