Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Tengah Malam
Keheningan malam yang sunyi di gang sempit itu terasa mendadak pekat begitu suara deru mesin motor bebek tua milik Raka benar-benar mati. Hanya terdengar derit cakram rem yang masih panas dan gesekan halus dedaunan pohon mangga di halaman rumah yang ditiup angin malam.
Dua lampu bohlam berpendar kuning temaram menyinari teras rumah sederhana berdinding tembok hijau kusam milik keluarga Pak Suryo.
Di atas teras rumah berdinding retak tipis itu, Pak Suryo dan Bu Sumi, kedua orang tua Devi, tampak berdiri tergesa-gesa dari kursi rotan tua mereka. Wajah kedua orang tua paruh baya itu pucat pasi, dipenuhi guratan cemas yang mendalam.
Sejak pukul sembilan malam, saat hujan deras mengguyur desa tanpa ampun, mereka tak henti-hentinya berjalan bolak-balik dari ruang tamu ke teras. Gelisah menanti putri bungsu mereka yang tak kunjung pulang dari jam kerja pabrik.
"Raka! Devi! Ya Allah, Nak, dari mana saja kalian?!" seru Bu Sumi seraya melangkah turun dari anak tangga teras dengan terburu-buru. Tangannya yang keriput gemetar saat menuntun kain sarung yang dikenakannya. "Ibu sama Ayah sampai tidak bisa tidur menunggunya! Telepon Devi tidak aktif, motor Raka juga dari tadi ditunggu ..."
Suara Bu Sumi mendadak terhenti di udara. Langkah kakinya membeku tepat di atas tanah halaman yang masih lembap. Matanya yang sembap oleh rasa cemas membelalak lebar, memandang sosok jangkung yang baru saja mengayunkan kaki panjangnya turun dari boncengan paling belakang sepeda motor Raka.
Pak Suryo yang menyusul di belakang istrinya ikut menghentikan langkah. Mata senja pria paruh baya itu memicing kaku di balik kacamata minusnya yang tebal. Ia meneliti dari ujung rambut hingga ujung kaki sosok pria asing yang berdiri tegap di samping sepeda motor anak laki-lakinya.
Pria itu mengenakan jaket kulit hitam yang lusuh dan mengelupas di beberapa bagian, celana jins dengan sobekan lebar di bagian lutut, dan kaus oblong hitam yang agak melar di bagian leher.
Di bawah temaramnya cahaya lampu teras, terlihat jelas tinta hitam pekat berbentuk lekukan sisik tato naga yang mengintip mencolok dari balik garis lehernya, menjalar tajam hingga ke pangkal rahang kiri. Bekas luka goresan kecil di pelipis kirinya serta rahangnya yang tegas ditumbuhi cambang tipis semakin menyempurnakan kesan keras dari sosoknya.
"Raka ..." suara Pak Suryo bergetar keras, terdengar sangat berat dan sarat akan kecurigaan. Tangannya yang memegang tongkat kayu penyangga tubuhnya mencengkeram pegangan kayu itu kuat-kuat. "Siapa orang ini? Kenapa kamu membawa preman jalanan ke rumah kita tengah malam begini?!"
Devi yang masih terduduk kaku di jok motor bagian depan tidak sanggup lagi membendung benteng pertahanan emosinya. Begitu melihat wajah lembut ibunya, tangis yang ditahannya sepanjang jalan langsung meledak kembali. Ia melompat turun dari motor, berlari kecil dengan kaki yang gemetar, lalu berhambur memasrahkan tubuhnya ke dalam pelukan Bu Sumi.
"Ibuuu ... hiks ... Ibu ..." jerit Devi histeris. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bu Sumi, merengkuh pinggang ibunya rapat-rapat sambil terisak-isak sampai bahunya berguncang hebat.
Bu Sumi yang kebingungan merangkul erat putri bungsunya. Ia mengelus punggung Devi yang terasa sangat dingin. "Kenapa ini, Nak? Kenapa menangis sampai seperti ini? Ada apa sebenarnya, Raka?!"
Raka mematikan kontak kunci motor, lalu menurunkan standar samping dengan gerakan yang sangat lambat. Pria muda itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap langsung mata kedua orang tuanya. Bahunya meluruh loyo, memikul beban rasa bersalah yang teramat berat.
"Ayah ... Ibu ... maafkan Raka," ucap Raka dengan suara bergetar dan parau. Tenggorokannya serasa tersumbat batu besar. "Maafkan Raka ... Raka gagal menjaga Devi malam ini."
