Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. LDM
Hari-hari setelah pengumuman kelulusan terasa merayap cepat bagi Nadira. Masa-masa mengenakan seragam putih-abu-abu resmi berakhir, digantikan oleh kesibukan baru: persiapan berpindah ke Jogja untuk memulai perkuliahannya di Fakultas Seni Rupa UG*.
Pagi itu, suasana di kamar utama penthouse diliputi keheningan yang sedikit kaku.
Di atas tempat tidur king-size, terbentang dua buah koper ukuran paling besar berwarna abu-abu metalik. Nadira sedang berlutut di tepi kasur, memilah-milah pakaian, buku-buku gambar, dan peralatan lukis yang akan dibawanya. Namun, gerakan tangannya terasa pelan dan ragu. Wajah cerianya yang biasa ditudungi oleh bayang-bayang kegelisahan.
Abiyasa keluar dari ruang ganti seraya membetulkan ikatan dasi di kerah kemeja putihnya. Pria itu sudah rapi dengan setelan jas kerjanya, siap berangkat menuju kantor Mahendra Group. Namun, langkah kakinya terhenti saat menyadari perubahan aura dari istri kecilnya.
Abiyasa berjalan mengitari kasur, lalu mendudukkan dirinya di samping Nadira. Pria itu mengulurkan tangannya, mengusap pelan puncak kepala Nadira.
"Kenapa melamun?" tanya Abiyasa dengan suara baritonnya yang tenang dan rendah. "Buku gambarmu dari tadi cuma kamu bolak-balik tanpa dimasukkan ke koper."
Nadira menghentikan gerakannya. Ia menghela napas panjang, lalu memutar tubuhnya menghadap Abiyasa. Jemari kecilnya meremas kain celana piyama yang dikenakannya.
"Mas Abi..." panggil Nadira pelan, matanya menatap kemeja suaminya tanpa berani mengangkat pandangan ke iris mata cokelat gelap Abiyasa.
"Ya, Sayang? Ada apa?"
"Jogja itu... lumayan jauh dari Jakarta," cicit Nadira, suaranya terdengar cemas dan ragu.
"Aku... aku beneran harus kos di sana ya, Mas? Berarti kita nggak bisa tinggal satu rumah lagi setiap hari?"
Abiyasa menatap kecemasan polos di wajah istrinya. Pertanyaan itu adalah hal yang sama yang mengganggu pikirannya selama dua minggu terakhir. Bayangan harus pulang ke penthouse yang sepi tanpa sambutan senyum manis Nadira, tanpa ocehan manjanya tentang pelajaran, dan tanpa hangat dekapannya setiap malam adalah momok menakutkan bagi sang CEO.
Namun, Abiyasa menguasai ekspresi wajahnya. Pria itu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman penuh kehangatan nan menenangkan. Ia menangkup kedua pipi Nadira, mengangkat wajah cantik istrinya agar menatapnya.
"Siapa yang bilang kamu harus tinggal di kos-kosan biasa?" ujar Abiyasa santai.
Nadira membelalakkan matanya heran. "Lho? Lah terus aku tinggal di mana, Mas? Kan aku kuliahnya di UG*."
"Hendra sudah menyelesaikan pembelian rumah hunian bergaya vila modern, sepuluh menit dari kampusmu," tutur Abiyasa tanpa beban, seolah-olah baru saja membeli sebotol air mineral. "Rumah itu lengkap dengan studio melukis pribadi di lantai dua, taman belakang, dan sistem keamanan dua puluh empat jam."
Nadira melongo sampai mulutnya sedikit terbuka. "M-Mas Abi beli rumah di Jogja?! Cuma buat aku kuliah?!"
"Bukan cuma untukmu," potong Abiyasa seraya terkekeh rendah—sebuah tawa halus yang menggetarkan dadanya. "Untuk kita. Itu rumah kita di Jogja."
"Tapi kan... Mas Abi kerja di Jakarta!" pangkas Nadira cepat, dadanya mendadak berdebar kencang oleh rasa bingung sekaligus haru.
