NovelToon NovelToon
GUNA-GUNA *Based On True Story*

GUNA-GUNA *Based On True Story*

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: MasYB

Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.

Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:

punya rumah sendiri.

Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.

Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.

Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.

Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.

Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.

Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANGAN MENENGOK KE BELAKANG

Author cuma mau ngingetin satu hal. Kalau suatu malam kalian lari karena dikejar sesuatu yang tidak kelihatan... jangan pernah menengok ke belakang hanya karena penasaran. Dalam urusan gaib, rasa penasaran sering kali lebih mematikan daripada rasa takut. 😌

---

Kami berlari sekuat tenaga meninggalkan aula tua itu.

Parang masih kugenggam erat di tangan kanan, sementara tangan kiriku menarik lengan Lukman yang sudah beberapa kali hampir tersungkur. Napasku memburu. Dada terasa seperti hendak pecah.

Di belakang kami...

suara langkah kaki itu masih terdengar.

Bukan satu.

Bukan dua.

Puluhan.

Tok... tok... tok... tok...

Irama langkahnya seragam.

Seolah seluruh penghuni Desa Mati sedang berjalan bersama.

"Jangan lihat belakang, Kang!" bentak Lukman sambil terus berlari.

"Aku nggak lihat!"

"Pokoknya jangan!"

Kami menerobos semak, melewati halaman rumah-rumah reyot yang sejak kemarin kosong tak berpenghuni. Pintu-pintu kayunya bergoyang pelan, padahal tak ada angin.

Aku mulai hafal jalan menuju gerbang desa.

Sedikit lagi...

sedikit lagi kami keluar.

Namun tiba-tiba...

DUAAARRR!

Tanah di depan kami ambles.

Aku refleks menarik tubuh Lukman hingga kami sama-sama terguling ke samping.

Debu beterbangan.

Saat asap tanah mulai menipis, kulihat sebuah pohon beringin tua roboh melintang tepat menutup jalan keluar.

Aku membeku.

"Itu... tadi masih nggak ada..." gumamku.

Lukman mengangguk pelan.

"Bukan pohonnya yang pindah."

"Lalu?"

"Kita yang diputar."

Aku menoleh bingung.

"Maksudmu?"

"Dari tadi kita nggak lari menuju gerbang..."

"...kita dipaksa muter-muter."

Dadaku langsung dingin.

Aku buru-buru melihat sekeliling.

Benar saja.

Rumah reyot di sebelah kiri...

sumur tua...

tiang bambu yang patah...

Aku pernah melewatinya.

Berarti...

sejak tadi kami hanya berputar-putar di tempat.

Seolah seluruh desa sedang mempermainkan kami.

Di belakang...

langkah kaki itu berhenti.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Lukman langsung menarik napasku.

"Jangan bergerak."

"Kenapa?"

"Mereka sudah dekat."

Aku menelan ludah.

Perlahan...

aku mendengar suara lain.

Bukan langkah kaki.

Melainkan...

napas.

Banyak sekali.

Napas dingin.

Seperti puluhan orang berdiri mengelilingi kami.

Aku tak tahan.

Refleks menoleh.

Dan darahku seakan berhenti mengalir.

Mereka...

sudah berdiri mengitari kami.

Jaraknya hanya beberapa meter.

Puluhan mayat itu membentuk lingkaran.

Diam.

Tak ada yang menyerang.

Tak ada yang bersuara.

Mereka hanya memandang.

Seorang anak kecil tanpa bola mata.

Seorang perempuan dengan leher patah.

Seorang lelaki tua yang dadanya berlubang.

Semua menatapku.

Aku menggenggam parang.

"Kalau mereka nyerang..."

"Jangan!"

Lukman menahan lenganku.

"Kita nggak bisa ngelawan mereka."

"Lalu gimana?"

Belum sempat Lukman menjawab...

seluruh mayat itu perlahan berlutut.

Serempak.

Sret...

Sret...

Sret...

Mereka menundukkan kepala.

Bukan kepada kami.

Melainkan kepada sesuatu...

yang berdiri di belakangku.

Aku bahkan tak perlu menoleh.

Jimat mori yang robek di dadaku kembali terasa panas.

Suara berat itu kembali terdengar.

"Kau..."

"...membunuh pelayanku."

Aku memejamkan mata sejenak.

Lalu perlahan membalikkan badan.

Sosok berjubah hitam itu kini hanya berjarak belasan langkah.

Masih tanpa wajah.

Masih tanpa mata.

Namun aura yang keluar darinya membuat lututku hampir lemas.

Dia mengangkat tangan kanannya.

Di telapak tangannya...

melayang segumpal cahaya putih.

Aku menyipitkan mata.

Semakin lama...

semakin jelas bentuknya.

Itu bukan cahaya.

Melainkan...

tiga bayangan manusia.

Bayangan Amira.

Bayangan Lala.

Dan...

Andi.

Jantungku serasa berhenti.

"Apa yang kau lakukan pada mereka?!" teriakku.

Sosok itu tak menjawab.

Hanya terdengar suara rendah memenuhi udara.

"Mereka..."

"...sudah kutandai."

Aku menggeram.

"Bangsat!"

Aku hendak menerjang.

Namun Lukman memeluk pinggangku dari belakang.

"Jangan, Kang!"

"Dia memang mau memancing kita!"

Sosok berjubah itu kembali berbicara.

"Datanglah..."

"...ke tanah tempat aku dilahirkan."

"...kalau ingin mengambil mereka."

Begitu kalimat itu selesai...

kabut hitam berputar hebat.

Seluruh mayat mendadak menghilang.

Sosok berjubah itu pun lenyap bersama pusaran angin.

Menyisakan kesunyian.

Aku berdiri terpaku.

Napas memburu.

Lutut gemetar.

Lukman memungut sesuatu dari tanah.

Sebuah benda kecil berwarna hitam.

Dia mengusapnya dengan lengan baju.

Wajahnya langsung pucat.

"Kang..."

"Apa?"

Dia menyerahkan benda itu kepadaku.

Aku membaliknya perlahan.

Itu...

sebuah manik-manik kayu ulin.

Di permukaannya terukir simbol yang belum pernah kulihat.

Lukman berbisik lirih.

"Aku pernah lihat tanda ini."

"Di mana?"

"Dulu..."

"Kakek pernah cerita."

"Ini lambang salah satu perguruan ilmu hitam tua..."

"...dari pedalaman Kalimantan."

Aku menggenggam manik itu erat.

Dadaku mendadak dipenuhi satu keyakinan.

Perjalanan kami...

belum selesai.

Justru...

baru akan dimulai.

(Bersambung)

1
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
MasYB: nantikan update terbarunya ya kak..🙏😊
total 1 replies
puspusmeowliet
keren banget 👍
MasYB: terimakasih supportnya kaka🙏
total 1 replies
SiOmpong
Marni.... biasanya yg namanya Marni...
MasYB: biasanya kenapa Marni kakak..? 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!