NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Dinding semen dingin di ruang penahanan sementara Polda Metro Jaya terasa begitu lembap. Bau karat besi dan udara pengap mengendap pekat, menciptakan atmosfer penyesalan yang membakar jiwa bagi siapa pun yang mendekam di dalamnya.

Namun bagi Elena, tempat ini bukanlah titik akhir.

Wanita itu terduduk di atas pembaringan tipis dengan setelan baju tahanan oranye yang menutupi gaun mewahnya.

Rambut indahnya kusut, riasan matanya luntur meninggalkan garis hitam di pipi, dan jemarinya yang terbiasa memegang perhiasan mahal kini kotor oleh debu dinding sel. Namun di balik kehancurannya, mata Elena masih memancarkan api kebencian yang menyala-nyala.

TAK!

Sebuah benda kecil dibungkus kain hitam dilemparkan secara halus menembus celah jeruji besi bawah, mendarat tepat di dekat ujung kaki Elena.

Elena tersentak kaget. Ia melirik tajam ke arah lorong penjara yang sepi. Dua orang petugas jaga di ujung lorong tampak tertidur lelap setelah meminum kopi malam yang disajikan oleh oknum tak dikenal.

Dengan cepat, Elena mengambil bungkusan itu dan membukanya di bawah bayangan tubuhnya sendiri. Di balik kain hitam, terbaring sebuah ponsel pintar tanpa kartu SIM resmi yang layarnya mendadak menyala cerah.

Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal berkedip-kedip di layar.

Elena menelan ludah yang terasa pahit, lalu menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Siapa ini?!" bisiknya tajam dan penuh kewaspadaan.

"Selamat malam, Nona Elena yang terhormat," sebuah suara pria bersuara serak dengan nada sinis dan penuh kemenangan bergema di seberang sambungan. "Bagaimana rasanya bertukar tempat dari penthouse lima puluh lantai ke dalam sel sempit berbau karat ?"

Mata Elena menyipit tajam. Ia mengenal nada bicara yang menjengkelkan itu. "Reno...? Kamu... Reno?!"

Reno, mantan asisten kepercayaan almarhum Roy yang juga menangani berkas-berkas rahasia internal keluarga Samudra sebelum ia mendadak mengundurkan diri secara misterius beberapa bulan lalu. Pria oportunis yang dikenal licik, serakah, dan tak memiliki rasa setia pada siapa pun selain uang.

"Senang rasanya suara mahalku masih kamu kenali, Elena," kekeh Reno samar di seberang telepon, diiringi hembusan asap rokok yang terdengar lewat microphone. "Aku melihat konferensi pers Alvan siang tadi. Luar biasa. Nama baik Andira dibersihkan, kamu dijebloskan ke penjara, dan seluruh asetmu disita kejaksaan. Tampaknya permainanmu dihancurkan sepenuhnya oleh Alvan."

"Jika kamu menelepon hanya untuk menghina dan tertawa di atas penderitaanku, tutup teleponnya sialan!" geram Elena, giginya gemetaran menahan amarah yang membakar dada.

"Tunggu dulu, Nona manis. Jangan terburu-buru," potong Reno cepat dengan suara yang mendadak serius dan dingin. "Aku meneleponmu karena aku memegang satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan lehermu dari hukuman mati... atau setidaknya, sebuah 'Kartu As' untuk meremukkan kebahagiaan Alvan dan Andira sampai ke akar-akarnya."

Elena menahan napasnya. Jemarinya mencengkeram ponsel plastik itu hingga buku-buku jarinya memutih. "Kartu As apa maksudmu?"

"Sembilan bulan lalu... tanggal 14 November," kata Reno perlahan, menikmati setiap suku kata yang diucapkannya. "Kamu pikir kamu sudah mematikan seluruh CCTV di lorong sayap timur mansion peristirahatan lewat ancamanmu pada Tatang, bukan ?"

Wajah Elena seketika berubah pucat pasih.

"Tapi kamu lupa satu hal, Elena," lanjut Reno dengan helaan napas sinis. "Sebagai asisten pribadi Roy, aku tahu persis bahwa Roy memasang kamera tersembunyi berukuran mikro di lampu taman luar yang menghadap langsung ke pintu belakang mansion, kamera independen yang tidak terhubung ke server utama mansion."

"Kamu..." suara Elena mendadak tercekat di tenggorokan.

