Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Puncak dari Segala Pengabaian
Pukul sebelas malam, alunan musik di ruang depan akhirnya berhenti. Ketukan sepatu para tamu yang pulang satu per satu menandakan bahwa pesta ulang tahun Bu Rani telah usai.
Keheningan yang mencekam perlahan merayap dan memenuhi seluruh sudut rumah mewah itu, menyisakan ketegangan yang kuat di udara.
Di dalam kamar belakang yang sempit, Mahira masih duduk diam di tepi ranjang. Ia belum mengganti daster hijau tipisnya. Pandangan matanya lurus menatap daun pintu, menunggu dengan tenang. Ia tahu betul, badai kemarahan suaminya akan segera datang mengetuk.
Braakk!
Pintu kamar dibuka dengan kasar hingga membentur dinding pembatas. Ziko berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Dasi hitamnya sudah dilonggarkan, dan kemeja putihnya tampak kusut. Wajah pria itu merah padam, memancarkan amarah yang luar biasa besar yang sudah ia tahan sejak insiden di ruang tamu tadi.
Ziko melangkah masuk, lalu membanting pintu di belakangnya hingga tertutup rapat. Ia berdiri menjulang di depan Mahira, menatap istrinya dengan pandangan penuh kebencian dan kejengkelan.
"Kamu benar-benar keterlaluan malam ini, Mahira!" Suara Ziko menggelegar rendah, penuh tekanan emosi yang berat. "Aku sudah peringatkan kamu sejak sore untuk tidak bikin ulah. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu sengaja mempermalukan Ibu, mempermalukan aku, dan merusak seluruh acaraku di depan kolega penting!"
Mahira mendongak sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. Wajahnya polos tanpa ekspresi, suaranya terdengar sangat datar saat membalas. "Aku sudah katakan tadi, Mas. Aku tidak sengaja menabrak. Clarissa yang mendadak mundur di depan pintu lorong."
"Cukup, Mahira! Jangan sebut nama Clarissa lagi untuk menutupi busuknya kelakuanmu!" bentak Ziko, menunjuk wajah Mahira dengan jari gemetar. "Clarissa itu orang berpendidikan, dia punya kelas. Tidak mungkin dia merendahkan dirinya hanya untuk menjebak perempuan kampung sepertimu. Kamu itu cuma sirik karena dia bisa membelikan Ibu gaun mewah, sedangkan kamu tidak bisa memberikan apa-apa selain beban di rumah ini!"
Kata-kata kasar itu meluncur begitu saja dari mulut Ziko, menghantam harga diri Mahira dengan telak. Namun, tidak ada setitik pun air mata yang jatuh di pipi Mahira. Jangankan menangis, matanya bahkan tidak berkedip. Mati rasa yang ia rasakan sudah berada di tingkat yang paling tinggi.
Ziko mendengus sinis melihat sikap diam Mahira yang dianggapnya sebagai wujud keras kepala yang menantang. Pria itu berkacak pinggang, menatap Mahira dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang teramat meremehkan.
"Lihat dirimu sendiri di cermin, Mahira. Pakai daster murah kusam, wajah suram, tidak ada menarik-menariknya sama sekali," kata Ziko lagi, kata-katanya makin tajam menampar harga diri istrinya. "Tiga tahun aku menafkahimu, memberi kamu tempat tinggal di rumah megah ini, mengangkat derajatmu dari anak desa sebatang kara agar tidak telantar. Tapi ini balasanmu? Kamu sama sekali tidak tahu cara berterima kasih!"
Mahira tetap bergeming. Ia mendengarkan setiap bait hinaan itu dengan seksama, mencatatnya baik-baik di dalam benak sebagai kalimat penutup dari akhir pernikahan mereka.
"Jika tinggal di rumah ini hanya membuatmu iri, bertingkah seperti pencuri, dan terus-menerus membawa sial bagi karier bisnisku, maka tempatmu bukan di sini," ucap Ziko dengan nada yang mendadak berubah datar dan dingin. "Aku tidak butuh istri yang tidak berguna dan hanya menjadi duri dalam daging bagi keluargaku."
Ziko melangkah selangkah lebih dekat, menatap Mahira dengan tatapan seorang penguasa rumah.
"Mulai malam ini, jika kamu memang tidak sudi meminta maaf pada Ibu dan tetap mempertahankan sikap keras kepalamu yang tidak tahu diri itu... lebih baik kamu angkat kaki dari rumah ini. Kemasi barang-barangmu dan silakan pulang ke desamu secepatnya!" tegas Ziko melempar ancaman terakhirnya.
Pria itu yakin, mendengar kata 'angkat kaki' dan 'pulang ke desa', Mahira akan langsung ketakutan, menangis histeris, lalu bersujud di kakinya memohon ampun agar tidak diusir menjadi gelandangan. Sebab di mata Ziko, Mahira tidak memiliki siapa-siapa lagi dan tidak memegang uang sepeser pun untuk bertahan hidup di kota besar ini.
Namun, Ziko salah besar.
Mahira hanya menarik napas pendek, lalu menghembuskannya dengan sangat tenang. Ia berdiri dari tepi ranjang, menyejajarkan posisinya di hadapan Ziko. Wajahnya datar sempurna, memancarkan aura ketegasan yang belum pernah Ziko lihat selama tiga tahun ini.
"Baik. Jika itu yang kamu inginkan, Mas Ziko," sahut Mahira pendek. Suaranya begitu datar tanpa ekspresi, tidak ada getaran sedih atau amarah sedikit pun.
Ziko tertegun sejenak mendengarkan respons Mahira yang terkesan sangat siap menerima pengusiran tersebut. Namun, ego dan rasa gengsinya yang telanjur tinggi membuat Ziko enggan menarik kembali ucapannya.
Pria itu mendengus kasar, membalikkan badan, lalu melangkah keluar kamar sambil membanting pintu sekali lagi dengan sangat keras.
Setelah Ziko pergi, keheningan kembali menguasai kamar belakang. Mahira memandangi pintu yang tertutup itu dengan senyuman paling tipis di sudut bibirnya.
Ancaman pengusiran dan caci maki Ziko malam ini tidak terasa menyakitkan bagi Mahira. Sebaliknya, hal itu terasa seperti sebuah kebebasan yang sah.
Ziko sendiri yang telah mengusirnya, dan memintanya angkat kaki, serta yang telah meruntuhkan sisa-sisa kewajibannya sebagai seorang istri. Mahira pun mantap dengan keputusannya.
Mahira berjalan menuju lemari pakaiannya dengan langkah yang ringan. Ia tidak perlu mengemas banyak barang. Ia hanya mengambil kotak kayu kecil berisi handphone lamanya, beberapa dokumen penting, serta pakaian sederhana yang ia bawa dari rumah lamanya dulu. Sisanya, barang-barang yang dibelikan menggunakan uang Ziko, ia biarkan tetap tertinggal di dalam lemari tanpa tersentuh.
Malam kian larut, Mahira merebahkan dirinya di atas ranjang untuk beristirahat. Besok pagi, saat matahari mulai terbit dan jarum jam menunjukkan pukul delapan tepat, surat penolakan investasi dari Grand Wijaya Group akan mendarat di meja kerja Ziko.
Dan saat itulah, giliran Mahira yang akan melihat bagaimana rapuhnya harga diri pria yang baru saja mengusirnya malam ini.