NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Identitas Tersembunyi / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Kirana tidak pulang ke kontrakan malam itu.

Ia meminta Raka menurunkannya di rumah Laras.

Raka tidak membantah. Mungkin karena ia tahu ia tidak punya hak untuk menahan. Mungkin karena wajah Kirana cukup jelas mengatakan bahwa jika ia memaksa, sesuatu di antara mereka akan patah lebih jauh.

Laras menggenggam tangan Kirana saat turun.

"Mas Raka..." Laras ragu.

Raka menatap Kirana, bukan Laras.

"Saya tunggu kabarmu."

Kirana tidak menjawab.

Mobil itu pergi.

Begitu pintu kamar kos Laras tertutup, Kirana duduk di lantai dan akhirnya menangis.

Tidak keras. Tidak dramatis. Hanya air mata yang keluar tanpa suara, seperti tubuhnya baru sadar bahwa hari itu terlalu panjang.

Laras duduk di depannya.

"Ki..."

"Aku bodoh sekali."

"Tidak."

"Aku menghitung uang makan untuk orang yang punya grup besar."

Laras menahan senyum sedih. "Itu memang agak..."

Kirana menatapnya.

"Maaf."

Kirana mengusap pipi. "Aku marah bukan karena dia kaya. Aku marah karena semua orang tahu kecuali aku."

"Aku juga baru tahu."

"Bima tahu. Pak Surya tahu. Staf hotel mungkin curiga. Bu Ratna tahu ada sesuatu. Nadira mengejar karena curiga. Aku satu-satunya yang masih menyuruh dia cari kerja."

Laras menggigit bibir agar tidak tertawa di waktu yang salah.

Kirana menutup wajah. "Jangan tertawa."

"Aku tidak."

"Kamu tertawa di dalam."

"Sedikit."

Kirana akhirnya tertawa juga, tapi air matanya belum berhenti.

Tawa itu lebih menyakitkan daripada tangis.

Di tempat lain, Raka kembali ke kontrakan yang berantakan. Bima berdiri di ruang depan, menunggu instruksi.

"Perbaiki pintu. Pasang CCTV kecil di gang dengan izin pemilik kontrakan. Tapi jangan terlalu mencolok."

"Baik, Pak."

"Dan mobil?"

"Sudah saya bawa ke bengkel. Soal cicilan Bu Kirana..."

Raka menatapnya.

Bima menunduk. "Saya tidak akan menagih sampai ada arahan."

"Jangan hapus dokumennya."

Bima terkejut. "Pak?"

"Kalau dokumen hilang, dia makin marah. Untuk sekarang biarkan."

Bima mengangguk.

Raka masuk ke kamar Kirana untuk mengambil baju yang berserakan akibat pencurian. Ia melipat satu per satu dengan canggung. Di bawah bantal, ia menemukan catatan kecil Kirana.

Pengeluaran bulan ini.

Sewa.

Listrik.

Makan.

Transport.

Cicilan mobil.

Raka duduk di tepi kasur.

Ia punya uang untuk membeli gedung tempat hotel itu berdiri, tetapi ia tidak bisa membeli kembali satu hal yang lebih penting: rasa aman Kirana saat percaya padanya.

Pagi harinya, Kirana tetap masuk kerja.

Matanya sembap, tapi ia memakai seragam rapi. Chef Arman melihatnya dan tidak bertanya. Ia hanya memberi tugas yang tidak terlalu berat pagi itu.

Kirana menghargai diamnya.

Namun diam itu tidak bertahan lama.

Berita tentang Raka Mahendra menyebar lebih cepat daripada aroma bawang putih di dapur.

Entah siapa yang membocorkan, beberapa staf sudah tahu bahwa laki-laki yang sering menunggu Kirana di lobby adalah pemegang kendali Mahendra Group. Tidak ada berita resmi, tapi bisikan cukup.

Lala menghampiri Kirana dengan mata melebar.

"Mbak..."

"Kalau kamu bertanya apakah itu benar, aku juga baru tahu."

Lala menutup mulut. "Ya Allah."

"Jangan lanjut."

"Aku cuma mau bilang, kemarin aku sempat bilang dia terlalu ganteng untuk biasa. Ternyata aku benar."

Kirana menatapnya.

Lala langsung mundur. "Aku kerja dulu."

Bowo mendengar gosip itu dan wajahnya berubah sepanjang hari. Ia tidak lagi berani berkomentar keras. Namun orang seperti Bowo tidak hilang hanya karena takut. Ia hanya mencari cara lain.

Kesempatan datang saat jam makan siang tamu.

Salah satu tamu private mengeluh sup rempah terlalu asin dan membuat tenggorokan tidak nyaman. Pak Dimas memanggil dapur. Bowo langsung maju.

"Itu pasti bagian Kirana. Menu wellness kan dia yang pegang."

Kirana menoleh. "Aku belum menyentuh batch siang ini."

Bowo berkata cepat, "Tapi resepmu."

Chef Arman mengambil mangkuk sample dari batch dapur dan mencicipi. Wajahnya berubah.

Terlalu asin.

Kirana mencicipi dengan sendok lain. Ia langsung tahu ada sesuatu yang salah.

"Ini bukan takaran saya."

Bowo menghela napas. "Sekarang kamu mau menyalahkan siapa lagi?"

