Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 24
JANGAN ULANGI YANG KEDUA KALINYA
Di dalam kamar. Myra masih terdiam dan duduk di tepi ranjang. Hingga dia berdiri menatap dari balik jendela besar yang langsung menuju ke mansion.
Di sana. Dia melihat Hana dan Pikkey baru saja pergi dengan mobil masing-masing, entah mau ke mana?
“Di mana Silas?” gumamnya tatkala dia tak melihat suaminya turut mengantar Hana dan Pikkey ke halaman, karena hanya ada Kael yang berdiri di sana.
Tanpa Myra sadari, ia terkejut kaget mendengar pintu terbuka dan Silas masuk sembari menatap tajam ke Myra yang juga tegang melihatnya.
“Kenapa kau belum tidur?”
“Ak-aku masih belum mengantuk.” jawab Myra.
Pria itu berkerut alis, melangkah maju dengan langkah panjang yang langsung menarik tangan kiri Myra sampai wanita itu meringis sakit dan Silas melihat perban di lengan istrinya.
“Bagaimana kau bisa terluka?”
Pria itu masih mencengkram lengan Myra. Sementara Myra nampak gugup.
“Aku tidak sengaja tergores serpihan kaca.”
Silas langsung berbalik keluar dari kamar sambil berucap lantang dan keras. “PENELOPE!”
Sadar Silas akan mengumpulkan para pelayan. Myra segera menarik kasar lengannya dan menatapnya tajam. “Apa yang kau lakukan?”
“Mencari pelaku yang sudah membuat serpihan kaca itu.”
Tentu saja wanita itu terkejut dan mencoba menghalangi langkah Silas hingga suara Silas.
“Jangan konyol, Silas. Ini hanya goresan dan hal sepeleh, kau mau menghukum seseorang?”
“Iya.” pria itu menatapnya lekat dan tajam, penuh emosi. “Karena aku tidak suka milikku dirusak.”
Keduanya saling beradu pandang. Myra menepis kasar tangan Silas. “Aku bukan milikmu. Dan berhentilah bersikap seperti monster pembunuh.”
Pria itu terdiam. Hingga Penelope datang dengan tergesa-gesa dan panik.
“Tuan, apa ada sesuatu?” tanya wanita itu penuh kecemasan.
Sementara Silas dan Myra masih saling memandang tanpa berpaling. Dan Silas berkata tegas. “Cari siapapun yang sudah membuat kaca pecah dan menggores lengannya.”
Mata Penelope sekilas melirik ke perban di lengan kiri Myra.
“Tidak perlu, Bibi Penelope. Karena aku berbohong.” tegas Myra yang semakin membuat kepala pelayan itu bingung dan Silas semakin mengernyit marah.
Dan Myra menoleh ke Penelope. “Pergilah. Aku akan menyelesaikan urusan ku dengan suami pemarah ku ini.” ujar Myra yang tentunya dipatuhi oleh Penelope.
Pelayan itu segera pergi meninggalkan kedua orang tadi di lorong kamar.
Saat Myra tak lagi menatap Silas. Silas masih menatapnya lekat. “Dari mana kau mendapatkan luka itu?”
“Wanita yang datang dengan pistol dan mencarimu sambil marah-marah karena kehilangan putranya, Elion.” jelas Myra tanpa basa-basi sehingga Silas langsung tahu siapa wanita itu.
...***...
Di kediaman Bianco, gerbang besi besar terbuka dengan suara berderit berat.
Markie terhuyung masuk. Gaunnya kotor oleh debu jalanan dan bercak darah kering. Rambutnya kusut, napasnya tidak teratur. Di tangan kanannya, pistol masih ia genggam erat, meski jarinya bergetar karena marah dan lelah.
Suasana ruang utama yang biasanya tenang mendadak pecah oleh teriakan.
“MARKIE?!”
Oona berdiri kaget dari sofa dengan wajah pucat. Matanya melebar melihat ujung pistol yang mengarah lurus ke arah mereka bertiga.
“Kalian!” suara Markie serak namun penuh kebencian. “Kalian yang menyerangku di jalan! Kalian yang ingin membunuhku, kan!”
Amber Bianco, wanita paruh baya dengan dandanan sempurna, tidak bergeming. Ia menyandarkan punggung di kursi, lalu menyeringai tipis.
“Omong kosong apa itu? Mana buktinya?” ucapnya santai, seolah menuduh itu hanyalah candaan. “Kau datang ke rumah kami dengan kondisi seperti pengemis, menodongkan senjata, dan berani menuduh keluarga Bianco?”
