Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 - Audisi Mahardika
Mahardika Pictures menempati gedung kaca di kawasan bisnis yang penuh orang berpakaian mahal dan tersenyum palsu.
Ayla datang dengan jeans hitam, kemeja putih, dan jaket kulit tipis. Arga datang dengan kemeja rapi dan wajah seolah gedung itu sedang diaudit oleh negara. Reno datang memakai topi dan masker, tetapi tetap saja beberapa staf langsung mengenalinya.
“Kak Reno?”
“Itu Reno Prameswari, kan?”
“Ya ampun, ganteng banget.”
Ayla menatap kakaknya. “Hidupmu berisik.”
Reno memperbaiki masker. “Ini sudah versi sepi.”
Arga menunjukkan identitas pada resepsionis. Senyum resepsionis langsung menegang. “Ada janji, Pak?”
“Sekarang ada.”
Ayla meliriknya. “Kalimatmu membaik.”
“Pengaruh buruk.”
“Sama-sama.”
Reno menatap mereka lagi. “Serius, kalian tidak dekat?”
“Fokus,” kata Arga.
Mereka diarahkan ke lantai lima, tempat audisi film baru berlangsung. Judul proyeknya: Langit Setelah Hujan. Drama aksi dengan latar isu perdagangan manusia dan yayasan sosial. Sangat kebetulan. Terlalu kebetulan.
Di ruang tunggu audisi, puluhan aktor muda duduk dengan naskah di tangan. Alina ada di salah satu sudut, ditemani manajer kecil dari agensi. Wajahnya masih pucat, tetapi riasan membuatnya terlihat rapuh dengan indah.
Begitu melihat Ayla, dia berdiri.
“Kak Ayla?”
Reno mengerutkan dahi. “Kamu tetap ikut audisi?”
Alina menggenggam naskah. “Aku... aku sudah dijadwalkan. Kalau tidak datang, orang akan bertanya.”
Ayla berkata, “Orang sudah bertanya.”
Beberapa aktor di sekitar mulai berbisik. Mereka mengenali Alina dari kampanye yayasan dan Ayla dari video kampus. Drama keluarga Prameswari tampaknya sudah menjadi hiburan publik terbatas.
Seorang pria berkacamata keluar dari ruang audisi. “Reno! Akhirnya datang.”
Reno menyambutnya. “Mas Damar.”
Damar Mahardika, sutradara muda yang sedang naik daun. Rambutnya agak berantakan, matanya tajam, dan kaus hitamnya penuh noda kopi. Dia terlihat seperti orang yang kurang tidur tetapi masih keras kepala mengejar adegan sempurna.
Damar melihat Arga, lalu Ayla. “Ini?”
Arga memperkenalkan diri singkat. “Arga Wiratama. Kami perlu bicara tentang pendanaan proyek ini.”
Senyum Damar hilang. “Pendanaan?”
Ayla melihat reaksi itu.
Damar tampak bingung sungguhan.
Berarti mungkin bukan dia.
Atau dia aktor lebih baik daripada seluruh ruangan ini.
Damar membawa mereka ke ruang rapat kecil. Alina ikut setelah Reno memberi isyarat, meski jelas dia tidak ingin berada di ruangan yang sama dengan Ayla dan Arga.
Arga langsung ke inti. “Siapa investor baru proyek ini?”
Damar membuka laptop. “Secara legal, lewat perusahaan Nusantara Citra Investama. Mereka masuk dua bulan lalu. Kami butuh dana tambahan untuk adegan luar kota dan kampanye sosial.”
Ayla bertanya, “Siapa yang memperkenalkan?”
Damar menunjuk Alina tanpa ragu. “Tim yayasan Prameswari. Katanya ada investor yang tertarik karena isu film ini sejalan dengan kampanye mereka.”
Alina memucat. “Aku hanya menyampaikan kontak dari Pak Raka.”
