NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Suara palu saling bersahutan. Warga dan prajurit bercampur jadi satu saling bahu membahu memperbaiki satu persatu rumah agar layak untuk ditempati. Hingga tanpa terasa waktu makan siang sudah tiba. 

Orang-orang dari dapur mulai berdatangan membawa panci panci besar berisi makananan. Para prajurit langsung meletakkan alat kerja yang sedang mereka gunakan. Lalu berbaris dengan rapi mengantri untuk mengambil jatah makan siang. Begitu juga dengan Xavier, ia meletakkan papan kayu yang sedang dipegangnya dan langsung masuk ke dalam antrian karena perutnya sudah demo sejak tadi. 

Sementara para warga hanya berdiri di kejauhan. Mereka memperhatikan barisan prajurit yang mulai mengantre mengambil makanan, namun tak seorang pun melangkah maju. Tatapan mereka saling bertemu seolah menunggu seseorang memberi izin. Meski aroma masakan membuat perut mereka semakin keroncongan, tidak ada yang berani ikut mengantre tanpa dipersilakan.

Kaelen yang hendak kembali ke tendanya pun mengurungkan niat. Ia meminta Tuan Alaric untuk pergi lebih dahulu bersama dengan Lysander. Kemudian ia melangkah ke arah warga lalu mengajak mereka untuk mengantri makanan bersama. 

Sementara Lysander yang sudah melangkah ke barak pun menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan melihat apa yang ingin dilakukan oleh sang Komandan Draven. 

“Kenapa hanya diam di sini?” Tanyanya yang tidak mendapat jawaban dari mereka.

“Apa kalian tidak lapar?”

Mendengar pertanyaan itu, beberapa warga mengusap perutnya sendiri, beberapa lainnya melirik perutnya yang sudah keroncongan. 

Lalu mata Kaelen beralih ke seorang anak kecil. Ia berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dan menatapnya dengan begitu lembut.

“Apa kamu tidak lapar?”

Anak kecil itu menatap perutnya sendiri lalu terdengar suara dari perutnya. Kaelen tersenyum kemudian berdiri dan menggandengnya untuk mengambil makanan. Melihat Kaelen menggandeng anak itu menuju barisan makanan, warga yang semula hanya berdiri saling berpandangan. Perlahan, satu demi satu mulai melangkah mengikuti di belakangnya hingga akhirnya mereka ikut mengantre bersama para prajurit.

Selama waktu makan siang, Kaelen dan Lysander memutuskan untuk tidak jadi kembali ke barak. Mereka makan makanan yang sama dengan para prajurit dan berbaur bersama dengan warga.

Saat sedang menyantap makanan dengan tenang, tiba-tiba sosok pemuda tinggi besar berjalan menghampiri Kaelen dengan tangan yang berkacak pinggang. Tatapan matanya begitu tajam dan angkuh. Ia bahkan tidak memedulikan tata krama di hadapan Komandan Benteng.

“Kenapa aku harus berada di sini?” Tanya Jax dengan nada yang sedikit menyentak. 

Kaelen yang duduk bersebelahan dengan Lysander pun mendongak secara bersamaan. Mereka berdua menatapnya dengan wajah datar. Tidak ada yang tahu apa yang sedang mereka berdua pikirkan.

BUK! 

Satu pukulan dari Gavin tepat di belakang lutut Jax membuatnya langsung jatuh berlutut. 

“Berani sekali membuat Tuan Muda mendongak,” Ucap Gavin. 

Jax menatap nyalang ke arah Gavin, matanya memerah karena marah. Ia tidak terima dengan perlakuan yang diterimanya. Ia merasa statusnya lebih tinggi dari siapapun di tempat ini, tapi malah diperlakukan dengan tidak hormat seperti ini. 

“Aku akan melaporkan hal ini ke Kaisar!”

Lysander tersenyum miring tanpa disadari oleh siapa pun. Jawaban yang ia cari ternyata datang dengan sendirinya.

“Laporkan saja… laporkan lalu kembalilah ke istana. Tempat ini bukan tempat kamu bisa bertindak seenaknya,” Ucap Lysander dengan penuh ketenangan. 

Namun tidak bisa dipungkiri, semua orang yang mendengar nada bicaranya merasa bulu kuduk mereka berdiri semua. Bahkan Kaelen yang duduk di sampingnya pun merasa bergidik ngeri saat mendengarnya.

“Kamu hanya orang buangan, beraninya…”

Kaelen mengerling ke balik punggung Jax saat mendengar langkah kaki mendekat. 

BUK! 

Pukulan kedua kali ini mengenai kepala belakang Jax, dan pelakunya adalah Xavier. Xavier kini yang berkacak pinggang di hadapan Jax. Jax langsung mengaduh kesakitan sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya barusan.

“Tidak lihat semua orang sudah bekerja lagi?” Tanya Xavier yang terlihat persis seperti mandor di tempat konstruksi.

“Kenapa malah ngobrol di sini?”

“Ayo lanjut kerja, biar cepat selesai!”

Xavier menarik kerah belakang Jax dan menyeretnya. Meskipun postur Jax lebih besar, tapi karena posisinya sedang tidak siap membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Akhirnya mau tidak mau ia menuruti dan kembali bekerja.

Jax mengepalkan tangannya erat. Ia menahan amarah yang nyaris meledak. Tidak... ia tidak boleh kehilangan kendali. Jika sampai terjadi sesuatu di tempat ini, rencana Sang Kaisar bisa berantakan karena dirinya.