"Masa Mas Abi mau bolak-balik Jakarta-Jogja tiap hari? Nanti Mas Abi capek banget!"
Abiyasa menggenggam erat jemari kecil Nadira, menyatukan sela-sela jari mereka dengan sangat protektif. "Saya sudah mengatur jadwal kerja dengan tim direksi. Setiap hari Kamis sore sampai Senin pagi, saya akan bekerja dari kantor cabang Jogja dan tinggal bersamamu di rumah baru kita. Sementara hari Selasa dan Rabu, saya di Jakarta."
Nadira menatap pria di hadapannya dengan binar mata tak percaya. Kesungguhan dan pengorbanan Abiyasa untuk memastikan kenyamanan serta kebersamaan mereka benar-benar melampaui apa yang pernah ia bayangkan.
"Mas Abi... bela-belain beli rumah sama ngatur jadwal penerbangan tiap minggu cuma demi aku?" bisik Nadira dengan mata berkaca-kaca.
"Saya sudah bilang, Nadira," tegas Abiyasa pelan, menatap lurus ke dalam iris mata istrinya. "Pusat dunia saya sekarang ada padamu. Jarak Jakarta dan Jogja tidak ada artinya dibanding harus kehilangan senyumanmu setiap hari."
Air mata kebahagiaan menetes di pipi Nadira. Ia langsung menghambur maju, melempar tubuhnya ke dalam pelukan Abiyasa. Kedua lengan kecilnya melingkar erat di leher tegap suaminya, menyembunyikan wajah mewahnya di ceruk leher Abiyasa seraya menghirup dalam-dalam aroma sandalwood favoritnya.
"Makasih ya, Mas Abi... Makasih udah selalu jadi suami yang paling sempurna buat aku," tangis Nadira sesenggukan dalam kehangatan dekapan Abiyasa.
Abiyasa merengkuh tubuh mungil Nadira erat-erat, mengecupi rambut dan pelipis istrinya dengan rasa cinta yang membuncah. "Saya bukan pria yang sempurna, Nadira. Tapi untukmu, saya akan selalu memberikan yang terbaik."
Sore harinya, kehebohan kecil terjadi di ruang tengah penthouse.
Mama Rahmi datang berkunjung membawa beberapa tas belanjaan besar berisi perlengkapan rumah tangga dan dekorasi kamar. Wanita paruh baya itu langsung duduk di sofa bersama Nadira seraya membongkar isi belanjaannya.
"Nadira sayang! Nih, Mama belikan beberapa set sprei sutra baru buat kamar kalian di rumah Jogja nanti!" seru Mama Rahmi antusias seraya memamerkan kain sutra berwarna merah muda dan krem. "Abi sudah cerita kan kalau kalian bakal tinggal di rumah baru disana?"
"Sudah, Ma," sahut Nadira malu-malu seraya tersenyum manis. "Mas Abi sampai beli rumah baru..."
"Tentu saja harus beli rumah!" potong Mama Rahmi tegas seraya menepuk bahu mantunya gemas. "Masa anak mantu Mama yang cantik dan calon seniman hebat harus tinggal di kamar kos sempit?! Lagian Mama juga bisa sering-sering main ke Jogja buat liburan!"
Abiyasa yang baru melangkah masuk dari ruang kerja seraya membawa cangkir kopi hitamnya menggeleng-gelengkan kepala melihat kehebohan ibunya.
"Mama jangan mengajari Nadira yang tidak-tidak," tegur Abiyasa seraya mendudukkan diri di samping Nadira, secara refleks merangkul pinggang mungil istrinya.
Mama Rahmi memutar matanya bosan melihat tingkah posesif putranya. "Aduh Abi! Kamu ini ya, makin hari makin nggak bisa lepas dari Nadira! Ingat ya, pas Nadira mulai kuliah nanti, jangan sering-sering datang ke kampus terus bikin heboh kayak di SMA kemarin!"
Nadira seketika tertawa renyah mengingat kejadian di SMA dulu. "Iya tuh, Ma! Mas Abi sukanya bikin heboh jemput pakai mobil mewah!"
