NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Bantuan

☘️ FLASHBACK

Seminggu setelah segala urusan utang dan pengobatan selesai diurus, suasana di rumah kontrakan keluarga Reyhan terasa jauh lebih tenang.

Beban yang selama ini membebani pikiran perlahan mulai terangkat, meski tempat tinggal mereka masih tetap sederhana.

Pagi itu, Reyhan sedang memperbaiki atap seng yang agak bocor, sementara Alesha membereskan ruang tamu seadanya agar terlihat lebih rapi. Ibu Zaskia yang kondisinya sudah mulai membaik dan diperbolehkan pulang sementara dari rumah sakit, duduk bersandar di kursi kayu sambil mengamati putri dan suaminya dengan tatapan yang lebih tenang dari biasanya.

Belum lama mereka sibuk menata rumah, terdengar suara kendaraan mewah berhenti tepat di depan halaman. Reyhan segera menoleh, lalu tersadar bahwa itu pasti keluarga Argantara yang berjanji akan datang berkunjung untuk memantau keadaan mereka.

Ia segera menyeka debu di tangannya dan melangkah menyambut dengan rasa hormat.

Begitu turun dari mobil, terlihat Argantara didampingi istrinya, serta seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tiga tahun yang berpakaian rapi dan bersih, yang bernama Erhan, putra semata wayang keluarga itu.

Wajahnya terlihat sopan dan ramah, sesekali melirik sekeliling tempat tinggal mereka tanpa terlihat merendahkan.

“Selamat datang, Pak Argantara, Bu,” sapa Reyhan sambil membungkuk sedikit.

 “Maaf rumah kami sangat sederhana, tidak layak untuk dikunjungi Bapak dan Ibu sekalian.”

Argantara tersenyum lebar dan menepuk bahu Reyhan dengan akrab.

 “Jangan bicara begitu, Reyhan. Rumah itu tempat berteduh, bukan soal megah atau tidak. Kami datang hanya ingin melihat keadaan kalian semuanya.”

Mereka pun dipersilakan masuk. Begitu melangkah ke dalam, mata Argantara dan istrinya langsung tertuju pada Alesha yang baru saja selesai merapikan bantal di atas dipan.

Gadis itu berdiri tegak dengan penampilan sederhana namun rapi, wajahnya memancarkan ketenangan dan kecantikan alami, serta tatapan matanya yang cerdas.

Ia segera menyapa dengan sopan,

“Selamat datang, Pak, Bu. Saya Alesha.”

Erhan yang berdiri di belakang orang tuanya tertegun sejenak, matanya tidak lepas dari sosok gadis itu.

Selama ini ia belum pernah bertemu Alesha, namun melihatnya secara langsung membuat hatinya merasa tertarik seketika.

Setelah duduk dan berbasa‑basi menanyakan kesehatan Zaskia serta perkembangan kuliah Alesha, suasana menjadi semakin akrab.

Makanan dan minuman sederhana yang disajikan diterima dengan senang hati oleh tamu.

Namun, saat pembicaraan mulai melambat, Argantara mengubah nada bicaranya menjadi lebih serius, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang sudah dipikirkannya matang‑matang.

“Reyhan, Zaskia,” ujarnya perlahan,

“seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, bantuan yang kami berikan itu awalnya memang murni rasa terima kasih dan ikhlas. Tapi setelah melihat keadaan kalian, dan terutama setelah bertemu langsung dengan Alesha hari ini, ada satu hal yang ingin kusampaikan secara jujur dan terbuka.”

Reyhan dan istrinya saling pandang, merasakan ada yang berbeda dari nada bicara itu.

“Silakan, bicara saja, Gan. Kami akan mendengarkan,” jawab Reyhan dengan hati yang mulai berdebar.

Argantara menatap Alesha, lalu menoleh ke arah putranya, sebelum melanjutkan,

“Alesha terlihat gadis yang sangat baik, sopan, cerdas, dan berpendidikan. Kelak ia pasti akan menjadi istri yang sempurna bagi siapa pun. Erhan di sini juga sudah menyelesaikan pendidikannya dan sekarang mulai membantu mengurus usaha keluarga. Selama ini kami belum menemukan pasangan yang cocok untuknya. Sejujurnya, kami berharap suatu saat nanti hubungan antara keluarga kita bisa dipererat bukan hanya sebagai teman, tapi menjadi keluarga seutuhnya.”

Reyhan mengernyitkan dahi, mencoba memahami maksudnya.

“Maksudmu bagaimana, Gan?”

“Singkatnya...”