Reno menatapnya. “Lagi-lagi Raka.”
Alina menunduk.
Arga mengambil data perusahaan dari Lestari melalui ponsel. “Nusantara Citra Investama baru berdiri enam bulan. Pemilik nominee. Alamat kantor virtual.”
Damar mengumpat pelan. “Sial.”
Ayla melihat poster film di dinding. Seorang gadis kecil berdiri di tengah hujan, di belakangnya bayangan pelabuhan.
“Film ini tentang anak hilang?”
Damar mengangguk. “Tentang jaringan perdagangan manusia. Reno jadi penyelidik swasta. Peran pendukung perempuan yang diaudisi hari ini adalah anak keluarga kaya yang memakai yayasan untuk menutup kejahatan.”
Ruangan diam.
Ayla menoleh pada Alina.
“Kamu audisi untuk peran itu?”
Alina menggigit bibir. “Itu hanya peran.”
Ayla hampir tertawa.
Semesta terkadang punya selera humor yang kasar.
Damar menatap Ayla tiba-tiba. “Kamu mau coba?”
Reno kaget. “Mas?”
Damar menunjuk Ayla. “Wajahnya cocok. Energinya juga. Lebih berbahaya.”
Arga berkata datar, “Kami sedang penyelidikan.”
“Lima menit.”
Ayla menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”
Damar mengangguk. “Kamu punya pengalaman akting?”
“Sering pura-pura jadi orang normal.”
Damar menepuk meja. “Bagus. Itu dasar akting.”
Reno menutup wajah. “Mas Damar, tolong jangan.”
Ayla melihat Alina.
Alina mencoba tersenyum. “Kalau Kak Ayla mau mencoba, tentu boleh. Tapi audisi ini sudah lama dipersiapkan. Naskahnya tidak mudah.”
Kalimat lembut dengan jarum lama.
Ayla mengambil naskah dari meja.
“Adegan mana?”
Damar langsung antusias. Dia membuka halaman tertentu. “Ini. Tokoh perempuan ketahuan memakai yayasan untuk menutup jalur obat ilegal. Dia menangis di depan kakaknya, tapi sebenarnya sedang mengulur waktu.”
Reno menatap naskah itu, lalu menatap Alina.
Alina terlihat ingin menghilang.
Ayla membaca cepat. Hanya dua halaman.
“Mulai.”
Damar menyalakan kamera kecil. Reno terpaksa berdiri sebagai lawan main.
Adegan dimulai.
Reno membaca dialog dengan profesional meski situasi terasa aneh. “Kamu tahu ada orang mati karena yayasan itu?”
Ayla menunduk. Bahunya sedikit gemetar.
Ketika dia mengangkat wajah, matanya sudah berkaca-kaca.
Alina membeku.
Ekspresi itu mirip dengannya.
Terlalu mirip.
“Aku tidak tahu,” kata Ayla dengan suara pelan, rapuh, hampir patah. “Aku cuma ingin Mama bangga. Aku cuma ingin semua orang berhenti melihatku seperti anak yang bisa dibuang.”
Reno kehilangan ritme.
Karena kalimat itu tiba-tiba tidak hanya milik naskah.
Ayla melangkah mendekat, air mata tidak jatuh, hanya menggantung sempurna. “Kalau aku salah, Kak, hukum aku. Tapi jangan berhenti menyayangiku. Aku tidak punya apa-apa selain keluarga ini.”
Ruangan sunyi.
Alina pucat seperti kertas.
Lalu Ayla mengubah ekspresi.
Sangat pelan.
Air mata masih ada, tetapi matanya kosong. Sudut bibirnya naik tipis. Tokoh rapuh itu berubah menjadi orang yang sadar tangisannya berhasil.
“Kak,” bisiknya, “kamu percaya aku, kan?”
Reno benar-benar lupa dialog.
Damar menatap monitor seperti menemukan emas.
Arga menatap Ayla, wajahnya sulit dibaca.