Pak Suryo melangkah maju satu pukulan tongkat, dadanya naik turun tak beraturan karena firasat buruk yang mendadak menggulung seluruh pikirannya.
"Maksudmu apa, Raka?! Jangan membuat Bapak jantungan! Apa yang terjadi sama adikmu di jalan?!"
"Ban motor Raka bocor di tengah jalan sepi dekat hutan jati tadi, Yah ..." Raka mulai bercerita dengan nada terbata-bata, menyapu air mata yang mendadak membasahi kelopak matanya. "Hujan deras banget ... Devi berteduh di gubuk kosong tengah sawah karena menunggu Raka. Tapi ... tapi ternyata di gubuk itu ada lelaki ini. Warga ... warga desa melihat mereka, Yah."
Kalimat Raka menggantung di udara. Bu Sumi menghentikan usapan tangannya di punggung Devi. Pandangan matanya beralih perlahan dari adiknya menuju Raka, lalu berakhir pada sosok Devan yang berdiri diam tanpa kata di samping motor.
"W-warga ... melihat mereka?" bisik Bu Sumi pucat pasi. "Terus ... terus kalian diapa-apakan sama warga, Nak?"
"Warga membawa mereka berdua ke balai desa, Bu," lanjut Raka, tangannya mengepal erat di samping paha sampai urat-uratnya menonjol. "Pak Kades ... Pak RT, dan warga tidak mau mendengarkan penjelasan kami. Mereka pakai hukum adat desa. Mereka memberikan dua pilihan ..."
Raka tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Suaranya hilang tersangkut di tenggorokan.
"Pilihan apa, Raka?! Bicara yang jelas!" gertak Pak Suryo dengan nada tinggi, tongkat tuanya diketukkan ke ubin teras hingga menimbulkan suara "TAK!" yang keras.
"Pilihan pertama ..." Raka menelan ludah yang terasa sangat pahit, "... Devi dan lelaki ini harus dinikahkan siri malam ini juga di balai desa. Atau pilihan kedua ... mereka berdua ditelanjangi dan diarak keliling kampung oleh warga."
"Astaghfirullahal'adzim!"
Bu Sumi menjerit kaget, tangannya refleks menutup mulutnya yang menganga lebar. Tubuhnya limbung ke belakang hingga hampir terjatuh jika tidak segera ditahan oleh Devi dan Raka. Airmata seketika merebak membasahi pipi rentanya yang berkerut.
Pak Suryo terhuyung mundur satu langkah. Pria paruh baya yang memiliki riwayat penyakit jantung itu memegang dadanya dengan telapak tangan yang gemetar. Wajahnya berubah kelabu seperti kertas semen. "Gila... orang-orang desa itu benar-benar gila! Anakku anak baik-baik! Bagaimana bisa mereka menuduh Devi seperti itu?!"
"Yah , tenang, Yah ... ingat jantung Ayah !" jerit Raka panik, bergerak cepat menopang tubuh ayahnya dan menuntunnya duduk kembali di kursi rotan teras.
Devan yang sejak tadi berdiri memperhatikan drama keluarga itu dari samping motor, perlahan mulai melangkah mendekat. Langkah kakinya yang mantap dan tenang menimbulkan suara gesekan pelan di atas semen teras. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Pak Suryo yang sedang terengah-engah menahan sakit di dadanya.
Pak Suryo mendongak, menatap Devan dengan tatapan mata yang dipenuhi kemarahan, kebencian, dan rasa tidak percaya. "Dan kamu ... kamu lelaki yang dijodohkan paksa sama anakku itu? Kamu sengaja memanfaatkan situasi ini, hah?!"
Devan tidak membalas dengan kemarahan. Ia juga tidak bersikap defensif atau melontarkan nada bicara yang tinggi. Sebaliknya, Devan perlahan-lahan merendahkan badannya. Di hadapan seluruh anggota keluarga Devi yang sedang dipenuhi emosi membara, pria bertato naga itu berlutut dengan satu kaki di atas semen teras yang dingin.
Ia melepaskan topi kupluk hitam yang menutupi rambutnya, memperlihatkan tatanan rambutnya yang agak acak-acakan namun bersih. Devan menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Pak Suryo dan Bu Sumi, sebuah gestur kesopanan yang begitu kontras dan sama sekali tidak mencerminkan penampilannya yang garang bak preman jalanan.
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja