"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Aku Suka Kamu
Nadhira menggenggam ponsel lebih erat.
"Jawab pertanyaan saya dulu."
Di seberang, Rayhan terdiam satu detik. "Dia adik tiri saya dari keluarga Bu Sri. Kami bertemu tanpa rencana di bandara. Dia memegang lengan saya karena meminta saya berhenti dan mendengarkan masalahnya."
"Masalah apa?"
"Uang dan akses nama keluarga. Saya menolak membahasnya di tempat umum. Gilang ada di sana sepanjang waktu."
Nadhira duduk di tepi meja. Udara yang tertahan di dadanya keluar perlahan.
"Kenapa saya tidak pernah tahu kamu punya adik tiri?"
"Karena saya tidak menganggap keluarga Bu Sri bagian dari hidup saya. Itu bukan alasan yang cukup untuk menyembunyikan fakta dari kamu."
Rayhan tidak menyalahkan pertanyaannya atau meminta ia percaya tanpa penjelasan.
"Perempuan itu bepergian denganmu?"
"Tidak. Penerbangannya berbeda. Dia datang mendekat setelah melihat saya. Foto tersebut dipotong. Beberapa detik sebelumnya Gilang berdiri di samping kami."
"Siapa yang memotret?"
"Saya belum tahu. Kirim nomor pengirim kepada Gilang. Kami periksa sebagai pelanggaran keamanan, bukan karena kamu salah menerima."
Nadhira mengirim nomor tersebut.
Rayhan kembali pada pertanyaan yang belum dijawab. "Sekarang, kamu cemburu?"
Wajah Nadhira panas meski tidak ada orang lain di ruangan.
"Iya."
Keheningan di ujung telepon berubah. Ia bisa membayangkan Rayhan menurunkan kepala agar orang di lorong rapat tidak melihat wajahnya.
"Kenapa diam?" tanya Nadhira.
"Saya sedang memastikan saya tidak salah dengar."
"Jangan senang dulu. Saya juga marah karena kamu tidak pernah menyebut punya adik."
"Kamu berhak marah."
"Dan saya tidak suka kamu bertanya cemburu sebelum menjelaskan foto."
"Saya minta maaf."
Permintaan maaf itu datang tanpa pembelaan.
"Mas Ray?"
"Ya."
"Apakah ada perempuan lain yang menganggap punya hubungan denganmu? Selain Dinda yang menganggap rumahmu miliknya."
"Tidak ada hubungan romantis. Tidak dengan perempuan dalam foto, Dinda, atau siapa pun sejak kita menikah."
"Sejak kita menikah?"
Rayhan menarik napas. "Sebelum itu juga tidak ada setelah Dini meninggal."
Nadhira menunduk. Jarinya mengusap bekas goresan kecil pada meja.
"Saya harus masuk rapat dua menit lagi," kata Rayhan. "Tapi saya tidak mau menutup telepon saat percakapan ini belum selesai."
"Masuklah. Kita bicara saat kamu pulang."
"Saya pulang besok malam sesuai jadwal."
"Saya tahu."
"Nadhira."
"Apa?"
"Terima kasih sudah bertanya langsung."
Setelah telepon berakhir, Nadhira duduk beberapa menit dalam ruang kerja. Rasa cemburu belum hilang sepenuhnya, tetapi bentuknya berubah. Bukan lagi gambar tanpa cerita. Sekarang ada fakta, permintaan maaf, dan satu percakapan yang harus diteruskan.
Gilang kemudian mengonfirmasi nomor anonim memakai data registrasi yang tidak mudah diverifikasi. Rekaman area keberangkatan akan diminta melalui prosedur bandara jika dasar dan waktunya memungkinkan. Mereka tidak menjanjikan identitas pelaku dalam satu hari. Nadhira mencatat bahwa pengirim mengetahui jadwal keberangkatan, dan akses perjalanan keluarga akan diperketat tanpa mengurung siapa pun.
Rayhan pulang malam berikutnya.
Alif sudah menunggu di ruang depan dengan kalender penuh tiga coretan. Arkan duduk di anak tangga, memeluk mobil merah. Begitu pintu terbuka, keduanya berlari.
"Papa!"
Rayhan berjongkok dan menerima dua tubuh kecil sekaligus. Koper tertinggal dekat pintu. Gilang mengangkatnya sambil mengeluh bahwa bosnya tidak pernah memperhatikan barang sendiri saat anak-anak ada.
"Ayam," tuntut Alif setelah pelukan selesai.
"Hari Minggu."
"Sekarang malam."
"Papa baru dari bandara."
Arkan menyentuh pipi Rayhan, memastikan ia benar-benar pulang. "Papa tidur rumah."
"Iya."
Nadhira berdiri beberapa langkah dari mereka. Rayhan mengangkat wajah dan menemukannya.
Tatapan mereka bertemu melewati kepala anak-anak.
Tidak ada ciuman, pelukan, atau kata rindu di depan semua orang. Hanya sesuatu yang membuat Nadhira lupa menarik napas sampai Mbak Wati meminta anak memberi jalan.
Rayhan berdiri. "Saya pulang."
"Selamat datang."
Gilang melihat mereka bergantian, menyerahkan koper kepada staf, lalu memilih pergi secepat mungkin.
Makan malam berlangsung riuh. Rayhan membawa dua buku gambar dan satu gantungan kunci berbentuk pesawat, bukan hadiah mahal. Ia menunjukkan stempel bagasi dan menjelaskan perjalanan tanpa membuat anak percaya semua kepulangan harus disertai barang.
Nadhira tidak menanyakan adik tirinya di depan meja. Rayhan juga tidak menyentuh topik foto. Mereka menunggu sampai Alif/Arkan selesai mandi, cerita dibacakan, dan kedua pintu kamar terbuka sedikit sesuai kebiasaan malam.
Menjelang pukul sebelas, Nadhira menemukan Rayhan di teras belakang.
Ia sudah mengganti pakaian dengan kaus gelap. Dua cangkir teh berada di meja. Teh melati untuk Nadhira, kopi tanpa gula untuk dirinya.
"Kamu tahu saya akan datang?" tanya Nadhira.
"Saya berharap."
Ia duduk di kursi seberang. Jarak meja terasa terlalu formal, jadi Rayhan memindahkan cangkirnya ke kursi di samping Nadhira. Ia tetap menyisakan ruang agar perempuan itu bisa memilih mendekat atau tidak.
"Tentang adik tiri saya," katanya. "Ada dua orang dari pernikahan Bu Sri setelah meninggalkan saya. Saya hampir tidak berhubungan dengan mereka. Salah satunya yang ada di foto. Dia beberapa kali memakai hubungan darah untuk meminta bantuan atau nama saya."
"Kenapa kamu tidak cerita saat membahas Bu Sri waktu badai?"
"Karena saya terbiasa memotong seluruh bagian keluarga itu dari cerita. Saya juga takut jika menyebut mereka, mereka akan terasa punya tempat di rumah ini."
"Menceritakan bukan berarti memberi mereka akses."
"Saya mengerti sekarang."
Nadhira memegang cangkir hangat. "Saya tidak ingin setiap masa lalumu dilaporkan seperti jadwal kantor. Tapi orang yang bisa muncul membawa namamu dan masuk ke foto publik memengaruhi kita."
"Mulai sekarang, saya beri tahu."
"Bukan hanya setelah tertangkap foto."
"Sebelum itu."
Mereka menyepakati daftar keluarga berisiko, nomor yang perlu diketahui keamanan, dan batas bahwa informasi tidak sama dengan izin masuk. Rayhan juga akan memberi tahu jika Bu Sri atau kedua anaknya menghubungi lagi. Nadhira akan melakukan hal yang sama bila Pak Darmo/Nita/Bu Sumini membuat perubahan yang dapat memengaruhi rumah.
Setelah persoalan praktis selesai, hening datang.
Jangkrik terdengar dari taman. Cahaya kolam memantul pada langit-langit teras. Nadhira bisa merasakan kehadiran Rayhan di sampingnya tanpa melihat.
"Kamu benar-benar cemburu?" tanyanya.
Nadhira menoleh. "Kamu mau saya tarik pengakuan tadi?"
"Tidak."
"Wajahmu kelihatan terlalu puas."
"Saya jarang mendapat kabar baik saat perjalanan bisnis."