Abiyasa berdeham canggung, sedikit membetulkan posisi duduknya untuk menutupi salah tingkah. "Saya hanya memastikan istri saya aman dari laki-laki lain di kampus nanti."
"Tuh kan! Posesifnya kumat!" seru Mama Rahmi tertawa heboh seraya menunjuk-nunjuk Abiyasa.
"Dulu aja pas diajak nikah sok-sokan dingin kayak es kulkas dua pintu! Sekarang istrinya mau kuliah malah kebingungan sendiri!"
"Mama..." panggil Abiyasa pasrah dengan nada memperingatkan.
Nadira menyandarkan kepalanya di bahu tegap Abiyasa seraya terkekeh riang. Rasa bahagia dan hangat meluap-luap memenuhi dadanya. Keluarga yang semula terasa asing ini kini telah menjelma menjadi tempat perlindungan terbaik dalam hidupnya.
Malam harinya, barang-barang bawan Nadira sudah rapi terkemas di dalam koper. Besok pagi, mereka akan terbang menuju Yogyakarta untuk melihat rumah baru sekaligus menyelesaikan administrasi kampus.
Di dalam kamar utama yang tenang, pencahayaan disetel temaram oleh lampu tidur keemasan.
Nadira duduk di tepi tempat tidur seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil setelah mandi. Abiyasa melangkah mendekat, lalu mengambil alih handuk tersebut dari tangan Nadira. Dengan gerakan yang sangat lembut dan telaten, pria tegap itu mengusap dan mengeringkan helai-helai rambut hitam panjang istrinya.
Nadira memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan penuh kehangatan dari jemari suaminya.
"Mas Abi..." panggil Nadira pelan dalam keheningan yang intim.
"Ya, Sayang?"
"Nanti kalau aku udah mulai kuliah... terus aku sibuk sama tugas-tugas lukis sama pameran... Mas Abi bakal merasa kesepian nggak kalau lagi di Jakarta?" tanya Nadira penuh perhatian, memutar tubuhnya untuk menatap mata Abiyasa.
Abiyasa meletakkan handuk di meja nakas, lalu bergeser mendekat dan menarik tubuh mungil Nadira ke dalam dekapannya di atas kasur. Pria itu menyandarkan dada bidangnya pada dada Nadira, menatap iris mata bening istrinya dengan pendar cinta yang begitu melimpah.
"Tentu saja saya akan merindukanmu setiap detik, Nadira," bisik Abiyasa jujur dengan suara baritonnya yang sangat dalam dan serak. "Tapi melihatmu berkembang, meraih impianmu, dan menjadi wanita yang bahagia adalah kebahagiaan terbesar saya."
Jemari Abiyasa terangkat, mengusap lembut helai rambut Nadira yang menutupi dahinya, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi gadis itu—lama dan sarat akan keheningan doa tulus.
"Kamu adalah karya seni terindah yang pernah hadir dalam hidup saya, Nadira," bisik Abiyasa di depan wajah istrinya. "Dan tugas saya adalah menjaga serta mencintaimu selamanya."
Nadira merasa dadanya berdesir hebat oleh gelombang cinta yang tak bertepi. Ia menyusupkan tangan kecilnya ke balik tengkuk Abiyasa, menarik pria itu mendekat, lalu mendaratkan bib irnya di atas bi bir Abiyasa dalam sebuah c*u*an yang sangat manis, hangat, dan penuh dengan rasa kepemilikan yang mutlak.
Abiyasa membalas kecupan itu dengan kelembutan yang membuai, merangkul pinggang mungil Nadira erat-erat ke dalam dekapannya.
Di bawah naungan malam Jakarta yang tenang, sebelum mereka melangkah menyongsong babak baru kehidupan di kota lain, dua insan yang semula disatukan oleh perjodohan tanpa cinta di atas selembar kertas wasiat kini telah berdiri kokoh—menatap masa depan bersama sebagai pasangan suami istri yang tak akan pernah terpisahkan oleh jarak dan waktu.