NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10 - SUMPAH YANG TELAH TERIKAT

Kirana baru bisa menghela napas lega setelah melompat ke atas kapal terbang dan meninggalkan gedung pusat tempat acara itu digelar. Ketika kapal itu mulai melesat di udara, barulah ia berani membuang semua ketegangan yang menumpuk semalaman.

Tetapi punggungnya terasa dingin, kakinya lemas, dan pinggangnya pegal, karena semalaman ia menjaga dan menenangkan Rangga yang tengah dilanda Masa Api Darah. Ia belum pernah merasa selelah ini dalam hidupnya.

Menjalani peran sebagai Ramu Sejiwa memang tidak begitu nyaman pada awalnya, apalagi stamina Rangga yang begitu luar biasa baiknya. Namun setelah semuanya berlalu, Kirana justru merasa tenang, seolah beban yang lama menggantung akhirnya terurai.

Tetapi Kirana tidak menyesal.

Ia sangat menyukai Rangga, dan Rangga telah membantunya keluar dari masalah besar, dan mereka berdua sudah sah menjadi suami istri, sehingga tidak ada masalah baginya untuk menjadi Ramu Sejiwa milik pemuda itu. Lagi pula, ia merasa senang bisa menjaga pemuda itu tetap tenang.

Tetapi bagaimana Kirana bisa menyangka bahwa pihak lain memiliki identitas yang begitu menonjol! Sekarang ia benar-benar menyesal tidak mengecek siapa pemuda itu sejak awal.

Panglima Pertama Kekaisaran... Tunggu, bukankah itu Dewa Perang Kekaisaran yang selama ini selalu tampil berbalut kabut dan mengenakan topeng naga? Pria yang namanya selalu membuat musuh gentar itu?

Bagaimana mungkin ia orang yang sama dengan Rangga yang polos dan manja itu? Kirana bahkan sempat membayangkan keduanya sebagai dua orang yang berbeda.

Gaya kedua orang itu jelas sangat berbeda! Satu dingin dan berwibawa di medan perang, satu lagi hangat dan polos di depannya.

Kirana merasa pikirannya sekarang benar-benar kacau balau. Semua yang ia kenal tentang pemuda itu selama ini hanyalah ujung dari gunung es yang jauh lebih besar.

Ia memaksakan diri untuk segera tenang, lalu memanggil Gelang Lentera milik ibunya. Pihak lain butuh waktu lama untuk mengangkat panggilan itu, lama sekali sampai-sampai Kirana hampir menutupnya. Sebelum Kirana sempat berbicara, tangisan Ratih sudah terdengar dari seberang sana.

"Hu, hu, hu, Rara, aku ingin bercerai dengan ayahmu!" Isak tangis itu terdengar begitu dalam, seolah Ratih sudah menahannya sepanjang malam.

"Hah? Kalian baik-baik saja, kenapa tiba-tiba ingin bercerai?" Kirana benar-benar tercengang mendengar kata-kata ibunya yang tiba-tiba.

"Dia memukulku! Dan dia terus membela Sekar itu. Aku bertanya apakah Sekar putrinya, dan dia tidak membantah! Lalu dia malah marah dan memukulku!" Suara Ratih meninggi, campuran antara kesedihan dan amarah yang tidak bisa lagi ia bendung.

Dari arah Gelang Lentera Ratih, terdengar suara Pradipta yang menenangkan, mungkin berkata, "Bu, jangan marah, pasti ini salah paham, Ayah minta Ibu memanggil kembali." Suara itu terdengar lembut, mencoba mencairkan suasana yang membeku.

Kirana memegangi pelipisnya yang berdenyut sepanjang waktu, dan menghela napas pelan, merasa semua ini benar-benar kacau. Satu masalah belum selesai, masalah lain sudah datang menyusul.

Dan di sisi lain, Ratih menangis cukup lama sebelum akhirnya teringat akan ramu khusus itu, yang seharusnya ia antarkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Ia berkata dengan cepat, "Rara, di mana kau sekarang? Ma, maaf, aku lupa mengantarkan ramu khususnya, sekarang juga kuantar!" Suaranya terdengar panik, berulang kali meminta maaf atas kelalaiannya.

"Bu, tidak usah. Aku akan segera pulang, kita bicarakan saja nanti." Kirana berusaha menenangkan ibunya, meskipun hatinya sendiri sedang tidak tenang sama sekali.