"Dan tebak apa yang terekam di dalam kartu memori kamera mikro itu ?" Reno tertawa pelan, sebuah tawa yang mengirimkan efek merinding luar biasa ke tulang belakang Elena. "Aku memiliki rekaman video sudut tajam berdurasi jelas. Di mana mobil Mercedes hitammu terparkir di pintu belakang, lalu kamu keluar dengan pakaian bersimbah bercak darah Roy, memegang patung perunggu, dan berlari ketakutan sepuluh menit sebelum Andira tiba di lokasi !"

DEGGGG!

Dunia Elena terasa runtuh untuk kesekian kalinya. Bukti itu... rekaman CCTV tersembunyi dari luar pintu belakang itu adalah bukti absolut yang tidak bisa dibantah oleh pengacara mana pun di dunia ini. Rekaman itu adalah vonis eksekusi mati bagi dirinya!

"Reno..." suara Elena gemetar hebat, racun keangkuhannya menguap digantikan ketakutan murni. "Apa yang kamu inginkan? Berapa yang kamu minta?!"

"Smart girl," puji Reno dingin. "Aku tidak butuh perhiasan atau janji manismu. Aku butuh uang tunai segar lima puluh miliar rupiah. Masukkan ke rekening penampungan rahasia atas namaku di Cayman Islands sebelum berkas persidangan pertamamu dimulai."

"Lima puluh miliar?!" teriak Elena berbisik histeris. "Seluruh asetku sudah disegel oleh Alvan dan kejaksaan! Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam keadaan terpanggang di dalam penjara?!"

"Itu masalahmu, bukan masalahku," sahut Reno tanpa belas kasihan. "Jika uang itu tidak ada dalam waktu satu minggu, aku sendiri yang akan menyerahkan rekaman CCTV asli ini kepada Alvan dan Detektif Hendra. Dan kamu... akan membusuk di tiang eksekusi mati sebagai pembunuh tunggal Roy Samudra !"

Elena mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Otaknya berputar cepat di tengah kepanikan yang membakar. Jika Reno menyerahkan bukti itu pada Alvan, maka habis sudah jalannya. Namun jika ia menuruti Reno...

Sebuah ide licik, sebuah rekayasa terakhir yang teramat beracun mendadak terbersit di dalam kepala Elena. Sebuah rencana untuk memanfaatkan kerakusan Reno demi menghancurkan Andira sekali lagi.

~~

Sementara teror baru mulai mengulur cengkeramannya dari kegelapan sel, kehidupan di mansion utama Samudra menyajikan pemandangan yang teramat kontras.

Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk menembus kaca-kaca jendela ruang makan utama. Aroma kopi hitam segar dan roti panggang mentega memenuhi udara ruangan yang dulunya terasa kaku dan dingin itu.

Di kepala meja makan, Alvan duduk mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung hingga siku. Di samping kirinya, Andira duduk anggun, mengoleskan selai stroberi di atas sepotong roti panggang untuk Ibu Rosa yang duduk di atas kursi roda di seberang mereka.

"Andira, Sayang," ujar Ibu Rosa dengan senyuman hangat yang memancarkan ketenangan. "Nanti sore ikut Ibu ke taman belakang, ya? Ibu ingin kamu memilih bunga-bunga baru untuk mengganti tanaman di lorong utama."

"Tentu, Bu," jawab Andira lembut, menyunggingkan senyuman bening yang memancarkan kedamaian jiwa. "Andira akan bantu."

Alvan menatap interaksi antara ibu dan istrinya itu dari balik koran bisnisnya. Sebuah rasa hangat yang tak pernah ia rasakan selama puluhan tahun mengaliri dadanya. Kehadiran Andira telah mengubah bangunan megah yang dulu bagaikan sangkar emas dingin ini menjadi sebuah rumah yang bernyawa.

Alvan meletakkan korannya, lalu meraih berkas laporan keuangan proyek akuisisi terbaru Samudra Group dan menyodorkannya ke hadapan Andira.

Andira mengerutkan dahi bingung, menatap berkas tebal bersampul kulit itu. "Ini... apa, Alvan?"

"Laporan evaluasi proyek pengembangan rumah sakit baru," jawab Alvan dengan suara tenang namun tegas. "Aku ingin kamu membacanya dan memberikan pendapatmu dari sudut pandang manajemen operasional."

Andira membelalak kaget, mendorong pelan berkas itu. "Alvan, saya... saya bukan lulusan bisnis papan atas. Saya tidak berhak ikut campur dalam keputusan perusahaan sebesar Samudra Group."

Alvan meraih tangan kiri Andira di atas meja, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari secara lembut di hadapan Ibu Rosa yang tersenyum menggoda.

