NovelToon NovelToon
The Promish Hyung

The Promish Hyung

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Dewi_BtsOt7

Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.

Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.

8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.

Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.

Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.

"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Keesokan harinya, langit Seoul tampak cerah, kontras dengan badai semalam. Namun bagi Kim Seokjin, dunia terasa lebih redup dari biasanya. Cahaya matahari pagi yang menembus jendela mobil mewahnya terasa menyilaukan, memicu denyutan tajam di pelipisnya. Ia memejamkan mata, berusaha mengatur napas.

"Hanya kurang tidur," batinnya meyakinkan diri sendiri untuk keseratus kalinya. "Setelah meeting dengan tim Chanyeol selesai, aku akan istirahat."

Mobil hitam itu berhenti di depan lobi utama Kim Corp. Jin keluar dengan langkah tegap, mengenakan kacamata hitam besar untuk melindungi matanya dari cahaya. Para karyawan yang lewat membungkuk hormat, "Annyeonghaseyo, Sajangnim!" (Selamat pagi, Presiden Direktur!). Jin hanya mengangguk singkat, wajahnya tanpa ekspresi. Topeng itu sudah terpasang sempurna.

Di dalam lift menuju lantai eksekutif, ponsel Jin bergetar. Nama "Tae" muncul di layar. Jantung Jin melonjak. Ia menatap nama itu lama, jari jempolnya melayang di atas tombol jawab, tapi ia tidak menekannya. Jika ia menjawab, suaranya yang serak dan lelah akan terdengar. Tae akan bertanya. Tae akan khawatir. Dan Jin tidak sanggup melihat kekhawatiran di mata adiknya itu.

Ia menekan tombol decline. Lalu mengirim pesan singkat: "Sibuk meeting. Nanti kabari. - Hyung"

Pintu lift terbuka. Yoongi sudah menunggu di sana, memegang tablet dengan wajah datar. Tapi ada sesuatu di matanya hari ini-sedikit lebih waspada, sedikit lebih dingin sejak pertengkaran malam sebelumnya.

"Jadwal hari ini padat, Hyung," kata Yoongi tanpa basa-basi, berjalan sejajar dengan Jin menuju ruang rapat. "Jam 10 rapat dengan tim pengembangan produk baru bersama Mr. Park Chanyeol dari EXO Entertainment. Jam 1 siang makan siang bisnis dengan Director Kyungsoo. Dan jam 4 sore, presentasi akhir untuk tender proyek 'Seoul Future City'."

Jin mengangguk, meski kepalanya berputar. "Baik. Pastikan

...pantang menyerah pada detail," lanjut Yoongi, matanya menatap lurus ke depan, menghindari kontak mata dengan Jin.

"Dan Hyung, tolong jangan lupa minum air putih. Bibirmu terlihat pecah-pecah."

Jin tersenyum tipis, meski rasanya seperti menarik otot wajah yang kaku. "Kau terlalu khawatir, Yoongi-ah. Aku bukan gelas kaca."

Mereka memasuki ruang konferensi utama. Di sana, tiga pria sudah menunggu. Mereka adalah mitra bisnis potensial yang sedang dijalin Jin untuk memperkuat posisi Kim Corp melawan gempuran pesaing. Chanyeol, dengan postur tubuh tinggi dan senyum ramah yang menawan; Kyungsoo, yang duduk tenang dengan ekspresi serius namun tatapan matanya tajam dan cerdas; serta Jaehwan (Ken), yang tampak santai sambil membolak-balik pena di tangannya.

"Kim Seokjin-nim," sapa Chanyeol berdiri, mengulurkan tangan. "Senang akhirnya bisa bertemu langsung. Reputasimu di industri ini... cukup menakutkan bagi sebagian orang, tapi bagi kami, itu berarti efisiensi."

Jin menjabat tangan Chanyeol dengan erat, menyembunyikan gemetar halus di jarinya. "Pujian yang menarik, Park Chanyeol-nim. Saya harap kita bisa menciptakan sesuatu yang lebih dari sekadar reputasi."

Rapat berlangsung selama dua jam. Jin berusaha fokus pada presentasi strategi kolaborasi, tetapi setiap kali ia mencoba berkonsentrasi penuh, rasa sakit di kepalanya kembali menyerang, kali ini disertai dengungan halus di telinga kirinya. Pandangannya sesekali kabur, membuat tulisan di layar proyektor terlihat ganda.

"Fokus, Jin. Fokus," perintahnya dalam hati. Ia menggenggam pulpen di atas meja begitu kuat hingga buku-bukunya memutih, menggunakan rasa sakit fisik di tangannya sebagai pengalih perhatian dari sakit di kepalanya.

Di tengah presentasi, Kyungsoo tiba-tiba mengangkat tangan. "Maaf, Kim-nim. Ada satu hal yang kurang jelas di slide ke-15. Apakah proyeksi keuntungan ini sudah memperhitungkan risiko fluktuasi pasar global?"

Jin menatap layar. Slide ke-15. Angka-angka itu berenang di depannya. Untuk sesaat, otaknya kosong. Ia lupa angka spesifik yang harus ia sebutkan. Keheningan melanda ruangan selama tiga detik yang terasa seperti tiga abad.

