NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 — BAHAYA DI DESA TEPI HUTAN

Sinar matahari mulai condong ke barat saat bayangan pepohonan rapat mulai memanjang, menyelimuti jalan setapak yang menuju Desa Tepi Hutan. Udara yang tadinya sejuk perlahan berubah terasa berat, seolah ada tekanan tak kasat mata yang menekan dari segala arah. Burung-burung yang biasanya bersahutan riang kini telah lenyap, berganti dengan kesunyian yang mencekam, dihuni hanya oleh suara dedaunan yang berdesir perlahan ditiup angin.

Haruto melangkah di belakang Mizuna, tangannya tak sadarkan diri meremas ujung jubah kainnya. Di dalam dadanya, aliran mana berdenyut perlahan namun mantap, memberi sinyal halus bahwa sesuatu yang tidak biasa sedang mengintai dari balik kegelapan. Pochi yang sedari tadi duduk tenang di bahunya tiba-tiba berdiri tegak, tubuh bulatnya sedikit mengembang, matanya yang bulat bersinar biru lembut seolah memberi peringatan.

"Ada sesuatu..." gumam Haruto pelan, matanya menyapu tajam ke arah semak belukar yang semakin rimbun di sisi kiri jalan. "Suasananya... berubah drastis."

Mizuna yang berjalan di depan seketika berhenti. Tangan kanannya merapat pada gagang tongkat kristal yang terselip di pinggang. Wajahnya yang tenang kini tampak sedikit lebih tegang, namun suaranya tetap rendah dan terkendali.

"Aku pun merasakannya," jawab Mizuna berwibawa, matanya menatap tajam ke arah jurang gelap yang terbentang di depan. "Aliran air di tanah ini terasa bergejolak, seolah ada kebencian dan kekerasan yang mencemari sumbernya."

Daichi yang berjalan di sebelah kanan segera melangkah selangkah lebih maju, pedang panjangnya sudah terhunus separuh dari sarungnya. Tatapan matanya tajam menelusuri celah-celah bayangan di kejauhan.

"Lihat ke sana..." tunjuknya dengan ujung pedang, suara rendah namun penuh peringatan. "Di balik dahan-dahan besar itu."

Haruto memusatkan pandangannya, menyisipkan sejumput energi penglihatan yang diajarkan Ryuusen. Perlahan, kabut samar di pandangannya menipis. Napasnya tertahan seketika.

Dari balik rimbunan semak belukar, sepasang mata merah menyala menatap tajam. Lalu sepasang lagi. Dan semakin banyak, hingga puluhan titik cahaya merah itu berkilauan bagai bara api yang menyala di tengah malam pekat. Suara geraman rendah, kasar dan menggeram, terdengar saling bersahutan, bergema di antara pepohonan.

Itu bukan sekadar kawanan hewan buas.

Tiba-tiba, dengan satu gerakan serentak, makhluk-makhluk itu melompat keluar menuju jalan terbuka. Kulit mereka berwarna hijau gelap kusam, tubuh lebih besar dan kekar dibandingkan goblin biasa, cakar-cakar di tangan dan kaki terlihat panjang dan berkilau tajam, sementara tanduk pendek melengkung di dahi mereka. Aura jahat yang memancar dari tubuh setiap makhluk itu terasa jauh lebih pekat dan berbahaya.

"Goblin Tingkat 2!" seru Daichi, seketika menghunuskan pedangnya sepenuhnya hingga terdengar suara nyaring logam beradu. "Jauh lebih kuat dan buas dibandingkan yang biasa kita temui!"

Mizuna melangkah ke depan, berdiri sejajar dengan Daichi. Cahaya biru samar mulai menyelimuti tubuhnya, membentuk perisai transparan yang berkilauan di udara.

"Jangan biarkan mereka mendekat ke desa," perintah Mizuna tegas, matanya berkilau biru. "Kekuatan mereka jauh lebih besar dari goblin biasa, dan kemungkinan besar telah dipengaruhi oleh energi gelap yang menyebar di hutan ini."

Haruto melangkah maju hingga berdiri di samping Mizuna. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena takut. Di dalam dadanya, aliran air yang tenang perlahan berubah menjadi arus yang deras, siap meluap bila diperlukan. Ia mengangkat kedua telapak tangannya ke depan, mengingat kembali ajaran Guru Ryuusen: Air tidak melawan, namun mengalir, membelah, dan melindungi. Ikuti irama musuh, lalu balut dengan kekuatanmu sendiri.

