DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih jahanam
##BAB 19 - Benih Jahanam
Lima bulan telah berlalu sejak peristiwa mengerikan di siang bolong yang nyaris merenggut nyawa Ratna. Dalam kurun waktu yang singkat itu, kekayaan Rahmat justru semakin melesat gila-gilaan dan makin menjadi-jadi. Pria yang dulunya hanya penjual bakso keliling berkaki ayam itu, kini telah resmi menjelma menjadi orang paling kaya di seantero desa. Rumah gedongannya berdiri angkuh, dan deretan mobil mewah terbaru kini berjajar rapi di garasinya yang luas.
Bisnis bakso milik Rahmat pun berkembang menjadi gurita usaha yang tak tertandingi. Kelezatan kuah baksonya yang sarat akan bumbu rahasia pesugihan kini mulai digandrungi oleh semua orang, tak hanya warga lokal tetapi juga para pendatang dari luar kota yang rela mengantre berjam-jam. Warungnya tak pernah sepi dari pagi hingga larut malam.
Namun, seiring dengan makin menggunungnya pundi-pundi rupiah yang ia miliki, riak-riak di dunia nyata pun mulai bermunculan. Di balik senyum ramah para tetangga, tak sedikit orang yang menyimpan rasa iri dan dengki teramat sangat padanya. Desas-desus miring tentang pesugihan dan kelancaran bisnisnya yang tidak masuk akal perlahan mulai menjadi rasan-rasan hangat di sudut-sudut desa.
Seiring dengan semakin santernya kabar-kabar miring tentang dirinya yang dituduh menganut ilmu pesugihan hitam, Rahmat tidak pernah ambil pusing. Ia sama sekali tak pernah peduli tentang gunjingan apa pun yang beredar di luaran sana. Di dalam benaknya, Rahmat merasa tahu betul tabiat orang desa; mereka hanya sedang iri dan dengki melihat kehidupannya yang kini tengah berada di atas angin dan bergelimang kemewahan.
Sore itu, suasana di dalam rumah gedongan terasa begitu hangat namun semu. Rahmat dan Ratna tengah bersantai bersama di ruang keluarga yang luas, duduk di atas sofa impor yang teramat empuk.
"Mas... Ibu dengar-dengar dari orang pasar, tetangga di sekitar sini sudah mulai curiga sama kita. Mereka menuduh kalau kita ini pakai pesugihan," tanya Ratna dengan nada suara yang teramat halus, mencoba menyampaikan keresahan hatinya sembari jemarinya perlahan mengelus pundak Rahmat untuk menenangkan sang suami.
Mendengar pertanyaan istrinya, Rahmat sama sekali tidak menampakkan wajah panik. Ia justru mendengus meremehkan, seolah tuduhan itu hanyalah angin lalu yang tak berarti.
"Ah, Ibu ini jangan suka mendengarkan berita burung seperti itu. Mereka itu hanya iri saja melihat kita sukses. Lagipula, kalaupun kita pakai pesugihan, lalu apa hubungannya sama mereka? Memangnya kita merugikan hidup mereka?" sahut Rahmat dengan sangat tenang, menyandarkan punggungnya sembari sesekali menyeruput kopi hitamnya dan menghisap dalam-dalam rokok di jarinya.
Ia mengembuskan asap rokoknya ke udara, lalu menatap Ratna dengan pandangan meyakinkan. "Dan ingat, Bu... kata Simbah, apa yang kita jalani ini bukan pesugihan jahanam yang meminta tumbal nyawa. Ini hanya ilmu penglaris biasa saja untuk memperlancar dagangan. Tak akan ada nyawa yang melayang dalam proses ini, jadi Ibu tidak usah berpikiran yang macam-macam," lanjut Rahmat membela diri, berlindung di balik kalimat manis Mbah Cahyo demi menutupi rasa bersalah yang sebenarnya mulai menggerogoti batinnya sendiri.
