Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 : KELUARGA YANG TIDAK DIUNDANG
...BAB 29...
...KELUARGA YANG TIDAK DIUNDANG...
Lutut Rana hanya lecet dan sedikit berdarah, tapi tangisnya cukup untuk membuat seluruh dunia Rian berhenti berputar.
Rian sudah berlari ke mobil untuk mengambil kotak P3K kecil yang memang selalu ia siapkan.
Wulan lebih dulu berjongkok di depan Rana, memegang lutut kecil itu dengan tangan gemetar menahan panik.
"Tahan sedikit ya, Sayang. Perihnya cuma sebentar kok, Mama tiup ya," bisik Wulan sambil meniup pelan luka itu. Gerakannya begitu natural, begitu keibuan.
Rana meringis, air matanya masih menggantung. "Iya, Ma... perih."
Rian yang masih menggendong Rana sebagai tumpuan menatap Wulan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu selalu bawa minyak kayu putih sama tisu basah di tas ya?"
Wulan tersenyum kecil tanpa menoleh, fokus pada luka Rana. "Namanya juga jaga tiga anak, Pak. Tas saya itu isinya bukan lipstik, tapi P3K berjalan." candanya.
Rian terkekeh pelan. Tawa itu tulus. "Kamu bisa bercanda juga."
Clarissa yang dari tadi berdiri dua langkah di belakang mereka, merasa seperti patung yang tidak dianggap. Ia melihat Rian tertawa untuk Wulan. Tawa yang tidak pernah ia dapatkan meski sudah hampir tiap hari datang membawa bekal.
Ia tidak tahan. Ia melangkah maju dengan senyum yang sudah ia poles secantik mungkin.
"Rana, sayang, sini Tante obatin ya. Tante punya plester lucu loh, gambar kelinci sama beruang. Tante beliin khusus buat Rana," kata Clarissa sambil mengeluarkan plester karakter mahal dari tas branded-nya, memang Clarissa sengaja membelinya buat jaga-jaga, untuk persediaan bila anaknya Rian luka, suaranya ia buat semanis mungkin.
Rana menoleh. Matanya yang masih basah menatap plester itu sekilas. Namun bukannya senang, ia malah menggeleng kencang dan memeluk leher Wulan lebih erat.
"Nggak mau! Maunya sama Mama Wulan aja! Mama Wulan aja!"
Tangan Clarissa yang sudah menyodorkan plester itu menggantung canggung di udara. Senyumnya retak.
Rian buru-buru menengahi, merasa tidak enak pada Clarissa. "Clarissa, biar Wulan saja yang bersihin ya. Dia lebih biasa pegang anak-anak kalau jatuh."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Rian. Sederhana. Logis.
Tapi bagi Clarissa, itu adalah sebuah vonis. "Dia lebih biasa."
Artinya, Wulan lebih pantas. Wulan lebih dianggap sebagai ibu. Wulan lebih... segalanya.
Delon dan Astrid yang tadinya mengejar kupu-kupu datang berlari dengan napas terengah.
"Rana kenapa Ma? Jatuh lagi? Kok nangis?" tanya Delon panik, langsung jongkok di sebelah Wulan.
Astrid ikut jongkok di sisi lain Wulan. "Mama, Rana kenapa? Berdarah ya?"
Wulan dengan sabar mengusap kepala Astrid dan Delon bergantian. "Nggak apa-apa, sayang. Cuma lecet sedikit kok. Jangan khawatir ya."
Clarissa melihat pemandangan di depannya. Rian yang berjongkok memeluk Rana, Wulan yang mengobati, Delon dan Astrid yang mengerubungi Wulan memanggilnya Mama.
Mereka berlima. Utuh. Hangat. Dan seperti benar-benar sebuah keluarga.
Dan ia? Ia adalah satu-satunya orang asing yang berdiri di luar lingkaran itu. Ia yang punya ide liburan ini, ia yang sudah membayangkan duduk manis di sebelah Rian, justru terlihat seperti penyusup yang salah masuk ke piknik keluarga orang lain.
Setelah luka Rana diplester dengan plester polos dari kotak P3K Rian - bukan plester kelinci mahal milik Clarissa - mereka melanjutkan jalan-jalan. Rian sengaja menggandeng tangan Rana erat-erat agar tidak jatuh lagi.
Clarissa tidak menyerah. Ia mencoba mengambil kesempatan lagi. Ia mempercepat langkah dan berjalan di sebelah Rian, mencoba menyamakan langkahnya.
"Rian, taman ini bagus ya. Udara nya seger banget. Dulu aku sering banget ke sini sama Papa waktu kecil. Jadi kangen," kata Clarissa membuka obrolan, mencoba terlihat personal.
Rian mengangguk sekilas, matanya tetap pada Rana di depannya. "Iya, enak buat anak-anak lari-larian."
Clarissa tersenyum, merasa dapat celah. "Andai nanti kita bisa sering ke sini ya. Bertiga aja, kamu, aku, sama Rana. Kayak keluarga kecil. Pasti Rana seneng."
Rian hanya tersenyum kaku. "Iya, kalau ada waktu."
Belum sempat Clarissa melanjutkan kalimat romantisnya, sebuah teriakan ceria memecah fokus Rian.
"MAMA WULAN! MAMA WULAN LIHAT! ADA KUPU-KUPU GEDE BANGET WARNA BIRU!"
Itu suara teriakan Rana dari depan. Gadis kecil itu melompat-lompat kegirangan menunjuk ke atas pohon.
Wulan yang sedang berjalan di belakang bersama Delon dan Astrid langsung merespon dengan antusias yang sama besarnya. "WAH IYA! Cantik banget ya, Sayang? Kupu-kupunya gede banget! Kayak punya Rana!"