“kami berharap kelak Alesha dan Erhan bisa bersatu dalam ikatan pernikahan. Jika itu terjadi, maka semua bantuan yang sudah kami berikan dan yang akan kami berikan selanjutnya tidak perlu dianggap sebagai utang. Itu akan menjadi hak dan kewajiban antar‑keluarga. Bagaimana menurutmu?” jawab Argantara dengan nada halus namun tegas,

Seketika itu juga keheningan menyelimuti ruangan.

Alesha terkejut mendengarnya, matanya melebar tak percaya. Ia segera menundukkan wajah, merasakan dadanya terasa sesak.

Reyhan langsung menggeleng tegas, suaranya terdengar mantap meski tetap sopan.

“Maaf, Pak Argantara. Tapi hal itu tidak bisa kami terima,” ujarnya lantang.

“Kami sangat berterima kasih atas segala kebaikan Bapak, tapi bantuan itu tidak boleh menjadi syarat untuk menentukan masa depan putri kami. Alesha memiliki hidup dan pilihannya sendiri. Ia juga sudah memiliki kekasih yang telah menjalin hubungan bertahun‑tahun lamanya. Kami tidak mau menjadikannya sebagai balasan jasa atas pertolongan yang diberikan.”

Mendengar penolakan itu, wajah Argantara sedikit berubah, namun ia berusaha tetap tenang.

“Reyhan, aku tidak bermaksud memaksa. Aku hanya mengajukan harapan saja. Lagipula, apa salahnya jika mereka berdua saling mengenal lebih dekat? Jika memang tidak cocok di kemudian hari, tidak ada paksaan apa pun. Tapi pikirkan juga, dengan menjadi keluarga, masa depan Alesha dan keluarga kalian akan terjamin selamanya.”

Namun sebelum Reyhan sempat menjawab lagi, Zaskia yang selama ini hanya diam tiba‑tiba angkat bicara. Suaranya masih lemah namun terdengar tegas dan yakin.

“Tunggu, Reyhan. Dengarkan dulu baik‑baik.”

Semua mata langsung tertuju pada Zaskia. Ia menoleh ke suaminya, lalu ke putrinya, sebelum berbicara kepada Argantara.

“Pak Argantara, kami tahu niat Bapak. Selama ini kami berpikir bantuan itu sepenuhnya ikhlas, tapi ternyata memang ada harganya. Kami mengerti, tidak ada kebaikan yang benar‑benar gratis di dunia ini.”

“Ibu!” seru Alesha kaget,

“jangan bicara begitu. Kita bisa mengembalikan semuanya nanti, pelan‑pelan, tidak perlu dengan cara ini.”

Namun Zaskia mengangkat tangan menahan putrinya, lalu melanjutkan,

“Alesha, dengarkan Ibu. Selama ini kita hidup dalam ketakutan dan kekurangan. Kita sudah berhutang nyawa pada keluarga mereka. Jika kita menolak, apakah kita sanggup mengembalikan uang sebesar itu dalam waktu dekat? Bagaimana dengan biaya pengobatan Ibu, bagaimana dengan kuliahmu? Apakah kamu sanggup melihat kita kembali jatuh ke dalam kesulitan seperti sebelumnya?”

“Ibu, tapi ini menyangkut kebahagiaanku seumur hidup!” bantah Alesha dengan suara yang mulai bergetar.

“Aku mencintai Zehar, Ibu. Kami sudah berjanji akan hidup bersama. Jika aku menerima ini, berarti aku mengkhianati dia dan hatiku sendiri.”

Zaskia menatap putrinya dengan mata berkaca‑kaca, lalu menjawab pelan namun tegas,

“Ibu mengerti, Nak. Tapi lihat keadaan kita sekarang. Kita tidak punya apa‑apa. Bantuan ini sudah menyelamatkan kita dari kehancuran total. Jika menolak permintaan ini, sama saja kita melemparkan kembali pertolongan yang sudah diberikan, dan mungkin Bapak Argantara akan menarik semuanya kembali. Maukah kamu melihat Ayah dan Ibu terpuruk lagi, hanya karena mempertahankan perasaan yang saat ini pun sedang terpisah jauh dan tidak pasti akhirnya?”

Reyhan berusaha membela putrinya,

“Tapi Zaskia, kita tidak boleh mengorbankan kebahagiaan anak kita. Itu bukan harga yang pantas untuk dibayar.”

“Kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa menanggungnya?” jawab Zaskia, suaranya mulai terasa emosional.

“Kita sudah tidak punya kekuasaan apa‑apa lagi. Jika ini satu‑satunya jalan agar kita tetap bisa berdiri tegak, maka biarlah Alesha menerimanya, setidaknya dengan syarat yang bisa melindungi dirinya.”