Markie membuka mulut hendak menjawab, namun tidak ada kata yang keluar. Ia memang tidak memiliki bukti. Hanya firasat dan kemarahan yang membakar dadanya.
Dalam sekejap, dari arah belakang, terdengar suara letusan kecil yang teredam.
Darr! Dar!
Dua peluru menghantam betis Markie. Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan. Ia menjerit, lalu jatuh berlutut di lantai marmer putih. Pistol terlepas dari genggamannya dan menggelinding jauh.
Pedro berdiri dengan pistol masih mengepul di tangannya. Wajahnya dingin tanpa ekspresi.
“Berhati-hatilah saat berbicara, Nyonya Wolfe.” ucapnya datar. “Apalagi jika kau hendak menuduh.”
Markie menggeliat kesakitan. Kedua tangannya menekan lukanya. Darah segar merembes cepat dan mengotori lantai. “Sialan... kalian... FUCK YOU ALL!” umpatnya di antara isakan.
Suasana semakin tegang ketika terdengar suara tongkat kayu mengetuk lantai.
Tok. Tok. Tok.
Fernando Bianco muncul dari lorong. Tubuhnya tua, matanya buta, namun wibawanya membuat seluruh ruangan terdiam. Di tangan kanannya ia menggenggam tongkat penopang dari kayu jati. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam tongkat itu tersembunyi sebilah pedang tipis.
“Cukup.” suara Fernando berat dan berwibawa.
Pedro menurunkan senjatanya. Amber dan Oona seketika menunduk, tidak berani bersuara.
“Jangan ada yang menyentuhnya lagi.” lanjut Fernando. “Jika ada yang berani melukai tamu di rumah ini, maka ia akan berhadapan denganku terlebih dahulu.”
“Dia menuduh kita, Kakek!” protes Pedro, nadanya meninggi.
Fernando menoleh ke arah suara itu. Meski buta, tatapannya seolah menembus. “Maka buktikan. Bukan dengan menembak betisnya seperti pengecut.”
Ia memberi isyarat dengan dagu. Dua orang anak buah segera maju dan mengangkat tubuh Markie yang masih merintih.
“Bawa ke kamar. Panggil dokter. Obati dia.” perintah Fernando.
Setelah Markie dibawa pergi, Fernando berbalik menghadap menantunya.
“Amber.”
Amber menegakkan tubuh. “Ya, Ayah.”
“Jika kau dan anak-anakmu masih ingin bermain kotor dan membuat nama Bianco menjadi bahan gunjingan, maka aku sendiri yang akan mengakhiri semuanya. Dan itu bukan ancaman.”
Pedro tidak terima. Ia melangkah maju. “Sampai kapan Kakek akan bertahan dengan cara lama? Bianco butuh perkembangan. Bianco tidak boleh tumbang. Apalagi jatuh ke tangan orang asing seperti kehancuran Wolfe.”
Fernando diam beberapa detik. Wajahnya tenang mengingat putrinya, Lynda Wolfe.
“Wolfe.” ulang Fernando pelan. “Lynda sudah tiada. Dan Silas... dia adalah korban yang bisa menyerang balik kapan saja. Jangan pernah berurusan dengannya lagi.”
Tanpa menunggu jawaban, Fernando berbalik dan masuk ke ruang kerjanya. Tongkatnya kembali berbunyi, meninggalkan tiga orang yang masih berdiri kaku di tempatnya. Di lantai, jejak darah Markie masih membekas.
Sementara di kediaman Wolfe, lorong menuju pintu utama terasa begitu panjang.
Langkahnya terhenti ketika sebuah tangan kecil menahan pergelangan tangannya.
Dan Myra masih berdiri di sana. Wajahnya marah, namun matanya menyimpan ketegasan. “Jangan pergi.” ucap Myra pelan.
Silas menoleh. “Lepaskan.”
“Aku tidak akan melepas jika kau pergi untuk membalas wanita itu.”
“Markie pantas menerima akibatnya.” jawab Silas dingin. “Darah harus dibayar dengan darah.”
Myra menggeleng. Cengkeramannya menguat. “Jika kau menghabisinya, maka kau sama saja membunuh orang tua terakhir yang dimiliki Elina. Setelah kau menghabisi ayahnya.”
Kalimat itu menghantam Silas seperti palu.
Langkahnya berhenti total. Rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya, sorot mata Silas berubah. Bukan marah. Bukan dingin. Melainkan terkejut dan terluka.
Ia menoleh perlahan ke arah Myra yang tak punya pilihan lain selain mengatakan apa yang dia dengar dari percakapan Markie dan Silas waktu di halaman.