NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Pebinor

Dahaga Sang Pebinor

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.

Semua orang tahu Kirana sudah menikah.

Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.

Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.

Aiden Pradana.

CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.

Awalnya Aiden hanya penasaran.

Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.

Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.

Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.

Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Telrpon Kedua

"Pihak keluarga Kirana Maheswari?" suara seorang perawat terdengar dari seberang telepon.

"Saya anaknya." Kirana langsung duduk lebih tegak sambil menggenggam ponselnya lebih erat.

"Bisakah Anda datang ke rumah sakit sekarang?" perawat itu terdengar terburu-buru.

"Ada apa?" Kirana mengernyit.

"Dokter ingin berbicara dengan keluarga pasien." perawat itu menjelaskan singkat.

"Kondisi Ayah bagaimana?" Kirana menahan napas.

"Pasien stabil." perawat itu menjawab cepat. "Namun dokter menemukan sesuatu dari hasil pemeriksaan."

Jantung Kirana langsung berdegup lebih keras, jawaban itu tidak cukup menenangkan justru membuat pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin dipikirkannya.

"Ada apa?" Selina menatap wajah Kirana yang mendadak berubah pucat.

"Rumah sakit menelepon." Kirana memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Kondisi ayahmu memburuk?" Selina ikut berdiri.

"Aku tidak tahu." Kirana menggeleng pelan. "Mereka hanya meminta keluarga datang."

Kirana langsung melangkah keluar dari kafe tanpa menunggu lebih lama, angkahnya cepat sementara pikirannya kembali dipenuhi kecemasan yang sempat mereda sejak semalam. Selina mengikuti dari belakang, beberapa meter sambil memperhatikan wanita itu yang terlihat semakin tegang setiap detiknya.

"Kirana." Selina mempercepat langkahnya.

"Apa?" Kirana menoleh sekilas.

"Aku ikut."

"Tidak perlu." Kirana kembali berjalan.

"Setidaknya biar aku mengantar."

"Aku bisa sendiri." Kirana menggeleng.

Namun sebelum percakapan itu berlanjut, pintu gedung kantor terbuka dan seseorang keluar dengan langkah tergesa.

"Kirana." Aiden menghentikan langkah di depan mereka.

"Tuan?" Kirana terlihat terkejut.

"Dita bilang kamu pergi terburu-buru." Aiden menatapnya.

"Rumah sakit menelepon." Kirana menarik napas panjang.

"Ayahmu?" Aiden langsung mengerti.

"Iya." Kirana mengangguk.

"Aku antar." Aiden mengambil kunci mobil dari sakunya.

"Tuan tidak perlu." Kirana menggeleng lagi.

"Aku tidak bertanya." Aiden berjalan menuju area parkir.

Selina langsung menunduk agar tidak tersenyum, kalimat itu sudah cukup sering ia dengar dari Kirana melalui cerita-cerita kecil tentang pekerjaan.

"Bos benar-benar tidak suka ditolak." Gavin muncul dari balik pintu sambil membawa dua kotak makan siang.

"Kamu kenapa ada di sini?" Aiden mengernyit.

"Saya sedang makan." Gavin mengangkat kantong plastiknya.

"Lalu?"

"Lalu saya melihat drama." Gavin menunjuk mereka bertiga.

"Ini bukan drama." Kirana memijat pelipisnya.

"Maaf." Gavin langsung mengangguk. "Ini drama yang sangat serius."

Aiden menghela napas panjang.

"Kamu tetap di kantor." Aiden menunjuk Gavin.

"Tidak bisa." Gavin menggeleng cepat.

"Kenapa?"

"Saya sudah ikut khawatir."

"Itu bukan alasan."

"Menurut saya itu alasan yang kuat." Gavin mengangguk mantap.

Kirana yang sejak tadi tegang hampir saja tersenyum, namun telepon dari rumah sakit kembali mengingatkannya bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal lain.

.

Perjalanan menuju rumah sakit terasa jauh lebih lama dibanding malam sebelumnya. Sepanjang jalan, Kirana terus mencoba menghubungi kakaknya, tetapi tidak ada jawaban. Setiap panggilan yang tidak diangkat membuat kecemasannya bertambah sedikit demi sedikit.

"Kak Rani masih tidak menjawab?" Aiden melirik ke kaca spion.

"Belum." Kirana menurunkan ponselnya.

"Mungkin sedang bersama dokter." Aiden mencoba menenangkan.

"Mungkin." Kirana mengangguk pelan.

Meskipun menjawab demikian, pikirannya tetap dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Semakin lama tidak mendapat kabar, semakin sulit baginya untuk tetap tenang.

"Kalau saya jadi dokter..." Gavin menyandarkan tubuh ke kursi belakang.

"Jangan mulai." Aiden langsung memotong.

"Saya belum selesai." Gavin mengangkat tangan.

"Justru itu masalahnya."

"Saya hanya ingin bilang dokter suka membuat orang panik." Gavin menghela napas.

Kirana menoleh ke belakang.

"Maksudmu?" Kirana mengernyit.

"Kadang hasil pemeriksaan bagus, tetapi cara menyampaikannya seperti mau mengumumkan kiamat." Gavin mengangkat bahu.

Aiden menatap jalan di depan tanpa berkata apa-apa, namun untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat ketegangan di wajah Kirana sedikit berkurang.