Pembicaraan itu berlangsung panas namun tetap dalam batas sopan santun.

Argantara dan keluarganya hanya diam mengamati, memberi ruang bagi keluarga itu untuk berdiskusi.

Akhirnya, setelah pertimbangan yang berat dan hati yang terasa teriris, Alesha menyadari posisinya yang lemah.

Ia tidak ingin kedua orang tuanya kembali menderita, dan ia juga tahu bahwa saat ini ia belum mampu melunasi segala biaya yang telah dikeluarkan keluarga Argantara.

Dengan perasaan yang sangat berat, ia mengangkat wajahnya, menghapus air mata yang menetes, lalu berbicara dengan suara tegas.

“Baiklah,” ucapnya membuat semua orang menatapnya.

“Aku bersedia menyetujui harapan Bapak dan Ibu Argantara, tapi dengan syarat yang jelas dan harus disepakati bersama.”

Argantara mengangguk tertarik,

“Sebutkan syaratmu, Nak. Selama masuk akal, kami akan pertimbangkan.”

“Pertama, hubungan ini hanya sebatas janji atau perkenalan saja selama sepuluh tahun ke depan. Dalam kurun waktu itu, tidak ada ikatan resmi apa pun, tidak ada tekanan untuk segera menikah, dan aku tetap bisa menjalani kehidupanku, melanjutkan kuliah, serta bekerja sesuai keinginanku.” kata Alesha dengan tenang.

“Lalu?” tanya Argantara.

“Kedua,” lanjutnya,

“setelah lewat sepuluh tahun, jika pada saat itu aku dan Erhan merasa cocok dan saling mencintai, barulah kita lanjutkan ke jenjang pernikahan. Namun jika salah satu dari kami merasa tidak cocok atau ingin membatalkannya, maka janji ini batal dengan sendirinya. Semua bantuan yang sudah diberikan tetap menjadi hak kami dan tidak boleh ditarik kembali atau ditagih sebagai utang. Apakah Bapak sanggup menerima syarat ini?”

Suasana kembali hening. Argantara memandang istrinya dan putranya, bertanya dengan pandangan mata.

Erhan mengangguk setuju, ia tidak keberatan menunggu selama itu karena baginya kesempatan untuk mengenal gadis itu lebih lama justru lebih baik.

Setelah berpikir sejenak, Argantara menjawab,

“Baiklah. Kami terima syarat itu. Selama sepuluh tahun ini kita anggap saja mereka berdua hanya saling mengenal. Jika di akhir masa itu cocok, dilanjutkan. Jika tidak, semuanya berakhir baik‑baik saja, tanpa tuntutan apa pun. Semua bantuan tetap menjadi pemberian ikhlas dari kami, tidak ada kewajiban lebih lanjut.”

Mendengar kesepakatan itu, Alesha hanya bisa mengangguk pasrah.

Ia merasa seperti menjual sebagian kebebasannya, namun itu adalah satu‑satunya cara untuk melindungi keluarganya sekaligus memberi waktu bagi dirinya sendiri.

Reyhan hanya bisa menghela napas panjang, merasa sedih melihat pengorbanan putrinya, sedangkan Zaskia merasa lega karena setidaknya jalan keluar sudah ditemukan.

Saat keluarga Argantara berpamitan pulang, Erhan sempat berbicara sebentar kepada Alesha,

“Terima kasih sudah menerima dengan lapang dada. Aku akan menghormati syarat yang kamu ajukan. Selama sepuluh tahun ini, aku akan berusaha membuatmu merasa nyaman, bukan memaksakan apa‑apa.”

Alesha hanya membalas dengan senyum tipis,

“Terima kasih, Mas Erhan. Semua akan berjalan sesuai kesepakatan saja.”

Setelah kepergian mereka, Alesha masuk ke kamarnya, menutup pintu rapat‑rapat, lalu duduk memeluk lututnya.

Air matanya mengalir deras, bukan hanya karena harus menepikan perasaannya, tapi karena ia baru sadar bahwa kebaikan yang diterimanya ternyata memiliki harga yang sangat mahal.

Ia berdoa dalam hati, berharap waktu sepuluh tahun itu akan menjadi kesempatan untuk menemukan jalan keluar lain, atau setidaknya membuktikan bahwa ia masih bisa memegang janji hatinya kepada Zehar, meski kini ada ikatan lain yang terjalin di luar kesadarannya.

1
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
Rosella
emosian lngsung pas baca bab ini
Rani: sabar😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!