Ayla menutup naskah. “Selesai?”
Damar berdiri. “Kamu harus main.”
Alina langsung berkata, “Mas Damar, audisinya belum selesai.”
Damar menoleh. “Aku tahu. Tapi dia cocok.”
“Aku sudah mempersiapkan peran ini berminggu-minggu.”
Ayla melihatnya. “Kamu seharusnya lebih siap. Tokohnya dekat dengan pengalamanmu.”
Alina gemetar. “Kak Ayla!”
Reno akhirnya berkata, “Alina, cukup.”
Sekali lagi, Alina terdiam karena Reno tidak membelanya.
Arga memotong sebelum drama melebar. “Pak Damar, kami butuh semua dokumen pendanaan, kontrak investor, dan komunikasi dengan pihak yayasan.”
Damar mengangguk cepat. “Saya siapkan.”
Ayla meletakkan naskah di meja. “Aku tidak main film.”
Damar langsung protes, “Kenapa?”
“Aku sibuk.”
“Dengan apa?”
Arga menjawab, “Tidak membuat masalah.”
Ayla tersenyum. “Katanya.”
Damar tampak kecewa seperti anak kehilangan mainan.
Di luar ruang rapat, seorang staf mengetuk pintu. “Mas Damar, perwakilan investor datang. Katanya mau melihat proses audisi.”
Arga dan Ayla saling pandang.
Damar mengerutkan dahi. “Investor siapa?”
Staf melihat catatan. “Nusantara Citra. Namanya Ibu Maya Kirana.”
Ayla berhenti.
Reno bertanya, “Kamu kenal?”
Ayla tertawa pelan.
Arga menangkap perubahan itu. “Siapa dia?”
Pintu terbuka sebelum Ayla menjawab.
Seorang perempuan cantik masuk dengan kacamata hitam, blazer merah, dan senyum mahal.
Maya Kirana melepas kacamata.
“Halo, Ayla kecil.”
Ayla memijat pelipis.
“Kenapa kamu di sini?”
Maya tersenyum pada semua orang.
“Tentu saja untuk melihat siapa yang berani memakai uang palsu atas nama investorku.”
Ruangan kembali sunyi.
Hari audisi Mahardika resmi berubah menjadi jauh lebih mahal.
Sebelum siapa pun sempat bicara, Maya berjalan ke tengah ruangan dan melihat poster film di dinding.
“Cerita tentang yayasan busuk?” tanyanya.
Damar menjawab pelan, “Tentang penyalahgunaan yayasan untuk menutup perdagangan manusia.”
Maya menoleh pada Alina. “Wah. Risetnya dekat sekali.”
Alina tampak ingin menangis, tetapi kali ini air matanya seperti takut keluar.
Reno berdiri di antara mereka tanpa sadar. Gerakan kecil itu tidak luput dari Ayla. Reno masih melindungi Alina, tetapi tidak secepat dulu. Sekarang ada jeda. Ada pikiran. Ada luka.
Maya melihat Reno, lalu tersenyum. “Kamu kakaknya?”
Reno menjawab, “Saya Reno.”
“Aku tahu. Wajahmu sering ada di billboard. Aktingmu lumayan.”
Damar spontan berkata, “Lumayan? Dia aktor utama saya.”
“Aku bilang lumayan karena belum lihat dia menangis sungguhan.”
Reno tidak tahu apakah itu pujian atau penghinaan.
Ayla berkata, “Maya, fokus.”
“Aku fokus. Aku sedang membaca ruangan.”
Arga menatap Maya dengan hati-hati. Dalam beberapa menit, perempuan itu sudah menggeser kendali suasana tanpa menyentuh dokumen apa pun. Jika Ayla adalah pisau, Maya adalah kontrak yang ditulis dengan tinta mahal dan klausul mematikan.
Dan kini dua dunia itu berdiri di ruang audisi yang sama.