.

Sesampainya di rumah sakit, Kirana langsung berjalan cepat menuju ruang perawatan ayahnya namun langkahnya terhenti ketika melihat Rani sedang duduk di luar kamar dengan wajah yang terlihat serius.

"Kak." Kirana mendekat.

Rani langsung berdiri.

"Kamu akhirnya datang." Rani mengusap wajahnya.

"Ada apa?" Kirana menahan napas.

"Dokter ingin bicara dengan kita." Rani menunjuk ke arah ruang konsultasi.

Kirana langsung menelan ludah.

"Silakan duduk." dokter yang menangani ayah mereka mempersilakan keduanya masuk.

"Ayah saya bagaimana?" Kirana duduk tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya.

"Kondisinya stabil." dokter membuka map di depannya.

Kirana dan Rani saling berpandangan, jawaban itu sama seperti yang diberikan perawat.

"Lalu?" tanya Rani.

"Kami menemukan penyumbatan pada pembuluh darah jantung." dokter menggeser beberapa hasil pemeriksaan ke atas meja.

Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi.

"Seberapa serius?" tanya Kirana pelan.

"Belum pada tahap paling berbahaya." dokter menggeleng. "Namun tidak bisa diabaikan."

Rani langsung menundukkan kepala dan Kirana menatap lembar hasil pemeriksaan yang tidak benar-benar dipahaminya, yang ia mengerti hanya satu hal. Kondisi ayahnya ternyata lebih serius daripada yang mereka kira.

"Apa yang harus dilakukan?" tanya Rani.

"Kami menyarankan tindakan lanjutan." dokter menunjuk beberapa bagian hasil pemeriksaan.

"Operasi?" Kirana langsung mengangkat kepala.

"Belum tentu." dokter menggeleng lagi. "Kami akan melakukan pemeriksaan tambahan terlebih dahulu."

Kirana mengembuskan napas pelan, setidaknya mereka belum sampai pada kemungkinan terburuk.

Setelah pembicaraan selesai, keduanya keluar dari ruang konsultasi dengan pikiran yang jauh lebih berat. Aiden dan Gavin langsung berdiri saat melihat mereka mendekat.

"Bagaimana?" Aiden menatap Kirana.

"Ada penyumbatan." Kirana menjawab pelan.

Wajah Gavin langsung berubah serius.

"Itu berbahaya?" Gavin bertanya hati-hati.

"Masih harus diperiksa lagi." Rani menjelaskan.

Suasana yang sebelumnya dipenuhi candaan mendadak menghilang, bahkan Gavin yang biasanya sulit diam memilih menundukkan kepala sambil memikirkan sesuatu.

"Aku ingin menemui Ayah." Kirana berjalan menuju kamar perawatan.

"Aku ikut." Rani mengangguk.

Begitu masuk ke dalam kamar, mereka mendapati pria tua itu sedang membaca koran yang entah dari mana didapatkannya. Melihat kedua putrinya masuk dengan wajah serius, ia langsung menghela napas.

"Dari ekspresi kalian, sepertinya saya akan segera jadi legenda." pria itu melipat korannya.

"Jangan bercanda." Kirana menarik kursi ke sisi ranjang.

"Kalau Ayah tidak bercanda, nanti kalian menangis." Pria itu tersenyum tipis.

Kirana langsung mengalihkan pandangan, kadang-kadang ia benar-benar tidak tahu harus marah atau tertawa menghadapi ayahnya.

"Dokter sudah menjelaskan?" Pria itu menatap kedua putrinya.

"Sudah." Rani mengangguk.

"Lalu?"

"Kita ikuti semua pemeriksaannya." Kirana merapikan selimut di kaki ayahnya.

Pria tua itu memperhatikan putrinya beberapa saat, meskipun Kirana terlihat tenang seperti biasa tapi ia tahu anaknya sedang sangat khawatir.

"Kirana." Pria itu memanggil lembut.

"Iya?" Kirana mengangkat kepala.

"Jangan memasang wajah seperti itu."

"Wajah seperti apa?" Kirana mengernyit.

"Seperti sedang memikul seluruh dunia." Pria itu tersenyum.

Kirana tidak menjawab karena tepat di saat yang sama, pintu kamar kembali terbuka dan orang yang masuk membuat seluruh suasana berubah.

"Ayah." Rendra membawa kantong makanan di tangannya.

"Kamu lagi." Pria tua itu terkekeh.

"Saya membawa makanan." Rendra mengangkat kantong tersebut.

"Kamu pikir saya masuk rumah sakit karena kelaparan?" Pria tua itu menggeleng.

Rani langsung menahan tawa, bahkan Kirana nyaris kehilangan ekspresi dinginnya namun detik berikutnya suasana kembali berubah saat ponsel Rendra berdering.

Pria itu melihat layar ponselnya, lalu wajahnya langsung kehilangan warna.

"Ada apa?" tanya ayah Kirana.

Rendra tidak langsung menjawab, matanya masih terpaku pada layar karena nama yang muncul di sana adalah seseorang yang seharusnya tidak menghubunginya lagi dan pesan yang masuk hanya terdiri dari satu kalimat.

Aku sudah mengatakan semuanya kepada Kirana.

1
Dew666
🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!