"Haruto," panggil Mizuna tanpa menoleh, suaranya terdengar jernih dan tegas di tengah suara geraman yang semakin mendekat. "Kita bekerja sama. Aku akan membentuk aliran besar, kau arahkan dan kendalikan agar tidak melukai desa maupun warga. Bisa kau lakukan?"

Haruto mengangguk mantap, rasa ragu yang dulu sering menghampirinya kini telah lenyap digantikan keyakinan yang dalam.

"Siap! Aku akan menjaga aliran air itu tetap di jalurnya!"

Mereka berbicara seketika kawanan goblin itu melesat maju bagai anak panah, cakar-cakar tajam terangkat siap menyambar. Suara raungan kasar membelah udara, disertai bau anyir yang menyengat.

"Sekarang!" bentak Mizuna.

Dengan satu ayunan tangan yang cepat dan mantap, Mizuna melontarkan sihirnya. Dari tanah yang lembap di tepi jalan, air seketika menyembur tinggi ke udara, berputar dengan kecepatan luar biasa membentuk dinding air tebal yang menghadang jalan kawanan goblin itu. Suara benturan terdengar dahsyat saat tubuh-tubuh kasar mereka menabrak tembok air itu, namun aliran yang diciptakan Mizuna begitu kuat hingga mereka terpental mundur serempak.

Namun goblin-goblin itu tidak menyerah. Dengan geraman penuh amarah, mereka kembali bangkit, mengerahkan kekuatan tubuh yang luar biasa untuk mendorong dan merobek dinding air itu. Retakan-retakan halus mulai tampak di permukaan tembok pertahanan Mizuna.

"Kekuatan fisik mereka terlalu besar!" seru Mizuna, keringat halus mulai tampak di pelipisnya. "Aku tidak bisa menahan mereka terlalu lama sendirian!"

"Sekarang giliranku!" seru Haruto lantang.

Ia merentangkan kedua tangannya, lalu seketika menariknya ke arah diri sendiri sambil memutar pergelangan tangan dengan gerakan mengalir lembut namun penuh tenaga. Air yang tadinya membentuk tembok pertahanan seketika berubah sifat. Bagian luarnya tetap teguh menahan serangan, sementara bagian dalamnya berputar semakin cepat, membentuk pusaran air raksasa yang melilit dan menyeret tubuh-tubuh goblin itu ke tengah.

"Air bukan sekadar menahan..." gumam Haruto, matanya terpejam sesaat untuk menyelaraskan napas dan aliran mananya. "...melainkan mengarahkan!"

Pusaran air itu seketika berputar makin deras, membelokkan arah serangan mereka, lalu dengan satu gerakan tangan Haruto menghempaskan ujung pusaran itu ke samping, menjauh dari jalan menuju desa. Tubuh-tubuh goblin itu terlempar berputar bersama air, jatuh menabrak semak belukar di sisi lain hutan dengan suara benturan yang bergema.

Namun kawanan itu jumlahnya banyak. Yang terlempar baru saja bangkit, sementara kelompok lain melancarkan serangan dari sisi yang berbeda, berusaha menyelinap di antara pepohonan untuk menghindari aliran air yang kuat.

"Mereka mencoba memisahkan kita!" seru Daichi yang kini sibuk menangkis serangan dua ekor goblin yang melompat tiba-tiba dari atas dahan. "Haruto, sebelah kanan!"

Haruto menoleh seketika. Tiga ekor goblin melesat cepat berusaha melewati sisi kanan, meluncur menuju jalan yang menurun ke arah desa. Jika mereka lolos, rumah-rumah kayu warga akan menjadi sasaran pertama.

"Jangan sampai kalian lewat!"

Haruto merapatkan kedua telapak tangannya, lalu membukanya perlahan seolah menarik sesuatu dari dalam tanah. Air dari tanah lembap dan embun di dedaunan seketika terangkat, berkumpul dengan cepat di depannya, berubah wujud menjadi ratusan cambuk air yang panjang dan lentur. Dengan satu ayunan tangan ke depan, seluruh cambuk itu melesat serentak.

Prak! Prak! Prak!

