NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Ceo Dingin

Istri Rahasia Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / CEO / Rumah Tangga / Cinta Murni
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Armelia Melmel

Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.27 Kembali dari perjalanan bisnis

 Malam Harinya...

Ana duduk di ruang tamu berbaur bersama dengan keluarga Morley. Wanita itu bersikap manis dan sopan.

Nyonya Morley sangat kagum dengan sikap Ana. Begitu juga dengan Mery. Tapi mereka tidak tahu jika semua itu hanyalah sandiwara Ana seorang.

 "Apa Eldrick sudah kembali?"

Ana menoleh kepada nyonya Morley. Wanita itu jelas penasaran apa yang akan terjadi dengan saat nyonya Morley tahu.

"Nenek tidak tahu jika Eldrick sedang melakukan perjalanan bisnis?"

Raut wajah nyonya Morley terlihat tidak senang. Ana sedikit puas dengan hal itu.

"Kalau tidak salah, Eldrick pergi bersama dengan Lily. Wanita itu sudah bersuami. Aku takut jika..."Ujar Ana kembali.

Ana tidak melanjutkan ucapannya saat melihat ekspresi nyonya Morley.

Nyonya Morley menoleh kepada Mery. Ekspresi keduanya tampak berbeda.

"Aku akan bicara dengan Eldrick. Kalian berdua mungkin harus mengobrol dan saling mengenal."Ujar nyonya Morley.

"Ibu benar." Mery dengan cepat setuju.

Mereka terlihat gugup. Mereka jelas tidak ingin Ana mencurigai sesuatu.

 Ana menyandarkan punggungnya. Dia sedikit tidak puas dengan tanggapan nyonya Morley. Dia berpikir jika wanita tua itu akan sangat murka saat mengetahuinya. Tapi rupanya tanggapan nyonya Morley sedikit tenang dari yang ia bayangkan.

 "Sebaiknya aku kembali nek, bibi."

Ana bangkit dari sofa dan pamit kepada calon mertuanya. Wanita itu pergi dengan perasaan tidak puas.

Di sisi lain, Eldrick dan Lily sudah tiba di mansion. Keduanya terlihat lelah.

Eldrick menoleh kepada sang istri.

"Beristirahatlah sayang. Aku akan buatkan sesuatu untuk makan malam."

Lily menoleh kepada suaminya.

"Kamu juga lelah sayang."

"Aku baik-baik saja. Aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Sedangkan kamu pertama kalinya."

"Baiklah. Aku akan beristirahat."

Lily melangkah masuk ke dalam kamar. Sedangkan Eldrick berjalan ke dapur. Pria itu benar-benar membuat makanan untuk sang istri.

 Dua jam berlalu.

Eldrick sudah selesai. Pria itu berjalan ke kamar. Dia membersihkan diri terlebih dahulu.

Saat Ia keluar dari kamar mandi. Eldrick menoleh ke tempat tidur.

Sang istri masih tertidur pulas.

Eldrick mendekati tempat tidur setelah mengenakan pakaian. Tatapan pria itu begitu dalam menatap sang istri.

"Kenapa kita harus merahasiakan pernikahan kita sayang? Seberapa dalam mereka melukai mu. Kamu memendamnya sendiri. Kamu bahkan tidak pernah menunjukkan luka itu di hadapanku."Gumam Eldrick.

"Sayang, bangun."

Eldrick membangunkan istrinya dengan lembut. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Perlahan-lahan Lily membuka matanya.

"Ada apa sayang?"

"Ayo makan."

"Khmm."

Ke esokan paginya...

Lily sudah tiba di depan perusahaan. Wanita itu terlihat begitu bersemangat.

"Pagi Lily."

Lily menghentikan langkahnya dan menoleh.

"Aku tahu itu kamu."

Grace mendekat sambil tersenyum lebar.

"Bagaimana pagimu?"

Lily bertanya kepada Grace.

"Sangat baik."

Kedua wanita itu melangkah masuk ke dalam lift sambil mengobrol. Bahkan ketika mereka tiba di depan meja mereka masing-masing.

Amber dan Jane mendekat.

"Apa kalian berdua ingin menyombongkan diri?"

Grace tersenyum kecil.

"Untuk apa kami menyombongkan diri. Kami bukan kamu yang suka pamer." Jawab Grace dengan ketus.

Tangan Amber mengepal kuat.

"Kamu..."

Amber terlihat begitu murka.

"Kalian berdua kembali ke meja kalian. Jangan membuat kekacauan."

Ana muncul di belakang mereka. Wanita itu terlihat begitu tenang.

Amber dan Jane kembali ke meja mereka. Meski keduanya masih merasakan kesal.