Nadhira hampir tertawa, tetapi dadanya terlalu penuh.
"Mas Ray, saya tidak hanya cemburu."
Senyum tipisnya hilang. Ia menunggu.
Nadhira meletakkan cangkir agar tangannya tidak bergetar terlalu jelas.
"Saya rasa... saya mulai suka kamu."
Kalimat itu terdengar kecil di teras luas.
"Bukan karena kontrak," lanjutnya. "Bukan karena kamu menyelamatkan saya dari Bu Sumini atau Pak Darmo. Bukan karena rumah ini. Saya suka kamu ketika kamu meminta izin sebelum memeriksa kaki saya. Ketika kamu mengakui pengawalmu berlebihan. Ketika kamu membuat tempat untuk foto Dini dan tidak meminta Arkan memilih ibu."
Rayhan tidak bergerak.
"Kalau perasaanmu tidak sama, katakan sekarang. Saya tidak akan memakai anak-anak atau pernikahan untuk memaksa. Kita bisa membicarakan batas baru."
"Nadhira."
"Saya belum selesai."
"Kalau kamu terus bicara, saya mungkin tidak sempat menjawab."
Ia terdiam.
Rayhan memutar tubuh menghadapnya. "Saya sudah suka kamu sejak hari pertama."
Nadhira berkedip. "Hari pertama kamu melihat saya penuh lebam?"
"Saat kamu menolak menandatangani surat itu meski semua orang di kamar berusaha mematahkanmu. Kamu takut, tapi tetap meminta mereka menunjukkan dasar hak."
"Kamu menyukai saya karena saya berdebat?"
"Karena kamu berdiri saat tidak ada yang mengira kamu bisa."
Rayhan menatap tangannya sendiri sebelum melanjutkan.
"Saya menamainya rasa hormat. Lalu saya mencari alasan untuk memastikan dokumenmu aman. Setelah kamu menelepon meminta bantuan, saya mengatakan pada diri sendiri bahwa semua ini hanya tanggung jawab kepada keluarga Hendra."
"Dan setelah kita menikah?"
"Saya semakin buruk dalam berbohong kepada diri sendiri."
"Kapan kamu berhenti menganggapnya tanggung jawab?"
Rayhan berpikir cukup lama hingga Nadhira yakin ia tidak akan memberi jawaban indah yang dibuat-buat.
"Saat kamu menemukan foto Dini dan mengembalikannya ke bawah bantal Arkan. Kamu bisa saja merasa terancam, tapi yang kamu pikirkan justru hak anak menyimpan ibunya."
"Waktu itu kamu masih bicara seperti sedang mewawancarai saya."
"Saya tidak tahu cara lain mendekat."
"Lalu kamu marah ketika saya mengganti kunci."
"Karena saya pulang dan menyadari rumah bergerak tanpa saya, sementara kamu ternyata mampu menjaganya lebih baik daripada saya. Saya mengira kemarahan itu soal wewenang. Sebagian sebenarnya takut kamu tidak membutuhkan saya."
Nadhira menatapnya. Pengakuan tersebut lebih telanjang daripada pujian.
"Saya memang tidak mau bergantung sepenuhnya pada kamu," katanya. "Tapi tidak bergantung bukan berarti tidak memilihmu."
Rayhan menunduk pada tangan mereka yang belum saling menyentuh. "Itu yang baru saya pelajari. Diperlukan bukan satu-satunya alasan seseorang tinggal. Dipilih jauh lebih sulit, tapi juga lebih jujur."
Nadhira tertawa kecil. Air menggenang di matanya tanpa jatuh.
Rayhan mengulurkan tangan di atas meja, berhenti sebelum menyentuh. Nadhira meletakkan jemarinya di sana. Baru setelah itu ia menggenggam.
"Saya suka kamu," katanya. "Bukan versi yang patuh, bukan seseorang yang harus berutang karena saya membantu. Kamu."
Kata itu membuat air mata Nadhira jatuh satu garis. Rayhan mengusapnya dengan ibu jari setelah matanya meminta izin.
Mereka belum mencium. Pengakuan tersebut sudah cukup besar untuk satu malam.
Rayhan menahan tangannya.
"Tapi ada hal yang perlu kamu tahu tentang saya dulu."