Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk Merah yang Tersembunyi
"Parkir mobilnya kok bisa jauh banget bang?" tanya Raya, langkahnya yang kecil sangat kontras dengan langkah Juan yang lebar. Tetap dengan nada bicara yang sangat halus.
Juan menoleh kearah Raya yang berada disamping kirinya, sinar matahari sore menyapu lembut wajah Raya. Sinar kekuningan itu membuat wajah Raya terlihat sangat cantik sore ini. Rambut yang digerai sebahu, lurus dengan rambut berkilauan. Senyum yang terlukis diwajah Raya membuat Juan sulit berpaling dari pemandangan disampingnya. Juan baru menyadari, disudut bibir istrinya terdapat sebuah lesung pipi yang sangat unik, itulah mengapa ketika Raya tersenyum senyumnya akan terlihat manis sekali.
"Biar kamu banyak gerak aja." jawab Juan asal. Ia mengulum bibir sejenak berusaha agar bibirnya tidak melengkungkan senyum kala melihat Raya yang berusaha untuk mensejajarkan langkahnya dengan dia.
"Jahil banget, mentang-mentang Raya jarang olahraga." jawab Raya diakhir katanya terdapat kekehan kecil. "Bagus sih bang, makasih..udah bikin Raya berjalan sejauh seratus meter ini." tambah Raya sorot matanya kini terfokus pada segerombolan anak-anak yang sudah rapi memakai baju busana muslim, dengan penampilan yang rapi menutup aurat.
Raya jadi merasa malu. Ia merasa kalah dengan anak sekecil itu sudah mampu menutup aurat dengan baik, sementara dirinya memakai hijab pun masih buka tutup. Walaupun pakaian yang ia pakai terkesan sangat sopan, tapi rambut yang di perlihatkan masih termasuk kedalam bagian aurat.
Tit..
"Ray..!" Juan menarik pelan lengan Raya, kini jarak mereka semakin menipis. Raya sedikit terperanjat, pasalnya jika Juan tidak menariknya mungkin ia sudah terserempet motor.
"Kaget..." ucap Raya pelan.
"Emangnya gak denger tadi ada suara klakson motor?" Juan menatap tegas iris hitam pekat itu.
Raya menggelengkan kepalanya pelan. "Sepertinya Raya memang butuh gandengan kalau jalan seperti ini." modus Raya. kini tangannya sudah mendarat nyaman, mencari perlindungan dari lengan kokoh milik suaminya.
Juan hanya diam saja, ia membiarkan tangan Raya memegang erat lengan kokohnya, kemudian kakinya mulai kembali melangkah setelah semuanya terasa aman.
"Bang...lihat didepan sana. Lucuk ya, mereka indah banget dengan pakaiannya yang tertutup." Juan melirik apa yang Raya tunjukan didepan sana.
Sekelompok anak-anak kecil yang sedang bermain ditaman mesjid pusat kota.
"Bang Ju marah gak kalau rambut Raya ini masih belum Istikomah Raya tutup?" ucap Raya, ia menoleh sekilas kearah Juan yang sedang menatap lurus jalanan.
"Kenapa harus marah?" pria disebelah Raya malah bertanya balik.
Raya menghela nafas pelan. "Katanya aurat istri yang masih terbuka, dosanya ditanggung suami. Jadi Abang kebagian dosanya kalau Raya keluar rumah dalam keadaan tidak berhijab seperti ini."
"Saya paham, tapi itu keputusanmu. Pelan-pelan saja, namanya juga masih belajar." jawab Juan, tidak ada unsur memaksa dan menghakimi.
Raya tersenyum hangat, Juan memang benar -benar bukan tipe suami yang selalu menuntut.
"Makasih, maaf kalau Raya belum bisa Istikomah."
"He em..." Juan menjawab dengan deheman singkat saja.
*
Juan dari Raya telah sampai, dipintu rumah disambut oleh mbok Uti yang telah membukakan pintu utama. Senyum terukir pada wajah asisten rumah tangganya itu. Baru kali ini mbok Uti melihat Juan yang mulai perhatian pada wanitanya.