Kirana menutup panggilan itu dengan pasrah, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dan terdiam sesaat sebelum berkata, "Guruh, cari tahu, berapa lama hukuman untuk penipuan pernikahan di Kekaisaran Cakrawala?" Ia bertanya sambil menghela napas, sudah siap menerima jawaban yang buruk.

"Tiga puluh tahun. Tetapi, Tuan, ini tidak dianggap sebagai pernikahan palsu. Dia juga setuju saat itu." Jawaban Guruh terdengar tenang, seolah menepis semua kekhawatiran yang sedang berkecamuk.

"Manusia naga mungkin melupakan apa yang mereka lakukan atau katakan selama Masa Api Darah..." Mata Kirana tiba-tiba berbinar, seolah menemukan secercah harapan di tengah kekacauan, "Apakah itu membuktikan bahwa dia juga akan melupakan siapa yang membantunya meredakan Masa Api Darahnya?" Harapan itu tumbuh secepat ia mengucapkannya.

"Secara teori memang begitu, tetapi Tuan, jangan lupa, kalian sudah mengikat Sumpah Sejiwa, dan Gelang Lentera miliknya sudah memanggilmu istri." Guruh mengingatkan dengan nada yang sangat serius.

"Maksudnya, bahkan jika dia lupa siapa yang meredakan Masa Api Darahnya, dia tidak akan melupakan siapa yang menikahinya." Arti kata-kata itu jatuh seperti batu besar ke kepala Kirana.

"Kirana: '... Lengah!'" Ia menepuk dahinya sendiri, menyadari bahwa semua kemungkinan jalan keluar itu sudah tertutup rapat.

"Sudahlah, hari ini tidak bisa dilanjutkan, hancurkan saja!" Kirana menggumam, merasa seluruh hari ini berjalan di luar kendalinya.

---

Dan setengah jam setelah Kirana meninggalkan gedung pusat, pintu ruang pengantin terbuka pelan, dan Rangga, yang telah berganti seragam militer biru tua, berjalan keluar dengan wajah dingin dan kancing di mansetnya. Suasana di sekitarnya berubah seketika menjadi tegang.

Ajudan yang berdiri di sampingnya berkata, "Tuan Panglima, Baginda memanggil dengan segera. Bagaimana kalau Tuan ikut kembali untuk menghadap Baginda terlebih dahulu?" Ia berbicara dengan sangat hati-hati, tidak berani menyinggung Tuan Panglima.

Rangga menundukkan matanya setengah, menoleh ke belakang ke arah ruang pengantin, dan mendengus pelan. Ada sesuatu dalam tatapannya yang sulit diartikan oleh siapa pun.

---

Provinsi Seruni, vila keluarga Wijaya. Rumah yang biasanya tenang itu kini terasa dipenuhi oleh kecemasan yang tidak bisa dihilangkan.

Keluarga Wijaya bergerak di bidang usaha makanan, dan rumah makan keluarga Wijaya telah membuka cabang di Provinsi Seruni dan beberapa kawasan lainnya. Nama keluarga itu cukup dikenal di kalangan pengusaha kuliner.

Dewasa ini, bahan makanan segar semakin langka. Hanya orang kaya yang mampu membeli sayuran segar, sementara orang biasa hanya mengonsumsi ramuan dasar untuk memenuhi kebutuhan dasar tubuh, dan itu pun sudah dianggap cukup beruntung.

Kirana meringkuk di sofa, sementara Ratih di sampingnya sudah melupakan persoalannya sendiri dan tampak khawatir. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Rara, apa yang kau katakan itu benar? Apakah Rangga itu, Panglima Pertama yang selama ini selalu berbalut kabut dan mengenakan topeng?" Ratih menanyakan hal yang sama berulang kali, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Gelang Lentera miliknya yang mengatakannya, seharusnya tidak salah." Kirana menjawab sambil menatap kosong ke arah jendela, masih mencoba menerima kenyataan itu.

"Kalau begitu, kenapa kau masih bersamanya..." Pertanyaan Ratih terputus di ujung kalimat, terlalu rumit untuk dilanjutkan.

Kirana menutupi wajahnya dengan bantal, "Mana aku tahu kalau manusia naga yang aku asal pilih itu ternyata bos sebesar itu!" Suaranya teredam oleh bantal, tetapi rasa paniknya tetap terdengar jelas.

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!