Ana melirik ke arah Lily. Meski dia sangat kesal tapi dia harus menahan diri. Kini Ana menemukan cara untuk menjatuhkan sepupunya itu.

Ana meletakkan tangannya.

Kilauan berlian di jari manisnya menarik perhatiam rekan kerjanya.

Lagi-lagi Amber dan Jane mendekati Ana.

"Tampaknya ada seseorang yang sudah mendapatkan hadiah."Ujar Amber.

"Apa tuan Eldrick memberimu cincin itu Ana?"

Lily menoleh.

Dia sangat yakin jika suaminya tidak mungkin memberikannya. Tapi Ana hanya diam dan tersenyum. Dia seolah-olah membenarkan ucapan Amber dan Jane.

Grace menoleh kepada Lily sambil tersenyum. Dia satu-satunya karyawan yang tahu jika atasan mereka adalah suami Lily.

Grace hanya menggelengkan kepalanya. Dia lebih memilih fokus pada pekerjaannya daripada menanggapi mereka.

Amber dan Jane kembali mendekati meja Lily.

"Apa suami mu pernah memberikan hadiah semewah itu Lily?"Tanya Amber dengan nada mengejek.

"Kamu jangan lupa Amber. Jika suami Lily hanya seorang sopir."Ujar Jane sambil tertawa.

Para karyawan lain ikut menertawakan Lily. Ana yang melihat hal itu terlihat puas. Sejak pengumuman pertunangan Eldrick dan Ana. Pandangan para karyawan seketika berubah.

Mereka lebih suka mencari muka di hadapan Ana. Mereka juga lebih mendukung apa pun yang di lakukan oleh Ana. Seperti saat ini, mereka menertawakan lily hanya karena mereka mengira jika suami Lily adalah seorang sopir.

Lily hanya diam. Dia tidak berniat menanggapi ucapan mereka.

Melihat Lily tidak menanggapi ucapannya. Mereka kembali ke meja kerja masing-masing.

Ana melirik Lily. Wanita itu menyunggingkan bibirnya. Dia melihat cincin berlian di tangannya.

Tepat jam makan siang. Semua orang meninggalkan meja mereka masing-masing. Kini hanya ada Ana di sana.

Ana tersenyum kecil.

Dia berjalan mengitari meja Lily dan tersenyum miring. Beberapa menit kemudian. Ana juga menyusul ke kantin.

Ana menghampiri Amber dan Jane.

"Kamu baru datang."

"Khmm. Aku menyelesaikan pekerjaan ku sebentar."Jawab Ana tersenyum tipis.

"Tunggu dulu. Di mana cincin mu Ana?"Jane meraih tangan Ana.

"Oh itu. Aku menyimpannya di dalam tas ku. Aku tidak ingin di anggap pamer." Jawaban Ana membuat Jane dan Amber saling memandang.

"Bagaimana jika hilang?"Tanya Amber lagi.

"Siapa yang mau mengambilnya."Jawab Ana santai.

Dia terus menyantap makanannya tapi diam-diam dia selalu melirik ke arah Lily.

Melihat Lily beranjak dari tempat duduknya. Ana tersenyum kecil.

Dia juga bangkit dari kursinya. Jane dan Amber juga menyusulnya.

Ana bersikap tenang. Dia kembali ke meja kerjanya dengan santai.

Ana duduk di meja kerjanya.

Dia menyalakan komputer miliknya. Begitu semua orang telah datang. Diam-diam Ana menyunggingkan bibirnya.

"Ana, apa cincin mu masih ada di tasmu? Jangan-jangan saat kamu ke kantin ada yang mengambilnya."

Pertanyaan Amber mengalihkan perhatian semua orang.

"Itu benar Ana."Timpal Jane.

Ana pura-pura tidak setuju. Tapi setelah desakan Amber dan Jane. Ana mengeluarkan tasnya.

Semua karyawan memandang ke arah Ana. Mereka semua penasaran. Hanya Lily dan Grace yang tidak terlalu menanggapi hal itu.

Ana mulai membuka tasnya. Wajahnya terlihat terkejut. Tentu saja semua itu hanyalah sandiwara saja.

"Ada apa?"Salah satu karyawan bertanya.

Amber mendekat dan melihat isi dalam tas Ana.

"Ada apa Amber?"

Jane juga mendekat dan melihatnya.

"Astaga. Cincin Ana hilang."Teriak Jane.

1
Armelia Melmel
terimah kasih kak.
Nabila
bagus
Armelia Melmel: terimah kasih kak.
total 1 replies
Nabila
lanjut thor.. ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!