Sepertinya den Juan mulai sayang dengan mbak Raya nya. Bu Sinta memang gak salah pilih menantu.
Batin mbok Uti.
Raya dan Juan masih berjalan bersisian, mulai menaiki tangga menuju lantai dua untuk beristirahat sejenak. Juan malah merebahkan tubuhnya diatas sopa diruang keluarga. Jas yang tersampir dibahunya sudah Raya ambil untuk disimpan ke kamar.
"Bang mau dibuatkan kopi?" Raya juga meraih tas dari tangan Juan serta dasi yang sudah dilepas Juan.
"Biar mbok Uti aja yang bikin, kamu masuk kamar aja kalau capek." ucap Juan sambil menarik nafas kemudian menyandarkan tubuhnya pada sofa. Kerutan wajah lelah sangat terlihat pada wajahnya.
"Yaudah Raya masuk dulu kamar, mau mandi sekalian nanti mau masak buat makan malam nanti."
Juan mengangguk sambil memejamkan matanya.
Raya mulai memasuki kamar, sebelum bersiap untuk membersihkan diri Raya menyimpan terlebih dahulu peralatan kerja milik suaminya. Menyimpannya dengan rapi pada tempatnya. Termasuk jas berwarna abu tua yang tadi Juan pakai, Raya gantung sebelum ia cuci, hidung bangirnya menyapu aroma parfume milik Juan yang masih menempel pada jas nya.
Lama menempelkan hidung membuat Raya lupa jika dirinya harus segera mandi, tubuhnya sudah sangat lengket oleh keringat.
Beberapa menit kemudian Raya mulai melangkahkan kaki kedalam kamar mandi. Raya berdiri dibawah shower dengan cahaya lampu hangat dari atas plafon.
Tangannya mulai bergerak untuk melepaskan satu persatu pakaian yang masih melekat pada tubuhnya. Dengan perlahan dan gerakan yang terkesan lambat, rambut yang tergulung kemudian Raya lepaskan dengan perlahan. Tubuhnya yang lengket mulai ia guyur oleh air dari keran shower dengan rintikan yang pelan.
Juan mulai memasuki kamar, ia mengedarkan pandangannya pada kamarnya yang luas, dan tampak sepi. Juan telah melupakan akan suatu hal. Raya, ia menyangka jika Raya sudah turun kebawah untuk memasak makan malam.
Langkah tegap dengan rahang yang mengatup rapat, sorot mata yang tajam. Pria tampan nan gagah itu melangkah mantap, kemeja berwarna putih masih melekat, membentuk tubuhnya yang sangat atletis. Bahu kekar dengan dada bidang yang dipadati oleh otot yang terbentuk sempurna.
Tangannya menekan hendel pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Pintu terbuka perlahan, gemericik air yang turun dari shower tidak ia dengar sama sekali.
Deg.
Sorot matanya langsung tertuju pada sebuah keindahan yang selama ini tertutupi, pemandangan yang halal ia lihat, tapi pria tinggi ego itu masih bersikukuh untuk menundanya.
Sebuah gunukan gunung kembar, dengan bulatan sempurna. Padat, tidak terlalu besar tapi mampu membuat mata Juan melebar sempurna dengan bibir yang sedikit terbuka.
Raya dan Juan membeku pada tempatnya masing-masing. Raya yang kelabakan, keteledoran sore ini ia lupa mengunci pintu kamar mandi, Raya kikuk ia masih shock otaknya menyuruh untuk melindungi dua inti istimewa, tapi tubuhnya seolah berat untuk bergerak. Pandangan tertuju pada Juan yang tampak lebih shock darinya.
Kuncup milik gunung kembar itu berwarna kemerahan, sangat kontras dengan kulitnya yang berwarna putih. Desiran panas mulai menguasai tubuhnya, tubuhnya tinggi tegap itu meremang sempurna. Sebuah reaksi normal sebagai pria dewasa yang sudah matang.
"Ma maap." Juan kembali menutup pintu kamar mandi dengen cepat.
Bersambung.
Jangan lupa di like ya, pantau terus sampai Juan kalah dengan egonya sendiri.
di bawa awal" raya pakai hijab sehari".
jadi raya ini berhijab ga thor?