Rahmat kembali menyesap sisa kopinya yang mulai mendingin. Di dalam lubuk hatinya, ia membatin tentang bagaimana ia selalu menjaga kelancaran bisnis ini. Selama lima bulan terakhir, Rahmat memang tidak pernah sekalipun mengabaikan kewajibannya. Ia selalu patuh dan tak pernah mengingkari upeti tiap bulannya yang harus dikirimkan kepada Simbah.
Tragedi berdarah lima bulan lalu, saat ia mendapati Ratna pingsan mengenaskan, benar-benar menanamkan trauma dan ketakutan tersendiri di benak Rahmat. Sejak malam mencekam itu, Rahmat berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah berani berbuat curang atau bermain-main lagi dengan aturan gaib yang telah ditetapkan. Ia selalu memastikan semua persyaratan bulanan terpenuhi tepat waktu, tanpa berani mengurangi sepeser pun taruhan materi yang diminta, demi menjaga agar amarah makhluk gaib dari hutan fajar tidak kembali mengamuk di dalam rumahnya. Bagi Rahmat, kepatuhan mutlak pada Simbah adalah harga mati yang harus ia bayar agar aliran uangnya tetap lancar tanpa hambatan.
Mendengar penuturan dan ketegasan suaminya, Ratna merasa sedikit lega. Setidaknya, ketakutan terbesarnya tentang adanya nyawa yang akan terlibat atau dikorbankan dalam proses ini perlahan mulai terkikis. Walaupun demikian, jauh di dalam lubuk hatinya, pikiran Ratna sebenarnya masih berkecamuk hebat. Ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan ganjil yang terus menghantam dinding pikirannya, terutama bayangan tentang teror malam dan kejadian aneh lima bulan lalu yang tak pernah sanggup ia ceritakan pada Rahmat.
Ratna menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir sisa-sisa kabut kelam di kepalanya. Ia menatap wajah suaminya dengan binar mata yang mendadak berubah cerah.
"Yang dibilang Mas itu benar, kan? Tak ada tumbal dalam proses ini? Oh iya, Mas... terlepas dari semua gosip itu, saya ada kabar gembira yang sangat besar buat Mas," ujar Ratna dengan raut wajah yang memancarkan rasa bahagia yang tulus.
"Memangnya kabar gembira apa sih, Bu?" tanya Rahmat cepat, rasa penasarannya langsung terusik melihat perubahan ekspresi istrinya
Ratna tersenyum sangat lebar, matanya berkaca-kaca menahan haru. "Ibu... Ibu sedang mengandung anak pertama kita, Mas. Usia kandungannya baru jalan tiga bulan," sahut Ratna dengan suara bergetar bahagia.
Mendengar pengakuan itu, Rahmat sontak terkejut setengah mati. Ia terpaku diam dengan mata membelalak tak percaya. Jantungnya berdegup begitu kencang, sebab kehadiran seorang buah hati adalah mukjizat yang sudah sangat mereka nantikan selama bertahun-tahun pernikahan mereka yang gersang.
"Ha... Ibu tidak sedang berbohong, kan? Ibu beneran hamil?" sahut Rahmat dengan suara yang ikut gemetar karena syok sekaligus bahagia.
Tanpa membuang waktu, Rahmat langsung menghambur dan memeluk erat tubuh istrinya. "Terima kasih banyak ya, Bu... Hari ini Mas benar-benar merasa sangat bahagia sekali! Ini anak pertama yang selama ini Mas rindukan kehadirannya. Ibu harus jaga baik-baik anak kita ini, Mas tidak mau sampai ada apa-apa dengan kandungan Ibu," bisik Rahmat penuh emosional di telinga istrinya.
Seketika itu pula, suasana di dalam ruangan mewah tersebut berubah menjadi begitu syahdu, penuh haru, dan diselimuti kebahagiaan yang membuncah. Terlihat kedua sejoli itu saling mendekap erat dan sama-sama meneteskan air mata kebahagiaan, merayakan kehadiran janin yang mereka kira sebagai berkah ilahi, tanpa pernah menyadari ada rahasia jahanam teramat busuk yang sedang mengintai nyawa mereka di balik dinding rahim tersebut.
Bersambung
jangan lupa like back ke ceritaku 😁