Dulu, mungkin Kirana akan panik. Akan mencoba menjelaskan sambil semua orang memandangnya. Akan merasa bersalah karena namanya ada di menu itu.

Hari ini ia meletakkan sendok dengan tenang.

"Chef, saya minta cek log persiapan dan CCTV area kompor."

Bowo tertawa. "Apa semua masalah harus CCTV?"

Kirana menatapnya. "Kalau orang jujur tidak takut kamera."

Chef Arman langsung memanggil security. Sambil menunggu rekaman, Kirana meminta izin membuat batch baru untuk tamu agar service tidak berhenti. Chef Arman mengangguk.

Ia bekerja cepat. Kaldu baru, rempah baru, takaran garam dari wadah tersegel. Dalam dua puluh menit, pengganti siap dikirim. Pak Dimas melaporkan tamu menerima permintaan maaf dan menu baru.

Lalu rekaman datang.

Di layar, terlihat Bowo masuk ke station wellness saat Kirana berada di cold room. Ia membuka panci, memasukkan sesuatu dari genggaman tangan, lalu menutupnya lagi.

Ruangan dapur hening.

Bowo langsung membantah. "Saya hanya cek rasa!"

Chef Arman menatapnya. "Dengan membawa garam sendiri?"

"Itu... saya pikir kurang."

"Tanpa izin penanggung jawab menu?"

Bowo mencari alasan. "Saya senior. Saya berhak memastikan kualitas."

Kirana menatapnya.

"Tidak. Bapak tidak memastikan kualitas. Bapak memastikan aku jatuh."

Bowo menunjuknya. "Jangan bicara begitu pada orang yang membesarkanmu!"

Dapur makin hening.

Kirana merasa semua mata menoleh. Dulu kalimat itu selalu menjadi rantai di lehernya.

Hari ini ia memutusnya.

"Bapak memberi makan aku, iya. Tapi Bapak juga membiarkan aku dihina, dipukul, dan dijadikan tempat membuang salah. Kalau itu yang Bapak sebut membesarkan, maka mulai hari ini aku berhenti membayar utang itu."

Wajah Bowo pucat.

Chef Arman berkata tegas, "Bowo, kamu keluar dari dapur sekarang. HR akan proses."

"Chef..."

"Sekarang."

Bowo melepas celemek dengan tangan gemetar. Sebelum pergi, ia menatap Kirana penuh kebencian.

"Kamu akan menyesal."

Kirana menjawab pelan, "Tidak lebih dari aku menyesal pernah diam."

Bowo pergi.

Beberapa staf menunduk, tidak berani bicara. Lala diam-diam menyentuh bahu Kirana.

Kirana menarik napas.

Ia tidak merasa menang.

Ia hanya merasa sedikit lebih ringan.

Sore itu, Pak Dimas mengatakan HR akan menangguhkan Bowo selama investigasi. Menu wellness tetap berjalan. Chef Arman meminta Kirana pulang lebih awal.

Di pintu belakang hotel, Raka menunggu.

Tidak di lobby.

Tidak dengan mobil mencolok.

Ia berdiri di dekat gerbang staf, memakai kemeja sederhana, seperti dulu.

Kirana berhenti.

"Aku tidak minta dijemput."

"Saya tahu."

"Kenapa datang?"

"Karena saya ingin minta maaf di tempat yang tidak membuatmu merasa terpojok."

Kirana diam.

Raka melangkah satu kali, lalu berhenti menjaga jarak.

"Saya salah karena tidak jujur. Saya salah karena mengira melindungimu dari jauh cukup. Saya salah karena membiarkanmu memikul hal yang bisa saya ringankan, tanpa memberi pilihan."

Kirana menatapnya.

Ia tidak menyangka Raka akan mengucapkan semuanya sejelas itu.

"Aku masih marah."

"Saya tahu."

"Mungkin lama."

"Saya tunggu."

"Aku tidak suka ditunggu seperti target proyek."

"Kalau begitu saya menemani dari jarak yang kamu izinkan."

Kirana menatap jalan.

"Bowo diskors."

"Saya dengar."

"Dari Bima?"

"Iya."

"Tentu."

Raka hampir tersenyum, tapi menahannya.

Kirana menghela napas. "Aku mau pulang ke kontrakan. Aku harus ambil beberapa barang."

"Saya sudah perbaiki pintu."

"Kamu masuk kontrakan?"

"Bima mengurus dengan pemilik. Saya hanya..."

Kirana menatapnya.

Raka cepat berhenti. "Saya akan belajar meminta izin."

"Bagus."

Mereka berjalan ke jalan besar tanpa saling menyentuh.

Jarak di antara mereka hanya selebar setengah langkah, tetapi Kirana bisa merasakannya seperti pagar. Aneh, karena dulu ia justru tidak keberatan berbagi ruang sempit dengan Raka. Setelah tahu siapa laki-laki itu, ruang di antara mereka terasa lebih besar daripada lobby hotel.

Tapi kali ini Kirana tidak menyuruhnya pergi.

Di rumah Hendra, Nadira mendengar kabar Bowo diskors dan Raka menjemput Kirana. Ia menggenggam gelang di tangannya sampai kulitnya memerah.

Semua bergerak melawan dirinya.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bukan Kirana yang sedang merebut hidupnya.

Ia sendiri yang dulu membuang kunci pintu itu.

1
sukensri hardiati
ni mereka dah nikah belum sih....?
Leha Rahman
lanjut Thor 😊
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!