"Kamu adalah istri sah dari CEO Samudra Group," Alvan menatap mata Andira dengan kepenuhan rasa percaya yang tak tergoyahkan. "Intuisi dan kejujuranmu jauh lebih berharga daripada puluhan gelar analisis bisnis yang disewa perusahaan. Aku memercayai sudut pandangmu, Andira. Mulai hari ini, suara dan keputusanmu memiliki bobot yang sama denganku."

Dada Andira bergetar hebat. Rasa dihormati dan diakui secara utuh sebagai seorang pendamping hidup meluluhkan sisa trauma masa lalunya. Ia mengangguk pelan, memberikan senyuman manis yang membuat mata Alvan terpaku mengaguminya.

Namun, di balik kehangatan dan rasa percaya yang memuncak itu, pikiran Alvan tidak pernah sepenuhnya tenang.

Pesan terenkripsi dari Detektif Hendra malam tadi, foto dokumen berstempel lilin merah berinisial 'S', terus menari-nari bagaikan mimpi buruk di balik kesadarannya.

Siapa sosok 'S' di dalam rumah ini? Apakah salah satu pelayan tua? Pengawal pribadi? Atau... anggota keluarga Samudra yang selama ini tersembunyi dari jangkauan publik?

Alvan mempererat genggaman tangannya pada jemari Andira. Aku tidak akan membiarkan siapa pun tersenyum di atas penderitaan keluargaku lagi... Siapa pun kamu, 'S', aku akan menyeretmu keluar ke cahaya.

Kembali ke dalam kegelapan sel penahanan.

Elena menyandarkan kepalanya pada dinding semen yang dingin. Senyuman miring yang mengerikan perlahan-lahan terukir di bibirnya yang kering. Rasa takut akan ancaman Reno kini telah bertransformasi menjadi kalkulasi kejahatan baru yang teramat matang.

Ia mendekatkan ponsel rahasia itu kembali ke bibirnya.

"Reno," bisik Elena, suaranya kini tenang, tajam, dan sarat akan manipulasi yang berbahaya. "Lima puluh miliar adalah jumlah yang sangat kecil dibanding dengan apa yang bisa kita dapatkan jika kamu menuruti ideku."

Di seberang telepon, Reno terdengar menyipitkan mata. "Apa maksudmu ?"

"Aset-asetku memang disegel oleh Alvan, tapi ada satu rekening lama atas nama Andira yang pernah aku buatkan secara rahasia sembilan bulan lalu, sebuah rekening terbengkalai yang tidak pernah disadari oleh tim auditor kejaksaan," terang Elena dengan mata yang berkilat penuh dendam.

Reno mematikan rokoknya di asbak. "Lanjutkan."

"Aku akan memberimu akses ke dana penampungan rahasia milik konsorsium 'S' sebesar seratus miliar rupiah," lanjut Elena, menyebut inisial sang dalang utama yang membuat Reno terdengar menahan napasnya kaget. "Tapi sebagai gantinya... kamu tidak hanya menahan rekaman CCTV itu dari Alvan. Kamu harus menggunakan keahlian meretasmu untuk memalsukan jejak transfer dana seratus miliar itu!"

"Transfer dana ? Ke mana ?!" tanya Reno cepat.

Elena terkekeh pelan, sebuah terkekeh dingin yang mengabaikan keselamatan jiwanya sendiri demi melihat Andira hancur.

"Transfer dana seratus miliar itu seolah-olah mengalir secara bertahap dari rekening cangkangku langsung ke rekening rahasia milik Andira!" bisik Elena dengan suara mendesis bagaikan ular. "Buat seolah-olah Andira adalah komplotanku dari awal... buat seolah-olah Andira dibayar olehku untuk menjadi umpan di TKP dan berpura-pura menjadi korban di hadapan Alvan!"

Reno membeku di seberang sambungan, terpukau sekaligus ngeri oleh tingkat kejahatan Elena yang tak memiliki batas.

"Jika kamu melakukan ini," Elena menyimpulkan dengan tatapan mata yang dipenuhi kegilaan mendalam, "kamu akan mendapatkan uang seratus miliar tunai, dan publik serta Alvan akan melihat bukti bahwa wanita suci yang dipuja Alvan saat ini... hanyalah serigala berbulu domba yang menjual nyawa Roy demi uang!"

Keheningan melingkupi sambungan telepon itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya suara tawa licik Reno pecah menyambut tawaran beracun tersebut.

"Tawaran yang sangat manis, Nona Elena," ujar Reno penuh keserakahan. "Anggap saja bukti transfer palsu itu sedang dirancang malam ini..."

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!