Suara benturan terdengar beruntun. Setiap cambuk air itu melilit tubuh, tangan, dan kaki ketiga goblin itu, mengikat mereka erat hingga tak mampu bergerak sedikit pun. Haruto menarik kembali tangannya, dan ketiga makhluk itu terangkat tinggi ke udara, lalu terlempar lembut namun pasti menumpuk di tempat yang jauh dari jalan menuju desa.

Mizuna yang melihat itu ikut mengangguk kagum, namun tangannya tak berhenti melancarkan sihir.

"Kerja samamu sangat baik, Haruto!" seru Mizuna sambil melontarkan peluru-peluru air keras yang menghantam kawanan goblin dari jarak jauh. "Tapi mereka terus datang! Kita harus menahan mereka semua agar tidak ada yang lolos!"

"Aku mengerti!" jawab Haruto.

Ia menarik napas dalam-dalam, menyatukan kekuatan batinnya dengan aliran air di seluruh kawasan itu. Pochi di bahunya tiba-tiba melompat ke udara, memancarkan cahaya biru yang menyebar luas. Cahaya itu menyatu dengan sihir Haruto, membuat aliran air yang dikendalikannya tiba-tiba menjadi lebih deras, lebih kuat, dan jauh lebih terang benderang.

Bersama-sama, Mizuna dan Haruto melancarkan serangan beruntun yang saling melengkapi. Mizuna menciptakan gelombang besar dan tembok pertahanan yang kokoh untuk menghadang di jalur utama, sementara Haruto membagi aliran air menjadi banyak lengan-lengan yang lentur, menyapu bersih setiap sisi yang mungkin disusupi musuh. Air yang diciptakan Mizuna memberi kekuatan besar, sementara kendali Haruto memastikan tidak ada tetes pun yang melukai tanah desa atau bangunan warga.

Satu per satu goblin yang berusaha mendekat terhadang, terikat, lalu terlempar menjauh. Suara raungan kemarahan mereka perlahan berubah menjadi jerit kesakitan, hingga akhirnya sisa kawanan yang merasa tak mampu menembus pertahanan itu mulai mundur ketakutan, melarikan diri kembali ke dalam kegelapan hutan yang dalam.

Haruto berdiri terengah-engah, kedua tangannya menumpu pada lutut. Keringat membasahi wajahnya, napasnya terasa berat namun teratur. Di depannya, air perlahan turun kembali ke tanah, membawa serta debu dan kotoran, meninggalkan jalan yang bersih dan aman.

Mizuna berdiri tak jauh darinya, napasnya pun sedikit memburu. Ia menatap ke arah hutan yang kini kembali sunyi, lalu berbalik menatap Haruto dengan pandangan yang penuh kekaguman sekaligus kebanggaan.

"Kau melakukannya dengan sangat baik, Haruto," ucap Mizuna lembut namun tegas. "Kau tidak hanya menguasai sihir, tetapi juga mengerti hakikat bekerja sama dan melindungi. Itu jauh lebih berharga daripada sekadar kekuatan besar."

Daichi berjalan menghampiri sambil menyelipkan kembali pedangnya ke sarung, lalu menepuk bahu Haruto dengan senyum lebar.

"Hebat sekali! Tanpa kau menjaga sisi kanan dan mengatur aliran air itu, pasti sudah banyak yang lolos masuk ke desa. Kerja samamu dengan Mizuna sungguh luar biasa!"

Haruto tersenyum canggung, lalu kembali menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya sedikit memerah menahan malu.

"Haha... sebenarnya aku hanya berusaha mengikuti irama yang Mizuna ciptakan saja. Kalau tidak ada dia, aku pasti sudah kebingungan menahan mereka semua sendirian."

Pochi melompat turun dan mendarat tepat di pundaknya, lalu menggesekkan tubuhnya ke pipi Haruto sambil berseru riang.

"Pyoo! Pyoo!"

Haruto tertawa kecil sambil mengusap kepala slime biru itu. Cahaya matahari terbenam menyinari wajah mereka berdua, Daichi, dan Mizuna yang berdiri melindungi jalan masuk desa. Desa di bawah sana tampak tenang, asap dapur mulai mengepul tipis, dan tak seorang pun warga menyadari bahwa bahaya maut baru saja berlalu di depan mata mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!