NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤
"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"
"MarcoI—itu apa?"
"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."
"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"
"Ssstttt, Cobalah... "
"Ini sakit!"
"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"
"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"
Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.
Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Di dalam kamarnya, Marco merebahkan tubuh di atas ranjang dengan kedua tangan terlipat di belakang kepala. Tatapannya lurus ke langit-langit kamar, tetapi pikirannya sama sekali tidak tenang.
Entah mengapa, bayangan Liora terus memenuhi benaknya. Senyum gadis itu, tatapan matanya, hingga tingkah polos yang terkadang membuatnya tersenyum sendiri, semuanya berputar tanpa henti.
Marco mengembuskan napas panjang.
"Ada apa denganku? Akhir-akhir ini aneh." gumamnya pelan.
Jika dipikir-pikir, mereka memang bukan saudara sedarah. Hubungan mereka hanya sebatas keluarga karena ikatan yang dibangun oleh Mauren. Namun justru kenyataan itulah yang membuat Marco semakin gelisah.
Ntah hanya Marco yang merasakan. Ya mungkin hanya Marco saja. Liora tidak.
Perasaan yang mulai tumbuh di dalam hatinya terasa salah sekaligus membingungkan. Ia tidak pernah membayangkan akan memikirkan Liora sejauh ini.
"Jangan-jangan, aku benar-benar mulai menyukainya?"
Marco segera menutup wajahnya dengan lengan, seolah ingin mengusir pikiran itu. Namun semakin ia berusaha menyangkal, semakin jelas wajah Liora muncul di benaknya.
"Kalau memang ini perasaan yang sesungguhnya, apa yang akan terjadi nanti?" bisiknya lirih.
Ia sadar, jalan di depan mereka tidak akan mudah. Meski tidak memiliki hubungan darah, orang-orang tetap mengenal mereka sebagai keluarga. Akan ada banyak pertanyaan, penilaian, bahkan mungkin penolakan.
Marco memejamkan mata rapat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang selalu tenang dan tegas itu merasa benar-benar bingung menghadapi isi hatinya sendiri.
Malam semakin larut. Hening menyelimuti mansion, hanya suara samar angin yang menyelinap dari balik jendela balkon.
Marco masih berbaring di posisi yang sama. Setelah bergulat cukup lama dengan pikirannya sendiri, ia akhirnya mengembuskan napas panjang dan menggeleng pelan.
"Cukup... untuk malam ini."
Ia menyadari, terus memikirkan hal yang belum tentu memiliki jawaban hanya akan membuat kepalanya semakin penuh. Besok ia sudah berjanji kepada Liora untuk mengajaknya berkeliling Amsterdam. Ia tidak ingin rencana itu berantakan hanya karena pikirannya yang kacau.
Dengan malas, Marco bangkit dari ranjang. Ia berjalan menuju balkon, memandang gemerlap lampu kota Amsterdam yang terlihat begitu indah dari kejauhan. Pantulan cahaya di kanal-kanal kota menciptakan pemandangan yang menenangkan.
"Besok, nikmati saja waktunya dengan gadis culun," gumamnya pada diri sendiri.
Ia memutuskan untuk berhenti memaksa dirinya mencari jawaban atas perasaannya malam ini. Apa pun yang sedang tumbuh di dalam hatinya, biarlah waktu yang menjawabnya.
Marco kemudian menutup pintu balkon dan melirik jam di nakas. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.
"Kalau terus begini, aku yang akan terlambat untuk bangun besok pagi."
Senyum tipis tanpa sadar terukir di bibirnya saat membayangkan ekspresi Liora yang mungkin akan mengomel jika ia datang terlambat. Bayangan itu justru membuat dadanya terasa lebih ringan.
Ia mengambil pakaian santai, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Air hangat membantu meredakan ketegangan yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
Beberapa menit kemudian, Marco kembali ke tempat tidur. Kali ini ia mematikan lampu kamar, menyisakan cahaya rembulan yang masuk melalui celah tirai.
"Selamat malam, Liora..." bisiknya lirih, tanpa sadar.
Tak lama kemudian, rasa lelah mengalahkan segala kegelisahan. Kantuk menyerang begitu kuat. Kelopak matanya perlahan terpejam, membawa Marco terlelap dengan satu harapan sederhana—semoga esok menjadi hari yang menyenangkan bagi mereka berdua saat menjelajahi indahnya kota Amsterdam.