Wulan berlari kecil menghampiri Rana.
Dan Rian... Rian yang tadinya di samping Clarissa, tanpa pikir panjang spontan melepas langkahnya dari Clarissa dan ikut berlari ke sana.
"Mana? Mana kupu-kupunya? Papa mau lihat dong! Wah iya gede banget!"
Clarissa tertinggal sendirian di tengah jalur paving taman. Orang-orang lalu lalang, tapi ia merasa dunianya sepi.
Untuk ketiga kalinya hari ini, Rian meninggalkannya. Begitu saja. Demi Wulan dan Rana.
Ia meremas tali tas Gucci-nya kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Dadanya panas. Wajahnya memerah padam.
"Selalu saja Wulan dan Wulan. Kenapa selalu perempuan itu!" geramnya dalam hati.
Ia tidak sadar, sejak tadi ada sepasang mata kecil yang tajam yang memperhatikannya dari samping. Delon. Anak sulung Wulan yang memang paling peka dan paling protektif pada ibunya.
Delon mendekati Clarissa pelan, dengan langkah hati-hati.
"Tante Clarissa nggak suka ya kalau Mama Wulan ikut liburan hari ini?" tanya Delon tiba-tiba, suaranya pelan tapi jujur.
Clarissa terkejut setengah mati. Ia langsung memasang wajah manisnya yang paling terlatih. "Hah? Nggak kok, Delon. Tante senang rame-rame gini jadi seru."
Delon menatapnya lurus, tatapan anak 7 tahun yang terlalu dewasa untuk usianya. "Tapi muka Tante kelihatan kesal banget dari tadi. Dari pas di mobil juga."
Clarissa terdiam. Ia tidak menyangka akan di-skakmat oleh anak kecil. "Enggak, Delon. Tante cuma capek aja. Panas soalnya."
Delon mengangguk kecil, seolah mengerti, lalu sebelum pergi ia berkata pelan, tapi setiap katanya menusuk tepat di jantung Clarissa.
"Tante, Papa Rian itu kalau udah sama Mama Wulan dan Rana, emang susah lihat yang lain. Soalnya mereka udah kayak keluarga beneran. Mama Wulan yang ngurus semuanya."
Setelah mengatakan itu, Delon berlari kecil meninggalkan Clarissa yang membeku di tempat.
"Keluarga beneran."
Dua kata itu terus terngiang, berdengung keras di kepala Clarissa, mengalahkan suara anak-anak yang tertawa di taman itu.
*****
Siang itu mereka memutuskan makan di food court taman yang ramai. Rian membelikan es krim cokelat untuk semua anak sebagai hadiah karena sudah tidak rewel.
Rana duduk di pangkuan Wulan, makan es krimnya dengan belepotan di seluruh mulutnya. Wulan dengan telaten mengelap mulut dan pipi Rana dengan tisu, sesekali mencubit gemas pipinya.
Delon dan Astrid duduk di sebelah Wulan, berebut kentang goreng sambil bercanda.
Rian duduk di seberang mereka, melihat pemandangan itu. Dan tanpa sadar, tanpa bisa ia kontrol, sebuah senyum tulus, senyum hangat, senyum milik seorang ayah yang melihat keluarganya lengkap, terukir di wajahnya.
Senyum itu bukan untuk Clarissa. Senyum itu untuk Wulan.
Dan senyuman tulus itu tertangkap jelas, direkam sempurna oleh mata Clarissa yang duduk kaku di sebelah Rian.
Di saat itulah Clarissa akhirnya sadar sepenuhnya. Saingannya bukan sekadar pengasuh yang numpang tinggal. Saingannya adalah sebuah rumah. Sebuah rumah yang sudah terlanjur nyaman, hangat, dan utuh untuk Rian.
Saingannya adalah Wulan.
Clarissa lalu berdiri tiba-tiba, kursinya berdecit. "Aku ke toilet sebentar ya. Mau touch up."
Ia berjalan cepat ke toilet wanita, masuk ke salah satu bilik, mengunci pintu, dan menatap dirinya di cermin kecil yang ia bawa. Matanya berkaca-kaca, menahan amarah dan malu yang menjadi satu.
Ia tidak boleh kalah. Tidak di sini. Tidak oleh seorang janda dengan dua anak.
"Oke, Clarissa. Oke," bisiknya pada dirinya sendiri, napasnya memburu. "Kalau mereka mau main keluarga-keluargaan, kita lihat saja siapa yang menang. Aku akan buat Rian sadar, siapa yang pantas ada di sampingnya. Bukan pembantu itu. Bukan dia."
Ia menghapus sudut matanya yang hampir basah, merapikan lipstik merahnya dengan tangan sedikit gemetar, dan keluar dari toilet dengan senyum baru. Senyum yang lebih manis, lebih tenang, tapi jauh lebih berbahaya.
Ketika ia kembali ke meja, ia sudah kembali menjadi Clarissa yang ceria, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Es krimnya enak ya, Rana?" Ia mengelus kepala Rana dengan lembut.
Rana mengangguk dengan mulut penuh cokelat. "Enak, Tante!"
Clarissa lalu menatap Rian dan Wulan bergantian, senyumnya mengembang sempurna. "Rian, Mbak Wulan, makasih banyak ya hari ini udah mau temenin aku. Aku seneng banget loh. Ternyata liburan rame-rame gini lebih seru ya daripada cuma bertiga. Lebih hidup."
Wulan yang tulus dan tidak punya pikiran buruk hanya mengangguk polos. "Iya, Clarissa. Sama-sama. Kami juga senang bisa jalan-jalan."
Rian tidak menyadari perubahan nada bicara dan tatapan Clarissa. Ia hanya berpikir, syukurlah, hari ini berjalan lancar meski di luar rencana.
Bersambung...