Chanyeol mengerutkan kening, bingung. Jaehwan berhenti memainkan penanya.

Yoongi, yang berdiri di samping Jin, segera melangkah maju dengan sigap. "Yang dimaksud Kim-nim adalah bahwa kami telah menyiapkan dana cadangan sebesar 15% untuk antisipasi tersebut, seperti yang tertera di lampiran B halaman 4," jawab Yoongi dengan suara tenang dan percaya diri, menyelamatkan situasi.

Jin menghela napas lega dalam-dalam, meski wajahnya tetap datar. Ia melirik Yoongi sekilas, sebuah ucapan terima kasih tersirat dalam tatapannya. Yoongi tidak menoleh balik.

Setelah rapat usai, para tamu berpamitan. Chanyeol menjabat tangan Jin lagi. "Presentasi yang menarik, Kim-nim. Meski ada sedikit... jeda dramatis di tengah tadi," canda Chanyeol ringan. "Tapi secara keseluruhan, kami tertarik. Kami akan menghubungi tim hukum kalian minggu depan."

"Terima kasih, Chanyeol-nim," jawab Jin, memaksakan senyuman profesional.

Saat pintu tertutup, menyisakan Jin dan Yoongi saja di ruangan besar itu, bahu Jin merosot. Ia bersandar pada meja, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya berat.

"Hyung," suara Yoongi terdengar dekat. Tidak ada nada marah kali ini, hanya kekhawatiran yang tertahan. "Tadi... kau lupa angkanya."

"Aku cuma lelah, Yoongi," bantah Jin cepat, menurunkan tangannya. Wajahnya pucat, keringat dingin mulai muncul di dahinya meskipun AC ruangan dingin. "Malam tadi aku kurang tidur. Itu saja."

Yoongi menatap Jin lekat-lekat. Ia melihat bagaimana pupil mata Jin sedikit tidak sinkron, bagaimana napas Jin masih belum teratur. "Hyung, ini sudah ketiga kalinya dalam seminggu kau 'lupa' hal-hal dasar. Dan kau terus-menerus meminum obat itu." Yoongi menunjuk botol kecil yang setengah tersembunyi di saku jas Jin. "Apa itu benar-benar vitamin?"

Jin dengan cepat memasukkan botol itu lebih dalam ke sakunya. "Itu suplemen energi. Impor dari Swiss. Mahal, jadi jangan tanya-tanya."

Yoongi mendengus, jelas tidak percaya. "Hyung, jika kau sakit, katakan. Kami bukan beban. Tae juga..."

"Jangan sebut nama Tae!" potong Jin tajam, suaranya meninggi. Rasa sakit di kepalanya berdenyut hebat akibat emosi tersebut. Ia menyadari nada bicaranya terlalu kasar, lalu melembutkannya. "Maksudku... Tae harus fokus pada kuliahnya. Jangan libatkan dia dalam urusan kantorku yang membosankan ini. Itu perintah, Min Yoongi."

Kata "perintah" itu seperti tembok beton yang dibangun Jin di antara mereka. Yoongi menutup mulutnya, rahangnya mengeras. Ia tahu Jin melakukan ini demi melindungi Tae, tapi cara Jin melakukannya semakin menyakiti semua orang di sekitarnya, termasuk dirinya sendiri.

"Baik, Sajangnim," kata Yoongi dingin, kembali ke mode formal. "Jam 1 siang makan siang dengan Director Kyungsoo. Aku akan menyiapkan mobil."

Yoongi berbalik dan keluar dari ruangan, meninggalkan Jin sendirian lagi.

Jin merosot ke kursi, merasa lebih lelah daripada sebelum rapat dimulai. Ia mengambil ponselnya, membuka galeri foto, dan menatap gambar Tae yang sedang tertawa lebar saat ulang tahunnya bulan lalu. Senyum itu adalah bahan bakar Jin. Tapi hari ini, bahan bakar itu terasa semakin tipis.

Tiba-tiba, ponsel Jin berdering. Nama yang muncul di layar membuat jantung Jin berhenti berdetak sejenak.

"Xiumin"

Saingannya.

Kakak tertua dari keluarga Saingan yang selalu berada di peringkat dua setelah Kim Corp.

Jin menatap layar itu lama. Ia tahu panggilan ini bukan untuk basa-basi. Ini adalah awal dari permainan kotor yang sudah lama ia cium baunya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Jin menekan tombol accept.

"Kim Seokjin berbicara," ucapnya, suaranya kembali dingin dan berwibawa, menyembunyikan segala kelemahan fisiknya.

Di seberang sana, terdengar tawa rendah yang tidak menyenangkan.

"Selamat siang, Jin-ah. Atau haruskah aku memanggilmu 'Presiden Direktur yang kelelahan'? Aku punya penawaran yang mungkin... menarik untuk didengar. Tentang adikmu, Taehyung."

Darah Jin membeku.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku. Di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka...
Dewi_BtsOt7: siap ka nanti aku mampir kalo lagi luang..

aku lagi ngejar up di 3 platfrom🤭
total 1 replies
AntyKa
penasaran😄
Dewi_BtsOt7: di tunggu kelanjutannya ya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!