Lysander tersenyum melihat kejadian itu. Ia merasa baru saja menemukan orang yang cocok yang bisa mengatasi utusan istana itu.

Sementara itu, di pos jaga sayap kiri benteng. 

Prajurit yang bertugas patroli di bagian perbatasan siang itu kembali ke pos dengan tergesa-gesa. Wajahnya sudah penuh dengan keringat dan raut wajahnya terlihat panik. Evren yang sedang menyantap makan siang pun langsung berdiri dan bertanya.

“Apa yang terjadi?”

“Di sana,” Tunjuk prajurit tersebut ke arah perbatasan sayap kiri yang dipenuhi semak belukar.

“Ada orang tidak dikenal membawa bubuk mesiu.”

Evren langsung meletakkan makanannya kemudian menyuruh rekannya untuk melaporkan hal ini kepada pemimpin pos komando sayap kiri benteng. Ia sendiri langsung bergegas menuju lokasi yang disebutkan sambil membawa sebilah pedang panjang.

Bubuk mesiu biasa digunakan untuk membuat peledak dengan daya ledak yang sangat tinggi. Jika orang itu berniat meledakkan benteng, kerugian yang dialami tidak akan terbayang nantinya. Apalagi pasukan negara musuh terus mengintai dan bisa menyerang kapan saja. 

Saat Evren sampai di lokasi, pemuda itu terduduk di tanah dengan kedua tangannya terikat kuat. Ia melihat sekantong kecil bubuk mesiu di sampingnya lalu sedikit menghela nafas. Namun tidak sampai di situ, Evren langsung bertanya ke prajurit yang menangkap pemuda itu.

“Hanya ini? tidak ditemukan benda lainnya?” 

Sang prajurit menjawab dengan sebuah gelengan kepala. Kemudian ia beralih ke pemuda tersebut dan bertanya, “Siapa yang mengirimmu?”

Pemuda asing itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menghindari kontak mata dengan siapapun. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Apa tujuanmu membawa bubuk mesiu ke sini?” tanyanya lagi namun tetap tidak ada jawaban darinya.

Derap langkah kaki terdengar mendekat. Itu adalah prajurit yang evren perintahkan untuk melapor ke komando pos jaga. 

“Pemimpin pos tidak di tempat, aku langsung ke tenda komandan dan beliau juga sedang tidak di tempat.”

“Sial!” umpatnya pelan.

Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya Evren meminta prajurit lain untuk membawanya ke sel tahanan di barak.

Di desa, Kaelen melihat kerjasama antar warga dan prajurit yang begitu baik. Karena merasa sudah terlalu lama meninggalkan tempatnya, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke barak.

Belum sempat ia berdiri dari duduknya, seorang prajurit dari kejauhan terlihat berlari mendekat. Raut wajahnya jelas sekali terlihat panik. Kaelen pun langsung berdiri dan berjalan ke arahnya.

“Komandan!” Seru prajurit tersebut.

“Ada apa?”

“Benteng dikepung oleh pasukan musuh!”

Semua orang menghentikan pekerjaannya saat mendengar ucapan dari sang prajurit.

“Apa akan terjadi perang lagi?” tanya seorang pemuda dengan raut ketakutan.

Kaelen menoleh, tetapi ia belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di benteng. Apakah musuh benar-benar hendak menyerang atau hanya mengepung, ia belum bisa memastikan.

“Xavier, aku serahkan urusan di sini kepadamu. Tuan Alaric ayo kembali ke barak.”

Lysander memanggil pasukan bantuan dari istana dan memintanya untuk ikut ke barak. Sementara sisa prajurit lainnya sebagian ikut ke barak, sebagian lagi tetap di desa untuk menjaga keamanan desa.

Di jalan menuju barak, Kaelen meminta sang prajurit yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendengar rangkaian kejadian tersebut, ia langsung memerintahkan untuk memanggil Evren menghadapnya.

Sementara itu, di atas benteng, Evren sedang berdiri mengamati barisan pasukan musuh. Tiba-tiba muncul sosok berjubah tanpa ada tanda kedatangan seseorang sama sekali.

“Zephyr, kenapa kamu ke sini?”

“Aku merasakan mereka datang,” jawabnya dengan tatapan lurus ke depan.

Prajurit yang diutus Komandan Kaelen berlari menaiki tangga dan langsung memanggil Evren tanpa sempat mengatur nafasnya.

“Evren, komandan memanggilmu,” ucapnya dari belakang punggung Evren.

Evren menoleh ke arah prajurit tersebut lalu melihat ke barisan pasukan musuh di depan matanya. ia terlihat berat meninggalkan tempatnya berdiri. Tapi kemudian Zephyr mengatakan, “Pergilah, aku yang akan menjaga tempat ini sampai kamu kembali lagi ke sini.”

Para prajurit sudah berbaris rapi di balik tembok benteng dengan pedang terhunus. Zephyr mengangkat tangan kanannya ke depan. Sebuah garis cahaya kuning perlahan membentang di tanah sekitar lima puluh meter dari benteng. Dalam hitungan detik, cahaya itu menjulang ke langit, berubah menjadi penghalang raksasa yang mengelilingi seluruh Draven, bahkan lebih tinggi daripada tembok benteng itu sendiri.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!